Selamat Datang!

Mencobalah untuk lebih dekat! Agar semua rasa bisa dilebur, demi meringankan jiwa yang sedang kalut!

Carilah Sesuatu Yang Hilang Itu

Google

06 April 2008

Puisi TS Eliot (1888-1965)

YANG MENDAHULUI

I

Musim dingin malam menenangkan
Dengan aorama stik di kejauhan jalan.
Jam enam tepat.
Terbakar musnah penuh hari-hari berasap.
Dan kini seliuk angin ribut pancuran membungkus
Sisa kotoran
Dari dedaunan melayu selingkar kakimu
Dan koran begitu hampa;
Pancuran-pancuran memukul
Pada kebutaan dan jambangan cerobong asap,
Dan di sudut jalan
Sebuah kereta kuda uap kesepian dan menghentak
kaki.
Dan kemudian cahaya menerangi

II

Pagi muncul dengan sadar
Aroma bir jahanam memusingkan
Dari serbuk gergaji menginjak jalan
Semua kakinya berlumpur tertekan
Pada awal jamuan kopi.
Dengan penyamaran lain
Waktu berlanjut,
Orang berpikir dari semua tangan-tangan
Yang sedang bangkit dari bayangan kumal
Pada seribu perkakas ruangan.

III

Kau lemparkan sebuah selimut dari tempat tidur
Kau baringkan pada punggungmu, dan tunggulah
Kau tidur sejenak, dan tontonlah penampakan\
malam
Ribuan pikiran kotor
Yang mana jiwamu diangkat;
Mereka mengedip melawan langit-langit.
Dan bila semua dunia kembali
Dan cahaya merangkak pelan diantara penutup
jendela
Dan kau mendengar burung pipit di pancuran atap,
Kau miliki sebuah impian pada jalanan
Sebagaimana jalanan sulit dimengerti;
Duduklah sepanjang ujung tempat tidur, dimana
Kau lengkungkan kertas-kertas dari rambutmu,
Atau jepitan sol kuning di kaki
Pada telapak tangan berlumur tanah.

IV

Jiwanya meregang rapat melintasi angkasa
Yang pudar di belakang kota terkunci,
Atau diinjak kaki bertubi
Pada jam empat atau lima;
Dan jejari persegi pendek mengisi pipa-pipa,
Dan koran malam, dan mata
Yakin seyakin-yakinnya,
Suara hati dari sebuah jalanan buruk
Tak sabar memikul dunia.

Aku digerakkan oleh khayalan yang dilengkungkan
Sekitar imej ini, dan melekat:
Pikiran dari beberapa kelembutan tak hingga
Tak hingga menderita.

Sapulah tanganmu melewati mulutmu, dan
tertawalah;
Dunia berputar bagaikan wanita kuno
Menghimpun mengisi kekosongan.

1917

SWEENEY DIANTARA BURUNG BULBUL

Leher Sweeney membentangkan lututnya
Membiarkan lengannya menggantung tertawa,
Zebra membelang sepanjang rahangnya
Membesar menodai jerapah.

Lingkaran bulan badai
Menyelip ke Barat menuju Sungai PLate
Kematian dan Raven mengalir terus
Dan Sweeney menjaga terompet gerbang.

Orion suram dan anjingpun sama
Diselubungi; dan heninglah lautan lisut;
Seorang bermantel Spanyol
Mencoba duduk di lutut Sweeney

Tergelincir dan tariklah meja pakaian itu
Membalikkan sebuah cangkir kopi,
Mengantur kembali pada lantai
Ia menganga dan menarik sebuah kaus kaki;

Lelaki diam dalam coklat moka
Terlentang pada ambang jendela dan anggur;
Pelayan membawakan jeruk
Pisang ara dan anggur rumah panas;

Vetebrata diam dalam warna coklat
Perjanjian dan memusatkan pikiran, menyendiri;
Rachel Rabinovitch nama waktu gadis
Airmata anggur dengan cakar kejam;

Ia dan perempuan itu dalam mantel
Dicurigai, pikiran dalam perkumpulan
Untuk itu lelaki dalam mata berat
Mundur selangkah, menunjukkan keletihan,

Meninggalkan ruangan itu dan muncul lagi
Di luar jendela itu, bersandarlah,
Cabang wistaria
Membatasi sesungging seringai emas;

Tuan rumah dengan seorang tak dikenal
Bercakap pada bagian pintu,
Burung bulbul sedang bernyanyi riuh
Biarawan dari roh Kudus,

Dan bernyanyi dalam kayu berdarah itu
Saat Agamemnon meraung keras,
Biarkan cairan mereka pindah jatuh
menodai mayat berkain kafan aib.

