Selamat Datang!

Mencobalah untuk lebih dekat! Agar semua rasa bisa dilebur, demi meringankan jiwa yang sedang kalut!

Carilah Sesuatu Yang Hilang Itu

Google

19 Juni 2008

Mencari Bentuk Kritik Sastra

Oleh: Dwi Susanto

Perdebatan dan perkembangan kritik sastra menunjukkan perkembangan studi sastra perlahan-lahan dan pasti sedang bertransformasi untuk menentukan bentuknya kembali.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah kritik sastra di Indonesia ini telah menemukan bentuk dan semangatnya?

Rahmat Djoko Pradopo (1984) dalam disertasinya Kritik Sastra Indonesia Modern telah memaparkan sejarah kritik sastra di Indonesia. Pradopo dalam mengategorikan kritik berpegang pada teori romantik yang dikenalkan M H Abrams. Akhirnya, model ini banyak diikuti kritikus di Indonesia, khususnya aliran akademis hingga saat ini. Jika melihat beberapa tulisan dari Budi Darma (1995), persoalan yang muncul adalah apakah paradigma tersebut masih relevan jika dikembangkan di dunia akademis kita? Apakah paradigma yang dianut oleh dunia akademis kritik sastra kita saat ini sudah sesuai dengan bentuk dan Zeitgeist-nya. Buku Ignas Kleden (2004), Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan, menurut saya merupakan contoh kritik sastra terapan yang sangat bagus yang sadar paradigma.

Kritik membutuhkan teori dan teori sesungguhnya hanya berperan sebagai alat bantu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Kemenangan kaum fenomenologi pada kritik sastra ikut memengaruhi selera estetik hingga berdampak pada sistem penilaian, yakni apakah sastra (karya sastra) itu bernilai estetik atau tidak. Jika kita mengikuti pemahaman tradisi hermeneutik modern dan fenomenologis, peran penafsir, pembaca, dan juga kritikus bergerak dari sifat obyektif menuju posisi intersubyektif kemudian menjadi subyektif lagi. Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan bagi kita semua yakni, bagaimanakah posisi teori sastra itu sendiri?

Keberadaan teori sastra menjadi kabur, kaku, dan sebagai hakim yang menentukan bernilai estetik atau tidaknya suatu karya. Teori sastra menjadi ”dewa” dalam memberi pengadilan pada karya. Kondisi ini telah melupakan dan mengasingkan hakikat kehadiran karya itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan teori sastra sebagai ”alat mekanik” atau ”estetik mesin”.

Melihat inter-relasi hadirnya karya, muncul tiga konsep yang berinteraksi dalam satu lingkaran yakni karya, pembaca, dan pengarang. Ketiga komponen tersebut merupakan satu dialog. Pemisahan terhadap komponen yang satu dengan yang lain merupakan ciri kritik sastra kita yang menurut sudah tidak relevan. Namun, amat bermasalah jika menggabungkan antarkedudukan komponen tersebut tanpa mempertimbangkan konsep-konsep teori yang tentu saja mengandungi paradigma yang berbeda. Hal ini menurut saya akan menghasilkan kritik gado-gado yang kehilangan selera dan rasa. Tapi, mengapa kita masih mengikuti tradisi itu?

Jika melihat perkembangan dalam dunia kritik sastra, kita mengenal konsep formalisme, strukturalisme, Marxis, pasca-Marxis, dan pascastrukturalisme, termasuk pascamodern. Kaum formalis membatasi kritik pada level tekstual dan teknik-metodelogis. Strukturalisme ternyata telah melakukan pembunuhan terhadap subyek dalam menerapkan kritiknya. Pascastruktural hanya menjadikan kritik sebagai wacana, reproduksi makna, melakukan decentering terhadap logosentris, dekontruksi terhadap struktur, dan melakukan strukturasi sehingga melakukan penngrusakan struktur dan melampaui struktur itu sendiri. Pasca-Marxis berusaha membangkitkan subyek yang terbunuh oleh struktrualisme dalam relasi kelas dalam mana subyek tersebut dijadikan sebagai penyalur berbagai subyek imajiner dalam pembangunan suatu wacana.

