”Po...pop...po....” Bunyi itu seperti menyambut gerimis. Malam Kamis.Di luar angin bertiup ganas, melibas segala pepohonan.Lalu.Ada bau amis.
Semua penduduk di desa itu mendadak ketakutan. Tak ada yang berani keluar rumah. Anak-anak muda yang biasanya ramai bercengkeramadi gardu pos ronda, pun anak-anak belasan tahun yang gemar bermain hingga lari, semuanya tak kelihatan batang hidungnya. Malam mencekam, amat kelam.
Wajah-wajah penduduk digantungi cemas. Sambil berharap tak terjadi apa-apa pada anggota keluarganya ini malam. Dahulu, sebagaimana cerita para orang tua, bila ada kejadian seperti ini,makaakan ada penduduk desa yang berpulang ke rahmatullah esok pagi.
Dan keyakinan seperti itu telah terselip rapi di benak penduduk setempat. Wajar memang. Karena kejadian serupa setahun silam pernah terjadi. Tempo itu, kepala desa meninggal secara mengenaskan,perutnya kosong melompong sehingga ia dikubur dengan perut bolong. Meski sebagian penduduk percaya bahwa kematian tragis dan aneh kepala desa akibat perbuatannya yang selalu menyelewengkan jatah beras raskin untuk rakyat miskin, tetapi tetap saja penduduk dicekam ketakutan.
Peristiwa dua tahun silam pun tak bisa menghilang dari ingatan penduduk ketika seorang pengusaha yang berlagak penguasa yang sering dipanggil Haji Loppo tewas mengenaskan. Konon garagara ia amat terkejut mendengar bunyi ”po...pop...po” sehingga ia tak bisa menguasai kemudi mobilnya lalu terperosok masuk jurang yang dalam.
Anehnya, perutnya luka menganga dengan isi perut menghilang. Penduduk setempat percaya bahwa isi perut Haji Loppo dimakan Poppo. Ada sebagian kecil penduduk yakin kalau Haji Loppo dikutuk oleh Tuhan. Haji Loppo memang orang paling kaya di kampung itu. Ia bahkan beberapa kali ke Tanah Suci, tapi penduduk setempat mengenalnya sebagai tengkulak cengkeh dan kakao yang sangat pelit bin kikir. Masih menurut cerita para tetua.
Konon, yang berbunyi po... pop...po itu adalah seseorang yang memiliki ilmu hitam, bila mewujud jadi poppo, wujudnya kadang tak bisa dilihat, hanya bunyinya yang kedengaran.Sebenarnya dua macam penganut ilmu hitam yang di takuti yaitu poppo dan parakan. Bedanya, poppo bisa terbang, sedangkan parakan cumadi darat. I
lmu parakan tidak mutlak diwariskan, tetapi ilmu poppo diwariskan secara turun-temurun, bahkan harus diturunkan pada anak.Konon, seorang poppo tidak bisa meninggal dunia jika tidak ada anggota keluarganya yang mengambil ilmunya sebagai mana (bahasa Bugis, artinya warisan). Ia akan tersiksa dalam himpitan sakaratul maut dengan lidah menjulur-julur serta mata terbelalak.
Sementara semua penduduk desa dikepung kecemasan dan ketakutan. Seorang penduduk yang bernama Labillang kelihatan tenangtenang saja. Bahkan, ada harapan yang menggelayut di benaknya. Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai penggali kubur, ia memang selalu menggantung harapan di atas penderitaan orang lain. Prinsip penggali kubur, ada mayat ada uang, ada uang ada makanan.
Malam itu sepertinya harapan besar buat Labillang. Karena di kampung itu seorang pengusaha kaya raya saudara almarhum Haji Loppo yang bernama Haji Lolo sakit keras. Bahkan penduduk setempat memprediksi umur Haji Lolo tak akan lama lagi.Yang waswas hanyalah keluarga calon almarhum. Mereka cemas kalau kematian Haji Lolo kelak mengikuti jejak Haji Loppo. Di rumah yang lain, Labillang kelihatan tidak begitu bersemangat. Tiba-tiba ia merasa ngeri. Makanannya berbau maut. Ia seperti diintip sakaratul maut. ***
Tujuh bulan yang lalu
Woh...oh...woh!” Perempuan tua itu mengerang kesakitan. Antara hidup dan mati. Lidahnya menjulur-julur. Pun matanya terbelalak. ”Woh...oh! Billang!” Ia terus merintih sambil memanggil cucu tunggalnya. ”Nek! Aku di sini, aku tak pernahmeninggalkan nenek.” ”Woh...oh...woh! Billang! Billang!” Sepertinya perempuan tua itu tidak mendengar suara cucunya.
”Nek!Apa yang terjadi? Billang menggoyang-goyang tubuh neneknya. ”Cucuku, Nenek tak akan lama lagi di sini. Nenek sudah kangen sama kedua orang tuamu, dan kakakmu.” ”Jangan pergi,Nek!” Billang terus memeluk neneknya. ”Nenek harus pergi. Sebelum nenek pergi, akan nenek ceritakan semua rahasia tentang keluargamu.” ”Rahasia?” ”Ya, rahasia cucuku.
Dulu orang tuamulah yang paling kaya di kampung ini. Ayahmu adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. Ibumu adalah anakku satusatunya. Nenek tidak punya saudara. Sebagai anak tunggal, harta nenek adalah harta ibumu juga. Namun semuanya....” Suara perempuan tua itu tercegat.Air mata terus menghiasi wajahnya yang mengeriput. Sementara Labillang hanya terpekur di sudut.
”Lanjutkan ceritanya,Nek!” ”Baiklah cucuku. Karena kesuksesan kedua orang tuamu, banyak orang yang iri dan berusaha menjatuhkannya. Termasuk kepala desa yang telah meninggal setahun silam.” ”Kepala desa?” Labillang kian penasaran. ”Ya, kepala desa itu. Sebenarnya ia adalah pamanmu sendiri.
Saudara sepupu ayahmu. Namun, ia benci pada ayahmu yang tidak mendukungnya sebagai kepala desa. Hanya ayahmulah satusatunya di desa ini yang berani mengkritiknya.” ”Tapi kenapa ia bisa terpilih jadi kepala desa sampai beberapa periode, Nek?” ”Tidak ada yang berani mencalonkan diri jadi kepala desa selamaia juga masih mencalonkan diri kecuali ayahmu. Dan....
” Sekali lagi perempuan tua itu tercegat. Ada duka yang mengiris wajahnya. ”Dan kenapa, Nek” Labillang kian menyelidik. ”Semoga kau bisa menerima kenyataan ini cucuku, kedua orang tuamu serta kakakmu dibunuh secara kejam oleh orang suruhan kepala desa yang bersekutu dengan Haji Loppo danHaji Lolo.” ”Tapi kenapa aku bisa selamat, Nek?” ”Tempo itu, kau masih kecil belum mengerti apa-apa, mungkin mereka tidak sampai hati membunuhmu.”
”Bajingan!”Labillang mengutuk. ”Sabarlah cucuku! Tak ada gunanya mendendam. Nenek telah mendendam kepada mereka yang telah menzalimi orang tuamu tapi apa yang nenek dapatkan? Tidak ada. Hanya menumpuk dosa. Ingat cucuku! Hanya menumpuk dosa dan penyesalan.” ”Maksud nenek?” ”Dengarkanlah cucuku. Masih banyak yang perlu nenek ceritakan sebelum nenek menghadap keharibaan-Nya.
” ”Lanjutkan,Nek” ”Karena kekejaman kepala desa dan orang-orang suruhannya, nenek sangat mendendam. Tapi takmungkin nenek bisa membalas dendam secara langsung, nenek tak punya kekuatan. Akhirnya nenek pergi berguru dan mewarisi ilmu poppo dari seorang tetua di kampung sebelah. Dan begitulah, kepala desa dan Haji Loppo telah jadi korban ilmu itu.” Perempuan tua itu berhenti sejenak.