1919

Diterjemahkan oleh Edo Virama Putra dari Antologi American Poetry

Padang Ekspres, 6 April 2008

Melukis Matahari

Oleh: Azizatus Suhailah

Semilir angin pembuka cakrawala. Bahkan dia sama sekali tidak mengeluh. Gadis itu. Matanya hanya menatap hampa dunia. Dirinya mengambang dalam ketidakmengertian hidup. Bagaimana ia hendak mengeluh? Apa yang kan ia keluhkan?

Hidupnya pun tak bersuara sebab ia bisu, tak bernada lantaran ia tuli, tak pula berwarna sebab cakrawala penglihatannya yang buta warna hanya dapat melihat hitam dan putih. Bagaimana cara mengeluh?

Dunia yang hitam putih. Hitam dan putih dunia.

***

Pagi itu sebenarnya langit biru telah turun ke cakrawala. Biru. Sebenarnya biru. Bukan putih kelabu seperti penglihatannya. Gadis itu.

Kali ini ia termangu di balik jeruji pagar sebuah rumah mewah. Duduk saja di sana. Menatap lalu lalang orang-orang. Kota yang besar itu bising dalam hiruk pikuk seiring meningginya hari. Manusia bersliweran dan berkejaran mengejar waktu.

Gadis itu menggerak-gerakkan jari-jemarinya menghitung. Sudah berapa lama ia di sini? Dua hari, tiga hari, seminggu? Bukan. Bukan. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kening berkerut.

Ia menengadahkan wajah, lalu refleks memicingkan mata. Silau. Ah, ya ini saatnya. Biasanya, saat-saat seperti ini perempuan itu lewat.

Perempuan itu...
Perempuan yang selalu ia tandai semenjak ia terkurung di balik jeruji ini. Perempuan itu setiap hari lewat di depan jeruji pagar ini. Kadang berjalan santai. Lain waktu agak tergesa, bahkan pernah ia melihat perempuan itu berlari. Sampai di ujung blok, perempuan itu melambai-lambaikan tangannya. Menyetop bus.

Perempuan itu...
Selalu menggodanya untuk menunggu. Menunggu setiap pagi dan melihatnya lewat. Setiap hari hampir serba sama. Ia sendiri tidak bisa membedakan. Hitam putih saja yang tampak olehnya. tak ada beda.

Tapi satu hal membuat ia terpaku. Perempuan itu yang kadang tergesa-gesa tetap meninggalkan bekas keanggunan. Entah dimana letak keanggunan itu ia pun tidak tahu persis. Mungkin di balik kain panjang yang menutup kepala dan hampir seluruh tubuhnya. Melambai-lambai ditiup angin. Ia bisa melihat kesejukan itu. Meski dunianya hanyalah hitam putih. Hampa suara. Tanpa nada...

Kesejukan itu mengirimkan perasaan rindu pada dirinya. bilakah ia akan melambai bebas seperti perempuan itu. Yang selalu ia tunggu setiap pagi...

Dulu. Ah, tidak. Lebih tepatnya beberapa waktu lalu, dia adalah seorang gadis kumal pengamen. Ia tidak menyanyi. Ia dibawa oleh seorang laki-laki. Sedikit lebih tua dari dirinya. Berpatroli di terminal, naik dan turun bus. Laki-laki itu menyanyi, ia yang menjalankan bungkus bekas permen. Menampung recehan demi recehan...

Ia percayakan hidupnya pada laki-laki itu. Cukup lama mereka hidup bersama. Mengamen bersama. Berbagi uang bersama. Lalu malam harinya tidur di gerbong kereta berkarat yang sudah tak terpakai.

Keesokan pagi kembali menceburkan diri ke terminal yang hiruk-pikuk. Meskipun ia tidak mendengar apa-apa. Sebab hidupnya hampa suara. Tanpa nada...

Gadis itu...
Ia kembali menggerakkan jari jemarinya menghitung. Sudah berapa lama ia hidup dengan laki-laki itu> Satu, dua, tiga tahun? Entahlah. Cukup lama dan laki-laki itu memberinya cukup rasa aman. Ia aman bersama laki-laki itu. Meski ia hanya melihatnya sebagai hitam dan putih.