Semua kritik sastra yang bersumber pada teori sastra tersebut gagal menjawab hubungan inter-relasi pada hakikat kehadiran atau terciptanya satu karya seni (sastra). Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengatasi kegagalan tersebut?
Pertanyaan yang belum mampu dijawab oleh kritik sastra dan teori sastra kita itu masih ditambah dengan perkembangan selera dan ekspresi manusia dalam bersastra yang mencapai taraf ketidakpercayaan, permainan, dan kehausan. Kritik yang berkembang pada periode selanjutnya adalah ”studi”. Embrio tersebut sesungguhnya telah ada dalam studi lanjut bidang ilmu sastra, yakni Studi Sastra Banding.

Perkembangan tersebut direspons dengan muncul kritik sastra yang bernama ”Kajian Budaya”.

Istilah kajian budaya atau culture studies ini merupakan istilah yang rumit dan kompleks. Kajian ini (kritik) berbeda dengan kajian sastra Pasca-Marxis. Tujuan dari pendekatan ini tidak lain untuk mengungkapkan kompleksitas inter-relasi hadirnya obyek karya dengan proses yang berlangsung dalam pengkonstruksian nilai estetik suatu karya. Pendekatan ini akhirnya jatuh pada pembuktian konstruktif dari teori sastra dan kritik sastra sebelumnya. Inilah kegagalan kajian budaya dan mengapa kajian budaya terus digunakan?

Melani Budianta (2002) menyebutkan istilah kunci untuk kajian (sastra). Pertama, genealogi atau sejarah asal-muasal yang menelusuri teori-teori budaya dari Mathew Arnold hingga teori pascamodern. Kedua, aneka ragam kajian budaya kontemporer dengan teori dan pendekatan yang berbeda. Ketiga, sejumlah konotasi tentang agenda dan orientasi sekelompok ilmuwan yang tidak dibahas secara koheren dan eksplisit.

Kritik sastra yang berpedoman pada kajian budaya tersebut pada akhirnya jatuh pada pembuktian konstruksi estetik semata. Paradigma yang terakhir dalam dunia kritik sastra atau teori sastra sejak zaman romantik Inggris, formalis, strukturalisme, hermeutik, pasca-Marxis, pascastrukturalis, pascamodern dan culture studies atau dari abad XX hingga XXI telah menunjukkan kelemahan dan kegagalan dalam mendekati dan membaca karya sastra.

Pendekatan kritis menawarkan satu teori sastra yang membongkar wacana kritik itu sendiri. Menurutnya, kritik sastra adalah konstruksi dari bagian dalam pembentukan subyek dan realitas sehingga terlibat pada kepentingan tertentu, baik politik dan ekonomi. Kritik sastra, teori sastra dan sejarah sastra harus mengenali dan mengakui subyektivitasnya sendiri. Obyektivitas dalam bentuk apapun tidak akan tercapai dalam inter-relasi kehadiran karya itu sendiri.

Ilmu sastra yang meliputi teori, kritik, sejarah dan sastra bandingan sesungguhnya harus melepaskan dirinya dari strukturisasi dan konstruksi. Ilmu sastra harus mengambil posisi bersifat murni dan kritis terhadap kekuatan hegemonik yang dihadapi.
Keadaan ini seharusnya diperhatikan untuk peneliti, pembelajar dan pengajar atau profesor sastra dan linguistik/bahasa untuk direnungkan kembali kekuatan hegemonik apa yang berada dan bersembunyi di balik ilmu yang mereka agung-agungkan dan mereka pelajari serta ajarkan. Jika tidak, betapa mereka yang telah menjadi budak yang bodoh dan tukang yang tak bernama, selayaknya kita merenungkan satu pernyataan dari Spivak berikut ini: ”Tanpa menghadapkan pandangan kita ke Barat, kita tidak mungkin menjadi seorang intelektual”. Wahai para pakar sastra, apakah demikian adanya?

- *) Dwi Susanto, mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

(DIMUAT DI SOLO POS, 15 JUNI 2008)

11 Juni 2008

PENGUMUMAN ARTIKEL INSPIRATIF DAN PUISI TERPILIH UNTUK BUKU ANTOLOGI ESKA

Kaget NIH... Namaku termasuk di dalamnya... Bersyukurlah aku pada Tuhan!

