Selamat Datang!

Mencobalah untuk lebih dekat! Agar semua rasa bisa dilebur, demi meringankan jiwa yang sedang kalut!

Carilah Sesuatu Yang Hilang Itu

Google

02 April 2008

Puisi Raudal Tanjung Banua

API BAWAH TANAH
: teringat munir

Hamparan diam tanah gambut
padang tidur belukar perdu
hidup terbelit cinta dan maut
dekat atau jauh, tersembunyi rinduku
dan takutmu.

Sebuah titik-api nyala
di akar sebatang pohon duri
duri yang menjaga
akar yang menghidupkan
secuil titik api
jadi api bawah tanah
sabar menanti
yang bakal runtuh
dan musnah.

Jadi padang basah ini berasap
bukan tanpa sebab. Langit yang tabah
menerima pengaduan
sudah mencatat: setelah pohon-pohon diupacarai
lalu ditebangi, huma digusur kota dibangun
jadi kebun seluas bumi, di mana taman bunga
matahari? Lalu siapa yang bisa
membujuk api? Tak ada.
Kecuali pintaku pada dunia:

Jangan beri aku belukar perdu
menyimpan onak, ular beludak
beri aku sebatang pohon duri
melintas batas padang kerdilmu!

Tapi kau dan sepasukan angin gila
mengepungku dari arah rawa-rawa
dengan tubuh luka dan berdarah
erat kupeluk pohon duri masa kecilku
seperti tubuh ibu yang bergetah
merekat ingatanku sebelum pergi jauh
--bertahan dari runtuh
Lalu angin santer menjala siapa saja
bringas, menggerakkan sepasukan ilalang
mengepungku di lain sisi, bagai penyamun buta
menunggu yang tersekap
jatuh ke bumi.

Ketahuilah wahai dunia
aku tak takut jatuh
aku hanya takut nyangkut
lalu tampak seperti jatuh!

Kemudian datanglah masa itu
masa di mana ibu-pohon-duriku ditebang
seribu titik api dipadamkan
dan seribu berkobar lagi, sendiri
maka aku berkata, selirih gemertak ranting patahan
seperih bisa ular derik musiman:

Mereka yang membunuhku
akan dibunuh oleh waktu
Setiap yang dipadamkan
akan nyala lebih dalam
Setiap yang dilenyapkan
akan bersekutu dengan akar
Jadi api bawah tanah,
jadi puisi tanpa nama
jadi lapar seribu nama...
/Pleihari-Yogyakarta, 2007

BATU DAN PONDOK LADANG

di batu bersemayam arwah nenek-moyang
di batu-batu tertera altar tuhan
di batu belah batu bertangkup
tergores cerita, jejak telapak tangan
para pemecah batu negeri angan-angan

di sini, mesin molen hanya milik mandor
truk-truk menderu seperti kapal
mengangkut kayu, papan dan batu
milik juragan

setelah semua habis,
tinggal sebongkah batu besar
tidak belah tidak bertangkup,
berkubang di tengah ladang
diam dia saling memandang
dengan sebuah pondok ladang
doyong dan kesepian

di jalan pulang,
para pemecah batu singgah
dan seseorang berkata, "Masih ada sebuah
kita pecahkan ayo, serpihannya jadikan kerikil
penambah beli kretek dan mencicil utang harian."

seseorang lain membayangkan ada emasnya
dan seorang lain bicara dingin dengan angin,
"Apa pun, kita tak bakal kaya..."
sia-sia? tidak juga, toh mereka punya butiran kristal
keringat sendiri, kadang di amsal emas murni
walau tiada arti. maka tanpa mimpi, mereka mulai
memecah batu itu dengan nyanyian langit telanjang
yang lain memasukkannya ke dalam keranjang
dan mengangkutnya ke tepian

menjelang petang, telah mereka pikul habis
berkeranjang-keranjang kerikil--emas murni
sebatas kristal keringat masih--dan semua dilayarkan
di sungai hitam di kaki bukit menuju kota
hitam dan sakit
hitam dan sakit

masih ada yang belum terbilang:
pondok ladang, doyong dan kesepian
apakah akan mereka ambil juga
dibongkar tiang-tiang dan diurak kayu usuknya,
siapa tahu ada tembikarnya juga?

tapi tak seorang pun berani mendekat
tampaknya mereka lebih takut kepada pondok
milik seorang peladang pemberani
--yang mati dalam labirin teka-teki--
ketimbang pada batu besar altar tuhan
dan roh suci nenek-moyang

semua menunggu, sampai merah tirai senja menunggu
sampai seseorang dalam rombongan itu, calon mandor
yang gagal, dua tahun lalu, seketika menemukan cara yang tepat
membalas dendam, "Biarkan. Sebagaimana aku tak tahan
mengingat kepal tangan dan seringai kurang ajarnya,
kini arwahnya juga akan lebih menderita."