Namun, kemudian laki-laki itu membawanya ke tempat ini. Masih ia ingat senyum dikulum yang disedekahkan laki-laki itu padanya sambil menyembunyikan sebuah amplop tebal di balik baju. Sebuah rumah yang mewah. Dirinya pun dibersihkan. Didandani cantik. Diberi baju bersih dan bagus. Ia tidak lagi tidur di gerbong bekas dan berkarat. Tapi di ranjang yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Hangat.

Di rumah itu, lalu lalang bermacam-macam wanita. Juga bermacam-macam laki-laki. Mereka berpasang-pasang dengan berbagai macam gaya. Ia tidak mengerti warna tingkah mereka selain hitam dan putih.

***
Ketika malam menuju puncaknya.

Gadis itu...
Ia meringkuk menggigil di lantai kamar mandi. Ia sedang tertidur di balik selimut hangatnya ketika dunianya tiba-tiba gelap. Ia tak melihat apa-apa selain hitam. Dua-duanya warna yang ia miliki pun telah lenyap satu.

Lampu tiba-tiba dihidupkan dan semuanya putih lagi. Seorang monster berkumis berdiri gagah siap menerkamnya. Ia membuka mulut. Tak ada suara.

Sungguh ia tidak mengerti. Bertahun-tahun ia hidup bersama laki-laki itu di gerbong bekas tapi laki-laki itu tidak pernah merenggut putih dari warna hidupnya dan menerkamnya tiba-tiba.

Nalurinya berbicara. Ia adalah gadis. Ia bukan wanita-wanita banyak tingkah yang lalu lalang itu. Impuls-impuls dendrit bersliweran di benaknya. Ia adalah gadis. Ia punya kehormatan. Meskipun ia hanya seorang asisten pengamen kumal dan kotor. Tidur di gerbong kereta api tidak terpakai. ulu hatinya terasa nyeri. Buliran-buliran air meruntuhkan bendungan matanya. Ia menangis.

Ia adalah gadis. Bukan wanita banyak tingkah seperti mereka.

Oh,. karena inikah laki-laki itu menendangnya ke sangkar emas in dan menukarnya dengan sebuah amplop?

Ia disambut oleh wanita paruh baya menor dan sok ramah. Berisyarat bahwa ia akan bekerja sebagai pembantu. Menyuruhnya meniru pekerjaan sekelompok orang sebayanya yang juga berpenampilan kumal dan berantakan.

Beberapa hari saja. Dan ia disulap menjadi boneka cantik.

Panas matahari tidak lagi menyengatnya seperti di terminal. Ia senang menemukan teman kumal yang senasib di rumah mewah nan sejuk. Dibalasnya senyum dikulum laki-laki itu dengan senyumannya yang ia buat paling manis. Mengira laki-laki itu akan mengubah hidupnya dan tidak benar-benar meninggalkannya...

Laki-laki yang bertahun-tahun melindunginya. Sungguh ia tidak menyangka.

Lobus ingatannya meledak. Memuntahkan serpihan-serpihan realita menjadi kemarahan. Darah panas hilir mudik mengaliri mengaliri pembuluh darah nadinya. Rahangnya mengeras. Diludahinya monster berkumis itu. Monster itu malah membesar seukuran raksasa dan semakin gila. Dilemparnya monster itu dengan lampu meja mewah milik si nyonya menor. Lampu itu pecah. Dahi si moster robek. Ia menggerung semakin gila. Dilakukannya apa saja. Melempar, memukul, mencakar...

Sekarang ia meringkuk di lantai basah kamar mandi. Menggigil kedinginan dan kehabisan tenaga. Sungai air mata mengalir semakin deras itu telah menjadi tanda perayaan keberhasilannya membebaskan diri dari monster bejat itu.

Terbayanglah segala hidupnya dalam dunia hitam putih. Naik turun bus di terminal. Membuntuti laki-laki itu sambil menyodorkan bekas bungkusan permen sembari menampung recehan...ketika laki-laki itu menjaganya di dalam gerbong kereta yang dingin. Lalu waktupun berjalan dan laki-laki itu menjualnya.

O, betapa sekarang ia rasakan. Jauh lebih dingin lantai kamar mandi in daripada gerbong kereta api tidak terpakai itu. Betapa ia rindu gerahnya cuaca saat ia mengamen. Setidak-tidaknya ia hidup damai di sana. Betapa ia rindu...

