29 Juni 2008
Randu
Mula-mula aku tidak mengerti,kenapa orangorang kampung mulai gemar lagi duduk bergerombol.Di prapatan,pos ronda, lincak,buk,dan warungwarung wedang.
Sejak kedatangan Kiai Jafar, kebiasaan bergerombol seperti itu lambat laun menghilang. Mereka mulai mau mengisi langgar,tempat Kiai Jafar memberi pengajian.Mereka jadi enggan duduk bergerombol yang ujung-ujungnya membicarakan dapur orang lain. ”Itu ghibah!” terang Kiai. ”Bicara tentang yang baik-baik saja tak baik, apalagi tentang hal-hal jelek. Bisabisa jadi fitnah.
Kalau tak sanggup bicara yang bermanfaat,lebih baik diam. Itu perilaku orang-orang zuhud!” Kalau yang menyampaikan katakata itu orang pemerintahan (kepala desa, pak camat, atau bupati) tak seorang pun dari kami yang percaya.Sebab, seperti kita ketahui sendiri, para pejabat itu lain di mulut lain di hati. Bicaranya baik-baik, penuh suasana agamais.
Namun harta negara yang mestinya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat diembat sendiri. Lain dengan Kiai Jafar, benarbenar pribadi unggul. Ia hanya bicara dalam pengajian dan saat menjawab orang-orang yang bertanya soal fikih. Selebihnya, diam. Beliau berilmu padi. Semakin berisi makin menunduk ke bumi.Tingkah lakunya pun sopan. Bisa menghargai kalangan muda dan kaum tua. Hukum-hukum lama tak begitu saja dilabrak dan dihabisinya.
Namun, dengan pelan-pelan ia masuki.Ia luruskan hakikatnya. Tapi kenapa kini orang-orang kampung sepertinya mau kembali pada kebiasaan lama: duduk bergerombol. Lalu, ada orang yang mbandari ndemndeman. Sepakat bukak kertu. Nonton ndangdut di desa sebelah.Untuk mencari jawaban, akhirnya aku juga ikut duduk bergerombol bersama mereka. Tentu saja, kadang nyuit-nyuiti gadis yang lewat.Peduli amat pada lakinya yang melotot. Kita toh di kampung sendiri.
”Randu itu jadi ditebang?” selidik Mitro. ”Aku sudah mengingatkan Mbok Jiyem,tapi ia tetap saja nekat!”jawab Kiyun. ”Waah,bilahi!”sungut si Mitro. ”Gak usah khawatir. Gak-gak kalau jadi!”Min mencoba menenangkan keadaan. ”Sudah lima kali ini randu itu katanya mau ditebang.Tapi begitu melihat betapa wingitnyarandu itu,orang yang mau menebang mundur sendiri!” ”Ya,aku juga cocok denganmu.
Tak usah terlalu cemas. Tidak akan ada orang yang berani nebang randu itu!” sela Jeprik. ”Apa kalian ndak ingat, randu Lik Karto yang ditebang lima tahun lalu? Lik Karto selaku penjual, mati mendadak. Matanya mendelik. Mukanya hitam. Lalu yang menebang juga mati kecelakaan!” Orang-orang yang hadir kembali mengingat-ingat kejadian yang telah silam. Memang apa yang dikatakan Jeprik pernah terjadi di kampungku.
Sejak itu tak seorang pun berani menebang pohon randunya. Konon setiap pohon randu dihuni gondoruwo. Bangsa jin yang miripmirip Gorilla.Tinggi besar. Rambutnya panjang, acak-acakan.Baunya seperti ketela bakar. Suka menggoda. Terlebih pada wanita-wanita yang sering ditinggal sendirian oleh suaminya. Biasanya si gondoruwo menjelma suami si wanita.
Lalu minta jatah biologis. Setelah si suami asli datang, barulah si wanita menyadari bahwa dirinya ditiduri gondoruwo. Untung kalau hubungan itu tidak berbuah.Kalau sampai berbuah, akan lahirlah anak yang setengah manusia setengah jin. Pernah aku mencari tahu, siapa si wanita itu.Tapi jawaban yang keluar, itu cerita turun-temurun yang mesti dipercaya.
Kejadiannya sudah sangat lama. Bahkan kakek-buyut saja tidak bisa menyebut secara pasti.Yang jelas kejadian itu pernah terjadi. Itulah budaya orang kampung,memercayai hal-hal yang tak pasti, terutama yang berhubungan dengan klenik. ”Berapa sih Mbok Jiyem minta bayar? Biar aku belinya sendiri. Tapi randu itu enggak usah ditebang!”kata Mukiran.
”Aku juga punya pikiran seperti itu.Tapi Mbok Jiyem tetap memaksa randu itu ditebang,walau tidak dibayar sama sekali.” ”Seharusnya ia jangan memikirkan dirinya sendiri.MbokJiyem harus memikirkan keselamatan kampung!” ”Masa cuma takut gentingnya kejatuhan buah randu,lalu pohon randunya yang ditebang.Itu kanketerlaluan!” ”Bagaimana kalau kita demo saja ke rumah MbokJiyem?”celetuk Bagong.
Kami yang sedang bergerombol terdiam seketika.Apa yang disampaikan Bagong bisa jadi merupakan jalan keluar terbaik.Ya,demo.Mbok Jiyem mesti tahu bahwa orang kampung tidak menghendaki penebangan pohon randunya.Apalagi diyakini di pohon randu Mbok Jiyem bersemayam raja gendoruwo. Penguasa para gondoruwo di pohon-pohon randu kampung kami.
Ketika orang-orang kampung masih tarik-ulur menetapkan hari pelaksanaan demo, mendadak sebuah truk besar membelah jalanan kampung kami. Debunya yang beterbangan ke angkasa menampar muka kami. Delapan orang yang kekar-kekar tubuhnya segera mempersiapkan semua peralatan untuk penebangan. Orang kampung seperti tersedot daya magnet.
Segera terkumpul di sekitar rumah Mbok Jiyem, tapi tak hendak melakukan demo.Begitu truk datang,pikiran demo lenyap begitu saja. ”Ruuuummmmm…..” gergaji mesin memekakkan telinga. Seseorang memanjat pohon membawa tali. Setelah mengikat erat-erat pohon randu, ia turun lagi. Cuma seorang saja yang bertugas memotong pangkal pohon randu, yang lain menarik tali agar pohon jatuh ke tempat yang aman.
Tak sampai 20 menit, pohon randu terbesar di kampung kami tumbang. Antara percaya dan tidak, kami mlongo.Ndomblong.Betapa mudahnya pohon wingit itu tumbang.Lalu di mana kesaktian sang gondoruwo. Begitu mudahnya ia menyerah tanpa memberikan perlawanan sama sekali. Sebenarnya kami berharap, begitu gergaji berhasil menebang pohon, si pohon randu itu kembali utuh seperti sedia kala.Digergaji lagi.
Utuh lagi.Atau kalaupun tumbang,itu hanya semenit saja. Lalu dengan penuh keajaiban,bangkit lagi dan berdiri seperti sedia kala. Tapi pohon randu itu benar-benar tumbang.Menampar muka kami.Memukul keyakinan kami.Mbok Jiyem sumringah wajahnya.Tukang-tukang gergaji itu seperti semut menemukan roti. Segera memotong-motong kayu randu sesuai permintaan pasar.
Mereka tampak bersemangat. Mungkin membayangkan uang yang bakal mereka kedukdari pohon yang cuma diberi harga Rp300.000 itu. Tepat menjelang magrib truk gergaji dan penumpangnya selesai mengerjakan tugas. Pohon randu yang telah berubah papan-papan tipis beralih ke truk lain yang akan mengantarnya ke para pemesan. Pohon randu yang perkasa itu telah lenyap dari mata kami. Diam-diam kami merasa kehilangan sesuatu.
Kehilangan sebuah keluarga yang telah bertahuntahun hidup bersama. ”Nisa step.Nisa step!”demikian berita yang dibawa orang kampung. Kami segera melesat menuju rumah Pak Amir, ayah Nisa. Benar Nisa step.Matanya mlilik-mlilik.Tangannya kejang.Mulutnya berbusa.Segera kami usung ke rumah sakit.
Belum selesai geger si Nisa, kampung kami digegerkan lagi dengan step-nya Ririn, anak Pak Subur.Anak Pak Wiwid yang baru berusia tiga tahun juga step. Kampung kami benar-benar gempar. Semua kerisauan dialamatkan ke Mbok Jiyem.Dialah biang keladi dari musibah kampung ini. Seandainya pohon randu itu tak ditebang,tak akan ada anak yang step beruntun.Padahal anak-anak itu tidak sakit.
Mereka sehat sehat saja.Tapi begitu pohon randu ditebang mereka keganggugondoruwo. Itulah kejadian malam hari ketika siang harinya pohon randu itu ditebang. Malam berikutnya,tak ada anak step lagi.Tapi si Parmin tiba-tiba saja jatuh terjerembab karena merasa dijegal oleh sosok tinggi besar. Slamet mesti lari tunggang langgang karena merasa dikejar makhluk tak dikenal dengan bendo di tangan. Priyadi bahkan secara meyakinkan melihat bayangan yang berdiri dengan mata merah dan rambut merah di tonggak pohon randu.
Orang-orang segera kasak-kusuk. Menggelar aneka cerita dan berita dari hasil rekaannya sendiri.Ada yang mengatakan umur MbokJiyem tinggal menunggu hari. Bahkan ada yang menyatakan tinggal beberapa jam. Begitu juga bagi tukang-tukang senso yang telah lancang menebang randu. Karena kekeramatan si pohon randu mereka pasti akan kenabilahi.Paling sial, mereka akan terserang penyakit aneh, atau bahkan mati dicekik.
Kami diam-diam tengah menanam harapan buruk,yakni menunggu musibah datang. Kami tak peduli, anakanak yang step sudah bisa bermainmain seperti biasanya. Kami juga tak peduli lagi cerita tonggak pohon randu yang semakin nganeh-nganehi. Kami benar-benar menunggu apa yang akan terjadi dengan Mbok Jiyem. Sepekan berlalu. Sebulan. Dua bulan. Tapi Mbok Jiyem tak juga kena bendu.Malah makin aktif mendatangi pengajian Kiai Jafar.
Ia juga berhasil mengajak ibu-ibu yang lain. Dengan tumbangnya pohon randu, langgar, makin hari makin ramai jamaahnya. Para bapak pun kembali mengisi saf salat jamaah. Mereka kembali mendengarkan pengajian Kiai Jafar. ”Apakah Kiai percaya adanya bangsa jin?” tanya Slamet yang tak bisa lagi menahan kepenasarannya. ”Tentu saja percaya. Bukankah jin itu termasuk makhluk ciptaan Allah?”
”Kiai percaya pohon randu Mbok Jiyem yang ditebang beberapa waktu yang lalu dihuni gondoruwo?” ”Tidak!”jawab Kiai Jafar tegas. ”Dan untuk membuktikan bahwa pohon randu itu tidak ada gondoruwonya, saya meminta Ibu Jiyem untuk menebang pohon randunya!” Mendengar pengakuan Kiai Jafar kami benar-benar kaget. Sama sekali tak menduga bahwa kengototan Mbok Jiyem ternyata atas kehendak Kiai.
”Saya menilai pohon randu itu mengganggu keimanan Bapak-Ibu sekalian. Dengan penebangan itu, saya berharap keimanan Bapak-Ibu tak lagi bercabang!” ”Nah, karena sudah terbukti tak ada peristiwa apa-apa setelah penebangan pohon randu, saya akan memberikan satu lagi tambahan pelajaran tentang iman!”lanjut Kiai Jafar. ”Besok,Ahad, kita bersihkan sendang.
Berhala-berhala yang ada di sana kita singkirkan. Dahan-dahan beringin yang sudah lapuk kita potong sekalian agar tidak membahayakan …… !” Kelanjutan ajakan Kiai Jafar tak bisa kami dengar lagi. Suaranya mendengking di telinga kanan.Adapun di telinga kiri, suara kaki dhanyang nini dhanyang melengking-lengking. Membuat kami pening. Membuat kami pening.(*)
KUSPRIHYANTO NAMMA,
Kelahiran Ngawi, 30 Oktober 1965, Alumni FKIPUniv. Sebelas Maret Surakarta, Guru Bahasa Indonesia MAN Ngawi, Pendiri Kelompok Peron FKIP-UNS Surakarta, Kini menetap di komunitas Teater Magnit Ngawi
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
Sutardji Memberikan Contoh
Menempatkan puisi sebagai status ontologis bahasa nampaknya sebuah eksplorasi mengenai hakikat bahasa yang cukup menjanjikan. Meski ciri-ciri puisi di sini janganlah seperti yang kita kenal yang konon melekat di semua tata permainan bahasa membuat bahasa gaul otomatis termasuk di dalamnya.
Kenapa tidak dikatakan saja bahwa bahasa gaul sebagai status ontologis bahasa? Memberikan nama memang terkadang merepotkan. Berbekal sisa ingatan materi kuliah filsafat bahasa (khususnya filsafat analitis—R), tulisan ini akan mencoba menganalisis konsep status ontologis bahasa sebagai puisi yang sepertinya sangat diperjuangkan A Boy-Mahromi.
Ketidakteraturan, permainan, dan bahasa sebagai mantra
Kata ”ketidakteraturan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”. Kalau memang demikian, saya akan memahami kata ”ketidakteraturan” sebagai ketidaksamaan keadaan, kegiatan, atau proses yang terjadi beberapa kali.
Barangkali benar apa yang dikatakan A Boy-Mahromi bahwa bahasa dalam kehidupan berlaku sebagai ”ketidakteraturan”.Sebab, kehidupan yang menyangkut pemahaman terhadap manusia sulit sekali dimengerti dengan pola verifikasi positivistik. Kata ”permainan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi sebagai ontologis bahasa barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”.
Jika memang demikian, saya akan memahami kata ”permainan” sebagaimana pemahaman penafsiran saya menurut Wittgenstein II. Permainan bahasa yang dimaksudkan Wittgenstein II (1983) adalah setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki aturannya masing-masing. Meskipun aturan itu sulit ditentukan secara normatif dan sulit ditentukan batasbatasnya secara tepat, manusia memahami bagaimana menggunakan bahasa di setiap aspek kehidupan yang sangat beraneka ragam.
Mayoritas ahli bahasa di Pusat Bahasa kerap kali mengabaikan aspek ini,terutama dengan menerapkan istilah baku dan tidak baku yang menurut saya bertendensi melecehkan. Namun, penafsiran Yunit dan A Boy-Marhomi terhadap kata ”permainan” ternyata berbeda dengan tafsiran saya di atas.Dengan penafsiran yang saling berbeda seperti inilah barangkali Yunit menyandingkan kata ”hanyalah”pada ungkapan ”hanyalah permainan” pada artikelnya yang terbit di harian SINDO (11/ 05/08).