”Jadi...jadi.”Labillang tergeragap. ”Maaf cucuku, nenek mengerti maksudmu. Kau tak sudi mewarisi ilmu hitam nenek. Tapi nenek terpaksa mewariskan kepadamu, karena ilmu ini tak bisa hilang dan tidak mungkin diwariskan pada orang lain sebelum diwariskan pada turunan sendiri. Dan ketika kau sudah mewarisi ilmu ini, jangan lagi diwariskan pada keturunanmu kelak, pun orang lain.
Nenek yakin kau bisa melepaskan diri dari ilmu sesat ini suatu saat dengan memperdalam ilmu agama, pergilah belajar pada kiai dan ustad.” ”Woh...oh...woh!” Tiba-tiba perempuan tua itu merintih kesakitan. Lidahnya menjulur-julur.Mata terbelalak galak. Khkhkh! Perempuan tua itu telah menutup mata untuk selamalamanya. Tapi mendadak keanehan menjelma pada Labillang. Lidah Labillang menjulur-julur, matanya memerah galak terbelalak. Lalu. Pop...po...poppo.
*** Malam Kamis itu masih terus mencekam. Penduduk desa masih ketakutan. Di sebuah rumah mewah, menghadap ke utara di sebelah timur rumah Labillang, ramai orang berkumpul. Mereka adalah sanak keluarga yang menunggui Haji Lolo. Haji Lolo memang lagi sakit keras. Sementara itu,di rumahnya, Labillang terus komat-kamit. Ia meracau. Matanya terbelalak, pun lidah menjulur-julur. Seperti ia menahan geram yang maha dahsyat.
”Bangsat kau Haji Lolo, terimalah pembalasanku.” Hening sejenak. Lalu, Ia kembali komat-kamit.Bukan meracau. Karena lafaz yang ia ucapkan adalah ayat-ayat suci Alquran. Lalu, seperti ada dua makhluk asing yang berperang kejam dalam tubuhnya. ”Tidak! Tidak! Aku tak boleh mendendam.” ”Aku harus membunuhnya.” ”Tidaaak! Aku harus ingat pesan nenek.”
”Nyawa harus dibalas dengan nyawa.” ”Tidaaaak.” Kh...kh...khkh.Tubuh Labillang terhempas melawan kekuatan dahsyat dalam tubuhnya. Sesosok bayangan hitam keluar dari mulutnya disertai bunyi po...pop...po. Lalu menghilang bersama malam. Labillang terus melantunkan ayat-ayat suci. Keesokan harinya. Labillang terlihat asyik menggali kuburan bersama rekan-rekannya.
Haji Lolo memang telah meninggal dunia. Keluarganya sangat bersyukur karena mayat Haji Lolo tidak mengalami keanehan seperti yang mereka prediksi sebelumnya. Sambil menggali kuburan, mata Labillang berkaca-kaca. Ia teringat akan pesan neneknya. Ia bertekad menjaga pesan neneknya itu sebagai wasiat. Tak boleh ada dendam. Labillang berharap wasiat neneknya menjadi lampu penerang baginya menjalani harihari mendatang. Langit kian cerah. Secerah hati Labillang. Sinjai-Makassar, 2008
DUL ABDUL RAHMAN.
Lahir Bulukumba, Sulawesi Selatan. Alumni S2 Kesusastraan Unhas. Pekerja sastra dan budaya. Ratusan tulisannya berupa puisi, cerpen, esai, artikel budaya, dan kritik sastra tersebar di berbagai media cetak dan online di Indonesia dan Malaysia. Sekarang bekerja sebagai ”PNS” (PeNuliS, danPegawai Negeri Sipil). Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit ”Lebaran Kali Ini Hujan Turun”.
(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 5 JULI 2008)
07 Juli 2008
Tragedi dan Puisi
Aristoteles dalam Poetics melakukan ikhtiar pembacaan dan eksplanasi mengenai tragedi dengan acuan kebudayaanYunani. Dalam pengungkapannya, tragedi memakai bahasa yang atraktif sensual.
Pemakaian bahasa itu menimbulkan adanya rasa kasihan dan ketakutan yang digambarkan dalam tindakan-tindakan tragis dan karakteristik-karakteristik emosional. Substansi tragedi adalah imitasi dari tindakan dalam kehidupan yang didasarkan pada kualitas moral sesuai karakter bahagia atau derita.
Pemahaman Aristoteles mengenai tragedi dalam konteks puisi merepresentasikan kekuatan tragedi yang mengungkapkan persoalan hakikat manusia dan kehidupan. Istilah tragedi berasal dari bahasa Yunani ”tragidio” yang berarti ’nyanyian sendu’.Tragedi pada awalnya dikenal dalam seni drama Yunani yang menceritakan peristiwa kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah moral, arti eksistensi manusia, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dewadewanya.
Tragedi dalam manifestasi seni menghadirkan keindahan dan kesenangan yang mengandung potensi sebagai sakit dan trauma. Deleuze menjelaskan bahwa Nietzsche memahami tragedi sebagai dialektika yang menghubungkan sesuatu yang negatif,penentangan,dan kontradiksi tentang penderitaan dan kehidupan manusia.
Konsep tragedi dalam pemikiran Nietzsche didasarkan pada dua kekuatan besar dalam mitologi Yunani yang disebut sebagai ”dionysian” (kegairahan) dan ”apollonian” (kelemahan). Pemahaman Nietzsche itu menunjukkan bahwa ada orientasi yang mengantarkan manusia pada kondisi kuat (positif) atau lemah (negatif) dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalanpersoalan hidup.
Tragedi adalah suatu pengalaman interaktif, mistis, dan menyatukan yang memberikan jalan keluar terapatis bagi orang yang peka terhadap penderitaan dan ketidakpastian hidup sehari-hari. Nietzsche menyebutkan bahwa tragedi Yunani dalam bentuknya yang paling tua dominan mengungkapkan penderitaanpenderitaan.
Wacana tragedi itu patut menjadi acuan dalam pembacaan dan penilaian puisi-puisi Joko Pinurbo yang merepresentasikan tragedi dalam kisah-kisah hidup manusia. Puisi Doa Sebelum Mandi adalah puisi getir. Puisi ini dibuka dengan doa yang memelas bahwa tokoh ”saya”takut mandi. Mandi sebagai peristiwa membersihkan tubuh (diri) dipahami sebagai peristiwa yang mengandung ketakutan untuk dilucuti.
Ketakutan itu hendak menolak fakta tubuh menjadi telanjang tanpa apa-apa.Tubuh menjadi representasi diri manusia yang merasa malu atau takut pada dirinya sendiri ketika telanjang.Ketakutan yang berasal dari tubuh lantas tumbuh sebagai ketakutan pikiran dan perasaan.Ketakutan terhadap tubuh sendiri mengartikan ada persoalan yang terkandung dalam pemaknaan diri melalui tubuh.
Ketakutan itu ternyatakan dalam kalimat, ”Saya takut dilucuti.Saya takut pada tubuh saya sendiri.” Tubuh itu mengandung aib yang bakal terbuka ketika mandi.Aib adalah suatu keburukan yang susah atau tidak pantas untuk dikabarkan pada orang lain. Aib mesti terkubur dan sembunyi dalam tubuh untuk pengertian diri sendiri.Hal itu disadari tokoh ”saya” yang merasa aib itu mungkin menjadi tragedi dalam prosesi mandi.
Aib akan terbuka dan bicara segala sesuatu yang mengandung kekuatan menghajar dan membunuh diri.Tokoh ”saya”menjadi takut untuk mandi karena dalam mandi akan hadir ”mayat”.Mayat itu adalah kematian orang-orang karena pembunuhan yang dilakukan tokoh ”saya” untuk melunaskan diri sebagai ”orang miskin celaka”.Pembunuhan itu terjadi untuk hidup dalam pengertian ekonomis.
Pembunuhan menjadi pekerjaan yang paling mungkin karena ”kerja saya adalah mencari pekerjaan”. Hidup sebagai orang miskin adalah tragedi.Pembunuhan untuk mempertahankan hidup adalah tragedi. Tubuh dengan memori kematian adalah tragedi. Aib diri adalah tragedi. Mandi mungkin menjadi laku pembersihan diri yang mengingatkan dan menyadarkan diri untuk berani mengafirmasi dan menegasi tragedi. Puisi Kepada Uang adalah puisi yang mengisahkan pergulatan manusia dengan uang untuk bisa hidup.
