Selamat Datang!

Mencobalah untuk lebih dekat! Agar semua rasa bisa dilebur, demi meringankan jiwa yang sedang kalut!

Carilah Sesuatu Yang Hilang Itu

Google

14 Oktober 2011

I'm Back...

Hmmm, dua tahun sudah saya telantarkan blog ini. Persoalannya sederhana tetapi berdampak besar bagi saya sendiri. Saya mengalami sindrom "kelelahan" dan "kemuakan" dalam menulis. Ya, ya, ya, sindrom ini tak ada dalam istilah kedokteran, tapi percayalah setiap penulis pasti mengalami fase sindrom ini dalam karir kepenulisannya, cepat ataupun lambat.

Dua tahun yang terlupakan dan sia-sia. Akhirnya, proses pun mesti mengulang dari NOL. Tapi tak apalah, daripada mati selamanya, masih lebih baik mati suri. :D

Ok, easy going n enjoy aja. Kalau kata Iwan Fals: "hadapi saja...."

So, i'm coming blogger...... :D

13 Februari 2009

ini untuk abi



ujung sorbannya sudah terlalu lama lusuh
dikepung debu dan waktu
yang berkejaran melewati kota

abi sering menyeruak di antara ilalang
melewati barisan kurma yang tumbang
dan ranggas

kata abi, rumah-rumah seperti barisan laskar
yang cerai berai dilumat api permusuhan
tetapi, abi masih bisa bertahan di kota ini
menunggu perut waktu menemui ajalnya

hanya saja, berkali-kali semangat itu dipatahkan
oleh mesiu yang mondar-mandir tak bertujuan

entah kapan seekor dua ekor burung pipit
akan mampir lagi di atas atap kota

hingga subuh menyerupai kepulan asap berwarna jingga
dalam asuhan langit, bintang-bintang jatuh
menampakkan surainya
dan berdentam ria, di dekat pembaringan para pengungsi

abi telah kehilangan sorbannya itu
dijemput cahaya yang susul-menyusul dari atas rumah

dan, aku tak lagi bertemu abi
seperti anak-anak pengungsi lainnya
yang tak bertemu dengan ayahnya lagi

Februari 2009

Menemui Reda

;sebelum reda, kutawar janji pada hujan
itu menengarai sunyi yang sedan
lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan
jika hujan esok hari setuju memberi pertanda


gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu
kemarin, dan kemarinnya lagi
pertemuan meringkus jejak dan jarak
bersitatap melampaui kejauhan

oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda
bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali
dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang
sampai kutemui ia, dengan debaran jantung
lebih berlipat kencang dari biasanya

sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati

sementara waktu tak lekas berpisah
menggodaku seperti prajurit yang kalah

maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan
agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan
besok, dan besoknya lagi

Tunggang, Januari 2009

06 Januari 2009

Jika Kuntum Tak Lagi Mekar

kungin bebunga mekar
mewarna taman jadi indah
mengharumkan lelangit, oh awan yang merintih duka
runtuhkanlah decakan kagum yang mengulum
biar kuyakin pula, bebunga jadi mekar

kucoba tawar isak kuntumku
langit, entahlah mengapa jadi tak cerah
berderai puluhan angin menerpa
tampak badai telah melarung dari sana

dan lihat,
peputik bunga berserakan
juga mahkotanya
menunggu kematian yang sebentar
sebentar lagi akan datang

leladang5, 5 Juni 2007

Kubur Kaca

stanza itu tak pernah selesai
dibawa angin darek yang berbuntalan dengan awan
langit menempuh sujud
ketika itu, pecah dalam alir sungai
suara dengan dengung yang tambun

bayangan menebing
sementara, bait-bait lagu terus mengapung
memantrai udara
bait yang tak pernah selesai dinyanyikan

stanza itu
melarung dalam hingar
menghilang dalam peradaban
kisruh dalam tempaan janang

Alahan Panjang, November 2008

09 Desember 2008

Perjalanan


ujung jalan yang kita tempuh
menakar hujan dengan sebuah yang entah
mungkin, di pertengahan nanti
kita terpeleset curam basah

bayangan setinggi pohon mangga
menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga
mungkin, gerhana
atau malam saja

sediakan kertas atau semacamnya
buat kita berteduh dari mimpi

sementara, ujung jalan yang kita tuju
menjauh setapak-demi setapak
kita tersekat dari lamun kenyataan

di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti
sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam
cukam memahat tebing
dan pandam kita terlalu dini untuk ada

