Hmmm, dua tahun sudah saya telantarkan blog ini. Persoalannya sederhana tetapi berdampak besar bagi saya sendiri. Saya mengalami sindrom "kelelahan" dan "kemuakan" dalam menulis. Ya, ya, ya, sindrom ini tak ada dalam istilah kedokteran, tapi percayalah setiap penulis pasti mengalami fase sindrom ini dalam karir kepenulisannya, cepat ataupun lambat.
Dua tahun yang terlupakan dan sia-sia. Akhirnya, proses pun mesti mengulang dari NOL. Tapi tak apalah, daripada mati selamanya, masih lebih baik mati suri. :D
Ok, easy going n enjoy aja. Kalau kata Iwan Fals: "hadapi saja...."
So, i'm coming blogger...... :D
14 Oktober 2011
13 Februari 2009
ini untuk abi

ujung sorbannya sudah terlalu lama lusuh
dikepung debu dan waktu
yang berkejaran melewati kota
abi sering menyeruak di antara ilalang
melewati barisan kurma yang tumbang
dan ranggas
kata abi, rumah-rumah seperti barisan laskar
yang cerai berai dilumat api permusuhan
tetapi, abi masih bisa bertahan di kota ini
menunggu perut waktu menemui ajalnya
hanya saja, berkali-kali semangat itu dipatahkan
oleh mesiu yang mondar-mandir tak bertujuan
entah kapan seekor dua ekor burung pipit
akan mampir lagi di atas atap kota
hingga subuh menyerupai kepulan asap berwarna jingga
dalam asuhan langit, bintang-bintang jatuh
menampakkan surainya
dan berdentam ria, di dekat pembaringan para pengungsi
abi telah kehilangan sorbannya itu
dijemput cahaya yang susul-menyusul dari atas rumah
dan, aku tak lagi bertemu abi
seperti anak-anak pengungsi lainnya
yang tak bertemu dengan ayahnya lagi
Februari 2009
Menemui Reda
;sebelum reda, kutawar janji pada hujan
itu menengarai sunyi yang sedan
lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan
jika hujan esok hari setuju memberi pertanda
gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu
kemarin, dan kemarinnya lagi
pertemuan meringkus jejak dan jarak
bersitatap melampaui kejauhan
oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda
bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali
dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang
sampai kutemui ia, dengan debaran jantung
lebih berlipat kencang dari biasanya
sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati
sementara waktu tak lekas berpisah
menggodaku seperti prajurit yang kalah
maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan
agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan
besok, dan besoknya lagi
Tunggang, Januari 2009
itu menengarai sunyi yang sedan
lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan
jika hujan esok hari setuju memberi pertanda
gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu
kemarin, dan kemarinnya lagi
pertemuan meringkus jejak dan jarak
bersitatap melampaui kejauhan
oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda
bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali
dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang
sampai kutemui ia, dengan debaran jantung
lebih berlipat kencang dari biasanya
sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati
sementara waktu tak lekas berpisah
menggodaku seperti prajurit yang kalah
maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan
agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan
besok, dan besoknya lagi
Tunggang, Januari 2009
06 Januari 2009
Jika Kuntum Tak Lagi Mekar
kungin bebunga mekar
mewarna taman jadi indah
mengharumkan lelangit, oh awan yang merintih duka
runtuhkanlah decakan kagum yang mengulum
biar kuyakin pula, bebunga jadi mekar
kucoba tawar isak kuntumku
langit, entahlah mengapa jadi tak cerah
berderai puluhan angin menerpa
tampak badai telah melarung dari sana
dan lihat,
peputik bunga berserakan
juga mahkotanya
menunggu kematian yang sebentar
sebentar lagi akan datang
leladang5, 5 Juni 2007
mewarna taman jadi indah
mengharumkan lelangit, oh awan yang merintih duka
runtuhkanlah decakan kagum yang mengulum
biar kuyakin pula, bebunga jadi mekar
kucoba tawar isak kuntumku
langit, entahlah mengapa jadi tak cerah
berderai puluhan angin menerpa
tampak badai telah melarung dari sana
dan lihat,
peputik bunga berserakan
juga mahkotanya
menunggu kematian yang sebentar
sebentar lagi akan datang
leladang5, 5 Juni 2007
Kubur Kaca
stanza itu tak pernah selesai
dibawa angin darek yang berbuntalan dengan awan
langit menempuh sujud
ketika itu, pecah dalam alir sungai
suara dengan dengung yang tambun
bayangan menebing
sementara, bait-bait lagu terus mengapung
memantrai udara
bait yang tak pernah selesai dinyanyikan
stanza itu
melarung dalam hingar
menghilang dalam peradaban
kisruh dalam tempaan janang
Alahan Panjang, November 2008
dibawa angin darek yang berbuntalan dengan awan
langit menempuh sujud
ketika itu, pecah dalam alir sungai
suara dengan dengung yang tambun
bayangan menebing
sementara, bait-bait lagu terus mengapung
memantrai udara
bait yang tak pernah selesai dinyanyikan
stanza itu
melarung dalam hingar
menghilang dalam peradaban
kisruh dalam tempaan janang
Alahan Panjang, November 2008
09 Desember 2008
Perjalanan