Puisi ini memosisikan manusia di hadapan uang dengan pelbagai permintaan dan keinginan.Manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki ketergantungan pada uang. Uang menempati posisi yang penting dan menentukan hidup seseorang. Uang menjadi persoalan yang sudah dihadapi manusia sejak sekian abad yang lalu sampai saat sekarang. Uang pada akhirnya dipahami sebagai persoalan ekonomi, politik, sosial, agama, filsafat, hukum, dan kebudayaan.
Puisi ini diawali dengan suatu permintaan, ”Uang, berilah aku rumah yang murah saja.” Permintaan ini mengisyaratkan bahwa uang dianggap penting untuk merealisasikan keinginan-keinginan manusia.Uang,yang semula dipahami sebagai alat tukar, berubah sebagai penentu hidup dan mati manusia. Permintaan pada uang menjelaskan posisi manusia yang lemah di hadapan uang.
Uang memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menentukan nasib manusia. Uang adalah kuasa. Keinginan memiliki rumah mesti tertangguhkan karena kemiskinan. Keinginan dan kemiskinan adalah pertentangan yang susah didamaikan. Keinginan itu ide dan kemiskinan itu realita. Kemiskinan menjadi tragedi ketika keinginan tak mungkin direalisasikan.
Orang miskin merasa mimpi bisa menjadi ekspresi yang masih mungkin diciptakan meski berlawanan dengan realitasnya. Keinginan memiliki rumah ditangguhkan, ”Sabar ya, aku harus menabung dulu.” Penangguhan itu merepresentasikan kondisi hidup yang tragis.Menabung tidak berarti menyimpan uang sebagai dana cadangan atau kelebihan dari pengeluaran. Menabung memiliki arti yang memprihatinkan.Menabung adalah menyimpan atau menahan rasa lapar.
Menabung adalah menyimpan mimpi-mimpi yang diciptakan. Orang miskin membutuhkan mimpi sebagai ikhtiar menyelamatkan diri atau menghibur diri dari penderitaan.Mimpi itu terpusat pada uang. Puisi-puisi Joko Pinurbo adalah kisah-kisah tragedi yang terkadang melahirkan senyum kecil (humor), tapi pahit. Tokoh-tokoh manusia dalam puisi-puisi Joko Pinurbo menjadi representasi kegagalan manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan soal-soal hidup. Tragedi-tragedi itu pertanyaan atau jawaban?
Bandung Mawardi
Kritikus sastra dan peneliti pada Kabut Institut, Solo
Pemakaian bahasa itu menimbulkan adanya rasa kasihan dan ketakutan yang digambarkan dalam tindakan-tindakan tragis dan karakteristik-karakteristik emosional. Substansi tragedi adalah imitasi dari tindakan dalam kehidupan yang didasarkan pada kualitas moral sesuai karakter bahagia atau derita.
Pemahaman Aristoteles mengenai tragedi dalam konteks puisi merepresentasikan kekuatan tragedi yang mengungkapkan persoalan hakikat manusia dan kehidupan. Istilah tragedi berasal dari bahasa Yunani ”tragidio” yang berarti ’nyanyian sendu’.Tragedi pada awalnya dikenal dalam seni drama Yunani yang menceritakan peristiwa kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah moral, arti eksistensi manusia, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dewadewanya.
Tragedi dalam manifestasi seni menghadirkan keindahan dan kesenangan yang mengandung potensi sebagai sakit dan trauma. Deleuze menjelaskan bahwa Nietzsche memahami tragedi sebagai dialektika yang menghubungkan sesuatu yang negatif,penentangan,dan kontradiksi tentang penderitaan dan kehidupan manusia.
Konsep tragedi dalam pemikiran Nietzsche didasarkan pada dua kekuatan besar dalam mitologi Yunani yang disebut sebagai ”dionysian” (kegairahan) dan ”apollonian” (kelemahan). Pemahaman Nietzsche itu menunjukkan bahwa ada orientasi yang mengantarkan manusia pada kondisi kuat (positif) atau lemah (negatif) dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalanpersoalan hidup.
Tragedi adalah suatu pengalaman interaktif, mistis, dan menyatukan yang memberikan jalan keluar terapatis bagi orang yang peka terhadap penderitaan dan ketidakpastian hidup sehari-hari. Nietzsche menyebutkan bahwa tragedi Yunani dalam bentuknya yang paling tua dominan mengungkapkan penderitaanpenderitaan.
Wacana tragedi itu patut menjadi acuan dalam pembacaan dan penilaian puisi-puisi Joko Pinurbo yang merepresentasikan tragedi dalam kisah-kisah hidup manusia. Puisi Doa Sebelum Mandi adalah puisi getir. Puisi ini dibuka dengan doa yang memelas bahwa tokoh ”saya”takut mandi. Mandi sebagai peristiwa membersihkan tubuh (diri) dipahami sebagai peristiwa yang mengandung ketakutan untuk dilucuti.
Ketakutan itu hendak menolak fakta tubuh menjadi telanjang tanpa apa-apa.Tubuh menjadi representasi diri manusia yang merasa malu atau takut pada dirinya sendiri ketika telanjang.Ketakutan yang berasal dari tubuh lantas tumbuh sebagai ketakutan pikiran dan perasaan.Ketakutan terhadap tubuh sendiri mengartikan ada persoalan yang terkandung dalam pemaknaan diri melalui tubuh.
Ketakutan itu ternyatakan dalam kalimat, ”Saya takut dilucuti.Saya takut pada tubuh saya sendiri.” Tubuh itu mengandung aib yang bakal terbuka ketika mandi.Aib adalah suatu keburukan yang susah atau tidak pantas untuk dikabarkan pada orang lain. Aib mesti terkubur dan sembunyi dalam tubuh untuk pengertian diri sendiri.Hal itu disadari tokoh ”saya” yang merasa aib itu mungkin menjadi tragedi dalam prosesi mandi.
Aib akan terbuka dan bicara segala sesuatu yang mengandung kekuatan menghajar dan membunuh diri.Tokoh ”saya”menjadi takut untuk mandi karena dalam mandi akan hadir ”mayat”.Mayat itu adalah kematian orang-orang karena pembunuhan yang dilakukan tokoh ”saya” untuk melunaskan diri sebagai ”orang miskin celaka”.Pembunuhan itu terjadi untuk hidup dalam pengertian ekonomis.
Pembunuhan menjadi pekerjaan yang paling mungkin karena ”kerja saya adalah mencari pekerjaan”. Hidup sebagai orang miskin adalah tragedi.Pembunuhan untuk mempertahankan hidup adalah tragedi. Tubuh dengan memori kematian adalah tragedi. Aib diri adalah tragedi. Mandi mungkin menjadi laku pembersihan diri yang mengingatkan dan menyadarkan diri untuk berani mengafirmasi dan menegasi tragedi. Puisi Kepada Uang adalah puisi yang mengisahkan pergulatan manusia dengan uang untuk bisa hidup.
Puisi ini memosisikan manusia di hadapan uang dengan pelbagai permintaan dan keinginan.Manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki ketergantungan pada uang. Uang menempati posisi yang penting dan menentukan hidup seseorang. Uang menjadi persoalan yang sudah dihadapi manusia sejak sekian abad yang lalu sampai saat sekarang. Uang pada akhirnya dipahami sebagai persoalan ekonomi, politik, sosial, agama, filsafat, hukum, dan kebudayaan.
Puisi ini diawali dengan suatu permintaan, ”Uang, berilah aku rumah yang murah saja.” Permintaan ini mengisyaratkan bahwa uang dianggap penting untuk merealisasikan keinginan-keinginan manusia.Uang,yang semula dipahami sebagai alat tukar, berubah sebagai penentu hidup dan mati manusia. Permintaan pada uang menjelaskan posisi manusia yang lemah di hadapan uang.
