Cerpen Luis Rafael Sanchez
AKU berkata, apa yang akan dilakukan si lelaki kulit hitam dengan mata biru itu dan mereka tertawa hingga nyaris terkencing-kencing di celana. Mereka: anak perempuanku Puchuchu dan lelaki kulit hitam yang bersamanya. Puchuchu berkata, lelaki itu membelinya dan ia menyukainya. Puchuchu menggesekkan pusarnya pada pusar lelaki kulit hitam itu dan lelaki kulit hitam itu meraih bokong Puchuchu. Mereka tertawa-tawa dan menjadi liar.
Aku berkata bahwa orang-orang kulit hitam tak perlu memakai mata biru, tapi anak perempuanku bilang mereka memakainya dan mereka membelinya jika seorang kulit putih menjualnya dengan harga yang disepakati, lima puluh dolar untuk satu ons. Karena Fortunato punya lima puluh dolar, ia membeli butiran mata biru milik orang kulit putih itu agar Fortunato menjadi lelaki kulit hitam istimewa.
Tawa menggema meresap hingga ke sumsum tulang mereka. Aku berkata, orang kulit putih bergantung pada mata biru itu dan jika mereka ingin menjual mata biru mereka, mereka akan menjualnya kepada orang kulit putih, bukan kepada orang kulit hitam. Mereka tertawa dan meliuk-liuk seperti nada akordion atau seperti tarian orang-orang miskin di Cortijo. Aku berkata jika yang menjual mata biru itu kepadanya adalah seorang kulit putih, ia pasti akan menjadi beraroma orang kulit putih. Gelak tawa membuat mereka mengentak-entakkan kaki, lalu mereka berciuman sampai basah.
Anak perempuanku menanyakan sesuatu yang tak kutahu kepadaku, tetapi hukuman yang diterimanya karena tertawa ngakak dan tak sopan pasti tak akan luput darinya. Tawa yang nyaring seperti air terjun membuat anak perempuanku Puchuchu terkentut-kentut dan terjatuh, dan lelaki itu ikut jatuh terpelanting saat mencoba mengangkatnya. Kini mereka bertindihan, tak peduli gadis itu sedang berantakan. Lelaki itu berkata kepada Puchuchu, "Sayangku cantik, ayo kita lakukan, sejak semalam aku sudah tak tahan..."
Derai tawa membuat mereka rubuh kembali dan karena mereka tertawa setengah mati aku bilang apakah mereka tidak takut mati ketawa. Aku meraih pegangan kursi agar pingkal tawa itu tak menyeretku seperti angin puting beliung. Anak perempuanku Puchuchu dan lelaki ini tertawa nyaring sehingga seakan-akan hendak meruntuhkan semuanya dan Puchuchu masih sempat bertanya apakah orang kulit putih beraroma seperti Mama.
Tawa meledak dari dalam perut mereka karena putriku Puchuchu selalu tertawa seperti itu dan tampaknya Fortunato ini menirunya pula. Lelaki itu membuka kancing kemeja guayabera-nya dan menggosok kulit perutnya yang berbulu seolah-olah perutnya sakit. Aku berkata aku tak tahu apa-apa soal orang kulit putih dan tak pernah berkeliaran dengan mereka. Aku bilang, "Bila saatnya tiba untukku bersama seseorang, aku akan bersama Papa-mu yang benar-benar seorang lelaki kulit hitam tampan dan keras seperti batako, dan ia seorang lelaki kulit hitam istimewa yang selalu siap tempur."
Lelaki ini, Fortunato, melenguh yang membuatnya jatuh menindih putriku Puchuchu dan putriku mengelus tubuh lelaki itu. Dari bawah tubuh Fortunato, putriku Puchuchu lagi-lagi menanyaiku seperti apa bau tubuh orang kulit putih. Aku berkata, "Puchuchu, jangan meledekku, kau setiap Sabtu pagi membawa lelaki bule ke rumah dan setiap Sabtu siang lelaki bule yang lain datang..."
Lalu aku berkata kepada lelaki ini, Fortunato, "Putriku seorang lonte yang berbisnis hanya dengan orang bule karena Papa-nya menyerahkannya kepadaku dan kabur dari rumah ini..." Fortunato berhenti tertawa dan menyingkirkan Puchuchu dari tubuhnya.
Puchuchu mencoba tertawa dan masih bertingkah seolah sedang tertawa, tapi tawanya tak muncul setitik pun. Fortunato begitu tenang mengancingkan kemejanya dan memasukkan anunya ke dalam celana. Dalam diri lelaki ini kau bisa melihat sesuatu yang tak selesai karena ia seperti seorang lelaki yang terpukul angin yang terpendam.