Kerinduan itu bermuara pada sosok perempuan yang selalu ia perhatikan di balik jeruji. Sosok yang begitu ingin ia lukis. Sosok yang baginya sungguh hangat sekaligus menyejukkan. Seperti tak pernah di sore hari.

Ah, tak pernah. Semenjak lama ia ingin menjadi matahari. Ia tidak tahu seperti apa matahari itu. Namun ia percaya matahari itu kuat. Lebih kuat dari dunianya yang hitam putih. Lebih kuat dari hiruk pikuk terminal, lebih kuat dari laki-laki pengkhianat itu, juga lebih kuat dari si jagal monster berkumis.

Buktinya, setiap orang menatap bintang besar itu, tidak ada yang mampu menantangnya. Itulah sebabnya ia ingin menjadi matahari. Agar ia kuat. Agar tidak yang menantang untuk menganiayanya. Seperti si jagal.

Matahari. Sungguh ingin ia lukis seperti besarnya hasratnya untuk melukis si perempuan bersahaja itu. Perempuan berkain panjang menutup seluruh tubuh yang selalu mengirimkan kesejukan padanya di balik jeruji. Setiap pagi.

Dalam derai air mata gadis bisu, tuli dan buta warna itu berusaha melukis sang matahari. Di atas hidupnya yang hitam putih.

***

Malam sudah melewati sepertiga terakhirnya.

Gadis itu...
Dunianya yang hitam putih semakin kelabu. Hampa suara dan tanpa nada. Pun telah dicemari oleh sangkar emas kotor berwujud rumah pelacuran. Hiruk pikuk terminal bahkan gerbong kereta api yang dingin barangkali lebih baik baginya daripada rumah mewah dengan jeruji penjara itu.

Fajar pun mengetuk-ngetuk pintu pagi untuk segera terbit. Malam belum lagi menyerahkan kepekatannya pada pagi.

"Ayo, siramkan bensinnya ke arah sini. Bakar!!! Bakar... musnahkan tempat ini. Tempat laknat!!!!"

Gadis tuli, bisu dan buta warna itu terjaga. Mata hitam legamnya berputar cepat. Apa yang terjadi? Mengapa ia dihantui ketakutan begini? Semuanya serba lain. Serba aneh. Gelap.

Gadis itu meraba-raba. Lantai kamar mandi yang dingin, tiba-tiba berubah menjadi hangat. Dimana ini. Di terminalkah? Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Serbuan asap mengunci tenggorakannya. Ia terbatuk-batuk.

"Tambahkan lagi bensinnya. Di sini. Di sini." ratusan suara mendengung di luar seiring dengan kobaran api yang semakin membesar. PRANGG..!!! Kaca kamar mandi dipecah. Gadis itu menoleh.

Ia melihat cahaya. Terang. Hangat dan berkabut. Sesosok hitam melompat ke dalam. Detik berikutnya ia sudah dibawa keluar melalui jendela yang pecah. Ia berusaha memfokuskan pandangan mencerna siapa sosok hitam itu. Waktu tidak tersisa banyak. Tubuhnya tersayat-sayat beling sementara asap nyaris memblok seluruh pernapasannya. Ia pingsan.

***

Fajar merambat cakrawala.

Gadis itu membuka mata. Sekujur tubuhnya terasa nyeri. Ia mengusap pelipisnya. Cairan kental. Diciumnya cairan itu. Amis. Bau darah.

Diangkatnya kepalanya, berat sekali, kerongkongannya tercekat. Diraba-rabanya tempat itu. Ini adalah tempat yang biasa. Gerbong kereta api.

Hanya perlu sepersekian detik ia mencerna siapa yang telah menyelamatkannya.

Laki-laki itu.
Seketika tubuhnya mengejang ketakutan. Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi. Ia adalah gadis buta warna yang tidak mau kehilangan tongkat dua kali.

Ia adalah gadis. Bukan wanita banyak tingkah. Ia punya akal. Ia punya naluri. Naluri itulah yang membawanya berlari menembus remang-remang fajar. Tidak peduli kakinya tanpa alas menginjak-injak jalanan yang kasar. Pun tidak peduli kerongkongannya yang terkunci enggan menerima udara.