Langkah, November 2008

Aku Menunggumu di Sisi Keramaian


;yandre mariandiko

musim bermain itu kau habiskan dalam rumah
tak ada ibu, tak ada ayah
menikam debu dan bekas akar lilin yang tumpah

sementara, di tanah lapang belakang rumah
anak-anak sibuk bermain bola
sambil menunggu kacang kuning dan semangka berbuah
riuh rendah

kau merajut kesepian itu dengan angan
tanpa pangan dan usiran guru ngaji di mesjid
ketika kau tak pandai meraba huruf ba

keramaian menjadi asing
bahkan dengan debur ombak pesisir sekalipun
kau rindu akan kehadiran ayah
tangis pun kau titipkan kepada pengendara jauh
dengan harap bisa diterima oleh ibu

namun, tangismu begitu kering
ditelan udara pagi yang menghapus mimpimu tentang keramaian
kau pun bergegas untuk ke sekolah
mungkin harap dengan pertemuan itu
mungkin juga hanya kekosongan yang harus kau lakoni
setiap hari

Rumah Cinta, November 2008

05 November 2008

Ngiangmu


;Rudi Datuak

kau telah bertemu dengan nasib
genggaman yang menirukan igau
hujan menikam darah
dan aku ingat semasa kita berteduh
dalam ruang kopi yang hangat

kurindu gumammu sahabat
menebas pilu di antara jalanan yang rawan
dan kau berceloteh tentang masa depan
yang begitu suram kurasa

ngiang suara yang tertuba
cium garis tanganmu yang swarga
dimana kau menjemput nasib
dengan gegas, dan bertemu raib
yang tak dapat kau tolak

oh langit, dengan darah tergenang
menghitung pertanda sebagai pasi
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi
yang kuseruput semalaman

kau telah berkawan dengan kafan
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan
rapal doa dan igau yang jemu
tentang masa depan
selamat jalan!

Rumah Cinta, November 2008

Kulukis Bidadari Tenggara


menepilah angkasa
seperti kekasih yang merapat di getar musim
menikam pembuluh darah
merajut kesepian yang mengalun-ngalun
biar, kulukis benang kematian
jembatan langit, yang mencekam perdu sebagai alasnya
kunamai ia, bidadari tenggara

Puncak Marpati, Maret 2008

Perjalanan


;Arif Rizki

seperti harap pada waktu yang membingungkan
kau lembab pada ujung trotoar jalan
masih juga, kau rindukan kesendirian
padahal, kesendirian mulai memutar haluan

yang sesalnya, menempuh lorong sunyi
dan kau mendambakan hujan turun di sana
basah lalu bahagia
lepas seperti lentingan batu
dari ketapel masa kanakmu

Rumah Cinta, September 2008

Lafaz Suci


;bismillah
seperangkat mesin menyala
rodanya berputar lambat
menderu, panas dan beringas

;allahu akbar
hanya tubuh lemah
terbaring seiring tualang waktu
yang pergi menjinakkan jiwa

;alhamdulillah
mesin-mesin berjalan dalam gugu
“pinggir...pinggir...”
mengesiapkan rumbia, papan, bambu dan batako merah
yang tersusun serampangan

;astagfirullah
tak ada daun kering yang jatuh
sebagai tanda kesedihan
tak ada bendera kuning
yang terpasang di ujung gang
juga tak ada bendera putih
tanda kekalahan

;lailahailallahu
hanya getir lamunan nenek tua
yang bersandar di puing gubuknya
hanya anak-anak yang berlarian
main air di bekas pemandian

;wallahualam
waktu masih tersipu malu
waktu masih enggan untuk berkabung
penantian panjang
hanya diselingi zikir kepada Tuhan

PKM, September 2008

19 Oktober 2008

Perjalanan



nafas bebatuan seperti memanggil pulang
cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang
dengan air yang menguntit karam
dan selendang gadis muda yang
hanyut dibawa pasang

pada garis tangan ibu
senja menjejakkan catatan-catatannya
dimana ketulusan menjadi garang
dan kampung halaman meneruka dalam bayang

jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil
meski kereta telah lambat menemukan peron

o, gadis muda dengan selendang hijaunya
berjalan dalam riang malam
kandas dalam lautan
hingar dalam nestapa kampung halaman