Putriku Puchuchu mencoba mengubah tawa menjadi senyum. Dia memohon kepada Fortunato dengan tangan menyembah dan ketika Fortunato ini mendorongnya, dia berubah mengamuk seperti kucing marah.
"Kau kulit hitam pencemburu, perbuatan di hari Sabtu itu hanya karena aku sedang merencanakan penipuan. Kau kulit hitam pencemburu, Mama lebih gila daripada pelacur sejak Papa meninggalkannya demi seorang perempuan bule!"
Putriku Puchuchu tak mampu menyembunyikan keputusasaannya yang merekah seperti pohon pisang yang sedang mekar dan ia tak bisa tak memaki. Aku bilang, "Puchuchu bocahku, kita perempuan kulit hitam yang lahir di Kampung Pantat Hitam tak pernah berbicara jorok !" Lalu, aku bilang kepada Fortunato, "Perempuan kulit hitam bisa saja tidur dengan lelaki kulit hitam, tapi jatuh cinta pada lelaki bule dan berpura-pura merasa kesakitan seolah-olah dia perempuan bule!"
Lalu, aku melanjutkan cerita tentang lelaki-lelaki yang datang dan pergi, tapi terhenti karena anak perempuanku Puchuchu menghentikanku dengan pukulan keras yang membuatku rubuh.
Fortunato menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kau lebih gila daripada Mama-mu yang gila!" dan pergi ke arah pintu.
Putriku Puchuchu melompat seperti kucing betina dan bergelayut pada bahu Fortunato yang kuat dan berteriak sambil memohon agar lelaki itu tak meninggalkannya, agar ia diberi kesempatan sekali lagi, dan ia berbisik, "Fortunato, kau tahu kita pasangan yang cocok dan aku akan berhenti melacur..."
Aku berkata sambil terkapar di lantai, "Aku akan bilang sekali lagi padamu, Puchuchu bocahku, kita perempuan yang lahir di Kampung Pantat Hitam tak mengotori mulut kita dengan segala kata-kata jorok!"
Begitu aku bicara, putriku Puchuchu menghantam wajahku karena kini ia tak bisa melakukan hal lain selain mencaci-maki dan meludahiku dan menendangku dan mengancamku dengan kata-kata keji, "Aku akan menghajarmu seperti dulu kau melakukannya padaku!"
Fortunato pasti sudah pergi karena suara langkah kaki yang bergegas terdengar menuruni tangga. Aku tak lagi berkata sepatah pun lagi dengan bibir tebalku karena bibirku yang tebal telah sobek dan dari bibirku yang tebal itu aliran darah kental menetes. Putriku Puchuchu melihat tetesan darah itu dan dia bergegas pergi menuruni loteng.
Ketika suara langkah kaki lenyap, aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku yang merekah dalam seulas senyum. Aku memutuskan untuk bangkit dan perlahan-lahan mengompres bibirku yang luka dengan es dan memulihkan kesehatanku lagi agar aku tetap bisa bertingkah seperti seorang pelacur gila agar aku tak menjadi gila sungguhan.
Luis Rafael Sanchez adalah penulis Puerto Rico. Cerita di atas diindonesiakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Clementine Rabassa.
(Koran Tempo, 30 Maret 2008)
02 April 2008
14 Maret 2008
Polemik ini?
Tulisan di bawah, ditulis oleh AKmal Nasery Basral. Ia menanggapi tulisan dari Yonathan raharjo di millis Sastra Pembebasan.
yonathan yang baik,
dengan menyebutkan "saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA", saya kira anda tidak membaca makalah saya, baik versi hardcopy atau
versi softcopy, yang saya posting di milis hari ini,
sekadar mengingatkan lima alinea awal (bukan satu, tapi LIMA ALINEA) makalah saya justru mengulas peran antologi cyberpuitika. di awal alinea kelima bahkan tertulis, "Sebagai sebuah antologi puisi, Cyberpuitika jelas menandai hadirnya sebuah tahap baru dalam perjalanan sastra Indonesia." (silakan dibaca ulang).
kenapa saya, setelah itu, tidak memberikan contoh nyata tentang karya-karya dalam antologi cyberpuitika? tentu saja karena di forum semalam ada kang cunong yang terlibat dalam cyberpuitika, mengerti sejarahnya, bahkan melakukan analisis untuk kebutuhan tesisnya.
masak saya mau "bersaing" memberikan contoh dengan kang cunong dalam hal cyberpuitika? makanya saya memilih memberikan contoh dari karya sasel lainnya,
yang mudah ditemukan contohnya di internet.