Sahabat-sahabat di mana saja berada terutama sahabat-sahabat Eska, alhamdulillah, setelah melalui penjurian dan penilaian seluruh artikel inspiratif dan puisi yang masuk ke Panitia, dan juga setelah melalui berbagai diskusi dan pertimbangan tim juri dan Panitia Buku Antologi Sekolah Kehidupan, akhirnya telah terpilih sebanyak 19 (sembilan belas) artikel inspiratif dan 31 (tiga puluh satu) puisi untuk Buku Antologi Sekolah Kehidupan.

Terima kasih banyak sebelumnya kami haturkan bagi sahabat-sahabat semua yang telah mengirimkan naskahnya untuk Buku Antologi ini. Launching buku ini insya Allah akan diselenggarakan pada perayaan Milad Sekolah Kehidupan yang kedua pada 27 Juli 2008 mendatang.

Secara umum, kualitas tulisan yang masuk berada di level rata-rata. Namun ada beberapa yang karena kekuatan tema, dan keunikan gaya bahasa, membuat tulisan-tulisan tersebut layak untuk diterbitkan. Yang menjadi indikator penilaian adalah substansi cerita, gaya bertutur, dan kekuatan tema.

Dan inilah hasil lengkap artikel-artikel inspiratif dan puisi yang terpilih:

Artikel-artikel inspiratif yang terpilih:



1) 7.500 rupiah (Asma Sembiring)

2) Ibu (Arham Kendari)

3) Love Miracle From The Andes (Syafa'atus Syarifah)

4) Kekayaan Berharga (Catur Catriks)

5) Mimpiku Di Sengatta (Sismanto)

6) Nikmat-Nya Yang Tak Terhingga (Novi Khansa)

7) Lin, Aku Belajar Banyak Darimu (Setta)

8) Aku Sayang Ibu (Yudhi Mulianto)

9) Pelajaran Menulis (Retnadi Nur'aini)

10) Ksatria Hingga Senja (Hamasah Putri)

11) Trouble Maker (Benny Oktaviano)

12) Cerita Di Balik Rumah Kopel (Ichen Zr)

13) Kekuatan Sang Pemimpi (Jenny Jusuf)

14) Bersahabat Dengan Alam (Siu Elha)

15) Nasi Goreng (Lia Octavia)

16) Rindu Abah (Fely Hilman)

17) Ketika Mempertanyakan Cinta (Febty Febrianti)

18) Menambal Hati (St Fatimah)

19) Satu Rindu (Listya Arisanti)



Puisi-Puisi yang terpilih:

1) Adalah Niskala Dalam Setiap Harapku (Dani Ardiansyah)

2) Pulang (Novi Khansa)

3) Kepada Laila (Nia Robie)

4) Lukisan (Ain Nisa)

5) Bocah Debu (Divin Nabb)

6) Rasa Yang Membunuh (Penuliz Mizteriuz)

7) Hati Yang Bergolak (Regantini Salsabila)

8) Aku Adalah Sebongkah Batu (Andhini Putri)

9) Sebuah Penyadaran (Lukman Hadi)

10) Tak Cukup (Candrawali)

11) Asaku Mengukir Senja (Rachmad Jr)

12) Bulir Kebeningan (Lanny Megasari)

13) Mujahid Kecil Kami (Bu Has)

14) Sidoarjo Mengemis (Nana S)

15) Menggenggam Cahaya (Lia Octavia)

16) Terkadang (Wildan Fikri)

17) Jika Kuntum Tak Lagi Mekar I (Sayyid Madany Syani)

18) Untuk Ayah (Meyla Farid)

19) Bayang-Bayang! (Dyah Zakiati)

20) If God Was One Of Us (Retnadi Nur'aini)

21) Penyair Padi (Epri Tsaqib)

22) Menuju Tak Terkenang (Arrizki Abidin)

23) Seratus Purnama (Lilyani Taurisia)

24) Jejak Luka 2 (Azwar Nazir)

25) Tebas Saja Leherku (Siu Elha)

26) Kisah Angin (Sunu Hadi)

27) Permainan Hidup (St Fatimah)

28) Panggung Senayan (Yoyong)

29) Kabar Dari Tuhan (Nera Andiyanti)

30) 20 Mei, Seratus Tahun Kemudian (Hasan Bisri BFC)

31) Tahukah Kau Saudaraku? (Inna Putri)

09 Juni 2008

Sumpah Mati Namaku Genta

OLEH: DIYAN KURNIAWATI

Warna jingga merah mengerjap memesonakanku senja ini.Tak dinyana, hatiku pun sejingga suasana yang kurasakan. Detik ini aku sangat puas.