F 2.5, Oktober 2008

Ode Badai



adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia
rimbun dalam benam badai
menikam gemuruh, dan air mata sungai
yang terisak riuh

mata yang menikam bebatuan
dalam upacara purnama yang basah
darah meruap dalam bara kemenyan
menutup kalap badai yang bertempuran

badai...badai...badai...

tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala
dinding-dinding batu penuh kesumat
bersama dengan keheningan yang hilang cekam
menusuk lewat bantal, guling dan kasur

siapa yang melaknat diri?

mengharap darwis lewat di sisian rumah
sambil mengatakan; “mari mati
mari...mari....
demi nurani!”

AA. Navis, September 2008

Perempuan Ilalang (X)



;nta

nta, mungkinkah aku bertemu kekasih hari ini?
terakhir kali, dalam siang yang remang.
bersitatap dalam ruang kereta yang berlainan

mimpi usang, dan aku terjebak dalam bayang.
o, kekasih yang riuh dilamar ilalang,
mungkinkah kau bermalam dalam raut kuning pucat?

tak lagi kau rindukan basah asin laut padang
dimana nurbaya pernah berkubur
dan bersemayam menikam cinta

tak lagi kau cium batu arca
yang tersujud dalam ngiang ibu
memulangkan kembali kesedihan
pada senja dengan cahaya pualam

sementara kau meliuk-liuk dalam hamparan ilalang
mencipta keputusasaan dalam hati
yang berpenat diri

ya nta, aku telah berputus asa.

Rumah Cinta, September 2008

Subuh Permai di Sebuah Danau dengan Riak Menerpa-nerpa Ujung Keramba



;Esha Tegar Putra

siapa yang menangis?
ketika subuh yang permai diawali oleh dedaunan mawar
berjatuhan dalam lindap pertemuan

eden! aku cuma tangisan yang tergenang
di subuh permai itu. membentuk laguna dengan sepotong
cinta yang padam dalam wajah bujang sambilan

wajah yang begitu gaib
merupa sepasukan langit yang kau impikan
cinta yang pernah menuai marah Tuhan

sementara garis tangan ibu adalah wajahku yang lelah
lelah menunggu ayah, lelah menunggu sang kekasih
yang bersembunyi dalam kelenaan jala

tak perlulah kau tampung air hujan untuk melepas lelahku
sebab keriangan danau ini telah menyatu dalam kalbuku
tak perlu juga kau nyanyikan setakat doa
sebab pesisir yang mengguncang air asin dengan telaga
telah mengobati rasa perihku

biar subuh yang permai ini tergelincir di ujung keramba nenekku
dan aku tetap menjadi sebuah bayang
mungkin berebut maut dengan bunian
yang menghuni leladang durian di belakang rumah kakekku

Rumah Cinta, Oktober 2008

12 Oktober 2008

Sajak-Sajak Minggu Ini

Jejak Penantian

apa yang kau rindukan
mungkinkah desah kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah

dari sisimu
aku pun menunggu,
dekah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya

aku kembali berjalan
kau pun juga
mengarungi Drina hingga Gangga
menanti,
Isa, atau mesias yang lalai
turun ke bumi

KaranggoNet, Oktober 2007


Saat Cinta Terkubur Batu Lawanga

saat ini
ketika musim tidak akan pernah berganti
daun-daun mawar telah berguguran di
depan melati

aku, tidak sempat mengutarakan
maksudmu, yang mendesah panjang di tepian
jurang,
ketika aku menyebut, “cinta”

atau, apakah cinta menggadaikan diri
untuk dosa-dosa

dan Lawanga
mengubur kau bersama dengan mayat-
mayat yang tersenyum kaku

KaranggoNet, Oktober 2007

*Lawanga; daerah di Poso



Genjer-Genjer

;untuk terulang kalinya
dalam ketakutan yang juga belum sirna

dekapan eratmu di jantungku
menyendat aliran deras
tahta kidung yang kugambarkan

jerit nafas tubuh
menggila,
disusuri alunan yang dikira
iblis sedang merayu—mendayu

“kidungku tak terlukiskan, Jer”
takut selimuti genderang perang
dan aku sendiri, disekap jeruji
pelog dan slendro