"kudeta sastra?" wah, gagah betul kesimpulan anda, yo. apakah karena saya bekerja di majalah yang punya afiliasi dengan tuk, maka saya juga "berbicara atas nama tuk"?
anda tahu saya tak pernah menolak kepercayaan untuk berbagi pengamatan tentang sastra, tentu sejauh yang saya ketahui.
diundang gola gong dan rumah dunia? oke. saya ke sana.
diundang bicara oleh bang martin aleida di pds hb jassin? nggak masalah, pernah dua kali saya di sana, dan anda juga seingat saya selalu hadir. selain tahu bahwa setiap kali bicara, saya selalu bikin makalah (sekali soal buku film ekky imanjaya yang sekarang sekolah film di amsterdam, dan sekali lagi soal novel berjuta-juta dari deli karya emil aulia.
ekky itu kawan saya dalam menulis sebuah buku tentang film yang terbit tahun 2003. tapi pada diskusi buku itu, saya nggak melihat ekky sebagai teman. yang saya lihat adalah kualitas bukunya.
emil aulia dan saya sama-sama satu kampung, bahkan ayah emil hadir waktu diskusi itu. mudah-mudahan anda juga ingat yo bahwa saya "tak mengendurkan serangan" terhadap isi buku emil saat itu. saya coba kritisi (ini kata yang salah kaprah, tapi telanjur luas
dipakai) buku emil tanpa rasa pertemanan sama sekali. waktu itu, bahkan mikael johani yang "membela" emil, dan menyerang balik argumentasi saya.
lha kok, pada dua kesempatan itu, dengan "kekejaman" saya yang luar biasa pada kedua teman, anda nggak pernah menyebut saya melakukan "KUDETA" terhadap ekky maupun (novel historis yang ingin diusung) emil?
ada apa yo?
soal kesempatan kang cunong bicara, entah anda melihat dengan jelas dari floor atau tidak, saya berkali-kali memberi kesempatan kepada kang cunong untuk lebih dulu bicara, hal yang kadang-kadang tak dimanfaatkan kang cunong sendiri.
jadi saya menduga, anda sebetulnya "gemas" mengapa kang cunong tak lebih banyak mengambil inisiatif untuk memaparkan hasil penelitiannya. kalau benar soalnya tentang ini, yang pantas menjawabnya ya kang cunong sendiri.
anda sendiri semalam juga tidak memanfaatkan kesempatan bertanya/membantah dengan baik kok. waktu diberikan kesempatan bertanya oleh anya, pertanyaan anda yang pertama adalah, "saya tidak menanyakan ini ke akmal, karena akmal terlalu pinter, jadi saya
tanyakan saja ke mikael."
(waktu itu mikael langsung menoleh ke saya dan berbisik cepat, "sialan, jadi gue dianggap nggak pinter.")
lah, kalau mau menyatakan kecurigaan anda bahwa saya menjadi "bagian yang terlegitimasi" untuk mengkudeta sastra cyber, kenapa tidak semalam langsung diutarakan di depan floor (mumpung ada nirwan dewanto dan hasif amini malah). kenapa anda malah hanya bertanya pada mikael tapi sekarang misuh-misuh di milis dan berpraduga saya menjadi "pelegitimasi" (itu istilah apa sih, yo? taruhlah anggapan anda "benar", masak anda percaya orang-orang seperti nirwan atau hasif "membutuhkan" orang seperti saya, yang cuma mantan moderator milis, sebagai "pelegitimasi" ? hellooooo...
wake up and smell the coffee, bro).
kalau anda mau jadi saksi itu bagus, tapi jadilah saksi yang adil, jangan menyebarkan kesaksian tendensius (untuk tidak menyebut "kesaksian palsu").
lain halnya kalau anda bilang argumen saya lemah, nggak bermutu, contoh-contohnya dibuat-buat, itu nggak masalah. tunjukkan dengan argumentasi juga dong, jadi kita bisa berdiskusi lebih jauh tentang itu.
kalau anda mau membaca lagi makalah saya dengan lebih tenang, saya hargai itu (dan memberi masukan seperti heri latif, "kenapa nggak sekalian bikin analisis kelas, mal?"). itu jauh lebih bermartabat, yo.
kalau anda nggak mau baca, dan tetap menganggap ada "kudeta sastra cyber indonesia" di tuk (memangnya sastra cyber itu jenis pemerintahan ya sampai perlu dikudeta?), ya nggak apa-apa juga.
cuma mudah-mudahan anda belum lupa omongan pram: intelektual itu bertindak adil sejak dalam pikiran.
salam,
~A~
yonathan yang baik,
dengan menyebutkan "saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA", saya kira anda tidak membaca makalah saya, baik versi hardcopy atau
versi softcopy, yang saya posting di milis hari ini,
sekadar mengingatkan lima alinea awal (bukan satu, tapi LIMA ALINEA) makalah saya justru mengulas peran antologi cyberpuitika. di awal alinea kelima bahkan tertulis, "Sebagai sebuah antologi puisi, Cyberpuitika jelas menandai hadirnya sebuah tahap baru dalam perjalanan sastra Indonesia." (silakan dibaca ulang).