Uang memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menentukan nasib manusia. Uang adalah kuasa. Keinginan memiliki rumah mesti tertangguhkan karena kemiskinan. Keinginan dan kemiskinan adalah pertentangan yang susah didamaikan. Keinginan itu ide dan kemiskinan itu realita. Kemiskinan menjadi tragedi ketika keinginan tak mungkin direalisasikan.
Orang miskin merasa mimpi bisa menjadi ekspresi yang masih mungkin diciptakan meski berlawanan dengan realitasnya. Keinginan memiliki rumah ditangguhkan, ”Sabar ya, aku harus menabung dulu.” Penangguhan itu merepresentasikan kondisi hidup yang tragis.Menabung tidak berarti menyimpan uang sebagai dana cadangan atau kelebihan dari pengeluaran. Menabung memiliki arti yang memprihatinkan.Menabung adalah menyimpan atau menahan rasa lapar.
Menabung adalah menyimpan mimpi-mimpi yang diciptakan. Orang miskin membutuhkan mimpi sebagai ikhtiar menyelamatkan diri atau menghibur diri dari penderitaan.Mimpi itu terpusat pada uang. Puisi-puisi Joko Pinurbo adalah kisah-kisah tragedi yang terkadang melahirkan senyum kecil (humor), tapi pahit. Tokoh-tokoh manusia dalam puisi-puisi Joko Pinurbo menjadi representasi kegagalan manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan soal-soal hidup. Tragedi-tragedi itu pertanyaan atau jawaban?
Bandung Mawardi
Kritikus sastra dan peneliti pada Kabut Institut, Solo
29 Juni 2008
Randu
Oleh: Kusprihyanto Namma
Mula-mula aku tidak mengerti,kenapa orangorang kampung mulai gemar lagi duduk bergerombol.Di prapatan,pos ronda, lincak,buk,dan warungwarung wedang.
Sejak kedatangan Kiai Jafar, kebiasaan bergerombol seperti itu lambat laun menghilang. Mereka mulai mau mengisi langgar,tempat Kiai Jafar memberi pengajian.Mereka jadi enggan duduk bergerombol yang ujung-ujungnya membicarakan dapur orang lain. ”Itu ghibah!” terang Kiai. ”Bicara tentang yang baik-baik saja tak baik, apalagi tentang hal-hal jelek. Bisabisa jadi fitnah.
Kalau tak sanggup bicara yang bermanfaat,lebih baik diam. Itu perilaku orang-orang zuhud!” Kalau yang menyampaikan katakata itu orang pemerintahan (kepala desa, pak camat, atau bupati) tak seorang pun dari kami yang percaya.Sebab, seperti kita ketahui sendiri, para pejabat itu lain di mulut lain di hati. Bicaranya baik-baik, penuh suasana agamais.
Namun harta negara yang mestinya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat diembat sendiri. Lain dengan Kiai Jafar, benarbenar pribadi unggul. Ia hanya bicara dalam pengajian dan saat menjawab orang-orang yang bertanya soal fikih. Selebihnya, diam. Beliau berilmu padi. Semakin berisi makin menunduk ke bumi.Tingkah lakunya pun sopan. Bisa menghargai kalangan muda dan kaum tua. Hukum-hukum lama tak begitu saja dilabrak dan dihabisinya.
Namun, dengan pelan-pelan ia masuki.Ia luruskan hakikatnya. Tapi kenapa kini orang-orang kampung sepertinya mau kembali pada kebiasaan lama: duduk bergerombol. Lalu, ada orang yang mbandari ndemndeman. Sepakat bukak kertu. Nonton ndangdut di desa sebelah.Untuk mencari jawaban, akhirnya aku juga ikut duduk bergerombol bersama mereka. Tentu saja, kadang nyuit-nyuiti gadis yang lewat.Peduli amat pada lakinya yang melotot. Kita toh di kampung sendiri.
”Randu itu jadi ditebang?” selidik Mitro. ”Aku sudah mengingatkan Mbok Jiyem,tapi ia tetap saja nekat!”jawab Kiyun. ”Waah,bilahi!”sungut si Mitro. ”Gak usah khawatir. Gak-gak kalau jadi!”Min mencoba menenangkan keadaan. ”Sudah lima kali ini randu itu katanya mau ditebang.Tapi begitu melihat betapa wingitnyarandu itu,orang yang mau menebang mundur sendiri!” ”Ya,aku juga cocok denganmu.
Tak usah terlalu cemas. Tidak akan ada orang yang berani nebang randu itu!” sela Jeprik. ”Apa kalian ndak ingat, randu Lik Karto yang ditebang lima tahun lalu? Lik Karto selaku penjual, mati mendadak. Matanya mendelik. Mukanya hitam. Lalu yang menebang juga mati kecelakaan!” Orang-orang yang hadir kembali mengingat-ingat kejadian yang telah silam. Memang apa yang dikatakan Jeprik pernah terjadi di kampungku.
Sejak itu tak seorang pun berani menebang pohon randunya. Konon setiap pohon randu dihuni gondoruwo. Bangsa jin yang miripmirip Gorilla.Tinggi besar. Rambutnya panjang, acak-acakan.Baunya seperti ketela bakar. Suka menggoda. Terlebih pada wanita-wanita yang sering ditinggal sendirian oleh suaminya. Biasanya si gondoruwo menjelma suami si wanita.
Lalu minta jatah biologis. Setelah si suami asli datang, barulah si wanita menyadari bahwa dirinya ditiduri gondoruwo. Untung kalau hubungan itu tidak berbuah.Kalau sampai berbuah, akan lahirlah anak yang setengah manusia setengah jin. Pernah aku mencari tahu, siapa si wanita itu.Tapi jawaban yang keluar, itu cerita turun-temurun yang mesti dipercaya.
Kejadiannya sudah sangat lama. Bahkan kakek-buyut saja tidak bisa menyebut secara pasti.Yang jelas kejadian itu pernah terjadi. Itulah budaya orang kampung,memercayai hal-hal yang tak pasti, terutama yang berhubungan dengan klenik. ”Berapa sih Mbok Jiyem minta bayar? Biar aku belinya sendiri. Tapi randu itu enggak usah ditebang!”kata Mukiran.
”Aku juga punya pikiran seperti itu.Tapi Mbok Jiyem tetap memaksa randu itu ditebang,walau tidak dibayar sama sekali.” ”Seharusnya ia jangan memikirkan dirinya sendiri.MbokJiyem harus memikirkan keselamatan kampung!” ”Masa cuma takut gentingnya kejatuhan buah randu,lalu pohon randunya yang ditebang.Itu kanketerlaluan!” ”Bagaimana kalau kita demo saja ke rumah MbokJiyem?”celetuk Bagong.
Kami yang sedang bergerombol terdiam seketika.Apa yang disampaikan Bagong bisa jadi merupakan jalan keluar terbaik.Ya,demo.Mbok Jiyem mesti tahu bahwa orang kampung tidak menghendaki penebangan pohon randunya.Apalagi diyakini di pohon randu Mbok Jiyem bersemayam raja gendoruwo. Penguasa para gondoruwo di pohon-pohon randu kampung kami.
Ketika orang-orang kampung masih tarik-ulur menetapkan hari pelaksanaan demo, mendadak sebuah truk besar membelah jalanan kampung kami. Debunya yang beterbangan ke angkasa menampar muka kami. Delapan orang yang kekar-kekar tubuhnya segera mempersiapkan semua peralatan untuk penebangan. Orang kampung seperti tersedot daya magnet.
Segera terkumpul di sekitar rumah Mbok Jiyem, tapi tak hendak melakukan demo.Begitu truk datang,pikiran demo lenyap begitu saja. ”Ruuuummmmm…..” gergaji mesin memekakkan telinga. Seseorang memanjat pohon membawa tali. Setelah mengikat erat-erat pohon randu, ia turun lagi. Cuma seorang saja yang bertugas memotong pangkal pohon randu, yang lain menarik tali agar pohon jatuh ke tempat yang aman.