Dan, benar, tanpa batu besar itu kini
dua jendela pondok menjelma jadi sepasang mata arwah
milik peladang malang yang memandang kosong-hampa
ke tengah ladang: batu berkubang batu telanjang tiada lagi sekarang
dan ia merasa kesepian
doyong dan kesepian
sungguh kesepian.

/Peg. Meratus, Pleihari, 2007

SAJAK PASAK BUMI

hujan turun di padang perdu
angin santer di padang perdu
hujan berakhir dengan reda
atau gerimis lagi, dan berawal dari tiada
atau gerimis juga; angin bangkit sesuka hati
atau tidur lagi, tergantung pada cuaca
tak ada yang mengerti
kecuali sajakku
tegak berjaga
menjadi pasak bumi
bagi ketakutan
lemah hayatmu!

/Pleihari, 2007

IGAU PULAU

--sajak tercecer

Di selembar kain belacu aku menggambar pulau
tanpa menara dan mercu, tiada percakapan kecuali
suara burung-burung liar, riang mungkin murung.
Keheningan mencipta bahasa sendiri dari gemerincing
kerang dan lokan, sesekali raung gelombang dan derak
ruang kapal kayu yang terdampar bertahun, merana,
tak mencurahkan satu pun berita dari lambungnya
yang bocor, pucat dan tohor, kecuali teriakan sial
dan denting botol, bangkit dari seribu tahun keheningan,
maka bisulah terasa daratan itu selama-lamanya...

Tapi ke sana aku 'kan menuju tanpa alamat dalam saku
hanya mimpi-mimpi masa kecil, secuil, jauh terpencil:
berlari menyisir pesisir, sorak-sorai kami adalah suara
hidup seribu pantai dan lagu kumandang penunda
kekalahan laut bosan sebab terlalu lama menunggu
berita baru yang akan menyeret kenangan selaknat
topan, namun, o, jangankan berita baru, kabar lama pun
hampa tak sampai-sampai, kata-kata dihala ke cakrawala
dan bahkan kata doa kami tak punya, sampai tiba suatu hari:

seekor paus raksasa terdampar di pantai dengan getar
tak bersudah, seluruh kampung gempar, susah-payah
merumuskan kejadian: pertanda bala, tulah atau nikmat
segar daging bakar campur mrica? Atau inilah berita
baru itu! Tak seorang pun yang tahu, juga aku, tak
seorang pun yang tahu, juga aku yang gemetar
dengan pisau dan selembar kain belacu kusam di tangan:
bahkan penguasa lautan pun tak tahu apakah akan
kugoreskan pisau itu atau kutikamkan!

/Yogya-Cilacap, 2005-2007

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Buku puisinya, Gugusan Mata Ibu (2005) memperoleh Anugerah Sastra MASTERA V di Malaysia.

(Koran Tempo, 30 Maret 2008)

Mata Biru

Cerpen Luis Rafael Sanchez

AKU berkata, apa yang akan dilakukan si lelaki kulit hitam dengan mata biru itu dan mereka tertawa hingga nyaris terkencing-kencing di celana. Mereka: anak perempuanku Puchuchu dan lelaki kulit hitam yang bersamanya. Puchuchu berkata, lelaki itu membelinya dan ia menyukainya. Puchuchu menggesekkan pusarnya pada pusar lelaki kulit hitam itu dan lelaki kulit hitam itu meraih bokong Puchuchu. Mereka tertawa-tawa dan menjadi liar.

Aku berkata bahwa orang-orang kulit hitam tak perlu memakai mata biru, tapi anak perempuanku bilang mereka memakainya dan mereka membelinya jika seorang kulit putih menjualnya dengan harga yang disepakati, lima puluh dolar untuk satu ons. Karena Fortunato punya lima puluh dolar, ia membeli butiran mata biru milik orang kulit putih itu agar Fortunato menjadi lelaki kulit hitam istimewa.