kenapa saya, setelah itu, tidak memberikan contoh nyata tentang karya-karya dalam antologi cyberpuitika? tentu saja karena di forum semalam ada kang cunong yang terlibat dalam cyberpuitika, mengerti sejarahnya, bahkan melakukan analisis untuk kebutuhan tesisnya.
masak saya mau "bersaing" memberikan contoh dengan kang cunong dalam hal cyberpuitika? makanya saya memilih memberikan contoh dari karya sasel lainnya,
yang mudah ditemukan contohnya di internet.
"kudeta sastra?" wah, gagah betul kesimpulan anda, yo. apakah karena saya bekerja di majalah yang punya afiliasi dengan tuk, maka saya juga "berbicara atas nama tuk"?
anda tahu saya tak pernah menolak kepercayaan untuk berbagi pengamatan tentang sastra, tentu sejauh yang saya ketahui.
diundang gola gong dan rumah dunia? oke. saya ke sana.
diundang bicara oleh bang martin aleida di pds hb jassin? nggak masalah, pernah dua kali saya di sana, dan anda juga seingat saya selalu hadir. selain tahu bahwa setiap kali bicara, saya selalu bikin makalah (sekali soal buku film ekky imanjaya yang sekarang sekolah film di amsterdam, dan sekali lagi soal novel berjuta-juta dari deli karya emil aulia.
ekky itu kawan saya dalam menulis sebuah buku tentang film yang terbit tahun 2003. tapi pada diskusi buku itu, saya nggak melihat ekky sebagai teman. yang saya lihat adalah kualitas bukunya.
emil aulia dan saya sama-sama satu kampung, bahkan ayah emil hadir waktu diskusi itu. mudah-mudahan anda juga ingat yo bahwa saya "tak mengendurkan serangan" terhadap isi buku emil saat itu. saya coba kritisi (ini kata yang salah kaprah, tapi telanjur luas
dipakai) buku emil tanpa rasa pertemanan sama sekali. waktu itu, bahkan mikael johani yang "membela" emil, dan menyerang balik argumentasi saya.
lha kok, pada dua kesempatan itu, dengan "kekejaman" saya yang luar biasa pada kedua teman, anda nggak pernah menyebut saya melakukan "KUDETA" terhadap ekky maupun (novel historis yang ingin diusung) emil?
ada apa yo?
soal kesempatan kang cunong bicara, entah anda melihat dengan jelas dari floor atau tidak, saya berkali-kali memberi kesempatan kepada kang cunong untuk lebih dulu bicara, hal yang kadang-kadang tak dimanfaatkan kang cunong sendiri.
jadi saya menduga, anda sebetulnya "gemas" mengapa kang cunong tak lebih banyak mengambil inisiatif untuk memaparkan hasil penelitiannya. kalau benar soalnya tentang ini, yang pantas menjawabnya ya kang cunong sendiri.
anda sendiri semalam juga tidak memanfaatkan kesempatan bertanya/membantah dengan baik kok. waktu diberikan kesempatan bertanya oleh anya, pertanyaan anda yang pertama adalah, "saya tidak menanyakan ini ke akmal, karena akmal terlalu pinter, jadi saya
tanyakan saja ke mikael."
(waktu itu mikael langsung menoleh ke saya dan berbisik cepat, "sialan, jadi gue dianggap nggak pinter.")
lah, kalau mau menyatakan kecurigaan anda bahwa saya menjadi "bagian yang terlegitimasi" untuk mengkudeta sastra cyber, kenapa tidak semalam langsung diutarakan di depan floor (mumpung ada nirwan dewanto dan hasif amini malah). kenapa anda malah hanya bertanya pada mikael tapi sekarang misuh-misuh di milis dan berpraduga saya menjadi "pelegitimasi" (itu istilah apa sih, yo? taruhlah anggapan anda "benar", masak anda percaya orang-orang seperti nirwan atau hasif "membutuhkan" orang seperti saya, yang cuma mantan moderator milis, sebagai "pelegitimasi" ? hellooooo...
wake up and smell the coffee, bro).
kalau anda mau jadi saksi itu bagus, tapi jadilah saksi yang adil, jangan menyebarkan kesaksian tendensius (untuk tidak menyebut "kesaksian palsu").
lain halnya kalau anda bilang argumen saya lemah, nggak bermutu, contoh-contohnya dibuat-buat, itu nggak masalah. tunjukkan dengan argumentasi juga dong, jadi kita bisa berdiskusi lebih jauh tentang itu.
kalau anda mau membaca lagi makalah saya dengan lebih tenang, saya hargai itu (dan memberi masukan seperti heri latif, "kenapa nggak sekalian bikin analisis kelas, mal?"). itu jauh lebih bermartabat, yo.
kalau anda nggak mau baca, dan tetap menganggap ada "kudeta sastra cyber indonesia" di tuk (memangnya sastra cyber itu jenis pemerintahan ya sampai perlu dikudeta?), ya nggak apa-apa juga.
cuma mudah-mudahan anda belum lupa omongan pram: intelektual itu bertindak adil sejak dalam pikiran.
salam,
~A~
Sapi dan Politik
SOSIALISME
Kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu
KOMUNISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu.
FASISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu.
NAZISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu
BUREAUCRATISM
kau punya 2 sapi,
negara mengambil keduanya,
yang satu ditembak, yang satu diperah susunya trus dibuang
TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan.
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.
SURREALISM
kau punya 2 jerapah
pemerintah memintamu untuk kursus harmonika
AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4
sapi.
kemudian , kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya
mati.
THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.
A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa,
memblokade jalanan, karena kau ingin punya 3 sapi.
A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat profil kartun sapi pintar "Cowkimon" dan menjualnya
ke seluruh dunia.
A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup
sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.
AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.
A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana bilamana punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana bilamana punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka.
A SWISS CORPORATION
kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk
menyimpannya.
A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu
tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya.
BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.
IRAQ CORPORATION
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke meraka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi
negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian
dari demokrasi,
NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.
AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus.
kau tutup kantor dan pergi mencari beer untuk merayakannya.
INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk anak cucumu.
MALAYSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau rampok dari indonesia.
Kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu
KOMUNISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu.
FASISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu.
NAZISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu
BUREAUCRATISM
kau punya 2 sapi,
negara mengambil keduanya,
yang satu ditembak, yang satu diperah susunya trus dibuang
TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan.
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.
SURREALISM
kau punya 2 jerapah
pemerintah memintamu untuk kursus harmonika
AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4
sapi.
kemudian , kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya
mati.
THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.
A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa,
memblokade jalanan, karena kau ingin punya 3 sapi.
A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat profil kartun sapi pintar "Cowkimon" dan menjualnya
ke seluruh dunia.
A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup
sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.
AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.
A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana bilamana punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana bilamana punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka.
A SWISS CORPORATION
kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk
menyimpannya.
A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu
tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya.
BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.
IRAQ CORPORATION
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke meraka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi
negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian
dari demokrasi,
NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.
AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus.
kau tutup kantor dan pergi mencari beer untuk merayakannya.
INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk anak cucumu.
MALAYSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau rampok dari indonesia.
15 Februari 2008
Mahasiswa; Harimau dalam Penjara
Oleh: Sayyid Madany Syani*
Tidak akan pernah habis ketika membicarakan mahasiswa. Klasifikasi orang muda yang enerjik, kritis, dinamis, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Kadang ceroboh namun mampu menjadikan kecerobohannya itu sebagai media pembelajaran agar di hari depan tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Mahasiswa merupakan orang yang punya perasaan halus dan merasa punya tanggung jawab moral ketika lingkungannya dilanda ketidakadilan. Ringan tangan dan mampu membagi waktunya antara pribadi (kuliah) dengan kegiatan ekstra (organisasi) yang mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi; pemikiran, argumentasi dan ide-ide cemerlang.
Tapi tunggu dulu! Tampaknya pandangan di atas sudah kadaluarsa. Tak ada yang menarik dari sosok mahasiswa masa kini. Menarik tulisannya Afrizal yang berjudul “Eksistensi Intelektual Muda Minang” yang dimuat di Opini Singgalang 16 Desember 2007. Afrizal menulis:
Perubahan citra seorang intelektual ini tentunya seiring dengan semakin terbukanya kanal-kanal baru yang strategis bagi mahasiswa dan intelektual muda yang diberikan oleh produk kapitalisme, yang berbentuk materialisme.
Lebih lanjut, Afrizal memaparkan sebagian produk kapitalisme yang mengkerangkeng jiwa mahasiswa yang dikenal sebagai jiwa yang kritis. Acara televisi yang mampu menyulap seseorang menjadi terkenal dalam hitungan detik merupakan produk instan yang menurut Afrizal menguras libido mahasiswa—anak muda untuk kembali bercengkrama dengan masalah-masalah sosial yang bertumpuk. Lalu, kebiasaan meramaikan mall hara-huru tak berketentuan dan gonta-ganti pasangan juga disorot oleh Afrizal. Bukan saja forum diskusi yang sepi, tetapi IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) pun ikut-ikutan merosot. Inikah calon pemimpin bangsa itu?