Tak sampai 20 menit, pohon randu terbesar di kampung kami tumbang. Antara percaya dan tidak, kami mlongo.Ndomblong.Betapa mudahnya pohon wingit itu tumbang.Lalu di mana kesaktian sang gondoruwo. Begitu mudahnya ia menyerah tanpa memberikan perlawanan sama sekali. Sebenarnya kami berharap, begitu gergaji berhasil menebang pohon, si pohon randu itu kembali utuh seperti sedia kala.Digergaji lagi.
Utuh lagi.Atau kalaupun tumbang,itu hanya semenit saja. Lalu dengan penuh keajaiban,bangkit lagi dan berdiri seperti sedia kala. Tapi pohon randu itu benar-benar tumbang.Menampar muka kami.Memukul keyakinan kami.Mbok Jiyem sumringah wajahnya.Tukang-tukang gergaji itu seperti semut menemukan roti. Segera memotong-motong kayu randu sesuai permintaan pasar.
Mereka tampak bersemangat. Mungkin membayangkan uang yang bakal mereka kedukdari pohon yang cuma diberi harga Rp300.000 itu. Tepat menjelang magrib truk gergaji dan penumpangnya selesai mengerjakan tugas. Pohon randu yang telah berubah papan-papan tipis beralih ke truk lain yang akan mengantarnya ke para pemesan. Pohon randu yang perkasa itu telah lenyap dari mata kami. Diam-diam kami merasa kehilangan sesuatu.
Kehilangan sebuah keluarga yang telah bertahuntahun hidup bersama. ”Nisa step.Nisa step!”demikian berita yang dibawa orang kampung. Kami segera melesat menuju rumah Pak Amir, ayah Nisa. Benar Nisa step.Matanya mlilik-mlilik.Tangannya kejang.Mulutnya berbusa.Segera kami usung ke rumah sakit.
Belum selesai geger si Nisa, kampung kami digegerkan lagi dengan step-nya Ririn, anak Pak Subur.Anak Pak Wiwid yang baru berusia tiga tahun juga step. Kampung kami benar-benar gempar. Semua kerisauan dialamatkan ke Mbok Jiyem.Dialah biang keladi dari musibah kampung ini. Seandainya pohon randu itu tak ditebang,tak akan ada anak yang step beruntun.Padahal anak-anak itu tidak sakit.
Mereka sehat sehat saja.Tapi begitu pohon randu ditebang mereka keganggugondoruwo. Itulah kejadian malam hari ketika siang harinya pohon randu itu ditebang. Malam berikutnya,tak ada anak step lagi.Tapi si Parmin tiba-tiba saja jatuh terjerembab karena merasa dijegal oleh sosok tinggi besar. Slamet mesti lari tunggang langgang karena merasa dikejar makhluk tak dikenal dengan bendo di tangan. Priyadi bahkan secara meyakinkan melihat bayangan yang berdiri dengan mata merah dan rambut merah di tonggak pohon randu.
Orang-orang segera kasak-kusuk. Menggelar aneka cerita dan berita dari hasil rekaannya sendiri.Ada yang mengatakan umur MbokJiyem tinggal menunggu hari. Bahkan ada yang menyatakan tinggal beberapa jam. Begitu juga bagi tukang-tukang senso yang telah lancang menebang randu. Karena kekeramatan si pohon randu mereka pasti akan kenabilahi.Paling sial, mereka akan terserang penyakit aneh, atau bahkan mati dicekik.
Kami diam-diam tengah menanam harapan buruk,yakni menunggu musibah datang. Kami tak peduli, anakanak yang step sudah bisa bermainmain seperti biasanya. Kami juga tak peduli lagi cerita tonggak pohon randu yang semakin nganeh-nganehi. Kami benar-benar menunggu apa yang akan terjadi dengan Mbok Jiyem. Sepekan berlalu. Sebulan. Dua bulan. Tapi Mbok Jiyem tak juga kena bendu.Malah makin aktif mendatangi pengajian Kiai Jafar.
Ia juga berhasil mengajak ibu-ibu yang lain. Dengan tumbangnya pohon randu, langgar, makin hari makin ramai jamaahnya. Para bapak pun kembali mengisi saf salat jamaah. Mereka kembali mendengarkan pengajian Kiai Jafar. ”Apakah Kiai percaya adanya bangsa jin?” tanya Slamet yang tak bisa lagi menahan kepenasarannya. ”Tentu saja percaya. Bukankah jin itu termasuk makhluk ciptaan Allah?”
”Kiai percaya pohon randu Mbok Jiyem yang ditebang beberapa waktu yang lalu dihuni gondoruwo?” ”Tidak!”jawab Kiai Jafar tegas. ”Dan untuk membuktikan bahwa pohon randu itu tidak ada gondoruwonya, saya meminta Ibu Jiyem untuk menebang pohon randunya!” Mendengar pengakuan Kiai Jafar kami benar-benar kaget. Sama sekali tak menduga bahwa kengototan Mbok Jiyem ternyata atas kehendak Kiai.
”Saya menilai pohon randu itu mengganggu keimanan Bapak-Ibu sekalian. Dengan penebangan itu, saya berharap keimanan Bapak-Ibu tak lagi bercabang!” ”Nah, karena sudah terbukti tak ada peristiwa apa-apa setelah penebangan pohon randu, saya akan memberikan satu lagi tambahan pelajaran tentang iman!”lanjut Kiai Jafar. ”Besok,Ahad, kita bersihkan sendang.
Berhala-berhala yang ada di sana kita singkirkan. Dahan-dahan beringin yang sudah lapuk kita potong sekalian agar tidak membahayakan …… !” Kelanjutan ajakan Kiai Jafar tak bisa kami dengar lagi. Suaranya mendengking di telinga kanan.Adapun di telinga kiri, suara kaki dhanyang nini dhanyang melengking-lengking. Membuat kami pening. Membuat kami pening.(*)
KUSPRIHYANTO NAMMA,
Kelahiran Ngawi, 30 Oktober 1965, Alumni FKIPUniv. Sebelas Maret Surakarta, Guru Bahasa Indonesia MAN Ngawi, Pendiri Kelompok Peron FKIP-UNS Surakarta, Kini menetap di komunitas Teater Magnit Ngawi
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
Mula-mula aku tidak mengerti,kenapa orangorang kampung mulai gemar lagi duduk bergerombol.Di prapatan,pos ronda, lincak,buk,dan warungwarung wedang.
Sejak kedatangan Kiai Jafar, kebiasaan bergerombol seperti itu lambat laun menghilang. Mereka mulai mau mengisi langgar,tempat Kiai Jafar memberi pengajian.Mereka jadi enggan duduk bergerombol yang ujung-ujungnya membicarakan dapur orang lain. ”Itu ghibah!” terang Kiai. ”Bicara tentang yang baik-baik saja tak baik, apalagi tentang hal-hal jelek. Bisabisa jadi fitnah.
Kalau tak sanggup bicara yang bermanfaat,lebih baik diam. Itu perilaku orang-orang zuhud!” Kalau yang menyampaikan katakata itu orang pemerintahan (kepala desa, pak camat, atau bupati) tak seorang pun dari kami yang percaya.Sebab, seperti kita ketahui sendiri, para pejabat itu lain di mulut lain di hati. Bicaranya baik-baik, penuh suasana agamais.
Namun harta negara yang mestinya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat diembat sendiri. Lain dengan Kiai Jafar, benarbenar pribadi unggul. Ia hanya bicara dalam pengajian dan saat menjawab orang-orang yang bertanya soal fikih. Selebihnya, diam. Beliau berilmu padi. Semakin berisi makin menunduk ke bumi.Tingkah lakunya pun sopan. Bisa menghargai kalangan muda dan kaum tua. Hukum-hukum lama tak begitu saja dilabrak dan dihabisinya.
Namun, dengan pelan-pelan ia masuki.Ia luruskan hakikatnya. Tapi kenapa kini orang-orang kampung sepertinya mau kembali pada kebiasaan lama: duduk bergerombol. Lalu, ada orang yang mbandari ndemndeman. Sepakat bukak kertu. Nonton ndangdut di desa sebelah.Untuk mencari jawaban, akhirnya aku juga ikut duduk bergerombol bersama mereka. Tentu saja, kadang nyuit-nyuiti gadis yang lewat.Peduli amat pada lakinya yang melotot. Kita toh di kampung sendiri.