Dilekatkannya kata ”hanyalah” itu menyebabkan saya menafsirkan ”permainan”-nya Yunit kepada pengertian perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguhsungguh.
Status ontologis bahasa adalah penggunaannya
Dengan meniru sifat curiga Wittgenstein seraya mengambil keuntungan dari pernyataan Derrida,saya mengajak para pembaca untuk curiga, jangan-jangan pemahaman Yunit dan A Boy-Mahromi atas Heidegger mengenai kebenaran hakikat bahasa sesungguhnya terdapat dalam puisi pun bisa jadi mengalami ”perbedaan” dan ”penundaan”.
Mengingat pemahaman A Boy-Mahromi mengenai Wittgenstein, Heidegger, dan Sutardji pun tersampaikan melalui bahasa yang hanya bisa ditafsir tanpa harus terbirit-birit untuk memutlakkan diri paling tahu bukan? Saya mengajak para pembaca untuk kembali kepada yang diungkapkan Sutardji, yaitu ”kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian, kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra”.
Dalam ungkapan Sutardji tersebut, saya akan mendekatinya sebagai berikut.Misalnya, kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian. Sutardji tentu tidak bermaksud seadanya dengan ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut sebaiknya ditafsirkan secara memadai, yaitu bahwa kata-kata yang beredar dalam kehidupan kita yang berwujud maksud (pengertian) harus ditafsirkan kegunaannya (dibebaskan dari kungkungan) terlebih dahulu.
Secara sederhana, dapat saya simpulkan bahwa Sutardji bermaksud supaya kita mampu menyibak maksud atau menafsirkan (dibebaskan dari kungkungan pengertian) suatu ungkapan bahasa. Tafsiran ini ditopang dari pengertian arti kata sebagai ”maksud” seperti yang diungkapkan Wittgenstein II (1983) bahwa ”maksud” adalah sesuatu yang seluruhnya tetap ada dalam bahasa dan bukan sesuatu yang dianggap terpisah dari bahasa.
Saya tambahkan lagi, jika arti yang dikandungnya sebagai maksud, penggunaannya tidak menggambarkan katakata dan arti itu sendiri. Sementara untuk memahami arti kata sebagai kegunaan, dilakukan dengan cara menerangkannya. Mudahnya, jika seseorang ingin memahami penggunaan kata ”mantra”, 0harus dicari penjelasan dari arti kata tersebut.
Sebab,arti sesuatu dari satu kasus menunjukkan pada pengertian arti kata dalam penggunaannya. Kata ”mantra”yang digunakan Sutardji dapat diurai menjadi perkataan yang memiliki kekuatan gaib. Kata ”gaib” berarti tidak kelihatan, tersembunyi, tidak nyata.Berhubung Sutardji berbicara dalam konteks kata (bahasa) dalam puisi seperti yang dinyatakan Yunit, dirinya bermaksud supaya kita jangan terlalu sibuk mengurusi bahasa dari sistem tanda dan struktur fisis seperti yang dilakukan kaum linguistik struktural.
Dengan memberikan contoh fungsi kata seperti dalam mantra, saya menafsirkan, dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa walaupun dalam mantra tidak ditemui penggunaan aturan gramatikal yang ketat seperti yang diyakini kaum linguistik struktural, kata-kata itu tetap berfungsi, yaitu memiliki kekuatan yang tersembunyi dalam kata.
Yaitu,makna! Jika ditambah dengan tafsiran pada tidak ditemuinya aturan gramatikal yang ketat pada ”mantra”, dapatlah saya tafsirkan aturan gramatikal bahasa sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. Artinya, ungkapan Sutardji ”kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra” adalah ikhtiarnya dalam memberikan contoh, meski secara tidak langsung,mengenai aspek ontologis bahasa yang berujung kepada penggunaannya.
Sebab, seperti kita ketahui, pada masa itu sulit sekali berbicara terangterangan menolak dominasi kaum linguistik struktural yang mayoritas berbasis di Pusat Bahasa. Status ontologis bahasa,menurut Wittgenstein II—yang kemudian secara tidak langsung dicontohkan Sutardji, adalah penggunaannya.Aspek ontologis bahasa ini secara tidak langsung berkorelasi dengan semangat nilai-nilai pluralitas yang mendobrak tatanan universalitas.(*)
Rikobidik,
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nasional, Jakarta.
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 28 JUNI 2008)
22 Juni 2008
Marapulai
Malam ini adalah malam terberat sepanjang hidupku.Pikiranku terus melambung.Aku hanya terus duduk merenung di sudut kamar. Di atas lapik kubentangkan kitab suci tanpa membaca suratsurat di dalamnya.
Sesungguhnya,besok aku akan menjadi marapulai. Bukan pekerjaan yang kupersoalkan atau masalah setoran yang cukup membuat repot tapi ini adalah persoalan anjuran agama. Besok aku akan melaksanakan akad nikah. Gadis pinangan yang dipilih abakbukanlah perempuan yang kucintai. Sebenarnya aku belum berniat mencari pendamping hidup dengan alasan bahwa aku masih ingin menikmati kesendirian dengan pekerjaanku. Jadi, tak perlu kiranya kusebutkan bagaimana sebenarnya perempuan itu.
Yang jelas, ia bukan perempuan yang dapatmembuatakujatuhhatipadanya. Tidak ada pesona yang menarik. Sebenarnya, apa yang kulakukan adalah atas permintaan abak. Ia bersikeras menentukan pilihan untukku dengan pertimbangan bahwa sebelum meninggal ia ingin mengalami bagaimana rasanya menimang seorang cucu. Aku tidak habis pikir dengan permintaan abak tersebut.
Sementara emak, hanya mengamini kata-kata abak.Ia tak dapat menentang apa yang digariskan kepada perempuan-perempuan Minang sejak dahulu. Di dalam rumah maupun di dalam keseharian emak hanya dianggap abak sebagai istri yang kerjanya mengurusi dapur, sumur dan kasur. Tapi, inilah yang menjadi persoalan berat bagiku sebab pernikahan bukanlah suatu taruhan tetapi perbuatan adat yang sakral.Apa yang kupikirkan akan selalu bertentangan dengan keinginan abak.
Memang,apapun yang orang-orang lakukan mengenai pernikahan yang sakral dikarenakan atas dasar harga diri dan diawali dengan niat yang baik. Ah, setidak-tidaknya masih ada orang yang berani melakukannya demi suatu prestise.Seperti halnya paniboyang diberikan pihak keluargaku kepada perempuan itu tiga minggu yang lalu. Seperangkat selimut tebal dan pakaian.
Sebaliknya,tidak ada uang jemputan. Kemudian, beberapa hari setelah itu, ia menerimanya.Percobaan abak berhasil dengan sangat sukses. ”Oi marapulai, tidak lama lagi kau akan basandiang. Sudah lurus ucapan kau?”seloroh abakdi ruang makan. Lalu kujawab pertanyaan abak itu dengan seulas senyum dan anggukan kecil. Entah bagaimana caranya aku menjelaskan kepada abak kalau aku tidak ingin menikahi perempuan itu.
Aku hanya khawatir penyakit jantung abak akan kambuh lagi jika kukatakan yang sebenarnya. Hal itulah yang sangat tidak kuinginkan. Sebentar kemudian, kubaca satu ayat saja. Mudah-mudahan nantinya akan terang jalan pikiranku. Napas panjang kuhirup lalu mulailah kubaca lafaz-lafaz yang cukup populer.Betapa kurasakan hati yang begitu tenang dan dada yang tiba-tiba menjadi lapang.
Aku menghargai niat baik abak. Tapi, tidak ada salahnya apabila aku menentukan pilihanku sendiri. Sekarang kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi.Lagi pula,aku ini seorang laki-laki sejati dan laki-laki berdarah Minang seperti aku selayaknya sudah merantau ke negeri orang mencari kerja yang lebih mapan dan perempuan pilihan untuk dinikahi. Jadi, aku berhak menentukan perempuan yang akan kujadikan teman bersanding sampai mati. Aku tidak ingin perempuan yang dipilih abaknantinya akan celaka.
*** Orang-orang berbondong menuju masjid.Menuju tempat dilaksanakannya akad nikah.Anak-anak di kampung pun ikut meramaikan. Mereka bersorak- sorai sambil mengikuti arakan dari belakang.Beberapa bungkus penganan dan beras dihantarkan dalam perhelatan tersebut. Wah, suasana yang gegap gempita pun memenuhi ruang masjid.
Bisik-bisik keras terus bersahutan dan menyayat daging telingaku. Aku yakin mereka sedang membicara kan aku dan perempuan ini. Sebentar kemudian suasana menjadi hening.Penghulu mengambil posisi duduk di hadapan kami. Mata orang-orang tertuju padaku dan perempuan yang duduk di sampingku. Kami tak mampu bertatapan. Entah apa yang membuat aku tiba-tiba menjadi gugup.Menjadi tak keruan.
”Ah,jangan! Jangan sampai ini terjadi. Aku tak berniat untuk jatuh hati padanya jadi aku tak boleh gugup,” kataku dalam hati.Pelan-pelan kuberanikan diri untuk meliriknya dengan sudut mata kananku. Ku beranikan pula wajahku menatap wajahnya dengan sedikit kebencian.Tanpa sengaja kutemukan matanya yang begitu tulus, kepalanya menunduk seperti penuh tanda tanya.
Satu hal lagi yang membuat jantungku terasa ingin lepas adalah ketika kuperhatikan wajahnya yang molek dan bersih.Hari ini perempuan itu benar-benar kelihatan cantik. Pantas jika ia disebut anak daro. Ah, aku tidak ingin jadi duri dalam daging. Aneh.Aku merasa bahwa diriku baru saja bersikap seperti seorang anak kecil yang tengah sibuk memilih mainan di sebuah kios.
Pikiranku tambah tidak karuan ketika melihat binar di wajah abakdan emak. Mereka terus memperhatikan aku dan kubayangkan kalau mereka tengah berpikir bahwa semoga aku akan lurus mengucapkannya. ”Bagaimana marapulai?” Penghulu itu menyela ke tengah pikiranku. ”Kau sudah siap?” Perempuan itu mengusap keringat di keningnya dengan selendang yang membaluti lehernya.
Kemudian dengan segera ia sampaikan wajah setulus peri dan selembut awan di hadapanku. Tatapan yang sangat tidak kuinginkan. Tatapan yang membuat aku terus berpikir ulang dalam mengambil sikap. ”Saya siap datuk penghulu.” Lalu, sambil kubetulkan posisi duduk.
”Silakan dimulai datuk penghulu”. Sementara penghulu itu membacakan segala hal dan tetek bengek lainnya, aku kembali pada tujuanku untuk tidak menghafal ucapan dan nama perempuan itu. Lalu, sebentar kemudian kuperhatikan anak daro mencubit lengan kirinya dan dilanjutkan dengan meremasnya. Wajahnya memerah seperti warna sari buah apel.Ia begitu gugup.” Sebegitu gugupkah, ”pikirku.
Dapat kubayangkan kalau ia begitu menantikan pernikahan ini.Mungkin memang benar bahwa ia telah benarbenar pasrah dengan putusannya ini. Barangkali saat ini ia sedang berpikir bahwa aku juga sungguh mencintainya. Betapa tololnya perasaan. Selalu tidak sesuai dengan apa yang orangorang pikirkan dan tentang perasaan itu sendiri akan ada banyak hal dan peristiwa dapat dipelajari.
Seperti halnya apa yang dipikirkan anak daro kepadaku saat ini,di dalam masjid ini. Lalu, peristiwa yang paling mendebarkan adalah pada saat aku mulai mengucapkan janji nikah. Penghulu itu mendekap tanganku dengan tangan keriputnya. Hal yang tidak dapat kusangkasangka adalah bahwa aku telah berhasil menyebut nama perempuan itu. Nama yang berusaha untuk aku singkirkan dari pikiranku.
Aku tidak tahu apakah aku harus lega atau menyesal telah melakukannya. Setelah semua orang mulai beranjak meninggalkan Masjid, aku masih gelisah membatu.Seketika itu pula abakmenjentik daun telingaku. ”Ndeh, kau jangan bikin malu abak di depan orang kampung.” Bisik abak ke telingaku. ”Ayo, pulang! ”Akhirnya, aku telah sah menjadi suami perempuan itu.Dapat kupastikan pula bahwa pada saat baralek gadangesok aku akan segera bersanding di pelaminan bersama perempuan yang kusebut Lisa.
*** Malam ini aku disidang abakdi meja makan—ketika orang kampung tengah sibuk mempersiapkan baralek gadang.Ia begitu murka dan entah dari mana mengetahui bahwa aku tidak setuju dengan pernikahan ini. Sementara emak terus berusaha memadamkan amarah abakyang sedang terbakar. Sebentar kemudian, abak kembali tenang setelah dadanya sedikit terasa sesak.
”Kau harusnya mengerti kenapa abak bersikeras menikahkan engkau dengan Lisa.”Abakmelirih dan sesekali matanya menatap aku dengan penuh harapan. ”Abak hanya ingin menyelamatkan hidupnya. Kalau tidak segera abaknikahkan engkau dengannya,lakilaki biadab itu akan menjualnya.” Aku menjadi bingung dengan penjelasan abak yang tiba-tiba itu.
Kemudian abak menjelaskan dengan sejelas- jelasnya tentang ayah Lisa yang berniat menyerahkan Lisa kepada agen gelap di Batam.Abakjuga mengatakan bahwa ayah Lisa adalah laki-laki yang tega melakukan perbuatan busuk apa pun demi mencapai tujuannya. Maka pada akhirnya,ibunya,mendesak agar abakbersedia menikahkan Lisa denganku sebelum laki-laki itu pulang beberapa hari lagi. ”Untuk itulah abak menikahkan kau dengan Lisa.
Abak ingin menimang cucu itu hanya alasan yang abak buat-buat saja.”Kemudian abakminta dipapah emak ke bilik tidur. ”Kau pikir-pikirlah lagi. Lisa benar-benar telah mencintaimu.” Kemudian, aku menjadi kalut di ruang makan yang berlampu buram. Urat-urat di kepalaku seperti akan keluar.Pikiranku kacau.Dan sungguh, aku tak bisa memutuskan apapun untuk kubicarakan pada Lisa di malam pengantin nanti.Aku belum siap menerima kenyataan sesungguhnya. Hal yang tak pernah terbayangkan olehku selama ini. Sayup-sayup kudengar isak tangis emak di dalam kamar.