Mungkin bagi orang lain, kejadian yang kurasakan ini biasa-biasa saja. Tapi, bagiku ”sesuatu” ini sangat berharga.AKU BARU SAJA MEMPUNYAI KTP BARU. Hmmmm, KTP baru, apa pula ini. Punya KTP baru saja sudah seperti kejatuhan bintang,mungkin begitu kata orang kalau melihat wajahku saat itu, sangat berseri-seri sambil mengantongi KTP baru yang begitu indah.

Bukan bentukan KTP yang membuatku sangat antusias menyambutnya, tapi identitas yang tertera di dalamnya. Di situ jelas-jelas tertera namaku GENTA HARTAWAN. Nama itulah yang membuatku bersemangat. Nama itulah yang membuatku berseri-seri bagai langit jingga di senja ini.Bukan seperti namaku yang kupakai sebelumnya, yang kupakai selama berpuluh- puluh tahun: Gandung,ah… tak berprestise sama sekali.

Maka itu, nasibku juga statis saja saat kupakai nama itu.Setelah berpikir sangat lama dan sendirian, aku mencoba mengubah namaku,bukannya aku tak menghormati orang tuaku yang memberi nama itu, tapi mereka toh tak akan marah kalau saat ini aku mengganti namaku karena mereka sudah meninggal sehingga aku bebas memilih. Dan,setelah lama berpikir,muncullah nama itu, supaya nasib baikku bergenta- genta di seluruh jagat.

Pada saat belum mempunyai KTP dengan nama resmi tersebut,sejak kutemukan nama itu, aku mulai menyosialisasikannya. Orang-orang yang baru kukenal di kota ini kelihatan begitu takjub saat aku memperkenalkan namaku pada mereka. ”Genta Hartawan,” kataku menyambut tangan tetangga baruku saat aku mulai memperkenalkan diri di lingkungan baru tersebut.

Orang itu takjub dan dengan muka kagum langsung berkata, ”Wah, nama Anda hebat, pantas nasib Anda juga hebat,Pak Genta.”Aku terkekeh sambil sok rendah hati,”Ah,biasa saja”.Ya,memang nama itu bukan sekedar nama tapi harapan kita, kan.”Tetangga baruku semakin kagum atas penjelasanku. Begitulah sejak saat itu semua orang memanggilku,Pak Genta.

Di rumah,di kantor, bersama rekan bisnis di lapangan golf atau saat sesekali ke kafe, semua orang memanggilku Pak Genta Hartawan.Tak ada lagi nama Gandung Haryadi seperti dulu. Nama itu hanya mengingatkanku atas semua penderitaanku. Saat kecil,aku harus melewati jalan berbatu untuk sampai di sekolahku saja. Dan, sampai di sana aku harus menjual gorengan buatan ibu di sela-sela istirahat.

Tak jarang temantemanku ada yang iseng, mengambil gorengan,tapi tak bayar. ”Ndung,bayarnya besok ya,berapa satu?”kata temanku saat itu. ”Dua ratus lima puluh,”jawabku. ”Ah,murah saja.Aku ambil lima ya, besok langsung kubayar,”katanya sok. Dan besoknya ia tak juga membayar malah mengambil lagi. Aku, Gandung, tak bisa berbuat apa-apa, aku takut, anak itu punya banyak teman yang sama-sama sok,pasti mereka akan mengeroyokku kalau aku macammacam.