”Randu itu jadi ditebang?” selidik Mitro. ”Aku sudah mengingatkan Mbok Jiyem,tapi ia tetap saja nekat!”jawab Kiyun. ”Waah,bilahi!”sungut si Mitro. ”Gak usah khawatir. Gak-gak kalau jadi!”Min mencoba menenangkan keadaan. ”Sudah lima kali ini randu itu katanya mau ditebang.Tapi begitu melihat betapa wingitnyarandu itu,orang yang mau menebang mundur sendiri!” ”Ya,aku juga cocok denganmu.
Tak usah terlalu cemas. Tidak akan ada orang yang berani nebang randu itu!” sela Jeprik. ”Apa kalian ndak ingat, randu Lik Karto yang ditebang lima tahun lalu? Lik Karto selaku penjual, mati mendadak. Matanya mendelik. Mukanya hitam. Lalu yang menebang juga mati kecelakaan!” Orang-orang yang hadir kembali mengingat-ingat kejadian yang telah silam. Memang apa yang dikatakan Jeprik pernah terjadi di kampungku.
Sejak itu tak seorang pun berani menebang pohon randunya. Konon setiap pohon randu dihuni gondoruwo. Bangsa jin yang miripmirip Gorilla.Tinggi besar. Rambutnya panjang, acak-acakan.Baunya seperti ketela bakar. Suka menggoda. Terlebih pada wanita-wanita yang sering ditinggal sendirian oleh suaminya. Biasanya si gondoruwo menjelma suami si wanita.
Lalu minta jatah biologis. Setelah si suami asli datang, barulah si wanita menyadari bahwa dirinya ditiduri gondoruwo. Untung kalau hubungan itu tidak berbuah.Kalau sampai berbuah, akan lahirlah anak yang setengah manusia setengah jin. Pernah aku mencari tahu, siapa si wanita itu.Tapi jawaban yang keluar, itu cerita turun-temurun yang mesti dipercaya.
Kejadiannya sudah sangat lama. Bahkan kakek-buyut saja tidak bisa menyebut secara pasti.Yang jelas kejadian itu pernah terjadi. Itulah budaya orang kampung,memercayai hal-hal yang tak pasti, terutama yang berhubungan dengan klenik. ”Berapa sih Mbok Jiyem minta bayar? Biar aku belinya sendiri. Tapi randu itu enggak usah ditebang!”kata Mukiran.
”Aku juga punya pikiran seperti itu.Tapi Mbok Jiyem tetap memaksa randu itu ditebang,walau tidak dibayar sama sekali.” ”Seharusnya ia jangan memikirkan dirinya sendiri.MbokJiyem harus memikirkan keselamatan kampung!” ”Masa cuma takut gentingnya kejatuhan buah randu,lalu pohon randunya yang ditebang.Itu kanketerlaluan!” ”Bagaimana kalau kita demo saja ke rumah MbokJiyem?”celetuk Bagong.
Kami yang sedang bergerombol terdiam seketika.Apa yang disampaikan Bagong bisa jadi merupakan jalan keluar terbaik.Ya,demo.Mbok Jiyem mesti tahu bahwa orang kampung tidak menghendaki penebangan pohon randunya.Apalagi diyakini di pohon randu Mbok Jiyem bersemayam raja gendoruwo. Penguasa para gondoruwo di pohon-pohon randu kampung kami.
Ketika orang-orang kampung masih tarik-ulur menetapkan hari pelaksanaan demo, mendadak sebuah truk besar membelah jalanan kampung kami. Debunya yang beterbangan ke angkasa menampar muka kami. Delapan orang yang kekar-kekar tubuhnya segera mempersiapkan semua peralatan untuk penebangan. Orang kampung seperti tersedot daya magnet.
Segera terkumpul di sekitar rumah Mbok Jiyem, tapi tak hendak melakukan demo.Begitu truk datang,pikiran demo lenyap begitu saja. ”Ruuuummmmm…..” gergaji mesin memekakkan telinga. Seseorang memanjat pohon membawa tali. Setelah mengikat erat-erat pohon randu, ia turun lagi. Cuma seorang saja yang bertugas memotong pangkal pohon randu, yang lain menarik tali agar pohon jatuh ke tempat yang aman.
Tak sampai 20 menit, pohon randu terbesar di kampung kami tumbang. Antara percaya dan tidak, kami mlongo.Ndomblong.Betapa mudahnya pohon wingit itu tumbang.Lalu di mana kesaktian sang gondoruwo. Begitu mudahnya ia menyerah tanpa memberikan perlawanan sama sekali. Sebenarnya kami berharap, begitu gergaji berhasil menebang pohon, si pohon randu itu kembali utuh seperti sedia kala.Digergaji lagi.
Utuh lagi.Atau kalaupun tumbang,itu hanya semenit saja. Lalu dengan penuh keajaiban,bangkit lagi dan berdiri seperti sedia kala. Tapi pohon randu itu benar-benar tumbang.Menampar muka kami.Memukul keyakinan kami.Mbok Jiyem sumringah wajahnya.Tukang-tukang gergaji itu seperti semut menemukan roti. Segera memotong-motong kayu randu sesuai permintaan pasar.
Mereka tampak bersemangat. Mungkin membayangkan uang yang bakal mereka kedukdari pohon yang cuma diberi harga Rp300.000 itu. Tepat menjelang magrib truk gergaji dan penumpangnya selesai mengerjakan tugas. Pohon randu yang telah berubah papan-papan tipis beralih ke truk lain yang akan mengantarnya ke para pemesan. Pohon randu yang perkasa itu telah lenyap dari mata kami. Diam-diam kami merasa kehilangan sesuatu.
Kehilangan sebuah keluarga yang telah bertahuntahun hidup bersama. ”Nisa step.Nisa step!”demikian berita yang dibawa orang kampung. Kami segera melesat menuju rumah Pak Amir, ayah Nisa. Benar Nisa step.Matanya mlilik-mlilik.Tangannya kejang.Mulutnya berbusa.Segera kami usung ke rumah sakit.
Belum selesai geger si Nisa, kampung kami digegerkan lagi dengan step-nya Ririn, anak Pak Subur.Anak Pak Wiwid yang baru berusia tiga tahun juga step. Kampung kami benar-benar gempar. Semua kerisauan dialamatkan ke Mbok Jiyem.Dialah biang keladi dari musibah kampung ini. Seandainya pohon randu itu tak ditebang,tak akan ada anak yang step beruntun.Padahal anak-anak itu tidak sakit.
Mereka sehat sehat saja.Tapi begitu pohon randu ditebang mereka keganggugondoruwo. Itulah kejadian malam hari ketika siang harinya pohon randu itu ditebang. Malam berikutnya,tak ada anak step lagi.Tapi si Parmin tiba-tiba saja jatuh terjerembab karena merasa dijegal oleh sosok tinggi besar. Slamet mesti lari tunggang langgang karena merasa dikejar makhluk tak dikenal dengan bendo di tangan. Priyadi bahkan secara meyakinkan melihat bayangan yang berdiri dengan mata merah dan rambut merah di tonggak pohon randu.
Orang-orang segera kasak-kusuk. Menggelar aneka cerita dan berita dari hasil rekaannya sendiri.Ada yang mengatakan umur MbokJiyem tinggal menunggu hari. Bahkan ada yang menyatakan tinggal beberapa jam. Begitu juga bagi tukang-tukang senso yang telah lancang menebang randu. Karena kekeramatan si pohon randu mereka pasti akan kenabilahi.Paling sial, mereka akan terserang penyakit aneh, atau bahkan mati dicekik.