F.25, November 2006


Seorang itu

Namanya sepi,
Aku—kita berjalan
Bertiga

Gedung-gedung kusam
Sudah lama mereka mencongkel matanya sendiri
Tidak sanggup (lagi) meratapi
Debu dan asap berkepulan

Rumah Cinta-Padang, Desember 2006


Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (II)

cikal di tepi terjal
belum lagi akan kembang dan mekar
angin sayup gusar
menggoyangoyangkan kuncup

cikal di tepi terjal
belum juga akan kembang dan mekar
bebunga sayup
meneruka ke dalam hati batu

masih menunggu
kapan saatnya akan kembang dan mekar
hanya bebatu deras berhujan
yang turun
kuntum tak lagi datang

leladang2, 22 Mei 2007


Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (VIII)

di sini, telah kutanam kata per-kata
agar kelak tumbuh, dan berbunga
bersemi indah

leladang8, Desember 2007

Sayyid Madany Syani, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang

(DIMUAT DI HARIAN SINGGALANG 12 OKTOBER 2008)

28 September 2008

Mengingat Kembali Apresiasi Puisi Sosial



Hanya ada satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu jauh lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul sebagai seorang yang telah menorehkan puisi perlawanan (Munir dalam Thukul, 2004: xix). Memang, Wiji Thukul mengambil sastra dan seni sebagai corak budaya perlawanan dalam menghadapi budaya kekerasan yang diterapkan penguasa Orde Baru.

Di saat itu, puisi (sastra) membuktikan bahwa bentuknya tidaklah sepele seperti yang diyakini orang. Dalam konteks yang terpatron di dalam otak kita, puisi merupakan bentuk estetis yang berisi pernyataan romantis. Biasanya digunakan sebagai pemulus jalan dalam menyatakan perasaan cinta terhadap lawan jenis. Bahkan pada suatu kesempatan, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah murka di hadapan para guru ketika mendengarkan sebuah puisi yang dibaca oleh mantan rektor IKIP Jakarta Prof. Dr. Winarno Surachmad. Inilah isi puisi itu yang dinilai oleh Wakil Presiden sebagai pelecehan terhadap harga diri bangsa Indonesia (Fadlillah, 2006: 182-183):

‘Apa artinya bertugas mulia ketika kami hanya
terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa.
Kapan sekolah kami lebih dari kandang ayam.
Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan
oleh sejarah terbaca torehan darah kering.
Di sini terbaring seorang guru, semampu membaca
bungkus sambil belajar menahan lapar, hidup
sebulan dari gaji sehari’

Terlepas dari nanarnya Wakil Presiden terhadap puisi, maka ada satu pelajaran yang bisa diambil. Puisi (sastra) merupakan senjata yang paling tajam daripada pisau, yang lebih dahsyat ledakannya daripada bom atom. Dan, begitu pula sebaliknya, puisi pun bisa selembut kain sutra, dan sesejuk oase di tengah gurun. Tergantung pada situasi dan kondisi lingkungan dimana puisi itu lahir dan dibesarkan.

Puisi seperti karya sastra lainnya adalah cermin dari kehidupan. Seperti yang diyakini Georg Lukacs bahwa sastra sebagai cermin berarti menyusun sebuah struktur mental (Taum, 1997: 50). Sastra tidak hanya mencerminkan realitas tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik yang mungkin melampaui pemahaman umum. Namun, terkadang orang menafikan sastra sebagai cermin. Sastra dianggap hanya bermain pada lingkup fiksi yang sekali lagi telah terpatron ke dalam benak kita sebagai bagian ilusi, fiktif yang jauh dari kebenaran dan bersifat nihil atau tidak pernah ada. Padahal Sapardi Djoko Damono telah menjelaskannya dalam buku “Sosiologi Sastra; sebuah pengantar ringkas” (1979: 1) bahwa:
“Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat; ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.”

Hal inilah yang menjadi jawaban selama ini, kenapa sastra dilarang, dibredel dan dijauhi sebagai kehidupan tanpa masa depan. Lebih lanjut, Fadlillah dalam bukunya “Kecerdasan Budaya” (2006: 182) memaparkan:
“Maka dapat dipahami, mengapa sastra itu dilarang, dibakar dan para sastrawannya diburu, dikejar, dibunuh, dipenjara. Jawabannya adalah bahwa kata-kata itu jauh lebih tajam daripada senjata yang dimiliki para serdadu, tentara, apapun yang hebat di muka bumi ini.”