ujung jalan yang kita tempuh
menakar hujan dengan sebuah yang entah
mungkin, di pertengahan nanti
kita terpeleset curam basah
bayangan setinggi pohon mangga
menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga
mungkin, gerhana
atau malam saja
sediakan kertas atau semacamnya
buat kita berteduh dari mimpi
sementara, ujung jalan yang kita tuju
menjauh setapak-demi setapak
kita tersekat dari lamun kenyataan
di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti
sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam
cukam memahat tebing
dan pandam kita terlalu dini untuk ada
Langkah, November 2008
Aku Menunggumu di Sisi Keramaian

;yandre mariandiko
musim bermain itu kau habiskan dalam rumah
tak ada ibu, tak ada ayah
menikam debu dan bekas akar lilin yang tumpah
sementara, di tanah lapang belakang rumah
anak-anak sibuk bermain bola
sambil menunggu kacang kuning dan semangka berbuah
riuh rendah
kau merajut kesepian itu dengan angan
tanpa pangan dan usiran guru ngaji di mesjid
ketika kau tak pandai meraba huruf ba
keramaian menjadi asing
bahkan dengan debur ombak pesisir sekalipun
kau rindu akan kehadiran ayah
tangis pun kau titipkan kepada pengendara jauh
dengan harap bisa diterima oleh ibu
namun, tangismu begitu kering
ditelan udara pagi yang menghapus mimpimu tentang keramaian
kau pun bergegas untuk ke sekolah
mungkin harap dengan pertemuan itu
mungkin juga hanya kekosongan yang harus kau lakoni
setiap hari
Rumah Cinta, November 2008
05 November 2008
Ngiangmu

;Rudi Datuak
kau telah bertemu dengan nasib
genggaman yang menirukan igau
hujan menikam darah
dan aku ingat semasa kita berteduh
dalam ruang kopi yang hangat
kurindu gumammu sahabat
menebas pilu di antara jalanan yang rawan
dan kau berceloteh tentang masa depan
yang begitu suram kurasa
ngiang suara yang tertuba
cium garis tanganmu yang swarga
dimana kau menjemput nasib
dengan gegas, dan bertemu raib
yang tak dapat kau tolak
oh langit, dengan darah tergenang
menghitung pertanda sebagai pasi
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi
yang kuseruput semalaman
kau telah berkawan dengan kafan
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan
rapal doa dan igau yang jemu
tentang masa depan
selamat jalan!
Rumah Cinta, November 2008
Kulukis Bidadari Tenggara
Perjalanan

;Arif Rizki
seperti harap pada waktu yang membingungkan
kau lembab pada ujung trotoar jalan
masih juga, kau rindukan kesendirian
padahal, kesendirian mulai memutar haluan
yang sesalnya, menempuh lorong sunyi
dan kau mendambakan hujan turun di sana
basah lalu bahagia
lepas seperti lentingan batu
dari ketapel masa kanakmu
Rumah Cinta, September 2008
Lafaz Suci