Kami diam-diam tengah menanam harapan buruk,yakni menunggu musibah datang. Kami tak peduli, anakanak yang step sudah bisa bermainmain seperti biasanya. Kami juga tak peduli lagi cerita tonggak pohon randu yang semakin nganeh-nganehi. Kami benar-benar menunggu apa yang akan terjadi dengan Mbok Jiyem. Sepekan berlalu. Sebulan. Dua bulan. Tapi Mbok Jiyem tak juga kena bendu.Malah makin aktif mendatangi pengajian Kiai Jafar.
Ia juga berhasil mengajak ibu-ibu yang lain. Dengan tumbangnya pohon randu, langgar, makin hari makin ramai jamaahnya. Para bapak pun kembali mengisi saf salat jamaah. Mereka kembali mendengarkan pengajian Kiai Jafar. ”Apakah Kiai percaya adanya bangsa jin?” tanya Slamet yang tak bisa lagi menahan kepenasarannya. ”Tentu saja percaya. Bukankah jin itu termasuk makhluk ciptaan Allah?”
”Kiai percaya pohon randu Mbok Jiyem yang ditebang beberapa waktu yang lalu dihuni gondoruwo?” ”Tidak!”jawab Kiai Jafar tegas. ”Dan untuk membuktikan bahwa pohon randu itu tidak ada gondoruwonya, saya meminta Ibu Jiyem untuk menebang pohon randunya!” Mendengar pengakuan Kiai Jafar kami benar-benar kaget. Sama sekali tak menduga bahwa kengototan Mbok Jiyem ternyata atas kehendak Kiai.
”Saya menilai pohon randu itu mengganggu keimanan Bapak-Ibu sekalian. Dengan penebangan itu, saya berharap keimanan Bapak-Ibu tak lagi bercabang!” ”Nah, karena sudah terbukti tak ada peristiwa apa-apa setelah penebangan pohon randu, saya akan memberikan satu lagi tambahan pelajaran tentang iman!”lanjut Kiai Jafar. ”Besok,Ahad, kita bersihkan sendang.
Berhala-berhala yang ada di sana kita singkirkan. Dahan-dahan beringin yang sudah lapuk kita potong sekalian agar tidak membahayakan …… !” Kelanjutan ajakan Kiai Jafar tak bisa kami dengar lagi. Suaranya mendengking di telinga kanan.Adapun di telinga kiri, suara kaki dhanyang nini dhanyang melengking-lengking. Membuat kami pening. Membuat kami pening.(*)
KUSPRIHYANTO NAMMA,
Kelahiran Ngawi, 30 Oktober 1965, Alumni FKIPUniv. Sebelas Maret Surakarta, Guru Bahasa Indonesia MAN Ngawi, Pendiri Kelompok Peron FKIP-UNS Surakarta, Kini menetap di komunitas Teater Magnit Ngawi
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
Sutardji Memberikan Contoh
Oleh: Rikobidik
Menempatkan puisi sebagai status ontologis bahasa nampaknya sebuah eksplorasi mengenai hakikat bahasa yang cukup menjanjikan. Meski ciri-ciri puisi di sini janganlah seperti yang kita kenal yang konon melekat di semua tata permainan bahasa membuat bahasa gaul otomatis termasuk di dalamnya.
Kenapa tidak dikatakan saja bahwa bahasa gaul sebagai status ontologis bahasa? Memberikan nama memang terkadang merepotkan. Berbekal sisa ingatan materi kuliah filsafat bahasa (khususnya filsafat analitis—R), tulisan ini akan mencoba menganalisis konsep status ontologis bahasa sebagai puisi yang sepertinya sangat diperjuangkan A Boy-Mahromi.
Ketidakteraturan, permainan, dan bahasa sebagai mantra
Kata ”ketidakteraturan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”. Kalau memang demikian, saya akan memahami kata ”ketidakteraturan” sebagai ketidaksamaan keadaan, kegiatan, atau proses yang terjadi beberapa kali.
Barangkali benar apa yang dikatakan A Boy-Mahromi bahwa bahasa dalam kehidupan berlaku sebagai ”ketidakteraturan”.Sebab, kehidupan yang menyangkut pemahaman terhadap manusia sulit sekali dimengerti dengan pola verifikasi positivistik. Kata ”permainan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi sebagai ontologis bahasa barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”.
Jika memang demikian, saya akan memahami kata ”permainan” sebagaimana pemahaman penafsiran saya menurut Wittgenstein II. Permainan bahasa yang dimaksudkan Wittgenstein II (1983) adalah setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki aturannya masing-masing. Meskipun aturan itu sulit ditentukan secara normatif dan sulit ditentukan batasbatasnya secara tepat, manusia memahami bagaimana menggunakan bahasa di setiap aspek kehidupan yang sangat beraneka ragam.
Mayoritas ahli bahasa di Pusat Bahasa kerap kali mengabaikan aspek ini,terutama dengan menerapkan istilah baku dan tidak baku yang menurut saya bertendensi melecehkan. Namun, penafsiran Yunit dan A Boy-Marhomi terhadap kata ”permainan” ternyata berbeda dengan tafsiran saya di atas.Dengan penafsiran yang saling berbeda seperti inilah barangkali Yunit menyandingkan kata ”hanyalah”pada ungkapan ”hanyalah permainan” pada artikelnya yang terbit di harian SINDO (11/ 05/08).
Dilekatkannya kata ”hanyalah” itu menyebabkan saya menafsirkan ”permainan”-nya Yunit kepada pengertian perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguhsungguh.
Status ontologis bahasa adalah penggunaannya
Dengan meniru sifat curiga Wittgenstein seraya mengambil keuntungan dari pernyataan Derrida,saya mengajak para pembaca untuk curiga, jangan-jangan pemahaman Yunit dan A Boy-Mahromi atas Heidegger mengenai kebenaran hakikat bahasa sesungguhnya terdapat dalam puisi pun bisa jadi mengalami ”perbedaan” dan ”penundaan”.
Mengingat pemahaman A Boy-Mahromi mengenai Wittgenstein, Heidegger, dan Sutardji pun tersampaikan melalui bahasa yang hanya bisa ditafsir tanpa harus terbirit-birit untuk memutlakkan diri paling tahu bukan? Saya mengajak para pembaca untuk kembali kepada yang diungkapkan Sutardji, yaitu ”kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian, kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra”.
Dalam ungkapan Sutardji tersebut, saya akan mendekatinya sebagai berikut.Misalnya, kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian. Sutardji tentu tidak bermaksud seadanya dengan ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut sebaiknya ditafsirkan secara memadai, yaitu bahwa kata-kata yang beredar dalam kehidupan kita yang berwujud maksud (pengertian) harus ditafsirkan kegunaannya (dibebaskan dari kungkungan) terlebih dahulu.
Secara sederhana, dapat saya simpulkan bahwa Sutardji bermaksud supaya kita mampu menyibak maksud atau menafsirkan (dibebaskan dari kungkungan pengertian) suatu ungkapan bahasa. Tafsiran ini ditopang dari pengertian arti kata sebagai ”maksud” seperti yang diungkapkan Wittgenstein II (1983) bahwa ”maksud” adalah sesuatu yang seluruhnya tetap ada dalam bahasa dan bukan sesuatu yang dianggap terpisah dari bahasa.
Saya tambahkan lagi, jika arti yang dikandungnya sebagai maksud, penggunaannya tidak menggambarkan katakata dan arti itu sendiri. Sementara untuk memahami arti kata sebagai kegunaan, dilakukan dengan cara menerangkannya. Mudahnya, jika seseorang ingin memahami penggunaan kata ”mantra”, 0harus dicari penjelasan dari arti kata tersebut.
Sebab,arti sesuatu dari satu kasus menunjukkan pada pengertian arti kata dalam penggunaannya. Kata ”mantra”yang digunakan Sutardji dapat diurai menjadi perkataan yang memiliki kekuatan gaib. Kata ”gaib” berarti tidak kelihatan, tersembunyi, tidak nyata.Berhubung Sutardji berbicara dalam konteks kata (bahasa) dalam puisi seperti yang dinyatakan Yunit, dirinya bermaksud supaya kita jangan terlalu sibuk mengurusi bahasa dari sistem tanda dan struktur fisis seperti yang dilakukan kaum linguistik struktural.