Namun kita patut berbangga, sebab pada masa ini puisi (sastra) kian diminati. Mungkin, puisi (sastra) tersebut sudah menjadi kebutuhan manusia yang mencari arti estetis dari kehidupan yang dijalaninya. Lebih lanjut Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo mengatakan (dalam “Teori Penelitian Sastra”, 1994: 122):
Pada waktu sekarang, puisi kian diminati oleh masyarakat, baik oleh pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, puisi atau sajak sukar dimengerti karena kompleksitas, pemadatan, kiasan-kiasan, dan pemikirannya yang sukar. Puisi merupakan kristalisasi pengalaman, maka hanya inti masalah yang dikemukakan; untuk mencapai hal itu perlu pemadatan.

Begitulah puisi (sastra), bentuk yang sangat ditentukan oleh kondisi sosial ketika ia dilahirkan dan dibesarkan. Tidak ada masalah ketika puisi berkembang pada masa “aman” dan kondusif. Puisi akan bermain dengan diksi yang menarik kadang unik dan inspiratif. Namun sebaliknya, jika puisi (sastra) berkembang pada ritme kehidupan yang tertekan, dimana perbedaan kelas menjadi jurang yang dalam, dan sikap penguasa yang otoriter maka puisi pun berubah menjadi alat propaganda, senjata yang tidak disukai oleh penguasa. Puisi akan menjadi simbol perlawanan, dan mengabaikan bentuknya yang mempermainkan diksi, tetapi lebih terkonsentrasi pada segi pemaknaan. Wiji Thukul pernah mengatakan bahwa:
“Sulit membayangkan keindahan dalam keadaan yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang becak, atau masyarakat yang sengaja dimarjinalkan. Tak bakal ada keindahan dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras, yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet, bukan sajak atau puisi. Keindahan sejati hanya terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi. Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan.”

Menarik untuk melihat bagaimana puisi-puisinya Wiji Thukul mengambil tempat sebagai simbol perlawanan kaum proletar. Salah satunya puisi berjudul “Peringatan”, yang pada baris dan bait terakhir tertera kalimat Hanya ada satu kata, Lawan!

Perempuan Ilalang (VIIII)



;semisal sepi yang menempuh angan
berkelindan mencapai waktu dengan
kekosongan

laut merah tembaga
menyepuh yang terkelupas dalam hati
dengan kesendiriannya

siapa menjemput siapa!

senyum yang legit, ditiriskan melalui ilalang
rimbun memenuhi pagar
hanya perempuan dalam kenestapaan
menunggu waktu
menunggu, sang kekasih
di pintu pantai yang menggebu

sementara debu masih menderu
dedaun dan ranting-ranting kering
mendesau
melelahkan ilalang dalam pertapaannya

siapa menemu siapa!

perempuan terbujur di atas dipan
menempa kesengsaraan
merajut kesetiaan
dalam dada, dalam hati yang riskan

Rumah Cinta, September 2008

Jejak Penantian



apa yang kau rindukan
mungkinkah desah kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah

dari sisimu
aku pun menunggu,
dekah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya

aku kembali berjalan
kau pun juga
mengarungi Drina hingga Gangga
menanti,
Isa, atau mesias yang lalai
turun ke bumi

KaranggoNet, Oktober 2007

Lelaki Awan Mendung



;buat Struk (Esha Tegar Putra)


“Struk, sudahkah ketemu dengan waktu
yang kau cari itu?”

riak dedaunan memaraukan suara angin
dan seperti malam kita di Marapi
igauanmu memecah batu kabut dingin
sekepal jagung

”bukankah deraan rumpun bambu,
menyangkutkan miangnya di tubuhmu?”

begitukah?
atau kau masih mengimpikan waktu,
keluar dari lorong got
sekitar persimpangan jalan pasar baru?

maaf, lelaki awan mendung
tetapi, masihkah dirimu menghempas tubuh
pada jejak puisi?
atau kau lupa meniriskan hujan
di tanah kerontang tanpa sabda tuhan

;lelaki awan mendung
dini hari nanti
kukabarkan, bahwa separuh jiwa ini
telah mati (. . . .)

2008