*** Aku benar-benar telah bersanding dengan perempuan itu. Pelaminan menemani kami untuk duduk berdua. Jelas kusaksikan senyum lepas dari bibir Lisa.Pesta usai dengan damai. Di rumah yang kami tempati sementara, di dalam kamar pengantin, aku telah menciptakan kekakuan yang abadi. Berjam-jam kami tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Beberapa saat kemudian,dengan perlahan, Lisa melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Malam pun lekas meninggi. Aku harus berani jujur terhadap perasaan yang sesungguhnya.Walaupun aku telah lurus menyebut namanya tetapi aku harus tetap menentukan putusanku malam ini juga.
Setidak- tidaknya agar aku tidak terus tenggelam oleh desakan perasaan seperti ini. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan ayah Lisa.Ternyata ia datang lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Suaranya terdengar jelas dari dalam rumah. Ia memekik dan menjerit dengan suara lantang di halaman. Memanggil-manggil nama anaknya. Lisa lekas membetulkan pakaiannya. Dengan sigap aku segera bergegas ke pintu muka. Menghadang laki-laki itu dengan penuh amarah.(*)
DELVI YANDRA,
kelahiran Palangki 10 Desember 1986.
Dia aktif berkegiatan di Komunitas Rumah Teduh, Putapilem dan rumah kreatif Kandangpadati. Saat ini sedang menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.
Ironi Modernitas
MODERNITAS mulanya lahir sebagai kritik atas segala bentuk otoritas di luar rasio. Ia datang mengusik kesadaran kita dari tidur dogmatisme pemikiran.
Dari kritik itu lahir situasi abad yang kita sebut modern—untuk merujuk pada periode sejarah tertentu—atau modernitas, merujuk pada ihwal keadaan zaman modern.Meminjam istilah Anthony Gidden, modernitas merupakan konsekuensi logis dari meleburnya keterjarakan ruang dan waktu yang ditandai dengan segenap pencapaian techno-science, gaya hidup (lifestyle), emansipasi, kebebasan, dan anomali-anomali di dalamnya.
Kelahiran modernitas sendiri bukan tanpa latar yang menjadi asal terciptanya iklimyangsekarangsedang meriah dirayakan. Banyak anasir dangagasanmunculdaripersilangan dan pertikaian ide bahkan perang, bisa dari para filsuf, negarawan, teolog,kelas antarbangsa, dan seterusnya, hingga masyarakat manusia dalam fase tertentu memasuki apa yang Immanuel Kant sebut sebagai subjek yang ”Mundichkeith” atau subjek yang sadar diri karena mampu berpikir sendiri.
Dengan semboyannya yang terkenal, yakni, ”sapere aude!”,berpikirlah dengan bebas lepas dari otoritas di luar diri. Modernitas kemudian melaju pesat penuh ditaburi ragam anasir,melankolis, prahara, bahkan anomali yang muncul dalam ragam bentuk ekspresi dan capaian. Lahirnya sains modern yang melahirkan kemajuan sekaligus korban dari dentuman bom atom, akibat meruahnya ideologiideologi besar,
Pesona dan Ironi
Hikayat modernitas memang kompleks, penuh warna dan cita rasa, tak terkecuali di negeri kita.Ada nuansa, prahara,gairah sekaligus kehampaan dan absurditas dalam ruang-ruang yang diciptakan modernitas. Ruangruang yang ditandai fragmentasi seakan mengafirmasi setiap bentuk kemungkinan, bahkan ketidakmungkinan. Modernitas dalam arti tertentu seakan menarik imaji kita ke tengah realitas virtual yang musykil untuk kita renungkan.
Suatu peristiwa yang disebut Baudrillar sebagai taburan citra dan tanda. Bagaimana jalinan citra dan tanda itu beroperasi? Mungkin kita akan dibuatnya njelimet,bila saja waktu kualitatif ala Bergsonian (baca: Dure) untuk memahami ruang tersebut,tak lagi ada dalam keyakinan epistemik kita. Barangkali ramalan Karl Marx dalam Das Capital-nya benar, terutama tesisnya tentang kapitalisme yang kekeuh diri menjadi semacam takdir bagi anak manusia yang hidup di zaman ini.
Kapitalisme memang telah menjadi takdir bagi manusia modern. Hanya saja, mungkin analisa determinasi ekonominya telah pudar karena perubahan fantastis dari modus produksi dan pergeseran nilai tukar sedemikian dahsyatnya bergeser ke wilayah prestise, image, citra, dan seterusnya,yang melahirkan masyarakat konsumeristis. Kepekatan hidup manusiamanusia modern kini telah bermetamorfosa ke arah banalitas.
Maka,pada saat yang sama,manusia modern pun seperti kehabisan waktu untuk mencandra realitas yang intim dengan nuansa pikir dan reflektif. Seakan waktu primordial menjadi sukma unik di ruang-ruang yang terfragmentasi saat ini. Lanskap dan etalase kota modern dan segenap pesona dengan seribu kunang-kunang di dalamnya, seakan telah menutup segala ruang bagi modus eksistensi diri yang autentik.
Pesona dunia menjanjikan suguhan penuh citra dan imaji tentang ektase kehidupan meski di dalamnya absurd. Suatu tanda persilangan dengan apa yang sering kita sebut antara emansipasi, otonomi diri di satu sisi, dan ironi, absurditas di sisi lainnya. Di sanalah letak kontradiksi dan kaum neomarxis meramalkan modernisme sebagai reruntuhan puing sejarah tanpa kepastian subjek dalam mengarungi mitos pengetahuan. Situasi itu persis seperti yang digambarkan Walter Benjamin, seperti situasi- situasi batas manusia kota Paris abad-19.
Tak ada lagi emansipasi, bahkan humanisme! Ungkapan nada pesimisme ini merupakan cermin nyata realitas yang sejauh ini telah mengalami devaluasi dan transgresi dalam modernitas. Kelupaan atas ihwal keyakinan dan kebenaran telah melabrak seluruh dimensi absolut mengenai realitas yang melampaui rengkuhan akal budi instrumental.
Di masa lalu, situasi krisis itu pernah dikhawatirkan banyak kalangan, baik filsuf,sastrawan,ataupun para abdi setia moral.Namun, modernitas seakan tak mengindahkan keyakinan dan keniscayaan lain,kecuali ia adalah revelasi sekuler yang terus menerobos masa depan kemanusiaan modern.
Modernitas di Sudut Malam
Modernitas memang tak selalu kelam dalam kubangan imaji totaliter, rintihan getir kaum yang terdiaspora, lumuran darah yang terhampar dari cita-cita utopis, atau kapitalisme yang mengoyak jati diri manusia dan kehausan tanpa batas atas kapital.Ia (kapitalisme) kadang terlalu cerdik memperlakukan kritik,hingga dalam batas tertentu justru mampu mengatasinya dengan segenap inovasi dan capaian.
Hal itu nyata ketika kita berjalan pada malam hari, di atas desir angin dan desing hilir mudik knalpot yang menghiasi alunan nada realitas hingga menguap bagai simfoni nada.Kerumitan arsitektur kota yang timpang, marginalisasi, eksklusi, dan wajah lusuh lainnya. Di sana tetap ada pesona dan kekaguman pada capaian,kemewahan etalase dan segala kemudahan yang kadang kita dibuatnya tergoda, terkulai malas berpikir tentang sesuatu di luar yang visibel,sekaligus virtual.
Suatu pesona akan pencapaian yang jauh melampaui kerangka pikir abad pertengahan lalu dan kita pun memang telah menggantung cita-cita lama itu dengan menggeser penghayatankosmosdanteloske wilayah perbatasannya. Ruang-ruang yang terfragmentasi dalam lanskap kota dengan segala hiruk-pikuk dan keunikan di dalamnya, seakan menjadi semacam oase bagi pegulat sejati hidup di dunia perkotaan yang riuh rendah dengan segala konstelasi bisnis, politik,dan keacuhan individual.
Modernitas dalam batas tertentu tak selalu merupakan keketatan ilmiah, bahkan keteraturan sosial. Anomali- anomali di dalamnya selalu tercipta. Memang ada canda, tawa, dan rencana, tapi malam memberi gambaran kejujuran baru tentang dunia kita yang penuh anomali.Realitas tak lagi merupakan suatu koherensi dan representasi,ia bahkan seketika menjadi kontradiksi dan anomali. (*)
Miming Ismail
Pegiat sastra dan filsafat pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
Sajak-Sajak Wiji Rocha
Malam, gelap petang hanya bintang dan bulan
Aku menanti sepi di keramaian
Siang terasa malam
Keramaian menghanyutkan malam sendu
Cahaya sinar saling bertatapan,
bertabrakan di kegelapan
Rindu aku dengan halaman indah menyenangkan
Lihat dingin penuh kesejukan di antara kesunyian
Aku berdiri, bertahan dihembuskan angin malam
Kapan engkau terang, hilang kilau dan kilap sinar
Malamku penuh ragu, pilu menanti rindu
Hanya angan dan karsaku yang membawa
ke imajinasi perasaanku
Malam Denpasar
Cahaya kecil di tengah rimbunnya kegelapan
Nafas berhembus menyelip di antara getaran
Aku berpikir ni malam perpisahan
Padahal ini membahagiakan
Teman dan kerabat melambaikan
tangan menatap kesedihan
Ini bukan luka atau bencana
Ini berjalan kawan, perjalanan tuk masa depan
Tenang, diam, tenanglah
Suatu saat kita pasti bertemu
Di sebuah tempat penuh kebahagiaan
Gelap ini menampakkan kesunyian
dan ketenangan jiwa
Ni malam bertabur bintang
Sayangnya tak kelihatan! Tapi itu bukan
Halangan tuk kita menggapai bintang
(DIMUAT DI SOLO POS, 22 JUNI 2008)
Ketua RT
Meski sudah malam mata Pak RT belum terpejam juga. Tubuhnya telentang di dipan sambil mulutnya komat-kamit zikir. Hatinya berzikir. Sesekali matanya terpejam. Bu RT masih di sajadah salat tahajud di samping dipan. Seusai salat Bu RT menengok suaminya.
”Pak, mbok sare...sudah malam.”
”Belum ngantuk Bu.”
”Ahh...panjenengan diaturi, ora tau nggatekke... nanti kalau tensinya naik lagi seperti kemarin, Bapak bingung.”
”Kalau Ibu sudah ngantuk, sana nemani anak-anak.”
”Ah...Pak...Pak...” Bu RT melipat sajadah dan mukena. ”Kalau Bapak belum ngantuk ya sudah tak temani,” Pak RT menggeser tubuhnya memberi tempat pada isterinya.
”Ya mau bagaimana lagi ta, Bu...aku sakit ini kan karena mendapat ganjaran dari Gusti Allah.”
”Iya, Pak...tapi kok begitu lama, aku perhatikan Bapak makin kurus...”
”Bu, Ibu pasti ingat, Gusti Allah memberi ganjaran itu bisa berupa hal yang menyenangkan, bisa juga hal yang tidak menyenangkan, maka harus diterima dengan ikhlas dan sabar.”
”Kalau saja Bapak dulu tidak jadi ketua RT, mungkin Bapak tidak akan sakit seperti ini.”
”Kenapa Ibu bisa bilang begitu...?”
”Aku dengar Bapak sakit ini karena ada orang yang tidak senang, Bapak sakit karena dibuat orang.”
”Bu..! kenapa Ibu percaya hal seperti itu?”
”Kemarin De Wongso bilang...”
”Ahh sudahlah, Bu, Ibu tidak perlu menghubungkan sakitku ini dengan jabatanku sebagai ketua RT.”
*****
Dul Prengus duduk diam di ruang tamu Pak RW. Bentuk tubuhnya yang pendek membuat dia seolah-olah tenggelam di sofa besar dan tebal. Sebenarnya namanya Dulsani, yang dipanggil Dul. Tambahan Prengus di belakang karena bau badannya yang prengus. Karakternya kalau bicara tak mau kalah dan suaranya keras. Ditambah lagi Dul Prengus pintar membolak-balikkan fakta.
Pak RW tiba-tiba muncul. Dul Prengus pura-pura kaget dan menyalami.
”Apa kabar, Pak RW...?”
”Baik.”
”Saya juga baik-baik saja, Pak RW. Saya doakan Pak RW selalu sehat, sehingga bisa menjadi RW di lingkungan sini untuk selama-lamanya.”
Kedua orang itu duduk berhadapan. Dul Prengus bicara panjang lebar.
”Pak RW sudah dengar belum?”
”Apa?”
”Weehh...ini pasti sangat menarik, Pak RW...”
”Ya..ya...aku percaya. Informasi ini mengenai apa?”
”Kekacauan, Pak RW! Ya, kekacauan!”
”Maksudmu?”
”Kerumahtanggaan RT 02 sekarang ini kacau!”
”Mbok bicaramu yang agak jelas, Dul.”
”Iya, Pak RW...Pak RW kan belum tahu bahwa program-program di RT 02 tidak bisa berjalan...macet...urusan ke-RT-an terbengkalai...ada warga minta surat pengantar untuk cari KTP tidak terlayani dan masih banyak lagi urusan yang mengecewakan warga.”
”Kenapa bisa begitu?”
”Ya...karena ketua RT-nya sakit. Bahkan, Pak RW..sekarang ini suhu politik di RT 02 mulai memanas.”
”Maksudmu?”
”Iya...segenap warga RT 02 mulai kasak-kusuk, mereka tidak puas dengan kepemimpinan ketua RT.”
”Jadi warga memberontak?”
”Begitulah Pak RW. Sebab selama jadi ketua RT banyak warga yang dikecewakan, bahkan saya dengar ketua RT sering menarik iuran ke warga dengan alasan yang tidak jelas.”
”Wah...wah...wah..ini sudah keterlaluan. Terus maunya warga bagaimana?”
”Ya bagaimana lagi, kalau ketua RT-nya tidak becus, bagaimana lagi.”
”Hmm...ya..ya.”
”Pak RW sudah dengar belum?”
”Mengenai apa?”
”Sekarang ini, sakitnya ketua RT makin parah, saya dengar juga dia sudah membuat wasiat membagi-bagikan hartanya pada anak-anaknya, menurut kepercayaan orangtua, kalau ada orang sakit terus memberi wasiat seperti itu pertanda umurnya tidak panjang lagi, Pak RW...”
”Benar, Dul...benar, aku juga percaya hal itu.”
”Pak RW pasti juga belum dengar, kalau ketua RT dua hari yang lalu opname di rumah sakit....”
”Iya...iya..kalau begitu jabatan ketua RT harus segera...”
”Cocok, Pak RW...! Sebab kalau Pak RW tidak segera bertindak, warga RT 02 makin resah.”
*****
Ketua RT 02 pulang dari rumah sakit setelah opname beberapa lama. Matanya mengamati sekeliling rumah mencari sesuatu. Dia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang selama ini dijaga karena merupakan amanat warganya.