Entah berapa lama. Langit belum lagi terang. Dunia hitam putihnya oleng. Dia terjatuh mrnabrak sesuatu. Ia mendongak. Ia menabrak sesosok...

ya Tuhan, ia menabrak perempuan itu. Perempuan dengan baju panjang yang melambai-lambai. Ia meringis kesakitan. Perempuan itu membantunya berdiri.

"Maaf, saya tidak sengaja..."

Ia tidak peduli. Dipeluknya perempuan itu erat-erat. Sengau dan gerakan tangannya yang bergetar berusaha menjelaskan mengapa ia terisak di hadapan perempuan itu. Juga darah dan pakaiannya yang robek.

Perempuan itu mengangguk paham. Digamitnya tangan gadis itu.

"Siapa namamu?" senyumnya ramah.

Gadis itu menggeleng bingung. Apa yang ditanyakannya? Namakah? Apakah perempuan itu menanyakan namanya?

Digerak-gerakkannya bibir dan tangannya. Perempuan itu tidak mengerti. Ah, ia ingin menamakan dirinya matahari. Tapi bagaimana cara mengatakannya? Ia ingin menunjukkan matahari pada perempuan itu untuk memperkenalkan dirinya. Namun, matahari yang ditunggunya itu belum muncul di ufuk timur.

Tapi matahari itu selalu ada. Tak peduli siang ataupun malam. Sebab sedari tadi matahari itu telah dilukisnya. Di dalam hatinya.

Padang, 2 Maret dinihari

(Singgalang, 6 April 2008)

05 April 2008

Puisi Rian Siregar

DI UFUK UTARA

Sarang matamu yang memiliki lendir-lendir kekejaman
Memikat semua harta bunga dari kahang tanganmu
Memanggul dari langit badan ke dalam saku tangan
Matamu yang memiliki lendir tak bernyali ke belakang
di pesisir ufuk utara sedauh ruku ajal menunggu
menanti gumpalan kelam matamu.
meski benteng emas mengelilingi tubuhmu
ksatria bercula bisa melelehkannya
menyatukan bersama tanah makam
ditemani seuntai kantil sebagai perhiasan terakhir

kandangpadati Desember 2007

DI PANTAI

Di cerutan matahari sore kelam
mulut-mulut zina menemaniku berpanorama
diiringi perkelahian ombak dengan pasir
dalam secelah cangkangnya siput menyaksikan malu-malu
angin pun ikut serta menyusup dari reranting bakau
menusuk-nusuk lubang kepiting dijejak kaki pantai
menghiasi perisai dalam pesisir langit
mata teriris terbunuh tertikam dipantai tempat umat bercermin
kaki dan tubuh takkan tertapak lagi dihayati ceritamu

kandangpdati 2007

DI SETAPAK JALAN KERIKIL

kita bertemu bersama jatuhnya angkasa
disitu bulan berkhianat pada lorong-lorong malam
membuat jiwa khilaf karena disanding gelap
setapak jalan kerikil menggelitik kabut jiwa
seperti pesta dua napas menderu dalam taman malam
dimana kunang tak lagi berlalulalang mengitari jalan
rerumputan merunduk memandang permainan jalang
kerikil menusuk dalam napas riang
embun pagi yang tak diundang terhempas untuk menjelang
kita berpisah ketika angkasa terbang
disitu matahari bernazar menerangi jalan tuk pulang
sampai ujung setapak jalan kerikil.

kandangpadati, Desember 2007

BUNDA

adalah penuntun dari remang lampu kota ke bening rembulan
tersesat dalam gumpalan kabut terbawa ke asap purba
di tanah yang terus terinjak engkau tak sabar menataku
terdapat jalan penuh air hitam kau basuh dengan sehelai selendang embun
menghiasi tubuhku dalam percikan kasih sayang sejagad raya
tahun ini yang dihiasi berjuta kembang udara
kumimpikan kapan kecilnya diriku
angin lembut yang tak menyakiti
air yang selalu turut perkataan hulu dan hilir

kandangpadati, 2008

KABUT SUTRA

Kabut sutra, hadirmu menyelimuti tubuhku
mengikutsertakan hiasan guanin-guanin dari artik
seakan menaungi sejenak kadipaten-kadipaten kahang

dirimu selembut sutra dah indahnya dijadikan sari
sarinya membuat alam bersijundai
pencubit kulit ari telah terawang-awang terpampang tegang
seketika jejak-jejak sutramu melambai lari sembunyi
kutemui sejejak dirimu berjuntai-juntai di udara
tapi dia tak bernazar kapan akan kembali