Dengan memberikan contoh fungsi kata seperti dalam mantra, saya menafsirkan, dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa walaupun dalam mantra tidak ditemui penggunaan aturan gramatikal yang ketat seperti yang diyakini kaum linguistik struktural, kata-kata itu tetap berfungsi, yaitu memiliki kekuatan yang tersembunyi dalam kata.
Yaitu,makna! Jika ditambah dengan tafsiran pada tidak ditemuinya aturan gramatikal yang ketat pada ”mantra”, dapatlah saya tafsirkan aturan gramatikal bahasa sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. Artinya, ungkapan Sutardji ”kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra” adalah ikhtiarnya dalam memberikan contoh, meski secara tidak langsung,mengenai aspek ontologis bahasa yang berujung kepada penggunaannya.
Sebab, seperti kita ketahui, pada masa itu sulit sekali berbicara terangterangan menolak dominasi kaum linguistik struktural yang mayoritas berbasis di Pusat Bahasa. Status ontologis bahasa,menurut Wittgenstein II—yang kemudian secara tidak langsung dicontohkan Sutardji, adalah penggunaannya.Aspek ontologis bahasa ini secara tidak langsung berkorelasi dengan semangat nilai-nilai pluralitas yang mendobrak tatanan universalitas.(*)
Rikobidik,
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nasional, Jakarta.
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
Menempatkan puisi sebagai status ontologis bahasa nampaknya sebuah eksplorasi mengenai hakikat bahasa yang cukup menjanjikan. Meski ciri-ciri puisi di sini janganlah seperti yang kita kenal yang konon melekat di semua tata permainan bahasa membuat bahasa gaul otomatis termasuk di dalamnya.
Kenapa tidak dikatakan saja bahwa bahasa gaul sebagai status ontologis bahasa? Memberikan nama memang terkadang merepotkan. Berbekal sisa ingatan materi kuliah filsafat bahasa (khususnya filsafat analitis—R), tulisan ini akan mencoba menganalisis konsep status ontologis bahasa sebagai puisi yang sepertinya sangat diperjuangkan A Boy-Mahromi.
Ketidakteraturan, permainan, dan bahasa sebagai mantra
Kata ”ketidakteraturan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”. Kalau memang demikian, saya akan memahami kata ”ketidakteraturan” sebagai ketidaksamaan keadaan, kegiatan, atau proses yang terjadi beberapa kali.
Barangkali benar apa yang dikatakan A Boy-Mahromi bahwa bahasa dalam kehidupan berlaku sebagai ”ketidakteraturan”.Sebab, kehidupan yang menyangkut pemahaman terhadap manusia sulit sekali dimengerti dengan pola verifikasi positivistik. Kata ”permainan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi sebagai ontologis bahasa barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”.
Jika memang demikian, saya akan memahami kata ”permainan” sebagaimana pemahaman penafsiran saya menurut Wittgenstein II. Permainan bahasa yang dimaksudkan Wittgenstein II (1983) adalah setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki aturannya masing-masing. Meskipun aturan itu sulit ditentukan secara normatif dan sulit ditentukan batasbatasnya secara tepat, manusia memahami bagaimana menggunakan bahasa di setiap aspek kehidupan yang sangat beraneka ragam.
Mayoritas ahli bahasa di Pusat Bahasa kerap kali mengabaikan aspek ini,terutama dengan menerapkan istilah baku dan tidak baku yang menurut saya bertendensi melecehkan. Namun, penafsiran Yunit dan A Boy-Marhomi terhadap kata ”permainan” ternyata berbeda dengan tafsiran saya di atas.Dengan penafsiran yang saling berbeda seperti inilah barangkali Yunit menyandingkan kata ”hanyalah”pada ungkapan ”hanyalah permainan” pada artikelnya yang terbit di harian SINDO (11/ 05/08).
Dilekatkannya kata ”hanyalah” itu menyebabkan saya menafsirkan ”permainan”-nya Yunit kepada pengertian perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguhsungguh.
Status ontologis bahasa adalah penggunaannya
Dengan meniru sifat curiga Wittgenstein seraya mengambil keuntungan dari pernyataan Derrida,saya mengajak para pembaca untuk curiga, jangan-jangan pemahaman Yunit dan A Boy-Mahromi atas Heidegger mengenai kebenaran hakikat bahasa sesungguhnya terdapat dalam puisi pun bisa jadi mengalami ”perbedaan” dan ”penundaan”.
Mengingat pemahaman A Boy-Mahromi mengenai Wittgenstein, Heidegger, dan Sutardji pun tersampaikan melalui bahasa yang hanya bisa ditafsir tanpa harus terbirit-birit untuk memutlakkan diri paling tahu bukan? Saya mengajak para pembaca untuk kembali kepada yang diungkapkan Sutardji, yaitu ”kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian, kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra”.
Dalam ungkapan Sutardji tersebut, saya akan mendekatinya sebagai berikut.Misalnya, kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian. Sutardji tentu tidak bermaksud seadanya dengan ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut sebaiknya ditafsirkan secara memadai, yaitu bahwa kata-kata yang beredar dalam kehidupan kita yang berwujud maksud (pengertian) harus ditafsirkan kegunaannya (dibebaskan dari kungkungan) terlebih dahulu.
Secara sederhana, dapat saya simpulkan bahwa Sutardji bermaksud supaya kita mampu menyibak maksud atau menafsirkan (dibebaskan dari kungkungan pengertian) suatu ungkapan bahasa. Tafsiran ini ditopang dari pengertian arti kata sebagai ”maksud” seperti yang diungkapkan Wittgenstein II (1983) bahwa ”maksud” adalah sesuatu yang seluruhnya tetap ada dalam bahasa dan bukan sesuatu yang dianggap terpisah dari bahasa.
Saya tambahkan lagi, jika arti yang dikandungnya sebagai maksud, penggunaannya tidak menggambarkan katakata dan arti itu sendiri. Sementara untuk memahami arti kata sebagai kegunaan, dilakukan dengan cara menerangkannya. Mudahnya, jika seseorang ingin memahami penggunaan kata ”mantra”, 0harus dicari penjelasan dari arti kata tersebut.
Sebab,arti sesuatu dari satu kasus menunjukkan pada pengertian arti kata dalam penggunaannya. Kata ”mantra”yang digunakan Sutardji dapat diurai menjadi perkataan yang memiliki kekuatan gaib. Kata ”gaib” berarti tidak kelihatan, tersembunyi, tidak nyata.Berhubung Sutardji berbicara dalam konteks kata (bahasa) dalam puisi seperti yang dinyatakan Yunit, dirinya bermaksud supaya kita jangan terlalu sibuk mengurusi bahasa dari sistem tanda dan struktur fisis seperti yang dilakukan kaum linguistik struktural.
Dengan memberikan contoh fungsi kata seperti dalam mantra, saya menafsirkan, dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa walaupun dalam mantra tidak ditemui penggunaan aturan gramatikal yang ketat seperti yang diyakini kaum linguistik struktural, kata-kata itu tetap berfungsi, yaitu memiliki kekuatan yang tersembunyi dalam kata.
Yaitu,makna! Jika ditambah dengan tafsiran pada tidak ditemuinya aturan gramatikal yang ketat pada ”mantra”, dapatlah saya tafsirkan aturan gramatikal bahasa sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. Artinya, ungkapan Sutardji ”kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra” adalah ikhtiarnya dalam memberikan contoh, meski secara tidak langsung,mengenai aspek ontologis bahasa yang berujung kepada penggunaannya.
Sebab, seperti kita ketahui, pada masa itu sulit sekali berbicara terangterangan menolak dominasi kaum linguistik struktural yang mayoritas berbasis di Pusat Bahasa. Status ontologis bahasa,menurut Wittgenstein II—yang kemudian secara tidak langsung dicontohkan Sutardji, adalah penggunaannya.Aspek ontologis bahasa ini secara tidak langsung berkorelasi dengan semangat nilai-nilai pluralitas yang mendobrak tatanan universalitas.(*)
Rikobidik,
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nasional, Jakarta.
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)