Bersamaan dengan itu dari arah timur beberapa warga RT 02 berjalan menuju rumah Pak RT. Dari gerak langkahnya tampaknya mereka terburu-buru. Orang yang berjalan paling depan tidak lain Dul Prengus. Ketua RT heran penuh tanda tanya. Dul Prengus mendekat menyalami.
”Wah....Pak RT sudah pulang rupanya.”
”Alhamdulillah berkat doa kamu juga Dul dan warga sini aku sudah sembuh.”
”Wah syukurlah. Begini, Pak RT, saya mengajak beberapa warga untuk menyongsong kepulangan Pak RT dari rumah sakit.”
”Terima kasih, Dul...”
”Selain itu, saya juga dititipi pesan oleh Pak RW untuk Pak RT.”
”Pesan apa ya, Dul?”
”Emmm.. begini, mulai hari Senin kemarin oleh Pak RW, Pak RT dinonaktifkan dari jabatan Ketua RT 02.”
”Oh...begitu...,” Ketua RT hanya diam sedikit terkejut.
”Pesan dari Pak RW yang lain, saya harus memberitahu Pak RT bahwa sebagai penggantinya saya. Benar begitu khan Bapak-bapak?!”
”Syukurlah, Dul.”
”Oleh karena saya sudah dilantik menjadi ketua RT, maka papan tulisan Ketua RT 02 di tembok teras itu saya lepas dan sekarang saya pasang di rumah saya.”
Orang-orang tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
Satu bulan Dul Prengus menjabat Ketua RT 02. Menginjak bulan kedua suasana di RT 02 mulai keruh. Warga mulai kasak-kusuk. Pembuat suasana keruh itu tidak lain Dul Prengus. Sebagai Ketua RT Dul Prengus bertindak semaunya sendiri. Warga RT 02 mendesak Pak RW untuk mengganti Dul Prengus.
”Dul....sebenarnya aku senang padamu.”
”Ahh, sungguh, Pak RW?”
”Ya...tapi dengar, Dul! Kepercayaanku itu telah kamu salahgunakan! Aku banyak menerima laporan dari warga RT 02 dan juga warga RT yang lain, dan laporan itu benar-benar valid.”
Dul Prengus makin terdiam. Tubuhnya berkeringat. Pandangannya tertunduk tak berani menatap Pak RW.
”Kamu sudah dengar, Dul?”
”Me...me...mengenai..a...a...apa, Pak RW?”
”Bahwa ternyata kamu ini pembohong besar! Termasuk informasi mengenai Pak Somad, mantan Ketua RT 02. Kamu tukang fitnah! Kamu pernah dengar, Dul. Ada pepatah, serigala berbulu domba...nah kamu bukan itu, tapi kamu serigala tidak berbulu...”
Beberapa hari setelah dicopot dari jabatan Ketua RT 02 Dul Prengus tidak pernah kelihatan. Demikian juga pintu rumahnya selalu tertutup. Menurut kabar rumahnya telah dijual. Berita terakhir yang terdengar Dul Prengus meninggal karena tertabrak truk ketika menyeberang jalan.
(DIMUAT DI SOLO POS 22 JUNI 2008)
Indonesia, Merdeka Sekarang Juga!
OLEH: SAYYID MADANY SYANIMasih kuingat ibu, yang menanak nasi di dapur. Beras yang ditanak tak sampai setekong. Padahal, harus mengenyangkan kami sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu, aku dan lima orang saudaraku. Ibu pun tidak pernah menjawab pertanyaan adik yang paling bungsu;
“bu, kok nasinya cuma sedikit sih? Pakai garam lagi? Kenapa tidak buat ayam goreng saja bu, seperti Retno temanku itu.”
Aku sendiri merupakan anak tertua. Jika dihitung-hitung, umurku sudah layak untuk mengenyam bangku sekolah menengah. Tapi mau diapakan lagi, sekolah dasar pun tak sampai tamat. Ayah, hanya buruh tani. Setiap hari, harus selalu bermandi keringat di tengah sawah. Jika saja aku punya ketapel, akan aku pecahkan matahari yang garang melumat tubuh ayah. Sekali, pernah kulihat ayah membuka bajunya. Sambil bertelanjang dada, ia rebahkan tubuhnya yang kurus itu ke lantai tanah berbalut tikar pandan. Ketika tubuhnya menelungkup, maka tampaklah kulit punggungnya yang hitam seperti terbakar. Oleh karena itu, aku sangat ingin sekali memecahkan matahari.
* * *
Angin malam mulai menusuk perlahan. Kunang-kunang, sesekali tampak juga mengitari. Klap-klip, seperti ingin mengutarakan sesuatu. Tapi sayangnya, aku tak pernah bisa hapal sandi morse. Dulu, sempat aku masuk kepanduan dan belajar morse, tetapi belum sempat kutamatkan kaji untuk menghafalkannya, ayah sudah tak sanggup lagi menyekolahkan. Jadilah, aku pun keluar dari sekolah. Tapi pada saat seperti itu, orang-orang sebaya yang keluar dari sekolah sangat banyak jumlahnya. Bersamaku saja, hampir menguras habis murid di sekolah tersebut. Jadi, aku pun tak terlalu sedih sewaktu ayah menjemputku dari sekolah.
Sedangkan bintang, ah, aku kurang suka dengan bintang. Kata orang, bintang itu bagus, cantik. Tetapi menurutku tidak. Bintang adalah pembohong ulung. Kemunafikannya tampak jelas. Ternyata, bintang yang banyak di langit itu tak semuanya bintang. Yang terlihat dari bumi, hanya sepersekian persen yang bintang, selebihnya adalah pantulan cahaya bintang lain yang terang. Makanya, bintang pun menjadi tidak karuan jumlahnya di langit, seperti arus urbanisasi saja.
* * *
Aku tengah menunggu seseorang. Di depan bioskop Merdeka ini, sudah setengah jam lebih. Jam sudah lewat angka delapan. Lalu lintas tidak lagi padat. Hanya di atas trotoar, banyak berkeliaran gelandangan mencari tempat berteduh. Masih kutunggu, mungkin setengah jam ke depan. Sambil menunggu, masih kuperhatikan kunang-kunang yang sedari tadi bersliweran di depan wajah.
“Menungguku bung?” Dari samping kanan, aku dikagetkan oleh seseorang.
“Bung kelebihan waktu, setengah jam. Kunang-kunang saja sudah bosan melihat wajahku. Lihat bung, mereka beterbangan ke arah selatan itu. Mungkin mencari orang-orang sepertiku yang juga sedang menunggui seseorang.” Suaraku, entah kenapa menjadi agak berat.
“Hahahahhahaa, bung bisa saja. Ah, bung tahu dengan bioskop ini. Hmm, sudah lama aku tidak melihat gedung ini semenjak aku belajar keluar tanah Jawa. Dulu, bioskop ini bernama bioskop Roxy. Sungguh sebuah nama yang terlalu Kapitalistik. Barat, ah mereka tidaklah sehebat yang kita elu-elukan. Ketika Jerman menguasai hampir seluruh daratan Eropa, orang-orang Barat inilah yang tidak bisa menerima ketertindasan. Hidup susah di kamp-kamp. Sungguh, sebuah keterbalikan. Aku sering menyebutnya dengan karma. Siapapun yang menindas, akan pula tertindas. Benarkan bung? Lihat, BIOSKOP MERDEKA bukankah itu sebuah nasionalisme Indonesia? Aku sangat cinta Indonesia.”
“Bung terlalu banyak bicara. Bergegaslah, banyak yang sudah menunggu.”
Orang itu, Nursal namanya. Ya, kuakui dia memang pintar, sehingga dibiayai oleh pemerintah untuk sekolah di Moscow. Namun, orang itu banyak omong. Terus terang, aku kurang suka padanya. Tapi, apa boleh buat, kawan-kawan menyuruhku untuk menjemputnya di depan bioskop Merdeka itu. Entahlah, sampai seberapa jauh kehebatan dia.
Rencananya, Nursal akan memberikan ceramah-ceramah pengetahuan umum. Tempat itu lumayan jauh. Namun sebenarnya, Nursal bisa saja pergi ke tempat itu sendirian tanpa harus ada yang menjemput. Tetapi, situasi ketika itu yang memaksa Darman menyuruhku untuk mengamankan Nursal.
“Kita tidak bisa ambil resiko Nursal diculik kekuatan yang tidak dikenal. Kita semua kan tahu, bahwa situasi sekarang sangat genting. Kita tidak tahu, akan sampai dimana situasi seperti ini berlangsung. Saling hujat, saling keroyok, saling culik. Walaupun sebenarnya, kita tidak pernah menculik siapapun diantara mereka. Land Reform yang dicanangkan telah membuat semuanya salah tanggap. Orang-orang PNI di Malang sudah buat tandingan. Becak-becak juga di-reform-kan.”
Aku mengerti kegelisahan Darman. Semuanya serba awas. Terhadap orang-orang yang tak dikenal, bisa-bisa hanyut di kali belakang. Masih samar, siapa yang jadi lawan. Kawan pun dihantam. Beberapa hari yang lalu, ratusan massa merangsek masuk menghancurkan kantor sekretariat SBKA di jalan Kayutangan. Tidak itu saja, ISRI yang punyanya PNI pun hancur karena latarnya yang merah. Massa hijau itu marah, gara-gara massa merah di belahan pulau yang lain melakukan tindakan sepihak yang juga brutal. Kalimat Nietsche “Tuhan telah mati”, sudah dipergelarkan melalui kesenian ludruk dengan judul “matine gusti Allah”.
Aku berucap syukur, ternyata dalam perjalanan tadi tidak ada gangguan fisik yang berarti. Paling, hanya nyamuk yang menggigiti tubuhku yang lumayan kurus ini. Setelah sampai, Nursal kubawa menghadap Darman.
“Salam revolusi! Bagaimana kabarmu bung Nursal? Apakah Moscow yang dingin sudah melenakan tidur panjangmu?” Darman menyambut Nursal dengan sedikit ejekan. Maklum, Nursal, telah lebih dari lima tahun berada di Moscow.
“Tidak bung, tidak. Aku masih cinta negeriku. Aku masih tertarik dengan gadis-gadis Jawa, sungguh tidak akan bisa kucari kemana jua kecuali di sini.” Dan keduanya pun terlarut dalam gelak tawa. Sedangkan aku, hanya simpul senyum yang satir.
“Mas Sardi, kawan-kawan yang lain sudah menunggu.” Ratih, gadis manis itu mengingatkanku untuk cepat memotong pembicaraan Darman dan Nursal.
“Maaf, kawan-kawan yang lain telah menunggu di aula.”
“Mungkin, setelah berceramah kau harus menceritakan dengan detail bagaimana bentuk Moscow itu.” Darman kembali menjabat tangan Nursal—hangat.
Di aula yang tidak seberapa besar itu, telah menunggu kurang lebih sepuluh orang. Mereka, duduk dengan tertib dan tidak tampak garis-garis lelah di wajah mereka meski waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Segera saja aku melangkah ke depan ruangan. Ya, aku ditugaskan untuk menjadi moderatornya Nursal. Dalam pengantar yang kuberikan, aku menegaskan bahwa masyarakat tidak pernah berhenti bergerak, karena hal itu merupakan hukum yang tidak bisa dipungkiri.
“Sardi, kau pasti tidak suka padaku.” Nursal menyikut rusukku ketika ia akan beranjak menuju podium untuk mulai berceramah. Sambil tersenyum ia melihat lekat padaku, seolah-olah dia begitu mengerti dengan keadaanku.
Nursal memulai ceramahnya. Ia mengatakan bahwa tak seorang pun yang dapat membendung suatu perubahan, betapapun kuatnya bendungan itu, sekali waktu akan jebol juga, sesuai dengan kodrat yang dimiliki oleh perubahan itu sendiri. Kesepuluh peserta ceramah tersebut sepertinya terkesan. Tetapi, kenapa hanya aku yang sepertinya menaruh iri. Selama satu jam ceramahnya itu, ia mengakhiri dengan menyatakan “Siapkah kita untuk menjadi Republiken?” Dan, peserta ceramah seperti terbius dengan propaganda Nursal. Serentak mereka menjawab “Siap!” lalu diiringi oleh tepuk tangan peserta yang riuh rendah. Aku menjadi tambah gusar dan kesal. Kuraba rusuk kiriku yang tiba-tiba rasa sakitnya semakin menjadi. “Nursal dan Republiken-nya.” Kuremas-remas tanganku erat sehingga membentuk kepal tinju yang siap melayang. Tapi, kuurungkan cepat, sebab alasanku tidak cukup kuat. Jika kuteruskan, berarti aku sama saja dengan orang-orang yang main hajar, culik dan main hujat sekenanya. Padahal, aku sangat benci hal itu. Setelah acara berakhir, kulangkahkan kaki menuju kamar belakang.
“Mau langsung tidur mas? Tidak kumpul dulu di ruangannya mas Darman?” Ratih kembali menyapaku.
“Ya, aku langsung ke kamar saja. Badanku agak tidak enak.”
“Ya sudahlah.” Ratih berlalu. Dan aku terus menyeret langkahku ke kamar belakang.
* * *
Show of Force pro revolusi Soekarno masih berlangsung. Pawai Nas-A-Kom, menggurita, namun antara kekuatan-kekuatan tersebut seperti menyimpan api dalam dadanya. Api itu terus membakar, menjadi semangat yang dapat berubah sewaktu-waktu menjadi dendam. Api itu terus menjalar, membakar semangat keeogisan, bukan persatuan seperti yang diidamkan oleh Soekarno sendiri. Lagu, Nasakom Bersatu digubah menjadi Nasakom Jiwaku.
Dan dendam itu memang sudah dekat waktunya. Nursal telah dua bulan lamanya di Indonesia. Dia tidak habis pikir, apa yang sering dilontarkannya sewaktu ceramah-ceramah umum sebentar lagi terjadi. Perubahan yang diibaratkan dengan sebuah bendungan. Tetapi, ia tidak percaya. “Semoga saja prediksiku meleset” gumamnya dalam hati. Kekisruhan hatinya tidak ia tampakkan pada kawan-kawannya yang lain. “Atau, apa betul. Siapa yang dekat dengan kekuasaan adalah pengkhianat perjuangan? Jika tidak dekat dengan penguasa, maka akan disisihkan” Pertanyaan-pertanyaan yang sering melintas tidak segera ia jawab. Nursal masih percaya, bahwa Indonesia sudah berada pada jalur perjuangan yang benar. Konflik yang pada dasarnya hadir karena kesamaan tujuan—ingin berkuasa, merupakan hal yang lumrah bagi negara yang akan menapak umur 20 tahun.