Kadangpadati, 2007

PION

Aku selalu berjalan selangkah demi selangkah
diatas jalan hitam dan putih
berdiri didepan mengawal kerajaan siaga dengan kematian
aku melangkah bukan untuk menjadi paria yang menerima bingkisan hina dina
seharusnya diriku yang pantas mendapatkan penghargaan ksatria
bukan mereka yang berdiri mati suri sebagai karib si topi salib tapi diselangkah yang putih diriku sudah mati

Padang, 2007

Apresiasi Sastra: dari Kompetensi Pembaca hingga sebuah Standar

Oleh: Fadli Akbar

Pada awalnya saya cukup tidak menduga bahwa tulisan saya tentang 'teori sastra: sebuah perkakas analisis dan standar apresiasi' ditanggapi dengan sangat kritis oleh Esha Tegar Putra (dan mungkin juga oleh teman-teman yang lainnya) dengan memunculkan wacana "adakah standar apresiasi sastra?" Hal ini terjadi karena pada dasarnya saya tidak bermaksud dalam tulisan itu menciptakan sebuah standar apresiasi, yang setelah saya teliti lebih lanjut ternyata dilihat sebagai hasil dan sebuah penilaian. Kalau memang demikian pemahaman tentang standar, mungkin saya pun ragu apakah standar apresiasi yang bermuara pada hasil akhir itu ada, dan yang lebih penting lagi adalah apakah ia perlu. Namun perlahan keraguan itu membimbing saya pada sebuah percikan penalaran yang membuka sebuah pintu pemikiran bahwa pada konteks tertentu dan pada sebuah perkembangan zaman tertentu ternyata standar itu dibutuhkan. Tentunya ia muncul dari sebuah pemahaman yang berbeda secara ontologis dari saya mengenai "standar" dan "apresiasi" itu sendiri secara pribadi.

Pertama, saya bukan tidak setuju dengan definisi sekaligus deskripsi yang diketengahkan oleh Esha Tegar Putra tentang standar, yakni sebuah penilaian dan tentang sesuatu yang memiliki batasan tinggi rendahnya. Artinya standar adalah tak lebih dari sebuah hasil konvensi, yang di sini berarti sebuah kesepakatan kolektif. Berbicara tentang konvensi tentu tak bisa lepas dari subjektifitas. Sementara itu subjektifitas otomatis berbicara tentang sesuatu yang tak bisa distandarkan, tak bisa diuniversalkan. Apalagi untuk sebuah hasil akhir. Hanya kuasa yang bisa menentukannya. Nah, mungkin disinilah permasalahannya. Dalam tulisan itu saya menggambarkan bagaimana sebuah teori sastra diharapkan akan menciptakan pemikiran kritis yang berujung "membimbing pada standar apresiasi."

Di sini, "membimbing pada sebuah standar" adalah sebuah frasa yang secara implisit bisa diartikan pada sesuatu yang belum selesai, atau mungkin cenderung "terbengkalai" dan butuh terus direhab. Di sinilah awal benturan itu.

Hakikatnya, ungkapan di atas adalah ungkapan yang lebih kurang saya coba pahami bagaimana standar itu bukanlah melulu masalah hasil, sebuah penilaian. Namun lebih dari itu ia adalah masalah proses dan terus berproses membentuk kualitasnya sendiri. Lalu apakah ada standar kualitas untuk sebuah proses? Ada. Karena proses butuh ketrampilan, dan tanpa ketrampilan proses akan stagnan. Lebih jauh lagi dalam subjektifitas saya sebuah penilaian datang dari proses itu sendiri, atau sebuah standar yang diciptakan oleh proses. Standar dalam apresiasi adalah proses itu sendiri. Di sinilah sebuah perbedaan pemahaman itu.