;bismillah
seperangkat mesin menyala
rodanya berputar lambat
menderu, panas dan beringas
;allahu akbar
hanya tubuh lemah
terbaring seiring tualang waktu
yang pergi menjinakkan jiwa
;alhamdulillah
mesin-mesin berjalan dalam gugu
“pinggir...pinggir...”
mengesiapkan rumbia, papan, bambu dan batako merah
yang tersusun serampangan
;astagfirullah
tak ada daun kering yang jatuh
sebagai tanda kesedihan
tak ada bendera kuning
yang terpasang di ujung gang
juga tak ada bendera putih
tanda kekalahan
;lailahailallahu
hanya getir lamunan nenek tua
yang bersandar di puing gubuknya
hanya anak-anak yang berlarian
main air di bekas pemandian
;wallahualam
waktu masih tersipu malu
waktu masih enggan untuk berkabung
penantian panjang
hanya diselingi zikir kepada Tuhan
PKM, September 2008
19 Oktober 2008
Perjalanan

nafas bebatuan seperti memanggil pulang
cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang
dengan air yang menguntit karam
dan selendang gadis muda yang
hanyut dibawa pasang
pada garis tangan ibu
senja menjejakkan catatan-catatannya
dimana ketulusan menjadi garang
dan kampung halaman meneruka dalam bayang
jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil
meski kereta telah lambat menemukan peron
o, gadis muda dengan selendang hijaunya
berjalan dalam riang malam
kandas dalam lautan
hingar dalam nestapa kampung halaman
F 2.5, Oktober 2008
Ode Badai

adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia
rimbun dalam benam badai
menikam gemuruh, dan air mata sungai
yang terisak riuh
mata yang menikam bebatuan
dalam upacara purnama yang basah
darah meruap dalam bara kemenyan
menutup kalap badai yang bertempuran
badai...badai...badai...
tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala
dinding-dinding batu penuh kesumat
bersama dengan keheningan yang hilang cekam
menusuk lewat bantal, guling dan kasur
siapa yang melaknat diri?
mengharap darwis lewat di sisian rumah
sambil mengatakan; “mari mati
mari...mari....
demi nurani!”
AA. Navis, September 2008
Perempuan Ilalang (X)

;nta
nta, mungkinkah aku bertemu kekasih hari ini?
terakhir kali, dalam siang yang remang.
bersitatap dalam ruang kereta yang berlainan
mimpi usang, dan aku terjebak dalam bayang.
o, kekasih yang riuh dilamar ilalang,
mungkinkah kau bermalam dalam raut kuning pucat?
tak lagi kau rindukan basah asin laut padang
dimana nurbaya pernah berkubur
dan bersemayam menikam cinta
tak lagi kau cium batu arca
yang tersujud dalam ngiang ibu
memulangkan kembali kesedihan
pada senja dengan cahaya pualam
sementara kau meliuk-liuk dalam hamparan ilalang
mencipta keputusasaan dalam hati
yang berpenat diri
ya nta, aku telah berputus asa.
Rumah Cinta, September 2008
Subuh Permai di Sebuah Danau dengan Riak Menerpa-nerpa Ujung Keramba