4 bulan kemudian
Jam baru akan berhenti di angka 10. Semuanya telah berkumpul di ruangan Darman.
“Organisasi ini sekarang diujung tanduk. Dimana-mana, terjadi aksi unjuk rasa tidak senang terhadap sepak terjang kita. Kemarin, lasykar Salahudin telah membakar sekretariat CGMI. Mungkin keadaan ini cepat atau lambat juga merembet ke arah kita.” Darman membuka rapat dengan nada putus asa.
“Aku tidak menyangka, matinya para jenderal angkatan darat dihubungkan dengan kegiatan kita. Apa salahnya revolusi?” Ratih menghela nafas yang menyesak dadanya. Ia tidak yakin, Aidit yang merencanakan pembunuhan tersebut.
“Menurutku, kita telah salah jalan. Kita telah dibutakan dengan ambisi kekuasaan. Perjuangan kelas proletar yang kita usung, malah menjadikan kita sebagai orang yang borjuis itu sendiri.”
“Apa maksudmu Nursal?” Darman mengendus. Nafasnya tidak beraturan.
“Ya, di sisi lain, kita bela rakyat. Namun, kita terlalu dekat dengan kekuasaan. Dan satu lagi, kita memang pandai menghimpun massa, tetapi kita telah salah kaprah. Mudah saja orang masuk jadi simpatisan dan anggota. Kita, mudah dihasut dan dipecah belah.” Ujar Nursal selanjutnya.
Sardi dari tadi hanya diam mendengarkan. Tidak ada yang salah dengan ucapan Nursal. Jika ditilik, tidak ada perjuangan proletar yang pengayomnya sendiri duduk senang diatas kursi kekuasaan. Dari dulu, perjuangan proletar seperti ditakdirkan untuk menjadi perjuangan kaum marjinal—orang-orang yang tersisih. Namun, pemikiran Sardi tidak pernah ia utarakan. Pertempuran dalam hatinya masih menggugat apa-apa yang menyisiri pemikirannya.
“Aku pikir, situasi sekarang tidak cukup kondusif untuk menampilkan perjuangan kita seperti beberapa tahun belakangan ini. Kita harus mundur, dan organisasi ini harus bubar. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.” Sebenarnya, Ratih pahit juga mengatakan hal seperti itu. Ia pun sebenarnya takut, tidak pernah lagi bertemu dengan kawan-kawannya ini.
“Baiklah. Aku berpikiran sama dengan Ratih. Aku harap, kawan-kawan yang lain mau menerima keputusan ini. Salam perjuangan.” Darman beranjak dari duduknya. Ia segera melangkah keluar ruangan. Tidak lama setelah itu, giliran Ratih terisak meninggalkan kursinya.
“Telah tiba saatnya bendungan itu hancur. Hhh, mungkin karena konstruksi bangunannya menggunakan bahan karbitan. Jadinya tidak tahan lama. Ah, sampai jumpa lagi bung, Sardi, kawanku.” Nursal berlalu dari hadapan Sardi. Sardi sendiri masih kurang percaya, dengan segala perubahan ini. Tetapi dalam hatinya, perubahan tetap harus ditelan. Tidak ada yang manis dalam sebuah perjuangan sejati. Dan ini adalah sebuah konsekuensi.
* * *
Musim telah lama berganti baju
Burung gereja sayup-sayup terbang melintasi utasan kabel-kabel listrik yang melintang panjang. Di atap rumah, ada seekor yang tengah berjemur menatap matahari sore. Apalagi, cuaca amat hangat menyapa sesudah beberapa jam yang lalu terguyur hujan lebat disertai petir yang sempat mematahkan pelepah pisang di ladang belakang. Seseorang tengah duduk di beranda depan rumahnya. Pandangannya selalu nanar menatap jalanan aspal lengang. Hampir terlihat tua, uban tumbuh disana-sini diatas kepalanya.
Dia rindu akan hidupnya yang dulu. Dia rindu tembang genjer-genjer, yang melesapkan jiwanya menjadi teduh. Dalam lamunannya, tak sengaja ia lantunkan juga sebait tembang itu.
Genjer-genjer neng kedokan pating keleler
Emake tole teko-teko mbubuti genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing tolih-tolih
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih
Sangat pelan, ia pun tersenyum-senyum menembangkannya. Matahari, hampir lindap di sudut jauh sawah-sawah yang membentang. Cahaya kuning kemerahan membuatnya meneteskan hujan lokal di wajah. Ia ingat, akan kunang-kunang yang selalu menungguinya.
“ah, kunang-kunang. Mengapa kau tidak datang. Seperti dulu mengitari wajahku yang tengah gusar menunggu perjuangan. Sekarang, aku pun sedang menunggu. Menunggu Indonesia kembali merdeka. Ah, kunang-kunang, kurindui engkau. Kapan engkau datang?”
Matahari pun tergelincir. Meneduhkan langit juga bumi. Berganti dengan sepoi angin gunung yang membawa beku. Sesaat, azan Maghrib hadir. Dan, lelaki itu beranjak dari duduknya pergi ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam. “Benarkah Tuhan telah mati? Kalaupun iya, akan kubangunkan lagi Tuhan itu. Sebab aku percaya, Tuhan hanya mati suri.” Sesekali, codot kembali mengulang-ngulang kalimat azan. Mungkin pikirnya, azan yang sekarang kurang sampai ke telinga manusia lain, makanya ia pun mencoba jadi muazin.
Padang, Mei 2008
Catatan:
Genjer-genjer bertaburan di pematang
Emak si buyung datang mencabut genjer
Setelah mendapatkan satu tenong lalu berhenti
Genjer-genjer sekarang dibawa pulang
21 Juni 2008
Ok Ini Adalah Waktu yang Tepat
Rncana prtama disana mau cari pertunjukan Rabab; soalnya kangen nih pengen dengerin lagi alunan senar yg digesek-gesek itu...
Rencana Kedua; Cari durian...
Rencana Ketiga; duduk di pinggir pantai...
Rencana Keempat; duduk-duduk di lapau sambil minum kopi, trus ngeliat orang main KOA (skaian belajar) ehhhhehhe...
Lah... trus yang mana rncana kuliahnya?
Oh iya...
Ok lah...
aku dah memplanningkan buat Pelatihan Kepenulisan untuk Pelajar disana... Berdasarkan fakta, Taufik Ismail belum pernah ke Pesisir Selatan, jadi SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) so pasti belum pernah dikasih di Pesisir Selatan.
Pmebrantasan Buta Aksara lumayan yahud juga...
dan program penunjangnya adalah, lomba baca Puisi pas 17 Agustusan 2008 besok...
Ok, siap terbang ke Pelangai...
19 Juni 2008
Nurani dan Surga
Tiba-tiba kepalaku terasa nyeri.Segera jemari tanganku merabanya.Dan jemari itu menjadi basah dengan cairan agak kental.Bau amis tercium oleh hidungku.Darah!
Mataku benar-benar terbelalak.Darah masih segar terlihat meleleh menutupi ujung-ujung jemariku. Menetesnetes, membasahi kaos oblong lusuh yang kukenakan. Mulutku menganga. Sepatah kata masih juga belum keluar dari kedua sela bibirku.
Ludah getir perlahan menggelinding ke tenggorokan.Dadaku terasa sesak. ”Bagaimana, Pak? Sakit enggak rasanya?!” Belum sempat mataku yang membulat kembali normal, ketidakpercayaan selanjutnya membuat biji mataku semakin melotot dan hampir terlepas dari kelopaknya. Surga?! Surga, anak semata wayangku tersenyum sinis ke arahku sambil menggenggam sebuah celurit yang mengkilat pada ujungnya.
Bibirku tergetar, tak kuasa menguntai kata sedikit pun, kecuali hanya menganga karena benar-benar tidak percaya dengan kenyataan yang kulihat. Sedetik kemudian senyum sinis dari bocah yang baru beranjak ABG itu memudar. Bibirnya tampak bergetar. Di dalam kelopak matanya terdapat genangan air yang hampir tumpah. ”Tapi itu belum seberapa sakit, Pak, bila dibandingkan dengan rasa sakit hatiku ketika diejek temanteman,” lanjut Surga dengan suara serak.
Tangan kirinya memegang dadanya yang terguncang. Sambil melotot sinis ke arahku,buliran air menggelinding dari kantung matanya. Suasana semakin mencekam.
Kilatan celurit di genggaman bocah itu benar-benar membuat nyaliku terasa menciut. Kugeser tubuhku ke belakang. Aku menggeleng-gelengkan kepala masih tidak percaya. Mimpikah ini? Surga hendak membunuhku? Bukankah dia anak yang baik. Selalu nurut tiap aku nasihati, tidak pernah membantah? Tidak,ini tidak mungkin! ”Oh, masih hidup? Kenapa tidak kau cincang saja,Sur.Oh,apa kau menyisakan nyawanya untuk Emak?”
Ketidakpercayaan demi ketidakpercayaan membuat kepalaku terasa semakin pusing. Ulah Surga yang menurutku tidak masuk akal belum bisa kuterima.Tiba-tiba dengan senyuman sinis dan tatapan tajam Nurani menyembul dari balik pintu kamar.Sebilah pisau dapur setengah karatan juga terlihat digenggamnya dengan erat. Kenyataan apa ini? Aku benarbenar bisa gila! Nurani?!
Dendam apa Nurani denganku sampai-sampai dia berniat membunuhku. Bukankah dia selama ini istri yang...? Ini benar-benar konyol dan tak bisa kuterima! Jika aku punya salah kenapa dia tidak mengadu kepadaku.Bukankah itu lebih baik? ”Kalau mau,Mak,nyawanya aku sisakan untuk Emak.Aku hanya ingin memberinya pelajaran, Mak. Betapa sakitnya menjadi anak sepertiku. Harus hidup berteman dengan cacian dan hinaan,” getas Surga dengan geram.
Giginya terdengar gemeletuk saling beradu. Matanya yang memerah melelehkan air mata, terlihat tajam melumat bayanganku di dasarnya. Surga?! Sebegitu bencinyakah dia denganku? Padahal, kunamakan dia Surga ketika dia tujuh hari terlahir ke dunia dengan harapan menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orangtua. Sehingga di akhirat kelak bisa menggandeng kedua orangtuanya untuk masuk ke surga.Tapi kenapa?
”Bagus, Nak. Kalau begitu, aku jangan cuma disisakan nyawanya. Berilah sedikit celah di tubuhnya untuk menancapkan sebilah pisau dapurku ini yang tidak pernah mendapatkan mangsa daging darinya!” ujar Nurani dengan begitu geram. Guratanguratan wajahnya terlihat begitu bengis di mataku. ”Tunggu, tunggu! Ada apa dengan kalian berdua?!” aku menengadahkan kedua tangan berusaha untuk menghentikan mereka.
Darah yang mengucur deras dari kepalaku yang rekah tak kuhiraukan. Nurani dan Surga saling berpandangan. Kemudian mereka berdua sama-sama meringis.Tak lama kemudian mendengus. Muka mereka terlihat kembali bengis menghujam ke arahku.Seolah melumatku di tatapan bola mata mereka. Setelah mengangguk-anggukkan kepala berkali-kali, Surga dengan langkah cepat ke arahku,menebaskan celuritnya ke tangan kananku.
Disusul pisau dapur karatan milik Nurani langsung menancap di belahan dadaku yang kiri. Badanku langsung terkejang- kejang. Dengan tatapan remang kutangkap gambar mereka berdua, di bibirnya merekah sebuah senyum kemenangan. ***
”Tidaaak!” Aku terjingkat! Saat kudapatkan cahaya matahari mengenai mataku dari jendela kamar, aku segera tersadar kalau itu hanyalah mimpi.Aku segera menyeka keringat yang membasahi keningku dan menenangkannafaskuyangtersengal- sengal. Sesaat aku melayangkan pandangan ke samping, sudah tidak kudapatkan Nurani masih tidur di sana.
Di dinding,jam usang warisan bapak,kedua jarum jamnya berimpit menunjukkan pukul tujuh pagi.Spontan aku menerka pasti istriku sudah ke pasar untuk berjualan. Mataku kini tertambat ke arah pintu.Aku segera bergegas ke sana.Perlahan kubuka pintu itu dan kepala kulongokkan untuk melihat sekitar. Tiba-tiba terdengar sebuah seruan dari luar.
”Bapak...!” seru Surga dengan membawa parang di tangannya dari pekarangan rumah berlari ke arahku. Jgerrr! Seketika aku langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Nafasku tersengal naik turun. Gila! Benar-benar gila! Ternyata bukan hanya di mimpi.Surga memang benar dendam kepadaku. Ia ingin membunuhku. Ada apa ini? Brak,brak,brak! ”Pak, buka pintunya! Buka, Pak!” teriak Surga dari balik pintu sambil memukul-mukul daun pintu dengan keras.
Bulu kudukku terasa semakin merinding. Aku menggigil ketakutan. ”Tuhan,apa salahku?”lirihku dengan bibir gemetar. Perlahan kuseka keringat yang membasahi kening dengan punggung tangan. ”Buka,Pak! Bapak kenapa? Kenapa Bapak tadi teriak-teriak!?” Brak,brak,brak! Pikiranku benar-benar kalut.Tibatiba sekelebat aku teringat suatu kejadian yang sempat membuat hatiku miris.
Kejadiannya belum lama. Tetanggaku yang bernama Tarmi mati dibunuh oleh Zaenal—anaknya sendiri— hanya gara-gara tidak memberi uang saku untuk nonton konser di alun-alun Jumat kemarin. Karena geramnya, Zaenal melemparkan kampak di tangannya setelah dipakai untuk membelah kayu bakar tepat di kepala Tarmi. Batok kepalanya pun pecah menjadi dua, dan darah segar langsung mengucur dengan begitu derasnya. Di waktu kejadian, sebenarnya Warto—suami Tarmi—berada di sana.
Dia juga sempat ingin menyelamatkan istrinya.Tapi,justru dia dihadiahi batang kayu jati tepat di tengkuknya oleh Zaenal.Tarmi terkapar dengan kepala pecah menjadi dua bersimbah darah segar,sedangkan Warto meringkuk di atas bongkahan kayu tidak sadarkan diri. Seketika aku terkesiap! ”Pak,sepatuku rusak.Di sekolahan aku diejek teman-teman,” aduan Surga waktu makan semalam melayanglayang di otakku.
”Pak.Kenapa Bapak tidak beli motor saja.Mungkin akan lebih membuat Bapak berwibawa daripada naik sepeda. Selain itu kanaku bisa pinjam buat malam mingguan sama Siti.” ”Sur, gaji Bapak tidak seberapa sebagai guru tidak tetap.Untuk menghidupi keluarga saja pas-pasan.Mengertilah. Dalam keadaan seperti ini, hanyalah sabar yang bisa membuat kita senantiasa tetap bahagia.”