Ah, pengalaman yang menyebalkan. Tapi begitulah,saat aku harus membuang KTP ku dengan nama Gandung, aku pun teringat lagi atas semua perkataan majikanku saat bekerja paruh waktu sebagai buruh di sebuah proyek pembangunan rumah elite untuk menyambung hidup dan sekolahku. ”Kamu orang tak bisa bekerja ya Ndung, ini apa?” mandor itu mencabuti patok-patok yang begitu mudah dicabutnya.

Seharusnya patok itu kuat. Maklum, saat itu aku belum terbiasa menjadi buruh. ”Kalau tidak bisa kerja di sini, keluar saja kau,”katanya sombong.Aku masih ingat,dia berkata sambil menatapku dengan sangat sinis. ”Saya akan kerja lebih baik, Pak, saya janji,”kataku meyakinkannya. ”Nah,begitu,bagus.Aku suka anak muda yang bersemangat,” katanya lagi sambil segera berlalu dengan nada kemenangan karena berhasil menekanku.

Ya, tak ada pilihan lain waktu itu,aku butuh uang,hanya itu yang kubutuhkan saat itu, lain tidak. Saat itu aku hanya menyimpan dendam untuk suatu saat tak mau diperlakukan seperti ini.Belum lagi,sampai di rumah, pemilik rumah kontrakan terus-menerus menagih uang kontrakan tanpa berperikemanusiaan. ”Ndung, kapan kamu lunasi kontrakan ini, sudah dua bulan, keluar saja kalau tak bisa bayar.Banyak yang antre mau kontrak rumah ini selain kamu.

Jangan bikin susah orang, Ndung,” katanya lagi.Aku tertunduk, lalu kuserahkan semua hasil jerih payahku beberapa hari, tak bersisa, tanpa berkata apa-apa padanya.Tibatiba muka orang itu seketika menjadi berseri-seri, mirip anak kecil yang menemukan mainannya. ”Nah, begini kan enak Ndung. Besok-besok jangan nunggaklagi,ya,” ia pun segera berlalu sambil menggenggam uangku.

Begitulah, semua kepahitanku setelah kupikir-pikir karena namaku, aku mencoba mencari alternatif nama. Dan,ternyata nama Genta Hartawan sangat cocok buatku. Berawal dari nama itu, aku diterima sebagai salesman pada sebuah perusahaan yang menghasilkan barang-barang luks,tak berapa lama karena prestasiku memuaskan aku diangkat menjadi supervisor para sales, dan tak sampai dalam hitungan lima tahun, aku menjadi marketing manager leader dalam sebuah perusahaan kelas atas itu, dengan fasilitas mobil dan rumah di perumahan elite dari perusahaan.

Dan itu semua adalah… karena namaku.Aku terkekeh mengenang perjalanan hidupku. Ambisiku adalah menjadi orang kedua setelah direktur utama. ”Pak Genta, rapat dengan para manager marketing akan segera dimulai,” kata sekretarisku. ”Oh, ya, jam berapa ini?” aku sok berlagak lupa, suatu hal yang layak bagi orang sibuk macam aku.

”Ya, bolehlah dimulai sekarang,” sahutku. Maka berkumpullah semua manajer di perusahaanku.Mereka melaporkan keadaan hasil penjualan dan prospek ke depan di wilayah masingmasing. Lalu,tibalah seorang manajer muda melaporkan keadaan hasil penjualan di daerahnya. ”Meski lumayan hasil penjualan di wilayah saya, kompetitor sangat banyak dan saya kira mereka juga patut kita perhitungkan,” kata manajer muda itu.

Kuambil catatan atas hasil penjualan di daerahnya lalu, ”Lumayan menurut Anda belum tentu lumayan bagi perusahaan ini, Saudara Handi. Prospek di daerah Anda cukup besar. Kompetitor sangat banyak, tapi seberapa besar perusahaan mereka,mereka hanya perusahaan-perusahaan kecil, seharusnya Anda tahu cara mengatasi supaya mereka tak bertingkah,” sahutku sangat realistis.

”Maksud Pak Genta,saya harus ”bekerja sama” dengan mereka supaya mereka tak usah bersaing dengan kita dalam proyek-proyek besar yang ada?” jawabannya membuatku tersenyum. ”Ternyata Anda cukup pintar. Ya, bagian mereka adalah proyek-proyek kecil sesuai dengan kapasitas mereka. Yang besar-besar adalah bagian kita. Anda harus bisa memberi pengertian pada mereka. Dengan sedikit ”pengganti” jerih payah mereka bolehlah,” kataku sambil menjentikkan jari memaknai kata ”pengganti”itu. Tiba-tiba manajer muda itu berdiri.