Tawa menggema meresap hingga ke sumsum tulang mereka. Aku berkata, orang kulit putih bergantung pada mata biru itu dan jika mereka ingin menjual mata biru mereka, mereka akan menjualnya kepada orang kulit putih, bukan kepada orang kulit hitam. Mereka tertawa dan meliuk-liuk seperti nada akordion atau seperti tarian orang-orang miskin di Cortijo. Aku berkata jika yang menjual mata biru itu kepadanya adalah seorang kulit putih, ia pasti akan menjadi beraroma orang kulit putih. Gelak tawa membuat mereka mengentak-entakkan kaki, lalu mereka berciuman sampai basah.

Anak perempuanku menanyakan sesuatu yang tak kutahu kepadaku, tetapi hukuman yang diterimanya karena tertawa ngakak dan tak sopan pasti tak akan luput darinya. Tawa yang nyaring seperti air terjun membuat anak perempuanku Puchuchu terkentut-kentut dan terjatuh, dan lelaki itu ikut jatuh terpelanting saat mencoba mengangkatnya. Kini mereka bertindihan, tak peduli gadis itu sedang berantakan. Lelaki itu berkata kepada Puchuchu, "Sayangku cantik, ayo kita lakukan, sejak semalam aku sudah tak tahan..."

Derai tawa membuat mereka rubuh kembali dan karena mereka tertawa setengah mati aku bilang apakah mereka tidak takut mati ketawa. Aku meraih pegangan kursi agar pingkal tawa itu tak menyeretku seperti angin puting beliung. Anak perempuanku Puchuchu dan lelaki ini tertawa nyaring sehingga seakan-akan hendak meruntuhkan semuanya dan Puchuchu masih sempat bertanya apakah orang kulit putih beraroma seperti Mama.

Tawa meledak dari dalam perut mereka karena putriku Puchuchu selalu tertawa seperti itu dan tampaknya Fortunato ini menirunya pula. Lelaki itu membuka kancing kemeja guayabera-nya dan menggosok kulit perutnya yang berbulu seolah-olah perutnya sakit. Aku berkata aku tak tahu apa-apa soal orang kulit putih dan tak pernah berkeliaran dengan mereka. Aku bilang, "Bila saatnya tiba untukku bersama seseorang, aku akan bersama Papa-mu yang benar-benar seorang lelaki kulit hitam tampan dan keras seperti batako, dan ia seorang lelaki kulit hitam istimewa yang selalu siap tempur."

Lelaki ini, Fortunato, melenguh yang membuatnya jatuh menindih putriku Puchuchu dan putriku mengelus tubuh lelaki itu. Dari bawah tubuh Fortunato, putriku Puchuchu lagi-lagi menanyaiku seperti apa bau tubuh orang kulit putih. Aku berkata, "Puchuchu, jangan meledekku, kau setiap Sabtu pagi membawa lelaki bule ke rumah dan setiap Sabtu siang lelaki bule yang lain datang..."

Lalu aku berkata kepada lelaki ini, Fortunato, "Putriku seorang lonte yang berbisnis hanya dengan orang bule karena Papa-nya menyerahkannya kepadaku dan kabur dari rumah ini..." Fortunato berhenti tertawa dan menyingkirkan Puchuchu dari tubuhnya.

Puchuchu mencoba tertawa dan masih bertingkah seolah sedang tertawa, tapi tawanya tak muncul setitik pun. Fortunato begitu tenang mengancingkan kemejanya dan memasukkan anunya ke dalam celana. Dalam diri lelaki ini kau bisa melihat sesuatu yang tak selesai karena ia seperti seorang lelaki yang terpukul angin yang terpendam.

Putriku Puchuchu mencoba mengubah tawa menjadi senyum. Dia memohon kepada Fortunato dengan tangan menyembah dan ketika Fortunato ini mendorongnya, dia berubah mengamuk seperti kucing marah.

"Kau kulit hitam pencemburu, perbuatan di hari Sabtu itu hanya karena aku sedang merencanakan penipuan. Kau kulit hitam pencemburu, Mama lebih gila daripada pelacur sejak Papa meninggalkannya demi seorang perempuan bule!"

Putriku Puchuchu tak mampu menyembunyikan keputusasaannya yang merekah seperti pohon pisang yang sedang mekar dan ia tak bisa tak memaki. Aku bilang, "Puchuchu bocahku, kita perempuan kulit hitam yang lahir di Kampung Pantat Hitam tak pernah berbicara jorok !" Lalu, aku bilang kepada Fortunato, "Perempuan kulit hitam bisa saja tidur dengan lelaki kulit hitam, tapi jatuh cinta pada lelaki bule dan berpura-pura merasa kesakitan seolah-olah dia perempuan bule!"

Lalu, aku melanjutkan cerita tentang lelaki-lelaki yang datang dan pergi, tapi terhenti karena anak perempuanku Puchuchu menghentikanku dengan pukulan keras yang membuatku rubuh.