;Esha Tegar Putra
siapa yang menangis?
ketika subuh yang permai diawali oleh dedaunan mawar
berjatuhan dalam lindap pertemuan
eden! aku cuma tangisan yang tergenang
di subuh permai itu. membentuk laguna dengan sepotong
cinta yang padam dalam wajah bujang sambilan
wajah yang begitu gaib
merupa sepasukan langit yang kau impikan
cinta yang pernah menuai marah Tuhan
sementara garis tangan ibu adalah wajahku yang lelah
lelah menunggu ayah, lelah menunggu sang kekasih
yang bersembunyi dalam kelenaan jala
tak perlulah kau tampung air hujan untuk melepas lelahku
sebab keriangan danau ini telah menyatu dalam kalbuku
tak perlu juga kau nyanyikan setakat doa
sebab pesisir yang mengguncang air asin dengan telaga
telah mengobati rasa perihku
biar subuh yang permai ini tergelincir di ujung keramba nenekku
dan aku tetap menjadi sebuah bayang
mungkin berebut maut dengan bunian
yang menghuni leladang durian di belakang rumah kakekku
Rumah Cinta, Oktober 2008
12 Oktober 2008
Sajak-Sajak Minggu Ini
Jejak Penantian
apa yang kau rindukan
mungkinkah desah kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah
dari sisimu
aku pun menunggu,
dekah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya
aku kembali berjalan
kau pun juga
mengarungi Drina hingga Gangga
menanti,
Isa, atau mesias yang lalai
turun ke bumi
KaranggoNet, Oktober 2007
Saat Cinta Terkubur Batu Lawanga
saat ini
ketika musim tidak akan pernah berganti
daun-daun mawar telah berguguran di
depan melati
aku, tidak sempat mengutarakan
maksudmu, yang mendesah panjang di tepian
jurang,
ketika aku menyebut, “cinta”
atau, apakah cinta menggadaikan diri
untuk dosa-dosa
dan Lawanga
mengubur kau bersama dengan mayat-
mayat yang tersenyum kaku
KaranggoNet, Oktober 2007
*Lawanga; daerah di Poso
Genjer-Genjer
;untuk terulang kalinya
dalam ketakutan yang juga belum sirna
dekapan eratmu di jantungku
menyendat aliran deras
tahta kidung yang kugambarkan
jerit nafas tubuh
menggila,
disusuri alunan yang dikira
iblis sedang merayu—mendayu
“kidungku tak terlukiskan, Jer”
takut selimuti genderang perang
dan aku sendiri, disekap jeruji
pelog dan slendro
F.25, November 2006
Seorang itu
Namanya sepi,
Aku—kita berjalan
Bertiga
Gedung-gedung kusam
Sudah lama mereka mencongkel matanya sendiri
Tidak sanggup (lagi) meratapi
Debu dan asap berkepulan
Rumah Cinta-Padang, Desember 2006
Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (II)
cikal di tepi terjal
belum lagi akan kembang dan mekar
angin sayup gusar
menggoyangoyangkan kuncup
cikal di tepi terjal
belum juga akan kembang dan mekar
bebunga sayup
meneruka ke dalam hati batu
masih menunggu
kapan saatnya akan kembang dan mekar
hanya bebatu deras berhujan
yang turun
kuntum tak lagi datang
leladang2, 22 Mei 2007
Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (VIII)
di sini, telah kutanam kata per-kata
agar kelak tumbuh, dan berbunga
bersemi indah
leladang8, Desember 2007
Sayyid Madany Syani, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang
(DIMUAT DI HARIAN SINGGALANG 12 OKTOBER 2008)
apa yang kau rindukan
mungkinkah desah kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah
dari sisimu
aku pun menunggu,
dekah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya
aku kembali berjalan
kau pun juga
mengarungi Drina hingga Gangga
menanti,
Isa, atau mesias yang lalai
turun ke bumi
KaranggoNet, Oktober 2007
Saat Cinta Terkubur Batu Lawanga
saat ini
ketika musim tidak akan pernah berganti
daun-daun mawar telah berguguran di
depan melati
aku, tidak sempat mengutarakan
maksudmu, yang mendesah panjang di tepian
jurang,
ketika aku menyebut, “cinta”
atau, apakah cinta menggadaikan diri
untuk dosa-dosa
dan Lawanga
mengubur kau bersama dengan mayat-
mayat yang tersenyum kaku
KaranggoNet, Oktober 2007
*Lawanga; daerah di Poso
Genjer-Genjer
;untuk terulang kalinya
dalam ketakutan yang juga belum sirna
dekapan eratmu di jantungku
menyendat aliran deras
tahta kidung yang kugambarkan
jerit nafas tubuh
menggila,
disusuri alunan yang dikira
iblis sedang merayu—mendayu
“kidungku tak terlukiskan, Jer”
takut selimuti genderang perang
dan aku sendiri, disekap jeruji
pelog dan slendro
F.25, November 2006
Seorang itu
Namanya sepi,
Aku—kita berjalan
Bertiga
Gedung-gedung kusam
Sudah lama mereka mencongkel matanya sendiri
Tidak sanggup (lagi) meratapi
Debu dan asap berkepulan
Rumah Cinta-Padang, Desember 2006
Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (II)
cikal di tepi terjal
belum lagi akan kembang dan mekar
angin sayup gusar
menggoyangoyangkan kuncup
cikal di tepi terjal
belum juga akan kembang dan mekar
bebunga sayup
meneruka ke dalam hati batu
masih menunggu
kapan saatnya akan kembang dan mekar
hanya bebatu deras berhujan
yang turun
kuntum tak lagi datang
leladang2, 22 Mei 2007
Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (VIII)
di sini, telah kutanam kata per-kata
agar kelak tumbuh, dan berbunga
bersemi indah
leladang8, Desember 2007
Sayyid Madany Syani, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang
(DIMUAT DI HARIAN SINGGALANG 12 OKTOBER 2008)
28 September 2008
Mengingat Kembali Apresiasi Puisi Sosial