Walau kalimat nasihat itu begitu risih aku katakan, tapi bisa membuat Surga menundukkan kepala dalamdalam. Seolah dia merasa menyesal mengatakannya.Aku yakin di hatinya ada rasa tidak terima. Karena setiap kali ia mencoba mengadu, pasti aku akan mengulang kalimat itu sebagai jawabannya. Aku menelan ludah getir. Sedetik kemudian mataku membulat.Janganjangan, apa ini yang membuatnya dendam kepadaku? Brak,brak,brak! ”Pak...!”
Suara Surga masih terdengar jelas menggema di daun telingaku.Tangannya terdengar begitu ganas menggebrak daun pintu.Aku menggigit bibirku yang mengering.Lututku mulai lemas. Otot-otot kakiku tak berdaya.Perlahan aku terduduk di lantai. Dengan ketakutan yang mencekam aku memeluk kedua lutut dengan erat-erat.
Tak terasa kedua pipiku basah dengan air mata. Lama aku tergugu di bawah pintu kamar.Sudah tidak kudengar lagi teriakan Surga dari luar.Mungkin karena tidak kuhiraukan begitu saja teriakannya, dia jadi kelelahan sendiri.Tapi, belum sempat aku menghela nafas lega, terdengar lagi suara memanggilku dari balik pintu.Kali ini suara seorang wanita.
”Pak,ada apa Pak? Bapak kenapa? Kata Surga,Bapak tadi sempat teriakteriak. Ada apa,Pak? Buka pintu Pak, ini Nurani. Aku sudah pulang, Pak. Bukalah,Pak.” Nurani?! Setelah tahu suara itu milik istriku, aku urung untuk membukakan pintu. Pikiran buruk menyeruak di kepalaku. Aku yakin,walaupun suaranya terdengar halus, pasti dia berniat buruk terhadapku jika aku membukakan pintu.
”Pak,Yu Tutik, tetangga sebelah kita itu, tadi pagi baru saja dibelikan kalung sama Kardi lo. Dengar-dengar, Kardi membawakan uang banyak untuk Yu Tutik dari kota,”cerita Nurani semalam ketika menjelang tidur. Aku yakin,walaupun dia tidak mengatakan ingin dibelikan kalung,pasti sebenarnya dengan cerita itu dia bermaksud minta kepadaku.Tapi, mana mungkin aku bisa membelikannya dengan gajiku yang tak seberapa.Aku pun akhirnya memejamkan mata berusaha untuk cepat tidur.
”Pak, ada uang untuk menambah belanja.Sudah lama kita tidak makan daging. Mungkin sesekali kita perlu membeli daging Pak untuk menambah gizi Surga. Biar dia bisa cerdas” ujar Nurani meminta saat makan bersama sehari sebelumnya. Seketika tanganku terhenti ketika mau menyendok makanan di piring.
”Sudahlah, dinikmati saja yang ada. Dengan bersyukur, sesuatu akan terasa cukup. Lagi pula aku ini guru. Tahu apa yang sebenarnya membuat anak itu cerdas? Bukan makan bergizi semata, tapi belajar giat lebih berperan penting,”jawabku bijak waktu itu. Nurani tidak membantah. Dia hanya diam dan perlahan melahap makanannya lagi, walau terlihat tidak bersemangat.
Kerena itukah, ia membenciku? Apakah benar matanya menjadi gelap karenanya? Brak,brak,brak! ”Pak! Buka Pak!!! Ayo,buka! Bapak kenapa? Jangan buat aku pusing,Pak. Bapak jangan menambah susah kehidupan kita,Pak!” terdengar suara serak Nurani dari balik pintu. Aku masih memegang kedua lututku erat-erat, bergeming.Hanya mataku yang menampakkan sedikit binar harapan, ketika tertumbuk ke arah gunting yang tergolek di atas meja samping ranjang tidur.(*)
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA 14 JUNI 2008)
Sastra Cyber Babak Baru?
Ketika sebuah antologi puisi dari dunia maya,Graffiti Gratitud, diluncurkan di Jakarta beberapa waktu lalu, Medy Loekito, salah satu editornya, mengatakan bahwa sastra Indonesia memasuki babak baru.
Puisi yang terhimpun dalam antologi ini seluruhnya diambil dari jaringan internet, baik yang beredar di mailing-list (milis) ataupun situs-situs sastra. Mengapa disebut memasuki babak baru? Menurut Medy, karena proses penciptaan karya-karya penyair yang terhimpun di sini terasa lebih spontan dan demokratis, sesuai karakter yang dimunculkan oleh jaringan internet itu sendiri.
Babak baru yang dimaksudkannya lebih merujuk pada medium penciptaan, yakni jaringan maya, ketimbang pencapaian estetika baru. Memang harus diakui,bahwa spontanitas dan demokratisasi yang dibawa internet secara mengejutkan telah ”menciptakan” penyair-penyair baru dengan kualitas karya yang tak bisa dianggap enteng.
Sutan Iwan Soekri Munaf, editor yang lain, menunjukkan bagaimana internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru tersebut. Dia mencontohkan nama-nama macam Candra Malik,Teguh Pinang Setiawan, Loektamadji, Yono Wardito, yang karyanya boleh bersaing dengan karya penyair koran yang lebih senior.
Dalam medium konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair baru yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan nonteknis. Mereka harus ”bertarung”lebih dulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruangan yang ada.
Ruang Alternatif
Menarik apa yang dikatakan Saut Situmorang bahwa kelahiran sastrawan cyberIndonesia tak dapat dilepaskan dari kemunculan teknologi canggih internet dalam dunia komunikasi. Revolusi komunikasi yang dilakukan teknologi internet telah menciptakan ruang-ruang alternatif baru di luar dunia media massa cetak yang ada.
Revolusi ini sendiri sangat demokratis, siapa saja dapat menggunakannya.Ruangruang alternatif baru yang tercipta karena internet telah memungkinkan para penggunanya tidak berhenti hanya jadi pemakai yang pasif, seperti ketika seorang pembaca membaca koran, tapi sekaligus jadi pencipta message pada ruangruang tersebut.
Dialektika pencipta-pembaca- pencipta/pembacapencipta- pembaca dimungkinkan secara interaktif dalam ruang sastra di internet.Sebuah ruang atau situs sastra internet juga telah memungkinkan para pencipta karya sastra untuk sangat produktif mengumumkan karya-karyanya tanpa dihantui lagi oleh kecemasan traumatis bakal ”ditolak” oleh seorang ”polisi sastra” bernama editor atau redaktur.
Persoalannya sekarang, bagaimana soal mutu karya-karya sastra cyber Indonesia itu? Ahmadun Yosi Herfanda pernah mempertanyakan soal kualitas dan estetika karya-karya sastra internet ini. Menurut Ahmadun, penyebutan sastra cyber tentu mengundang beberapa pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Apakah sastra cyber yang dimaksud itu sebuah genre sastra atau sekadar menunjuk jenis media tempat karya itu disosialisasikan.
Apakah karya-karya sastra yang diambil dari media cyber dan diterbitkan dalam media cetak (buku) masih dapat disebut sebagai sastra cyber? Atau sebaliknya, apakah karya-karya sastra yang berasal dari media cetak kemudian diubah jadi teks elektronik dan dimasukkan ke media cyber lantas dapat disebut sebagai sastra cyber?
Ahmadun menunjukkan bahwa secara estetik karya-karya sastra cyber tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan yang dipublikasikan melalui media cetak.Tidak ada upaya untuk membangun tradisi sastra cyber dalam bentuk ”perjuangan estetik” guna membangun suatu anutan puitik yang berbeda dengan anutan puitik yang tumbuh di media cetak.
Agaknya media digital hanya dimanfaatkan sebagai media alternatif sosialisasi karya sastra.Bahkan media cyber ternyata hanya sekadar dijadikan sebagai sarana ”tayang ulang” (resosialisai) karya-karya sastrawan yang pernah dipublikasikan melalui media cetak. Ia sekadar dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan wilayah sosialisasi agar mengglobal melampaui batas-batas negara.
Dengan agak sarkastis,Ahmadun bahkan menyebut bahwa selebihnya media cybercenderung hanya diperlakukan sebagai ”tong sampah” karya-karya yang tidak tertampung— untuk tidak mengatakan ”ditolak”—oleh media sastra cetak. Tetapi memang begitulah kecenderungan makro tradisi sastra cyberyang tampak di permukaan, yang tertayang pada situs-situs sastra ternama.
Mengingat sifatnya, sebenarnya media cyber membuka ruang yang luas bagi tumbuhnya sastra alternatif (baca: puisi alternatif) yang ”memberontak” terhadap kemapanan estetika yang lazim, dan bukan hanya menjadi media duplikasi dari tradisi sastra cetak.
Di sanalah tempat bagi semangat dan kebebasan kreatif,seliar-liarnya sekalipun, yang selama ini tidak mendapat tempat selayaknya di media sastra cetak, baik di rubrik sastra koran, majalah sastra, maupun antologi sajak. Jika para redaktur media sastra cetak—karena berbagai tuntutan kelaziman—menjadi konservatif dalam memilih karyakarya yang dimuat, maka media sastra cyber-lah ruang alternatif bagi para sastrawan yang ingin menemukan kebebasan sejatinya dalam berkreasi.
Tetapi, bagaimana jika redaktur sastra media cyber juga bersikap konservatif dalam memilih karya karena sekadar memindah tradisi sastra cetak ke sastra cyber? Para sastrawan dapat membuat home page sendiri dan memasukkan puisi macam apa saja ke dalamnya. Jika malas mengelola home page sendiri, masih ada mailing-list di e- Groups—juga di Cybersastra.Net— yang bisa menjadi ”truk besar” bagi karya-karya siapa saja dan macam apa saja.
Selain menyediakan ruang terbuka bagi kebebasan estetik dan tematik, media cyber juga membuka berbagai alternatif penyajian karya sastra (puisi). Sayang, potensi yang dimiliki sastra cyber tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh para pelakunya. Babak baru sastra yang pernah dilontar Medy Loekito ternyata hanya berhenti sebagai wacana.(*)
Gunoto Saparie,
Penyair dan Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Tengah
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 14 JUNI 2008)
Sastra Cyber Babak Baru?
Ketika sebuah antologi puisi dari dunia maya,Graffiti Gratitud, diluncurkan di Jakarta beberapa waktu lalu, Medy Loekito, salah satu editornya, mengatakan bahwa sastra Indonesia memasuki babak baru.
Puisi yang terhimpun dalam antologi ini seluruhnya diambil dari jaringan internet, baik yang beredar di mailing-list (milis) ataupun situs-situs sastra. Mengapa disebut memasuki babak baru? Menurut Medy, karena proses penciptaan karya-karya penyair yang terhimpun di sini terasa lebih spontan dan demokratis, sesuai karakter yang dimunculkan oleh jaringan internet itu sendiri.
Babak baru yang dimaksudkannya lebih merujuk pada medium penciptaan, yakni jaringan maya, ketimbang pencapaian estetika baru. Memang harus diakui,bahwa spontanitas dan demokratisasi yang dibawa internet secara mengejutkan telah ”menciptakan” penyair-penyair baru dengan kualitas karya yang tak bisa dianggap enteng.
Sutan Iwan Soekri Munaf, editor yang lain, menunjukkan bagaimana internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru tersebut. Dia mencontohkan nama-nama macam Candra Malik,Teguh Pinang Setiawan, Loektamadji, Yono Wardito, yang karyanya boleh bersaing dengan karya penyair koran yang lebih senior.
Dalam medium konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair baru yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan nonteknis. Mereka harus ”bertarung”lebih dulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruangan yang ada.
Ruang Alternatif
Menarik apa yang dikatakan Saut Situmorang bahwa kelahiran sastrawan cyberIndonesia tak dapat dilepaskan dari kemunculan teknologi canggih internet dalam dunia komunikasi. Revolusi komunikasi yang dilakukan teknologi internet telah menciptakan ruang-ruang alternatif baru di luar dunia media massa cetak yang ada.
Revolusi ini sendiri sangat demokratis, siapa saja dapat menggunakannya.Ruangruang alternatif baru yang tercipta karena internet telah memungkinkan para penggunanya tidak berhenti hanya jadi pemakai yang pasif, seperti ketika seorang pembaca membaca koran, tapi sekaligus jadi pencipta message pada ruangruang tersebut.
Dialektika pencipta-pembaca- pencipta/pembacapencipta- pembaca dimungkinkan secara interaktif dalam ruang sastra di internet.Sebuah ruang atau situs sastra internet juga telah memungkinkan para pencipta karya sastra untuk sangat produktif mengumumkan karya-karyanya tanpa dihantui lagi oleh kecemasan traumatis bakal ”ditolak” oleh seorang ”polisi sastra” bernama editor atau redaktur.
Persoalannya sekarang, bagaimana soal mutu karya-karya sastra cyber Indonesia itu? Ahmadun Yosi Herfanda pernah mempertanyakan soal kualitas dan estetika karya-karya sastra internet ini. Menurut Ahmadun, penyebutan sastra cyber tentu mengundang beberapa pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Apakah sastra cyber yang dimaksud itu sebuah genre sastra atau sekadar menunjuk jenis media tempat karya itu disosialisasikan.
Apakah karya-karya sastra yang diambil dari media cyber dan diterbitkan dalam media cetak (buku) masih dapat disebut sebagai sastra cyber? Atau sebaliknya, apakah karya-karya sastra yang berasal dari media cetak kemudian diubah jadi teks elektronik dan dimasukkan ke media cyber lantas dapat disebut sebagai sastra cyber?
Ahmadun menunjukkan bahwa secara estetik karya-karya sastra cyber tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan yang dipublikasikan melalui media cetak.Tidak ada upaya untuk membangun tradisi sastra cyber dalam bentuk ”perjuangan estetik” guna membangun suatu anutan puitik yang berbeda dengan anutan puitik yang tumbuh di media cetak.
Agaknya media digital hanya dimanfaatkan sebagai media alternatif sosialisasi karya sastra.Bahkan media cyber ternyata hanya sekadar dijadikan sebagai sarana ”tayang ulang” (resosialisai) karya-karya sastrawan yang pernah dipublikasikan melalui media cetak. Ia sekadar dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan wilayah sosialisasi agar mengglobal melampaui batas-batas negara.
Dengan agak sarkastis,Ahmadun bahkan menyebut bahwa selebihnya media cybercenderung hanya diperlakukan sebagai ”tong sampah” karya-karya yang tidak tertampung— untuk tidak mengatakan ”ditolak”—oleh media sastra cetak. Tetapi memang begitulah kecenderungan makro tradisi sastra cyberyang tampak di permukaan, yang tertayang pada situs-situs sastra ternama.