”Maaf Pak Genta, bukan berarti saya akan melaksanakan perintah Pak Genta meski saya tahu cara itu paling praktis dalam dunia perbisnisan.Tapi produk mereka sangat bagus, Pak. Tidak kalah dengan produk kita.Saya kira kita harus bersaing secara sehat,” katanya lagi. Mendengar perkataannya, tibatiba tensi darahku mendadak tinggi.

Selama bertahun-tahun, setelah memakai nama Genta Hartawan, belum pernah seseorang membantah sebegitu dahsyatnya perkataanku, tapi manajer muda itu…….. ”Saudara Handi, Anda bekerja untuk perusahaan ini bukan? Jadi apa pun harus Anda lakukan supaya kita punya untung besar.Anda sendiri juga nanti yang akan menikmati hasilnya,” kataku berapi-api.

”Tapi tidak dengan cara-cara yang tidak sehat seperti itu, Pak Genta,” katanya lagi. ”Tapi itu lazim dalam dunia bisnis, Saudara Handi!” jawabku tak kalah sengit. ”Lazim tapi tidak sehat, Pak,” ia masih saja bisa menjawab. ”Berarti Anda sudah tidak sejalan dengan saya,…….berarti…..” ”Berarti perusahaan ini juga sudah tak sejalan dengan saya, berarti saya harus keluar dari sini kan,Pak.Semoga perusahaan ini menjadi lebih sehat, Pak Genta.

Selamat siang,…….” ia berkata dengan entengnya memotong perkataanku. Kurang ajar!!! Aku sebenarnya memang mau memecatnya, tapi ternyata ia mendahului perkataanku…..Benarbenar manajer muda yang tak tahu diri.Semua manajer kaget ternganga melihat perdebatan sengitku berakhir seperti ini. ”Silakan Anda keluar.Banyak yang akan menggantikan posisi Anda!!” teriakku dengan emosi.Para manajer lain hanya geleng-geleng kepala.

”Tenang,Pak Genta, tenang,” kata mereka saat melihatku emosional. ????? Beberapa hari setelah kejadian itu, direktur memanggilku.Ternyata aku ditegur akibat keemosionalanku,bahkan aku telah memecat tanpa persetujuan dia. ”Handi itu manajer yang paling prospektif,Pak Genta.Anda ceroboh telah memecatnya. Ia benar,kita harus menjadi perusahaan yang sehat,”kata direkturku.

Aku ternganga, seingatku Genta Hartawan belum pernah dipersalahkan seperti ini. Biasanya direkturku menerima segala usulku, tapi sekarang… Aku tertunduk… ”Saudara masih ingin menjadi marketing manager leader di sini kan?” tanyanya lagi.Aku hanya mengangguk. ”Panggil lagi Saudara Handi. Saya yakin dia orang yang sangat profesional,” perintahnya membuatku kaget.

Memanggil orang yang baru saja kita pecat? Ah, …. dan aku harus minta maaf padanya karena telah memecatnya? Pandanganku parau. Betapa susah melaksanakan perintah ini.Aku tak bisa. Aku, Genta Hartawan, tak bisa diperlakukan begini, apalagi harus minta maaf pada manajer muda itu.Bagaimana pun aku adalah atasannya, mana ada atasan yang minta maaf pada bawahannya. Ada juga sebaliknya.

Aku sudah membayangkan pasti muka manajer muda itu akan berseri penuh kemenangan saat aku memanggilnya kembali untuk bergabung di perusahaan ini. Dan, aku, Genta Hartawan, tak sanggup!!!! Untuk menenangkan diri, aku segera beranjak pulang.Ketika turun dari mobil,seorang tetangga memanggilku, ”Pak Gandung, lama tak bertemu, ke mana saja?” Dari arah lain, seorang tetangga lain mendekatiku, ”Iya, Pak Gandung, ke mana saja?” Aku ternganga, mengapa mereka memanggilku Gandung lagi? Dan dari mana mereka tahu dahulunya aku bernama Gandung? Bukankah yang mereka tahu aku bernama Genta Hartawan? Tiba-tiba dari arah lain lagi berombongan orang memanggilmanggil aku, ”Pak Gandung, sekalikali gabung kita main tenis dong!”Aku pusing mendengar nama Gandung terus-terusan disebut.