Hanya ada satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu jauh lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul sebagai seorang yang telah menorehkan puisi perlawanan (Munir dalam Thukul, 2004: xix). Memang, Wiji Thukul mengambil sastra dan seni sebagai corak budaya perlawanan dalam menghadapi budaya kekerasan yang diterapkan penguasa Orde Baru.
Di saat itu, puisi (sastra) membuktikan bahwa bentuknya tidaklah sepele seperti yang diyakini orang. Dalam konteks yang terpatron di dalam otak kita, puisi merupakan bentuk estetis yang berisi pernyataan romantis. Biasanya digunakan sebagai pemulus jalan dalam menyatakan perasaan cinta terhadap lawan jenis. Bahkan pada suatu kesempatan, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah murka di hadapan para guru ketika mendengarkan sebuah puisi yang dibaca oleh mantan rektor IKIP Jakarta Prof. Dr. Winarno Surachmad. Inilah isi puisi itu yang dinilai oleh Wakil Presiden sebagai pelecehan terhadap harga diri bangsa Indonesia (Fadlillah, 2006: 182-183):
‘Apa artinya bertugas mulia ketika kami hanya
terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa.
Kapan sekolah kami lebih dari kandang ayam.
Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan
oleh sejarah terbaca torehan darah kering.
Di sini terbaring seorang guru, semampu membaca
bungkus sambil belajar menahan lapar, hidup
sebulan dari gaji sehari’
Terlepas dari nanarnya Wakil Presiden terhadap puisi, maka ada satu pelajaran yang bisa diambil. Puisi (sastra) merupakan senjata yang paling tajam daripada pisau, yang lebih dahsyat ledakannya daripada bom atom. Dan, begitu pula sebaliknya, puisi pun bisa selembut kain sutra, dan sesejuk oase di tengah gurun. Tergantung pada situasi dan kondisi lingkungan dimana puisi itu lahir dan dibesarkan.
Puisi seperti karya sastra lainnya adalah cermin dari kehidupan. Seperti yang diyakini Georg Lukacs bahwa sastra sebagai cermin berarti menyusun sebuah struktur mental (Taum, 1997: 50). Sastra tidak hanya mencerminkan realitas tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik yang mungkin melampaui pemahaman umum. Namun, terkadang orang menafikan sastra sebagai cermin. Sastra dianggap hanya bermain pada lingkup fiksi yang sekali lagi telah terpatron ke dalam benak kita sebagai bagian ilusi, fiktif yang jauh dari kebenaran dan bersifat nihil atau tidak pernah ada. Padahal Sapardi Djoko Damono telah menjelaskannya dalam buku “Sosiologi Sastra; sebuah pengantar ringkas” (1979: 1) bahwa:
“Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat; ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.”
Hal inilah yang menjadi jawaban selama ini, kenapa sastra dilarang, dibredel dan dijauhi sebagai kehidupan tanpa masa depan. Lebih lanjut, Fadlillah dalam bukunya “Kecerdasan Budaya” (2006: 182) memaparkan:
“Maka dapat dipahami, mengapa sastra itu dilarang, dibakar dan para sastrawannya diburu, dikejar, dibunuh, dipenjara. Jawabannya adalah bahwa kata-kata itu jauh lebih tajam daripada senjata yang dimiliki para serdadu, tentara, apapun yang hebat di muka bumi ini.”
Namun kita patut berbangga, sebab pada masa ini puisi (sastra) kian diminati. Mungkin, puisi (sastra) tersebut sudah menjadi kebutuhan manusia yang mencari arti estetis dari kehidupan yang dijalaninya. Lebih lanjut Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo mengatakan (dalam “Teori Penelitian Sastra”, 1994: 122):
Pada waktu sekarang, puisi kian diminati oleh masyarakat, baik oleh pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, puisi atau sajak sukar dimengerti karena kompleksitas, pemadatan, kiasan-kiasan, dan pemikirannya yang sukar. Puisi merupakan kristalisasi pengalaman, maka hanya inti masalah yang dikemukakan; untuk mencapai hal itu perlu pemadatan.
Begitulah puisi (sastra), bentuk yang sangat ditentukan oleh kondisi sosial ketika ia dilahirkan dan dibesarkan. Tidak ada masalah ketika puisi berkembang pada masa “aman” dan kondusif. Puisi akan bermain dengan diksi yang menarik kadang unik dan inspiratif. Namun sebaliknya, jika puisi (sastra) berkembang pada ritme kehidupan yang tertekan, dimana perbedaan kelas menjadi jurang yang dalam, dan sikap penguasa yang otoriter maka puisi pun berubah menjadi alat propaganda, senjata yang tidak disukai oleh penguasa. Puisi akan menjadi simbol perlawanan, dan mengabaikan bentuknya yang mempermainkan diksi, tetapi lebih terkonsentrasi pada segi pemaknaan. Wiji Thukul pernah mengatakan bahwa:
“Sulit membayangkan keindahan dalam keadaan yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang becak, atau masyarakat yang sengaja dimarjinalkan. Tak bakal ada keindahan dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras, yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet, bukan sajak atau puisi. Keindahan sejati hanya terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi. Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan.”
Menarik untuk melihat bagaimana puisi-puisinya Wiji Thukul mengambil tempat sebagai simbol perlawanan kaum proletar. Salah satunya puisi berjudul “Peringatan”, yang pada baris dan bait terakhir tertera kalimat Hanya ada satu kata, Lawan!
Perempuan Ilalang (VIIII)