Kedua, adalah masalah apresiasi. Pada dasarnya saya juga bukan tidak setuju dengan apa yang Esha Tegar Putra jabarkan mengenai makna apresiasi secara ontologis, sekaligus keberadaannya dalam batasan-batasannya dengan kritik ataupun penelitian. Namun beranjak dari harapan saya pada sebuah proses, dengan konteks tertentu dan tujuan tertentu bukan tidak mungkin batasan-batasan ontologis itu melebur atau lebih tepatnya bisa dilebur. Secara definisi ia tak lebih dari permasalahan ruang lingkup dan tingkat abstraksi. Namun secara fungsionalitas mereka mungkin memiliki muara yang tidak jauh berbeda. Dan satu hal lagi yang menjadi minat saya disini dalam melihat apresiasi adalah apresiasi bukan melulu diartikan sebagai sebuah penilaian, akan tetapi ia lebih kepada masalah pemahaman dan penafsiran (artinya biarlah pemahaman dan penafsiran itu sendiri yang memunculkan penilaian tanpa harus penilaian itu dikemukakan secara eksplisit), dan juga sebuah pemaknaan yang juga tidak tertutup digali lebih dalam. Persoalannya, bukankah itu adalah lahan kritik sastra? Atau apakah ini tak lebih dari sebuah pemaksaan.

SEBUAH KOMPETENSI

Saya tidak mengatakan dan tidak bermaksud untuk melihat standar apresiasi sebagai sebuah pemaksaan. Hal ini disebabkan, pertama oleh karena saya melihatnya bukan sebagai hasil namun sebagai proses. Kedua, ia berhubungan dengan apa yang kaum resepsionis pernah tawarkan dengan teori resepsinya. Adalah seorang Jonathan Culler (1977) dengan ide yang ia kembangkan tentang kompetensi pembaca. Di sini apresiator adalah pembaca itu sendiri. Dan jika seorang apresiator dikatakan bukan melulu pembaca maka ia terlalu kurang ajar untuk bisa dikatakan apresiator. Pembacaan terhadap karya sastra melalui pembacaan Culler adalah sebuah aktifitas membaca yang memprasyaratkan pembaca dengan sejumlah konsep, bukan pembaca sebagai "tabularasa". Artinya pembaca tidak datang untuk membaca dengan isi kepalanya yang masih kosong selayaknya kertas putih yang belum pernah ditulis. Hal ini tidak lain sebagai sebuah upaya menciptakan pembaca yang kreatif sekaligus produktif. Selain dari itu, standar di sini juga menyangkut dengan konvensi. Konvensi di sini maksudnya adalah sebuah sistem aturan yang memungkinkan untuk mengarahkan pada penafsiran yang relatif sama. Sebuah mekanisme kerja yang mempermudah. Sebagai contoh, sistem konvensi untuk memahami novel detektif jelas berbeda dengan sistem konvensi untuk memahami puisi lirik ataupun drama tragedi. Lalu apakah dengan ini berarti terjadi sebuah penyangkalan akan teks yang polisemik? Tidak sama sekali, karena itu tak lebih dipahami sebagai permasalahan teknis. Sebuah cara untuk mempermudah. Bahkan pada level ini, saya sangat setuju dengan Esha Tegar Putra yang mengatakan bahwa teks itu tidak bermakna tunggal. Saya sangat memegang pemahaman Stanley Fish yang pernah disinggung oleh Besley (1980) mengenai teks polisemik yang menggiring pembaca pada level resiko. Mengapa demikian? Karena konsep seperti ini telah berhasil berkontribusi menciptakan pembaca dalam posisi yang tidak nyaman. Dan ketidaknyamanan ini ternyata cukup bagus. Artinya konsep Fish ini mengantarkan pembaca pada posisi yang penuh dengan rintangan. Pembacaan seperti ini terkesan mengganggu (namun bagus), karena dengan begini teks secara tidak langsung mengharuskan pembacanya mempelajari dan mencari secara teliti segala sesuatu yang mereka percayai dan di dalam mana mereka hidup. Teks akhirnya menjadi bersifat didaktik--dalam pengertian yang lebih khusus--tidak mengajarkan kebenaran, akan tetapi meminta para pembacanya menemukan kebenaran bagi mereka sendiri. Dan penemuan kebenaran bukan hanya masalah opini-opini dan nilai-nilai dari pembaca, akan tetapi juga rasa harga diri. Lalu apakah pembaca dibebani? Mungkin iya secara tidak langsung. Hanya saja, penjabaran di atas lebih melingkupi sebuah proses interpretasi. Namun begitu bukan berarti tidak bisa dipaksakan pada level (proses) apresiasi. Persoalannya adalah apakah ia bisa munculk dengan proses yang stagnan? Di sinilah letak standar itu. Sebuah kompetensi yang muncul melalui proses pembacaan yang semakin yang semakin hari semakin membaik.