Kucari KTP baru di dompetku. Aku ingin mengingatkan mereka dengan memperlihatkan KTP ku bahwa namaku Genta Hartawan bukan Gandung. Tapi,astaga!!!.… aku mengeja nama yang ada di KTP baruku,di situ tertera GANDUNG!!! Dan ….tak berapa lama badanku terasa lemas, mataku dipenuhi kegelapan.... Kudengar s”Pak Gandung pingsan, cepat bawa masuk ke dalam rumah!!!”Rasanya… aku tak ingin berdiri lagi.(*)

Cerpenis bekerja di Kantor Bahasa Kaltim dan sekarang sedang melanjutkan studi di Universitas Indonesia, Depok.

(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 7 JUNI 2008)

Pascastruktur Kebudayaan

Oleh: Syaiful Arif

Persoalan struktur kebudayaan kini mengemuka lagi,terkhusus terkait dengan hadirnya pascastrukturalisme. Di sini struktur tidak lagi dimaknai sebagai kesatuan unsur integratif yang membentuk dan menggeret kebudayaan pada satu tuju nan determinis.

Struktur kini dimaknai sebagai kuasa bahasa, yakni makna lebih merupa reproduksi kekuasaan, bukan produk internal sistem tanda. Dari sini terlihat kebudayaan bahkan menjadi rahim kekuasaan dengan bentuk struktur tidak tunggal, tetapi tergerus dalam kontestasi makna. Struktur kebudayaan pertama kali digagas filsafat kebudayaan.

Di sini struktur diposisikan sebagai bangunan budaya yang merangkum segenap unsur kebudayaan, yakni sains, agama, seni, ekonomi, dan politik, membentuk konfigurasi integratif yang mengikat ketunggalan makna. Kebudayaan menjelma das Umgrifende— meminjam Karl Jaspers— yakni nilai yang didukung organ sosial, di atas landasan material yang sesuai nilai tersebut sehingga membentuk kerangka besar,tempat sektor mikro mendapat arah.

Kebudayaan berdiri sebagai supersektor, yang terbentuk dan melingkupi segenap sektor kehidupan.Sektor ini mengacu pada struktur sosial (keluarga, pendidikan, lembaga agama) yang berbasis pada infrastruktur ekonomi sehingga menopang suprastruktur politik. Kebudayaan menjelma pijak nilai dan kognisi yang memberikan arah, sekaligus pengikat segenap struktur ke dalam satuan integratif nan teratur. Dari sini l a h i r l a h strukturalfungsional itu.

Kebudayaan tidak lagi menjadi landas nilai,tetapi hanya subsistem dari struktur sosial. Pada aras psikobiologis, ia menjelma conditioning, tempat manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.Pada aras struktural, ia menjelma legitimasi dan ”pengondisian kultural” bagi suksesnya agenda politik. Dua rezim terlama kita melakukan hal ini; Soekarno dengan ”kepribadian nasional”, Soeharto dengan ”jati diri bangsa”.

Dengan klaim identitas ini, negara telah terekspresi sebagai kebudayaan, nilai lokal didaulat menjadi sistem nasional.Yang kultural tertahbis menjadi yang politik.Risiko nyatanya ialah negara otoriter karena ia berdiri di atas legitimasi budaya. Pada level internal,struktur ini terbentuk dalam bahasa. Ia mendedahkan determinisme kebudayaan,yakni perilaku budaya selalu terbentuk oleh struktur pemikiran.

Hal ini terjadi karena bahasa memiliki otonomi begitu kuat. Eksistensinya tidak berada dalam parole,yakni ungkapan bahasa dalam konteks sosial, tetapi dalam langue,yakni struktur internal sistem tanda.Di sini kebudayaan bisa dilihat melalui simbol linguistik karena di balik simbol tersebut, terdapat struktur makna yang merepresentasikan hakikat kebudayaan.