;semisal sepi yang menempuh angan
berkelindan mencapai waktu dengan
kekosongan
laut merah tembaga
menyepuh yang terkelupas dalam hati
dengan kesendiriannya
siapa menjemput siapa!
senyum yang legit, ditiriskan melalui ilalang
rimbun memenuhi pagar
hanya perempuan dalam kenestapaan
menunggu waktu
menunggu, sang kekasih
di pintu pantai yang menggebu
sementara debu masih menderu
dedaun dan ranting-ranting kering
mendesau
melelahkan ilalang dalam pertapaannya
siapa menemu siapa!
perempuan terbujur di atas dipan
menempa kesengsaraan
merajut kesetiaan
dalam dada, dalam hati yang riskan
Rumah Cinta, September 2008
Jejak Penantian
Lelaki Awan Mendung

;buat Struk (Esha Tegar Putra)
“Struk, sudahkah ketemu dengan waktu
yang kau cari itu?”
riak dedaunan memaraukan suara angin
dan seperti malam kita di Marapi
igauanmu memecah batu kabut dingin
sekepal jagung
”bukankah deraan rumpun bambu,
menyangkutkan miangnya di tubuhmu?”
begitukah?
atau kau masih mengimpikan waktu,
keluar dari lorong got
sekitar persimpangan jalan pasar baru?
maaf, lelaki awan mendung
tetapi, masihkah dirimu menghempas tubuh
pada jejak puisi?
atau kau lupa meniriskan hujan
di tanah kerontang tanpa sabda tuhan
;lelaki awan mendung
dini hari nanti
kukabarkan, bahwa separuh jiwa ini
telah mati (. . . .)
2008
Langganan:
Postingan (Atom)