Realita Pergerakan Mahasiswa
Saya sebagai mahasiswa yang kuliah di Sumatra Barat sebenarnya malu ketika disoroti oleh Afrizal. Jika dilihat lebih detil, persoalan pergerakan mahasiswa di Sumatra Barat bermuara kepada satu persoalan “sepele” yaitu mahasiswa tidak pandai “membaca”. Masalahnya bukan pada persoalan tidak bisa mengeja lima huruf vokal atau menghafal dua puluh enam huruf. Bukan! Tetapi, tidak pandai membaca di sini maksudnya; Pertama tidak pandai membaca kondisi lingkungan sekitar yang sebenarnya sudah muak dengan prilaku mahasiswa yang kadang sok; sok berwibawa, sok berani, sok ganteng, sok cantik dan tentu saja sok tahu. Kedua, faktor kemalasan dari membaca buku itu sendiri. Entah itu yang bertema buku teori kuliah, sampai buku teenlit.
Maka, pergerakan mahasiswa pun menjadi mogok. Walaupun di kampus terdapat organisasi-organisasi intra (BEM, HMJ, UKM) maupun ekstra (KAMMI, HMI, GMNI, dll) tetapi tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa pergerakan masih berjalan. Ya, pergerakan memang jalan tetapi hanya di kalangan terbatas sebatas ruang lingkup organisasi. Saya pikir, hal semacam itu bukan membuat lokomotif pergerakan menjadi jalan, namun hanya menderum-derum ganas, menghentak-hentak tetapi tetap jalan di tempat.
Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa BEM yang digemborkan sebagai miniatur negara mahasiswa dijadikan objek saling rebut antar ideologi yang berkembang di kalangan mahasiswa. Sistem pembagian kekuasaan antar lapisan mahasiswa tidak pernah terealisasi dan digantikan oleh sistem otoriter kelompok ideologi yang menang dalam PEMIRA (mengikuti tata cara Pemilu).
Saya contohkan di kampus saya sendiri; Unand. Sistem otoriter kelompok ideologi ini berusaha mengambil posisi-posisi penting dalam tatanan BEM Universitas maupun Fakultas dengan cara-cara demokratis; Presiden, Gubernur, Menteri dan staf-staf lainnya bahkan hingga ke DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa). Penyeragaman ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Alhasil, BEM identik dengan kelompok tertentu itu. Sedangkan kelompok lainnya, juga tidak jelas sikapnya, beroposisi atau berafiliasi?
Kalau kelompok yang berkuasa itu mampu menyatukan serpihan-serpihan gerakan mahasiswa lain dan bisa membangkitkan kembali kedinamisan mahasiswa sebagai orang muda kritis, berani, cepat tanggap menyikapi perkembangan sosial yang ada serta punya tanggung jawab terhadap masyarakat maka tidak ada masalah dengan pergerakan. Realitasnya kondisi mahasiswa hari ini sedang berada pada wilayah yang stagnan. Persoalannya, penyeragaman yang dilakukan kelompok tersebut hanya sebagai legalisasi agar program gerakannya bisa berjalan dengan mudah. Saya melihat, ada ketakutan yang diidap oleh kelompok itu. Mungkin, mereka takut, seandainya tidak berada di posisi penting, program kelompoknyalah yang akan mogok. Aneh.
Hal semacam ini yang menurut saya jadi penyebab monotonnya pergerakan mahasiswa. Sebab apa coba indahnya, jika sebuah kanvas dilukisi oleh satu warna saja misalnya hitam. Bukankah pelangi lebih indah terlihat jika warna-warni. Pergerakan mahasiswa tidak lagi melihat alam sebagai guru. Alam yang terdiri dari warna-warni berlainan yang membentuk suatu medan makna yang kita katakan; indah. Pergerakan mahasiswa hanya melihat warnanya sendiri, dan bangga dengan warnanya yang monoton. Sibuk dengan aktivitas di dalam organisasi, dan berkutat pada tempurung sempit yang dianggap luas. Menyelamatkan diri sendiri adalah hal terpenting yang harus dilakukan oleh berbagai gerakan sehingga konsep mahasiswa sebagai penyambung lidah sosial menjadi raib atau sengaja dihilangkan.
Kondisi tersebut sambung-menyambung membentuk kelompok-kelompok mahasiswa lain yang dikenal dengan kelompok marjinal atau kelompok yang terpinggirkan secara pemikiran. Mereka ini membentuk kelompok-kelompok diskusi yang intensif—di awal pembentukan. Lalu, diselingi oleh serangan pamflet atau yang dikenal dengan “Pamfletisasi ‘Dinding’ Kampus” dan penyebaran hasil diskusi lewat media massa. Namun, kelompok-kelompok seperti ini cenderung tidak bertahan lama, karena sadar perjuangannya akan berlangsung lama, tidak bisa instan sedangkan mereka tidak berani menerapkan sistem perekrutan karena hanya komunitas diskusi kecil.
