kungin bebunga mekar
mewarna taman jadi indah
mengharumkan lelangit, oh awan yang merintih duka
runtuhkanlah decakan kagum yang mengulum
biar kuyakin pula, bebunga jadi mekar
kucoba tawar isak kuntumku
langit, entahlah mengapa jadi tak cerah
berderai puluhan angin menerpa
tampak badai telah melarung dari sana
dan lihat,
peputik bunga berserakan
juga mahkotanya
menunggu kematian yang sebentar
sebentar lagi akan datang
leladang5, 5 Juni 2007
06 Januari 2009
Kubur Kaca
stanza itu tak pernah selesai
dibawa angin darek yang berbuntalan dengan awan
langit menempuh sujud
ketika itu, pecah dalam alir sungai
suara dengan dengung yang tambun
bayangan menebing
sementara, bait-bait lagu terus mengapung
memantrai udara
bait yang tak pernah selesai dinyanyikan
stanza itu
melarung dalam hingar
menghilang dalam peradaban
kisruh dalam tempaan janang
Alahan Panjang, November 2008
dibawa angin darek yang berbuntalan dengan awan
langit menempuh sujud
ketika itu, pecah dalam alir sungai
suara dengan dengung yang tambun
bayangan menebing
sementara, bait-bait lagu terus mengapung
memantrai udara
bait yang tak pernah selesai dinyanyikan
stanza itu
melarung dalam hingar
menghilang dalam peradaban
kisruh dalam tempaan janang
Alahan Panjang, November 2008
09 Desember 2008
Perjalanan

ujung jalan yang kita tempuh
menakar hujan dengan sebuah yang entah
mungkin, di pertengahan nanti
kita terpeleset curam basah
bayangan setinggi pohon mangga
menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga
mungkin, gerhana
atau malam saja
sediakan kertas atau semacamnya
buat kita berteduh dari mimpi
sementara, ujung jalan yang kita tuju
menjauh setapak-demi setapak
kita tersekat dari lamun kenyataan
di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti
sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam
cukam memahat tebing
dan pandam kita terlalu dini untuk ada
Langkah, November 2008
Aku Menunggumu di Sisi Keramaian

;yandre mariandiko
musim bermain itu kau habiskan dalam rumah
tak ada ibu, tak ada ayah
menikam debu dan bekas akar lilin yang tumpah
sementara, di tanah lapang belakang rumah
anak-anak sibuk bermain bola
sambil menunggu kacang kuning dan semangka berbuah
riuh rendah
kau merajut kesepian itu dengan angan
tanpa pangan dan usiran guru ngaji di mesjid
ketika kau tak pandai meraba huruf ba
keramaian menjadi asing
bahkan dengan debur ombak pesisir sekalipun
kau rindu akan kehadiran ayah
tangis pun kau titipkan kepada pengendara jauh
dengan harap bisa diterima oleh ibu
namun, tangismu begitu kering
ditelan udara pagi yang menghapus mimpimu tentang keramaian
kau pun bergegas untuk ke sekolah
mungkin harap dengan pertemuan itu
mungkin juga hanya kekosongan yang harus kau lakoni
setiap hari
Rumah Cinta, November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