Fortunato menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kau lebih gila daripada Mama-mu yang gila!" dan pergi ke arah pintu.

Putriku Puchuchu melompat seperti kucing betina dan bergelayut pada bahu Fortunato yang kuat dan berteriak sambil memohon agar lelaki itu tak meninggalkannya, agar ia diberi kesempatan sekali lagi, dan ia berbisik, "Fortunato, kau tahu kita pasangan yang cocok dan aku akan berhenti melacur..."

Aku berkata sambil terkapar di lantai, "Aku akan bilang sekali lagi padamu, Puchuchu bocahku, kita perempuan yang lahir di Kampung Pantat Hitam tak mengotori mulut kita dengan segala kata-kata jorok!"

Begitu aku bicara, putriku Puchuchu menghantam wajahku karena kini ia tak bisa melakukan hal lain selain mencaci-maki dan meludahiku dan menendangku dan mengancamku dengan kata-kata keji, "Aku akan menghajarmu seperti dulu kau melakukannya padaku!"

Fortunato pasti sudah pergi karena suara langkah kaki yang bergegas terdengar menuruni tangga. Aku tak lagi berkata sepatah pun lagi dengan bibir tebalku karena bibirku yang tebal telah sobek dan dari bibirku yang tebal itu aliran darah kental menetes. Putriku Puchuchu melihat tetesan darah itu dan dia bergegas pergi menuruni loteng.

Ketika suara langkah kaki lenyap, aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku yang merekah dalam seulas senyum. Aku memutuskan untuk bangkit dan perlahan-lahan mengompres bibirku yang luka dengan es dan memulihkan kesehatanku lagi agar aku tetap bisa bertingkah seperti seorang pelacur gila agar aku tak menjadi gila sungguhan.

Luis Rafael Sanchez adalah penulis Puerto Rico. Cerita di atas diindonesiakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Clementine Rabassa.

(Koran Tempo, 30 Maret 2008)

14 Maret 2008

Polemik ini?

Tulisan di bawah, ditulis oleh AKmal Nasery Basral. Ia menanggapi tulisan dari Yonathan raharjo di millis Sastra Pembebasan.

yonathan yang baik,
dengan menyebutkan "saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA", saya kira anda tidak membaca makalah saya, baik versi hardcopy atau
versi softcopy, yang saya posting di milis hari ini,

sekadar mengingatkan lima alinea awal (bukan satu, tapi LIMA ALINEA) makalah saya justru mengulas peran antologi cyberpuitika. di awal alinea kelima bahkan tertulis, "Sebagai sebuah antologi puisi, Cyberpuitika jelas menandai hadirnya sebuah tahap baru dalam perjalanan sastra Indonesia." (silakan dibaca ulang).

kenapa saya, setelah itu, tidak memberikan contoh nyata tentang karya-karya dalam antologi cyberpuitika? tentu saja karena di forum semalam ada kang cunong yang terlibat dalam cyberpuitika, mengerti sejarahnya, bahkan melakukan analisis untuk kebutuhan tesisnya.

masak saya mau "bersaing" memberikan contoh dengan kang cunong dalam hal cyberpuitika? makanya saya memilih memberikan contoh dari karya sasel lainnya,
yang mudah ditemukan contohnya di internet.

"kudeta sastra?" wah, gagah betul kesimpulan anda, yo. apakah karena saya bekerja di majalah yang punya afiliasi dengan tuk, maka saya juga "berbicara atas nama tuk"?

anda tahu saya tak pernah menolak kepercayaan untuk berbagi pengamatan tentang sastra, tentu sejauh yang saya ketahui.

diundang gola gong dan rumah dunia? oke. saya ke sana.

diundang bicara oleh bang martin aleida di pds hb jassin? nggak masalah, pernah dua kali saya di sana, dan anda juga seingat saya selalu hadir. selain tahu bahwa setiap kali bicara, saya selalu bikin makalah (sekali soal buku film ekky imanjaya yang sekarang sekolah film di amsterdam, dan sekali lagi soal novel berjuta-juta dari deli karya emil aulia.

ekky itu kawan saya dalam menulis sebuah buku tentang film yang terbit tahun 2003. tapi pada diskusi buku itu, saya nggak melihat ekky sebagai teman. yang saya lihat adalah kualitas bukunya.