Selain membentuk kelompok marjinal yang pemikir, kondisi pergerakan mahasiswa hari ini juga membentuk kelompok mahasiswa yang cenderung hedonis. Penampilan adalah nomor satu dibandingkan materi kuliah apalagi dibandingkan dengan demonstrasi. Mereka ini tidak mau tahu apapun kondisi pergerakan mahasiswa di kampusnya. Saya pikir, sikap mereka yang seperti itu disebabkan karena kejenuhan terhadap berbagai organisasi mahasiswa yang menomorsatukan kepentingan kelompok bukan kelompok sosial.
Jadilah mahasiswa sebagai generasi muda dalam kerangkeng. Kerangkeng itu dibuat bukan oleh penguasa atau birokrat tetapi oleh mahasiswa sendiri. Saya jadi skeptis dengan hari depan bangsa ini jika generasi mudanya saja tidak mau menyadari bahwa lingkungan di luar kerangkeng lebih luas daripada di dalam kerangkeng yang sempit. Oh, mahasiswa...oh, orang muda. Garang tapi seperti harimau dalam kandang.
*Penulis adalah mahasiswa Sastra Unand.
Tidak akan pernah habis ketika membicarakan mahasiswa. Klasifikasi orang muda yang enerjik, kritis, dinamis, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Kadang ceroboh namun mampu menjadikan kecerobohannya itu sebagai media pembelajaran agar di hari depan tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Mahasiswa merupakan orang yang punya perasaan halus dan merasa punya tanggung jawab moral ketika lingkungannya dilanda ketidakadilan. Ringan tangan dan mampu membagi waktunya antara pribadi (kuliah) dengan kegiatan ekstra (organisasi) yang mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi; pemikiran, argumentasi dan ide-ide cemerlang.
Tapi tunggu dulu! Tampaknya pandangan di atas sudah kadaluarsa. Tak ada yang menarik dari sosok mahasiswa masa kini. Menarik tulisannya Afrizal yang berjudul “Eksistensi Intelektual Muda Minang” yang dimuat di Opini Singgalang 16 Desember 2007. Afrizal menulis:
Perubahan citra seorang intelektual ini tentunya seiring dengan semakin terbukanya kanal-kanal baru yang strategis bagi mahasiswa dan intelektual muda yang diberikan oleh produk kapitalisme, yang berbentuk materialisme.
Lebih lanjut, Afrizal memaparkan sebagian produk kapitalisme yang mengkerangkeng jiwa mahasiswa yang dikenal sebagai jiwa yang kritis. Acara televisi yang mampu menyulap seseorang menjadi terkenal dalam hitungan detik merupakan produk instan yang menurut Afrizal menguras libido mahasiswa—anak muda untuk kembali bercengkrama dengan masalah-masalah sosial yang bertumpuk. Lalu, kebiasaan meramaikan mall hara-huru tak berketentuan dan gonta-ganti pasangan juga disorot oleh Afrizal. Bukan saja forum diskusi yang sepi, tetapi IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) pun ikut-ikutan merosot. Inikah calon pemimpin bangsa itu?
Realita Pergerakan Mahasiswa
Saya sebagai mahasiswa yang kuliah di Sumatra Barat sebenarnya malu ketika disoroti oleh Afrizal. Jika dilihat lebih detil, persoalan pergerakan mahasiswa di Sumatra Barat bermuara kepada satu persoalan “sepele” yaitu mahasiswa tidak pandai “membaca”. Masalahnya bukan pada persoalan tidak bisa mengeja lima huruf vokal atau menghafal dua puluh enam huruf. Bukan! Tetapi, tidak pandai membaca di sini maksudnya; Pertama tidak pandai membaca kondisi lingkungan sekitar yang sebenarnya sudah muak dengan prilaku mahasiswa yang kadang sok; sok berwibawa, sok berani, sok ganteng, sok cantik dan tentu saja sok tahu. Kedua, faktor kemalasan dari membaca buku itu sendiri. Entah itu yang bertema buku teori kuliah, sampai buku teenlit.
Maka, pergerakan mahasiswa pun menjadi mogok. Walaupun di kampus terdapat organisasi-organisasi intra (BEM, HMJ, UKM) maupun ekstra (KAMMI, HMI, GMNI, dll) tetapi tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa pergerakan masih berjalan. Ya, pergerakan memang jalan tetapi hanya di kalangan terbatas sebatas ruang lingkup organisasi. Saya pikir, hal semacam itu bukan membuat lokomotif pergerakan menjadi jalan, namun hanya menderum-derum ganas, menghentak-hentak tetapi tetap jalan di tempat.
Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa BEM yang digemborkan sebagai miniatur negara mahasiswa dijadikan objek saling rebut antar ideologi yang berkembang di kalangan mahasiswa. Sistem pembagian kekuasaan antar lapisan mahasiswa tidak pernah terealisasi dan digantikan oleh sistem otoriter kelompok ideologi yang menang dalam PEMIRA (mengikuti tata cara Pemilu).
Saya contohkan di kampus saya sendiri; Unand. Sistem otoriter kelompok ideologi ini berusaha mengambil posisi-posisi penting dalam tatanan BEM Universitas maupun Fakultas dengan cara-cara demokratis; Presiden, Gubernur, Menteri dan staf-staf lainnya bahkan hingga ke DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa). Penyeragaman ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Alhasil, BEM identik dengan kelompok tertentu itu. Sedangkan kelompok lainnya, juga tidak jelas sikapnya, beroposisi atau berafiliasi?
Kalau kelompok yang berkuasa itu mampu menyatukan serpihan-serpihan gerakan mahasiswa lain dan bisa membangkitkan kembali kedinamisan mahasiswa sebagai orang muda kritis, berani, cepat tanggap menyikapi perkembangan sosial yang ada serta punya tanggung jawab terhadap masyarakat maka tidak ada masalah dengan pergerakan. Realitasnya kondisi mahasiswa hari ini sedang berada pada wilayah yang stagnan. Persoalannya, penyeragaman yang dilakukan kelompok tersebut hanya sebagai legalisasi agar program gerakannya bisa berjalan dengan mudah. Saya melihat, ada ketakutan yang diidap oleh kelompok itu. Mungkin, mereka takut, seandainya tidak berada di posisi penting, program kelompoknyalah yang akan mogok. Aneh.
Hal semacam ini yang menurut saya jadi penyebab monotonnya pergerakan mahasiswa. Sebab apa coba indahnya, jika sebuah kanvas dilukisi oleh satu warna saja misalnya hitam. Bukankah pelangi lebih indah terlihat jika warna-warni. Pergerakan mahasiswa tidak lagi melihat alam sebagai guru. Alam yang terdiri dari warna-warni berlainan yang membentuk suatu medan makna yang kita katakan; indah. Pergerakan mahasiswa hanya melihat warnanya sendiri, dan bangga dengan warnanya yang monoton. Sibuk dengan aktivitas di dalam organisasi, dan berkutat pada tempurung sempit yang dianggap luas. Menyelamatkan diri sendiri adalah hal terpenting yang harus dilakukan oleh berbagai gerakan sehingga konsep mahasiswa sebagai penyambung lidah sosial menjadi raib atau sengaja dihilangkan.
Kondisi tersebut sambung-menyambung membentuk kelompok-kelompok mahasiswa lain yang dikenal dengan kelompok marjinal atau kelompok yang terpinggirkan secara pemikiran. Mereka ini membentuk kelompok-kelompok diskusi yang intensif—di awal pembentukan. Lalu, diselingi oleh serangan pamflet atau yang dikenal dengan “Pamfletisasi ‘Dinding’ Kampus” dan penyebaran hasil diskusi lewat media massa. Namun, kelompok-kelompok seperti ini cenderung tidak bertahan lama, karena sadar perjuangannya akan berlangsung lama, tidak bisa instan sedangkan mereka tidak berani menerapkan sistem perekrutan karena hanya komunitas diskusi kecil.
Selain membentuk kelompok marjinal yang pemikir, kondisi pergerakan mahasiswa hari ini juga membentuk kelompok mahasiswa yang cenderung hedonis. Penampilan adalah nomor satu dibandingkan materi kuliah apalagi dibandingkan dengan demonstrasi. Mereka ini tidak mau tahu apapun kondisi pergerakan mahasiswa di kampusnya. Saya pikir, sikap mereka yang seperti itu disebabkan karena kejenuhan terhadap berbagai organisasi mahasiswa yang menomorsatukan kepentingan kelompok bukan kelompok sosial.
Jadilah mahasiswa sebagai generasi muda dalam kerangkeng. Kerangkeng itu dibuat bukan oleh penguasa atau birokrat tetapi oleh mahasiswa sendiri. Saya jadi skeptis dengan hari depan bangsa ini jika generasi mudanya saja tidak mau menyadari bahwa lingkungan di luar kerangkeng lebih luas daripada di dalam kerangkeng yang sempit. Oh, mahasiswa...oh, orang muda. Garang tapi seperti harimau dalam kandang.
*Penulis adalah mahasiswa Sastra Unand.
Langganan:
Postingan (Atom)