Ketiga, kalaupun saya harus menerima bahwa saya adalah seorang pemkasa ini semua tidak lebih daripada persetujuan saya dengan argumen yang pernah dimunculkan oleh Cornel West, seorang filsuf sosialis yang melihat semakin memudarnya ilmu-ilmu Humaniora di tengah arus Kapitalisme mutakhir. Artinya kondisi kekinian adalah kondisi dimana kaum-kaum humaniora adalah sekelompok kaum yang semakin terpinggirkan oleh kaum sains ataupun teknologi yang bagi kebanyakan masyarakat lebih memberikan kontribusi dalam realitas, khususnya pada bangsa ini. Apresiasi masyarakat terhadap sains dan teknologi telah mengubur potensi-potensi humaniora (sastra salah satunya) pada posisi yang tereksklusifkan secara indah dalam marginalitas. Artinya sebagai bagian dari kajian Humaniora sastra terus berkembang, namun berkembang pada titik-titik spesial namun minor. Nah, fungsi apresiasilah untuk mengangkat kembali lahan ini. Namun dalam realitanya, cukup memilukan kalau kenyataan ini harus diterima karena ulah para penggiat sastra itu sendiri bersama apresiasinya. Hipotesis ini muncul atas kenyataan yang cukup rendah dalam kemampuan berapresiasi.

Selama ini apresiasi selalu dipahami dan dihambai sebagai sebuah penilaian. Apresiasi tak lebih terbentang sebagai pencarian titik henti, menilai dan menilai namun tidak mencoba memasuki dunia pemahaman, wacana dimana ilmu-ilmu bersirkulasi dengan sangat bebasnya serta sarana berdialektika yang sangat mengasyikkan.

Sehingga yang muncul adalah sebuah keputusan yang kadang-kadang sedikit meresahkan. Sebagai contoh, kita "flash back" pada apresiasi film yang pernah digelar DKSB pada sebuah film yang berjudul "Trophy Buffalo". Saya tidak yakin apakah panelis yang dihadirkan adalah seorang kritikus, namun yang pasti mereka telah menjadi apresiator yang sangat baik. Akan tetapi coba perhatikan apresiator lain yang berposisi sebagai audiens. Secara subjektif, saya melihat audiens lebih menghamba pada sebuah penilaian dan selalu berputar-putar dalam ranah penilaiannya, walaupun tidak untuk semua audiens. Dan semua orang dalam gedung itu tahu apa yang sedang terjadi. Pertanyaannya, apakah itu yang bernama apresiasi? Dimana proses pemikiran kritisnya? Memang pada dasarnya sudah ada kritikus, akan tetapi sekat-sekat itu semakin membuat jurang yang cukup dalam antara apresiator dan kritikus. Sehingga yang tercipta adalah kemandekan pemikiran kritis. Batasan itu memang penting, namun mungkin tidak berlaku jika jika yang terjadi adalah dekadensi yang ternyata diakibatkan oleh pergolakan.

Di sinilah pemahaman saya perihal bagaimana apresiator pada sebuah kondisi musti direduksi pada level tertentu. Ini adalah semacam pemajuan apresiator. Mengapa apresiator? Mengapa bukan kritikus? Karena apresiator adalah tentang kesemuaan. Sedangkan kritikus telah terlalu kukuh dalam posisinya yang lebih stabil. Apresiator adalah basement sekaligus fondasi atas berhasil tidaknya sebuah proses berjalan dengan maksimal, sehingga diharapkan didapatkan sebuah hasil yang beriringan dengan proses tadi.

Setiap orang berhak untuk menjadi apresiator, namun mungkin tidak untuk kritikus. Karena memang ada struktur yang membuat mereka tak bisa disatukan. Namun begitu saya sedikit ragu dengan peryataan Esha TEgar Putra yang menyatakan bahwa: "seorang apresiator belum tentu kritikus akan tetapi seorang kritikus sudah menjadi seorang apresiator." Menurut saya itu sebuah pertanyaan yang realis, namun bukan mesti. Sekarang adalah saatnya bagi apresiator untuk menjadi kritikus. Ini bukan permasalahan pemaksaan tetapi lebih kepada sebuah penyadaran. Terlalu sedikit kritikus sastra yang kritis di negeri ini dikarenakan oleh apresiasi yang berputar-putar di dalam sebuah tempurung penilaian, namun tidak mencoba untuk melihat dunia yang lebih luas dalam balutan pemikiran-pemikiran.

Ruangsempit, 2008

(Terbit di Harian Singgalang Padang tanggal 6 April 2008)