emil aulia dan saya sama-sama satu kampung, bahkan ayah emil hadir waktu diskusi itu. mudah-mudahan anda juga ingat yo bahwa saya "tak mengendurkan serangan" terhadap isi buku emil saat itu. saya coba kritisi (ini kata yang salah kaprah, tapi telanjur luas
dipakai) buku emil tanpa rasa pertemanan sama sekali. waktu itu, bahkan mikael johani yang "membela" emil, dan menyerang balik argumentasi saya.

lha kok, pada dua kesempatan itu, dengan "kekejaman" saya yang luar biasa pada kedua teman, anda nggak pernah menyebut saya melakukan "KUDETA" terhadap ekky maupun (novel historis yang ingin diusung) emil?

ada apa yo?

soal kesempatan kang cunong bicara, entah anda melihat dengan jelas dari floor atau tidak, saya berkali-kali memberi kesempatan kepada kang cunong untuk lebih dulu bicara, hal yang kadang-kadang tak dimanfaatkan kang cunong sendiri.

jadi saya menduga, anda sebetulnya "gemas" mengapa kang cunong tak lebih banyak mengambil inisiatif untuk memaparkan hasil penelitiannya. kalau benar soalnya tentang ini, yang pantas menjawabnya ya kang cunong sendiri.

anda sendiri semalam juga tidak memanfaatkan kesempatan bertanya/membantah dengan baik kok. waktu diberikan kesempatan bertanya oleh anya, pertanyaan anda yang pertama adalah, "saya tidak menanyakan ini ke akmal, karena akmal terlalu pinter, jadi saya
tanyakan saja ke mikael."

(waktu itu mikael langsung menoleh ke saya dan berbisik cepat, "sialan, jadi gue dianggap nggak pinter.")

lah, kalau mau menyatakan kecurigaan anda bahwa saya menjadi "bagian yang terlegitimasi" untuk mengkudeta sastra cyber, kenapa tidak semalam langsung diutarakan di depan floor (mumpung ada nirwan dewanto dan hasif amini malah). kenapa anda malah hanya bertanya pada mikael tapi sekarang misuh-misuh di milis dan berpraduga saya menjadi "pelegitimasi" (itu istilah apa sih, yo? taruhlah anggapan anda "benar", masak anda percaya orang-orang seperti nirwan atau hasif "membutuhkan" orang seperti saya, yang cuma mantan moderator milis, sebagai "pelegitimasi" ? hellooooo...
wake up and smell the coffee, bro).

kalau anda mau jadi saksi itu bagus, tapi jadilah saksi yang adil, jangan menyebarkan kesaksian tendensius (untuk tidak menyebut "kesaksian palsu").

lain halnya kalau anda bilang argumen saya lemah, nggak bermutu, contoh-contohnya dibuat-buat, itu nggak masalah. tunjukkan dengan argumentasi juga dong, jadi kita bisa berdiskusi lebih jauh tentang itu.

kalau anda mau membaca lagi makalah saya dengan lebih tenang, saya hargai itu (dan memberi masukan seperti heri latif, "kenapa nggak sekalian bikin analisis kelas, mal?"). itu jauh lebih bermartabat, yo.

kalau anda nggak mau baca, dan tetap menganggap ada "kudeta sastra cyber indonesia" di tuk (memangnya sastra cyber itu jenis pemerintahan ya sampai perlu dikudeta?), ya nggak apa-apa juga.

cuma mudah-mudahan anda belum lupa omongan pram: intelektual itu bertindak adil sejak dalam pikiran.

salam,

~A~

Sapi dan Politik

SOSIALISME
Kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu

KOMUNISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu.

FASISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu.

NAZISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu

BUREAUCRATISM

kau punya 2 sapi,
negara mengambil keduanya,
yang satu ditembak, yang satu diperah susunya trus dibuang

TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan.
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.

SURREALISM
kau punya 2 jerapah
pemerintah memintamu untuk kursus harmonika

AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4
sapi.
kemudian , kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya
mati.

THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.

A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa,
memblokade jalanan, karena kau ingin punya 3 sapi.

A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat profil kartun sapi pintar "Cowkimon" dan menjualnya
ke seluruh dunia.

A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup
sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.

A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana bilamana punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana bilamana punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka.

A SWISS CORPORATION
kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk
menyimpannya.

A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu
tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya.

BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.

IRAQ CORPORATION
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke meraka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi
negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian
dari demokrasi,

NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.

AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus.
kau tutup kantor dan pergi mencari beer untuk merayakannya.

INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk anak cucumu.

MALAYSIAN CORPORATION

kau punya 2 sapi
dua-duanya kau rampok dari indonesia.