Mengingat sifatnya, sebenarnya media cyber membuka ruang yang luas bagi tumbuhnya sastra alternatif (baca: puisi alternatif) yang ”memberontak” terhadap kemapanan estetika yang lazim, dan bukan hanya menjadi media duplikasi dari tradisi sastra cetak.
Di sanalah tempat bagi semangat dan kebebasan kreatif,seliar-liarnya sekalipun, yang selama ini tidak mendapat tempat selayaknya di media sastra cetak, baik di rubrik sastra koran, majalah sastra, maupun antologi sajak. Jika para redaktur media sastra cetak—karena berbagai tuntutan kelaziman—menjadi konservatif dalam memilih karyakarya yang dimuat, maka media sastra cyber-lah ruang alternatif bagi para sastrawan yang ingin menemukan kebebasan sejatinya dalam berkreasi.
Tetapi, bagaimana jika redaktur sastra media cyber juga bersikap konservatif dalam memilih karya karena sekadar memindah tradisi sastra cetak ke sastra cyber? Para sastrawan dapat membuat home page sendiri dan memasukkan puisi macam apa saja ke dalamnya. Jika malas mengelola home page sendiri, masih ada mailing-list di e- Groups—juga di Cybersastra.Net— yang bisa menjadi ”truk besar” bagi karya-karya siapa saja dan macam apa saja.
Selain menyediakan ruang terbuka bagi kebebasan estetik dan tematik, media cyber juga membuka berbagai alternatif penyajian karya sastra (puisi). Sayang, potensi yang dimiliki sastra cyber tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh para pelakunya. Babak baru sastra yang pernah dilontar Medy Loekito ternyata hanya berhenti sebagai wacana.(*)
Gunoto Saparie,
Penyair dan Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Tengah
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 14 JUNI 2008)
Status Ontologis Bahasa (Tanggapan untuk Rikobidik)
Status ontologis bahasa adalah puisi.Namun puisi di sini dipahami sebagai ketakteraturan, permainan dan bahasa sebagai mantra.
Tanggapan Rikobidik (SINDO, 1 Juni 2008) terhadap Yunit Permadi tidak mengenai sasaran. Karena apa yang dituturkan oleh Yunit sebenarnya bukanlah sebuah penyeruan terhadap penyatuan bahasa, seperti yang diungkapkan oleh Rikobidik, tetapi lebih sebuah eksplorasi mengenai hakikat ontologis dari bahasa.
Beranjak dari pemikiran Witgenstein II, tulisan Yunit bukanlah sebuah ”ambisi untuk menyeragamkan sebuah ragam tertentu (puisi) untuk semua ragam bahasa”, tetapi sebuah deskripsi mengenai ontologi bahasa. Seperti dikatakan Unit, status ontologis bahasa itu sebenarnya adalah puisi.Tetapi puisi di sini janganlah dianggap sebagai puisi seperti yang kita kenal.Lebih dari itu, puisi di sini dimengerti sebagai ketakteraturan, permainan, dan bahasa sebagai mantra.
Status bahasa sebagai puisi ini dapat kita buktikan dengan beragam pola tata permainan bahasa dalam dunia kehidupan. Di sinilah kontekstualitas Yunit berpijak pada teori Wittgenstein. Banyaknya pola permainan bahasa dalam kelompok-kelompok tertentu menggambarkan bahwa status ontologis bahasa adalah permainan, bukan sesuatu yang dirujuk oleh bahasa.
Bahwa semua tata permainan bahasa itu dilandaskan pada status ontologis bahasa sebagai puisi. Memang benar makna bahasa adalah penggunaannya dalam hidup dan majemuknya tata permainan bahasa dalam hidup. Benar apa yang diungkapkan oleh Rikobidik, ”Bahasa sehari-hari adalah alat untuk menampilkan kehidupan itu sendiri. Malahan, penggunaan bahasa secara berbeda oleh komunitas masyarakat tertentu menunjukkan kepada kita bahwa sebuah makna kata merujuk kepada nilai-nilai dalam kehidupan.
”Tetapi pertanyaan Yunit jauh melebihi itu. Pertanyaan Yunit adalah: status ontologis bahasa seperti apa yang melandasi semua keragaman bentuk-bentuk permainan bahasa itu? Kalau tata permainan bahasa itu bermacam-macam, maka apa hakikat dasar bahasa yang bermacam- macam tersebut? Hakikat bahasa macam apakah yang dapat dilekatkan pada semua tata permainan bahasa yang diungkapkan oleh Wittgenstein itu? Jawabannya jelas, yaitu puisi.
Puisilah sebenarnya hakikat ontologis bahasa yang melekat pada semua bentuk tata permainan bahasa itu. Adanya berbagai bentuk tata permainan bahasa juga mengisyaratkan bahwa bahasa-bahasa itu bukanlah sesuatu yang stabil.Tata permainan bahasa yang digunakan komunitas tertentu, yang menunjukkan kehidupan tertentu, pada awalnya adalah bahasa puisi.
Itulah yang ingin dikatakan Yunit.Pada awalnya, tata permainan bahasa yang digunakan dalam kehidupan seharihari itu juga adalah puisi. Persis yang Sutardji Calzoum Bachri katakan,bahwa pada awalnya adalah mantra. Entah dalam bentuk apa pun bahasa itu. Entah bahasa dalam ilmu-ilmu positivistik atau dalam seni. Bentuk positivisme bahasa itu hanya terjadi dalam kegunaannya, bukan dalam status ontologis bahasa. Yang menjadi persoalan Yunit adalah status ontologis dari bahasa itu.
Di sini Yunit tidak bicara mengenai Wittgenstein an sich,tetapi hanya menjadikan pikiran Wittgensein sebagai titik tolak. Di sinilah Rikobidik keliru dalam memahami tulisan Yunit Permadi. Ia tak dapat memahami inti tulisan itu. Seperti Yunit,apa yang dikatakan mengenai Wittgenstein adalah benar.
Perbedaannya, kalau Rikobidik memahami Wittsgensein secara tekstual, Yunit Permadi menjadikan pemikiran Wittgenstein II itu sebagai titik tolak untuk menunjukkan status ontologis bahasa sebagai puisi. Kalau Rikobidik berhenti pada tata permainan bahasa dalam berbagai bentuk kehidupan sebagai status ontologis bahasa,Yunit lebih jauh ingin melihat apa status ontologis tata permainan bahasa dalam berbagai bentuk kehidupan itu.
Untuk mendukung argumentasinya, Yunit juga meminjam pemikiran Martin Heidegger mengenai bahasa. Di sinilah tesis bahwa pada awalnya bahasa adalah puisi mendapat status legitimasi yang kokoh.Tampak bahwa yang menjadi problematika utama dalam tulisan itu adalah usaha pencarian terhadap status ontologis dari bahasa.
Selanjutnya, pada tanggapannya atas Yunit, Rikobidik membedakan antara realitas dan kehidupan. Dia mengkritik Yunit keliru dalam memahami status ontologis bahasa menurut Wittgenstein. Dia berpendapat, ” Bahasa sehari-hari,dengan demikian, bukan alat untuk menampilkan realitas, melainkan menampilkan kehidupan itu sendiri. Malahan, penggunaan bahasa secara berbeda oleh komunitas masyarakat tertentu menunjukkan kepada kita bahwa sebuah makna kata merujuk kepada nilainilai dalam kehidupan.”
Dalam kalimat itu Rikobidik membedakan antara realitas dan kehidupan. Sungguh suatu kekeliruan epistemologis bila memisahkan antara keduanya. Apa yang dimaksud dengan realitas cakupannya luas. Secara etimologis realitas itu dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada. Itu adalah realitas. Segala sesuatu yang ada itu bisa dinamakan sebagai realitas, termasuk kehidupan.
Kehidupan dapat dipandang juga sebagai realitas. Realitas jangan dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar kehidupan,kehidupan itu sendiri adalah realitas.Wittgenstein malah menyatakan bahwa realitas hanya bisa terungkap lewat bahasa.
Di sinilah saya malah menemukan apa yang dikatakan oleh Rikobidik sebagai kekeliruan epistemologis.Perlu dijelaskan di sini bahwa istilah kekeliruan epistemologis digunakan oleh Rikobidik tidak pada tempatnya. Apa yang dimaksud dengan kekeliruan epistemologis adalah kekeliruan dalam menggunakan kerangka berpikir.Misalnya seperti tadi: membedakan antara realitas dan kehidupan. Itu adalah kekeliruan epistemologis, karena sebenarnya kehidupan itu adalah bagian dari realitas.
Bila Yunit misalnya keliru dalam memahami Wittgenstein, cukuplah dinyatakan bahwa ia salah tafsir atau keliru dalam menafsirkan Wittgenstein, tidak termasuk dalam kategori kekeliruan epistemologis. Kemudian juga istilah yang digunakan oleh Rikobidik, yaitu istilah aspek ontologis bahasa. Dia menulis, ”Dalam soal ini pun Yunit keliru dalam memahami aspek ontologis bahasa menurut Wittgenstein II.”
Kalau Rikobidik ingin konsisten dengan Wittgenstein, seharusnya dia tidak menggunakan istilah aspek ontologis dari bahasa. Karena seperti kita ketahui,Wittgenstein adalah filsuf yang curiga dengan istilah-istilah bahasa seperti itu.Wittgenstein adalah filsuf yang tidak bicara mengenai hal-hal yang tak dapat dikatakan, dan bahasanya jauh seperti yang digunakan oleh para filsuf metafisika seperti Martin Heidegger yang memang berpikir tentang metafisika dan ontologi.
Di dalam buku-buku Tractatus Logico-Philosophicus atau Philosophical Investigations,Wittgenstein tidak pernah menggunakan istilah aspek ontologis bahasa.Ia adalah filsuf yang menghindari bahasa-bahasa seperti metafisika,juga ontologi,yang menurut Wittgenstein sulit untuk diperiksa. Di sini Rikobidik tidak menempatkan pemikiran Wittgenstein secara tepat.(*)
A. Boy-Mahromi,
Pegiat di Forum Muda Paramadina dan ICIP.
(DIMUAT DI SEPUTAR INDONESIA, 14 JUNI 2008)
Sajak-Sajak R. AM. Haryadi Salim
Langit merekah menyiramkan
Cahaya senja
Menyampaikan salam kehidupan
Memoles pesona ranum bau tanah
Perawan pedesaan
Membangunkan bunga-bunga bangsa
Dari mimpi lelapnya
Tanpa cakap, tanpa tanya
Udara pagi pun menyongsong
Kelahiran makna hidup
Mengubur kemewahan
Membangkitkan nafas sahaja
Dengan tawa dan canda jenaka
Menggantungkan cita-cita
Di atas cakrawala
Sawah-sawah menanti siap digarap
Dada telanjang sambil melenggang
Berkacak pinggang
Mereka berjingkrak bernyanyi:
Naik-naik jabatan tinggi
Nikmati nikmat sekali
Kanan uang, kiri uang
Di depan harapan membentang
Dukamu di televisi
Menyaksikan dukamu terpampang di televisi
Langit mengarak mendung kelabu
kesedihan menancapkan ujungnya
Yang runcing di hati
Menanggalkan luka mengharu biru
Hari-hari meratapi punggung bumi
Tertusuk api dan di bara api
Angin mengiris, aku meringis
Senapan jadi barang mainan
Tak ada bisa dipertahankan
Hilang tanah sejengkal
Mengurangi jatah segumpal
Kehidupan mendatangkan ajal
Matahari dikebiri hilang berperi
- *) R AM Haryadi Salim, tinggal di Jl KS Tubun No 39, Semarang
(DIMUAT DI SOLO POS 15 JUNI 2008)
Mbak Mi
Mbak Mi, begitulah kami sekeluarga biasa memanggil pembantu rumah tangga kami itu, eh, maksudku pekerja rumah tangga.
Ya, bukankah istilah pekerja rumah tangga belakangan ini lebih sering dianjurkan untuk digunakan bagi orang yang bekerja di wilayah rumah tangga? Istilah tersebut menurut para penganjurnya lebih manusiawi dan mengandung penghargaan.
Menarik juga, kami sekeluarga setuju itu. Hampir 20 tahun, Mbak Mi bekerja pada keluargaku, kami memperlakukan dia secara baik. Ayahku, Raden Mas Haryo Pangapuro, telah bertitah pada sebuah pertemuan keluarga beberapa tahun silam, ketika kali pertama Mbak Mi menginjakkan kaki di rumah kami. Beliau mengeluarkan maklumat bahwa Mbak Mi adalah seorang pekerja profesional di wilayah kerumahtanggaan.
Ayahku ningrat tulen. Darah biru mengalir dalam dirinya dari para nenek moyangnya yang menurut beliau adalah para Senopati Mataram di zaman Panembahan Senopati. Tetapi keningratannya tidak menghalangi selalu berpikir maju dan mengusung nilai kemanusiaan.
Mbak Mi dan keluarga kami sudah saling mencintai. Namun kami dibuat kaget ketika Mbak Mi menyatakan mengundurkan diri beberapa bulan lalu. Kami semua merasa kehilangan. Kebetulan saat itu aku sedang berlibur di Indonesia, sebab aku memperoleh cuti dari perusahaan tempat aku bekerja di Amerika. Dua kakakku yang masing-masing tinggal di Medan dan Bandung sampai menyempatkan diri pulang ke Solo demi peristiwa mengejutkan ini.
****
Sebelumnya Ayahku memang sudah menerima permohonan pengunduran diri Mbak Mi. Tetapi ia meminta waktu untuk menjawab permohonan tersebut, sebab ia ingin mengumpulkan seluruh anggota keluaraga.
Semua berada di ruang keluarga, terdiam menantikan perkataan Ayah. Aku dan kakak-kakakku tertunduk. Ibu saja yang tampak gelisah, sesekali menatap Ayah. Mbak Mi juga duduk tenang. Kini perempuan itu sudah tidak tampak muda lagi. Tapi kewibawaan masih terpancar dari wajahnya.
Sungguh sebuah kebahagiaan buat anak manapun yang memiliki ibu seperti dia. Tapi siapa anak yang bahagia itu? Kami sekeluarga tak pernah tahu persoalan anak atau suami dari Mbak Mi. Sejak awal, perempuan ini meminta kepada kami sekeluarga untuk tidak mempersoalkan atau menanyakan hal itu kepadanya. Ia sosok misterius berkaitan dengan pribadinya. Satu hal yang aku tahu berkaitan dengan pribadinya adalah namanya. Mbak Mi memiliki nama lengkap Sumiarsih. Itu saja.