Ini yang membuat kebudayaan tereduksi dalam human mind sehingga hanya dengan membaca konsep jagad gedejagad cilikmisalnya,kita bisa menangkap universalitas makrokosmos manusia Jawa.Tentu yang bermasalah di sini adalah stabilitas makna dalam internal bahasa, yang kemudian memosisikan subjek manusia sebagai ”boneka”dari struktur terberi.

Kuasa Simbolik

P e r - k e m - bangan p a s c a - strukturalisme telah merombak segenap konsepsi di atas.Kesalahan utama adalah stabilitas makna tunggal dalam bahasa yang membentuk fungsionalitas budaya dalam stabilitas sosial. Kedua stabilitas ini terkritik karena logosentrisme (klaim universalitas kebenaran) telah mengarahkan kebudayaan pada homeostationer (gerak dinamis menuju keadaan statis).

Pemelesetan makna menjadi pembebas sehingga pemahaman akan bahasa kini dibarengi kritisisme atas peran reproduktif kekuasaan atas kebudayaan. Ini terjadi misalnya dengan developmentalisme. Oleh strukturalfungsional, kebudayaan dalam hal ini berarti rasionalisme dan sekularisasi. Yang pertama merujuk pada usaha pembebasan dari mitos sehingga manusia mampu menempatkan unsur alam secara relasional, bukan memujanya sebagai ”kepungan gaib”.

Dengan akal,manusia mampu mengarahkan pemikiran, tidak demi kausalitas akhir (final causes) selayak kerja falsafi, tetapi technical know how, yakni persoalan utama terletak pada bagaimana mengatur segala sesuatu demi kemudahan hidup. Hal sama terjadi pada sekularisasi. Demi lancarnya pembangunan, nilai harus dipisahkan dari otoritas primordial karena ruang publik tidak memperkenankan terjadinya konflik sektarian.

Pemisahan kultural ini kemudian dibarengi diferensiasi struktural, yakni nilai terlembaga dalam birokratisasi sehingga bisa diatur dan dimanfaatkan secara politik. Di sinilah demokrasi menjadi alat terbaik, sebab ia memberikan mekanisme dan ruang yang menjamin segenap nilai tidak bertubrukan, tetapi teralokasi baik dalam parlemen, struktur negara, hingga kebijakan umumrasional.

Hanya saja, bentuk struktur ini dikritik karena meniscayakan kekuasaan pada level negara. Melampaui itu, pascastrukturalisme telah menemukan kekuasaan justru pada bahasa.Hal ini melahirkan dua risiko. Satu sisi, kebudayaan tidak an sich milik ”yang kultural”, tetapi terlebih mesin reproduktif bagi kekuasaan. Sisi lain,kekuasaan tidak lagi merupa represivitas dominatif, tetapi sebuah diskursus, yakni pengetahuan menjelma kekuasaan.

Diskursus mengacu pada penggerakan bahasa oleh pranata sosial sehingga mencipta regulasi nilai; sebuah biopolitik yang hendak mendisiplinkan tubuh (disciplinary). Di sini kekuatan bahasa tidak lagi terdapat dalam struktur internal sistem tanda, tetapi dalam materialitas pranata sosial yang mendistribusikan makna demi pendisiplinan masyarakat. Dari pergeseran ini nyata bahwa strukturalisme yang mengikat kebudayaan dalam ketunggalan makna dan struktural-fungsional yang mengorbankan kebudayaan demi kemanfaatan politik harus direvisi.

Kenapa? Karena ia telah mencipta kesadaran palsu dengan mendaulat negara sebagai pengembang dan penjamin kebudayaan. UUD 45 mengamanatkannya dan ini salah kaprah.Kesalahan terletak pada sifat autosentris dari kebudayaan, yang berbeda dengan negara. Kebudayaan merupa kehidupan sosial manusiawi.Karena itu,menjadi arah serta ”rem moral” atas gerak negara yang lebih merupa alat bagi tujuan tersebut. (*)

Peneliti Kebudayaan Ciganjur Centre, Jakarta

(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 7 JUNI 2008)