”Jadi kamu benar-benar tidak ada masalah di sini kan, Mi?” tanya Ayah.
”Tidak ada sama sekali Den,” jawab Mbak Mi.
”Dan kamu sudah mantap dengan keputusanmu?”
”Begitulah, Den.”
Ayah menarik napas panjang. Ia berdiri dan kami semua juga berdiri. Satu persatu kami memeluk Mbak Mi. Kami semua meneteskan air mata. Ibu kelihatan paling bersedih. Ia menangis sesenggukan dan memeluk erat-erat perempuan itu. Mata Mbak Mi juga berkaca-kaca, tetapi wajahnya tampak tegar.
Ia diantar ke terminal bus dengan mobil oleh sopir kami. Mbak Mi berpamitan pulang ke rumah orang tuanya di desa. Mbak Mi berkata bahwa ia ingin menghabiskan hari tuanya di sana.
****
Rasa pedot katresnan belum hilang dari batinku, ketika tiba-tiba tengah malam aku terbangun di apartementu di kawasan East Vilage, Manhattan. Teleponku berdering dan ketika aku angkat terdengar suara yang sangat aku kenal di ujung sana.
”Dimas, ada kabar duka ngger”, suara bergetar dari Ayahku di Solo.
Aku mengernyitkan dahi dan dadaku berdetak keras. Rasa kantukku langsung hilang sama sekali. ”Siapa? Apa? Maksudnya kabar duka?”
”Mbak Mi!”
”Mbak Mi?”
”Semalam dia ditemukan tewas di sebuah penginapan di Jakarta.”
”Kenapa sampai di Jakarta? Bukankah dia ada di desa?”
”Dia bukan pulang ke desa. Dia ternyata pergi ke Jakarta.”
Untuk apa?”
”Mencari pria yang juga ditemukan terbunuh bersama-sama dengannya.”
”Pria? Terbunuh?”
”Sejak lama dia memang berencana melampiaskan dendam kepada pria itu. Tetapi rupanya terjadi perlawanan. Akhirnya keduanya terluka parah dan nyawa mereka tidak tertolong.”
”Siapa pria itu?”
”Sebelum kerja di tempat kita. Mbak Mi jadi TKW. Di sana dia mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari majikan laki-lakinya hingga ia hamil. Majikan laki-laki itu memberi Mbak Mi dua pilihan, yaitu dia tetap boleh bekerja padanya asal kandungannya digugurkan atau dia diusir pergi. Mbak Mi memilih pergi pulang ke desanya sambil melahirkan bayi yang dikandungnya. Tapi sayang, bayi yang dilahirkan itu tidak berumur panjang. Ya, maklum saja, kondisi perekonomian membuatnya sulit memelihara bayi dengan baik. Bayi itu sakit-sakitan dan kemudian meninggal dunia.”
Aku tertegun mendengar kisah dari ayah. Aku seperti melihat gambar-gambar suram dari kata-kata yang meluncur dari mulut ayah.
”Dan Laki-laki itu...”
”Mbak Mi sudah menantikan kedatangannya di sini sejak 20 tahun lalu. Laki-laki itu seorang pengusaha yang sering melakukan bisnis di beberapa negara di Asia, termasuk di sini.”
Wajah Mbak Mi terbayang di benakku. Perempuan itu telah begitu tekun memelihara dendamnya hingga puluhan tahun.
- Cerpen: YE Marstyanto
(DIMUAT DI SOLO POS, 15 JUNI 2008)
Mencari Bentuk Kritik Sastra
Perdebatan dan perkembangan kritik sastra menunjukkan perkembangan studi sastra perlahan-lahan dan pasti sedang bertransformasi untuk menentukan bentuknya kembali.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah kritik sastra di Indonesia ini telah menemukan bentuk dan semangatnya?
Rahmat Djoko Pradopo (1984) dalam disertasinya Kritik Sastra Indonesia Modern telah memaparkan sejarah kritik sastra di Indonesia. Pradopo dalam mengategorikan kritik berpegang pada teori romantik yang dikenalkan M H Abrams. Akhirnya, model ini banyak diikuti kritikus di Indonesia, khususnya aliran akademis hingga saat ini. Jika melihat beberapa tulisan dari Budi Darma (1995), persoalan yang muncul adalah apakah paradigma tersebut masih relevan jika dikembangkan di dunia akademis kita? Apakah paradigma yang dianut oleh dunia akademis kritik sastra kita saat ini sudah sesuai dengan bentuk dan Zeitgeist-nya. Buku Ignas Kleden (2004), Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan, menurut saya merupakan contoh kritik sastra terapan yang sangat bagus yang sadar paradigma.
Kritik membutuhkan teori dan teori sesungguhnya hanya berperan sebagai alat bantu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Kemenangan kaum fenomenologi pada kritik sastra ikut memengaruhi selera estetik hingga berdampak pada sistem penilaian, yakni apakah sastra (karya sastra) itu bernilai estetik atau tidak. Jika kita mengikuti pemahaman tradisi hermeneutik modern dan fenomenologis, peran penafsir, pembaca, dan juga kritikus bergerak dari sifat obyektif menuju posisi intersubyektif kemudian menjadi subyektif lagi. Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan bagi kita semua yakni, bagaimanakah posisi teori sastra itu sendiri?
Keberadaan teori sastra menjadi kabur, kaku, dan sebagai hakim yang menentukan bernilai estetik atau tidaknya suatu karya. Teori sastra menjadi ”dewa” dalam memberi pengadilan pada karya. Kondisi ini telah melupakan dan mengasingkan hakikat kehadiran karya itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan teori sastra sebagai ”alat mekanik” atau ”estetik mesin”.
Melihat inter-relasi hadirnya karya, muncul tiga konsep yang berinteraksi dalam satu lingkaran yakni karya, pembaca, dan pengarang. Ketiga komponen tersebut merupakan satu dialog. Pemisahan terhadap komponen yang satu dengan yang lain merupakan ciri kritik sastra kita yang menurut sudah tidak relevan. Namun, amat bermasalah jika menggabungkan antarkedudukan komponen tersebut tanpa mempertimbangkan konsep-konsep teori yang tentu saja mengandungi paradigma yang berbeda. Hal ini menurut saya akan menghasilkan kritik gado-gado yang kehilangan selera dan rasa. Tapi, mengapa kita masih mengikuti tradisi itu?
Jika melihat perkembangan dalam dunia kritik sastra, kita mengenal konsep formalisme, strukturalisme, Marxis, pasca-Marxis, dan pascastrukturalisme, termasuk pascamodern. Kaum formalis membatasi kritik pada level tekstual dan teknik-metodelogis. Strukturalisme ternyata telah melakukan pembunuhan terhadap subyek dalam menerapkan kritiknya. Pascastruktural hanya menjadikan kritik sebagai wacana, reproduksi makna, melakukan decentering terhadap logosentris, dekontruksi terhadap struktur, dan melakukan strukturasi sehingga melakukan penngrusakan struktur dan melampaui struktur itu sendiri. Pasca-Marxis berusaha membangkitkan subyek yang terbunuh oleh struktrualisme dalam relasi kelas dalam mana subyek tersebut dijadikan sebagai penyalur berbagai subyek imajiner dalam pembangunan suatu wacana.
Semua kritik sastra yang bersumber pada teori sastra tersebut gagal menjawab hubungan inter-relasi pada hakikat kehadiran atau terciptanya satu karya seni (sastra). Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengatasi kegagalan tersebut?
Pertanyaan yang belum mampu dijawab oleh kritik sastra dan teori sastra kita itu masih ditambah dengan perkembangan selera dan ekspresi manusia dalam bersastra yang mencapai taraf ketidakpercayaan, permainan, dan kehausan. Kritik yang berkembang pada periode selanjutnya adalah ”studi”. Embrio tersebut sesungguhnya telah ada dalam studi lanjut bidang ilmu sastra, yakni Studi Sastra Banding.
Perkembangan tersebut direspons dengan muncul kritik sastra yang bernama ”Kajian Budaya”.
Istilah kajian budaya atau culture studies ini merupakan istilah yang rumit dan kompleks. Kajian ini (kritik) berbeda dengan kajian sastra Pasca-Marxis. Tujuan dari pendekatan ini tidak lain untuk mengungkapkan kompleksitas inter-relasi hadirnya obyek karya dengan proses yang berlangsung dalam pengkonstruksian nilai estetik suatu karya. Pendekatan ini akhirnya jatuh pada pembuktian konstruktif dari teori sastra dan kritik sastra sebelumnya. Inilah kegagalan kajian budaya dan mengapa kajian budaya terus digunakan?
Melani Budianta (2002) menyebutkan istilah kunci untuk kajian (sastra). Pertama, genealogi atau sejarah asal-muasal yang menelusuri teori-teori budaya dari Mathew Arnold hingga teori pascamodern. Kedua, aneka ragam kajian budaya kontemporer dengan teori dan pendekatan yang berbeda. Ketiga, sejumlah konotasi tentang agenda dan orientasi sekelompok ilmuwan yang tidak dibahas secara koheren dan eksplisit.
Kritik sastra yang berpedoman pada kajian budaya tersebut pada akhirnya jatuh pada pembuktian konstruksi estetik semata. Paradigma yang terakhir dalam dunia kritik sastra atau teori sastra sejak zaman romantik Inggris, formalis, strukturalisme, hermeutik, pasca-Marxis, pascastrukturalis, pascamodern dan culture studies atau dari abad XX hingga XXI telah menunjukkan kelemahan dan kegagalan dalam mendekati dan membaca karya sastra.
Pendekatan kritis menawarkan satu teori sastra yang membongkar wacana kritik itu sendiri. Menurutnya, kritik sastra adalah konstruksi dari bagian dalam pembentukan subyek dan realitas sehingga terlibat pada kepentingan tertentu, baik politik dan ekonomi. Kritik sastra, teori sastra dan sejarah sastra harus mengenali dan mengakui subyektivitasnya sendiri. Obyektivitas dalam bentuk apapun tidak akan tercapai dalam inter-relasi kehadiran karya itu sendiri.
Ilmu sastra yang meliputi teori, kritik, sejarah dan sastra bandingan sesungguhnya harus melepaskan dirinya dari strukturisasi dan konstruksi. Ilmu sastra harus mengambil posisi bersifat murni dan kritis terhadap kekuatan hegemonik yang dihadapi.
Keadaan ini seharusnya diperhatikan untuk peneliti, pembelajar dan pengajar atau profesor sastra dan linguistik/bahasa untuk direnungkan kembali kekuatan hegemonik apa yang berada dan bersembunyi di balik ilmu yang mereka agung-agungkan dan mereka pelajari serta ajarkan. Jika tidak, betapa mereka yang telah menjadi budak yang bodoh dan tukang yang tak bernama, selayaknya kita merenungkan satu pernyataan dari Spivak berikut ini: ”Tanpa menghadapkan pandangan kita ke Barat, kita tidak mungkin menjadi seorang intelektual”. Wahai para pakar sastra, apakah demikian adanya?
- *) Dwi Susanto, mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.
(DIMUAT DI SOLO POS, 15 JUNI 2008)
11 Juni 2008
PENGUMUMAN ARTIKEL INSPIRATIF DAN PUISI TERPILIH UNTUK BUKU ANTOLOGI ESKA
Sahabat-sahabat di mana saja berada terutama sahabat-sahabat Eska, alhamdulillah, setelah melalui penjurian dan penilaian seluruh artikel inspiratif dan puisi yang masuk ke Panitia, dan juga setelah melalui berbagai diskusi dan pertimbangan tim juri dan Panitia Buku Antologi Sekolah Kehidupan, akhirnya telah terpilih sebanyak 19 (sembilan belas) artikel inspiratif dan 31 (tiga puluh satu) puisi untuk Buku Antologi Sekolah Kehidupan.
Terima kasih banyak sebelumnya kami haturkan bagi sahabat-sahabat semua yang telah mengirimkan naskahnya untuk Buku Antologi ini. Launching buku ini insya Allah akan diselenggarakan pada perayaan Milad Sekolah Kehidupan yang kedua pada 27 Juli 2008 mendatang.
Secara umum, kualitas tulisan yang masuk berada di level rata-rata. Namun ada beberapa yang karena kekuatan tema, dan keunikan gaya bahasa, membuat tulisan-tulisan tersebut layak untuk diterbitkan. Yang menjadi indikator penilaian adalah substansi cerita, gaya bertutur, dan kekuatan tema.
Dan inilah hasil lengkap artikel-artikel inspiratif dan puisi yang terpilih:
Artikel-artikel inspiratif yang terpilih:
1) 7.500 rupiah (Asma Sembiring)
2) Ibu (Arham Kendari)
3) Love Miracle From The Andes (Syafa'atus Syarifah)
4) Kekayaan Berharga (Catur Catriks)
5) Mimpiku Di Sengatta (Sismanto)
6) Nikmat-Nya Yang Tak Terhingga (Novi Khansa)
7) Lin, Aku Belajar Banyak Darimu (Setta)
8) Aku Sayang Ibu (Yudhi Mulianto)
9) Pelajaran Menulis (Retnadi Nur'aini)
10) Ksatria Hingga Senja (Hamasah Putri)
11) Trouble Maker (Benny Oktaviano)
12) Cerita Di Balik Rumah Kopel (Ichen Zr)
13) Kekuatan Sang Pemimpi (Jenny Jusuf)
14) Bersahabat Dengan Alam (Siu Elha)
15) Nasi Goreng (Lia Octavia)
16) Rindu Abah (Fely Hilman)
17) Ketika Mempertanyakan Cinta (Febty Febrianti)
18) Menambal Hati (St Fatimah)
19) Satu Rindu (Listya Arisanti)
Puisi-Puisi yang terpilih:
1) Adalah Niskala Dalam Setiap Harapku (Dani Ardiansyah)
2) Pulang (Novi Khansa)
3) Kepada Laila (Nia Robie)
4) Lukisan (Ain Nisa)
5) Bocah Debu (Divin Nabb)
6) Rasa Yang Membunuh (Penuliz Mizteriuz)
7) Hati Yang Bergolak (Regantini Salsabila)
8) Aku Adalah Sebongkah Batu (Andhini Putri)
9) Sebuah Penyadaran (Lukman Hadi)
10) Tak Cukup (Candrawali)
11) Asaku Mengukir Senja (Rachmad Jr)
12) Bulir Kebeningan (Lanny Megasari)
13) Mujahid Kecil Kami (Bu Has)
14) Sidoarjo Mengemis (Nana S)
15) Menggenggam Cahaya (Lia Octavia)
16) Terkadang (Wildan Fikri)
17) Jika Kuntum Tak Lagi Mekar I (Sayyid Madany Syani)
18) Untuk Ayah (Meyla Farid)
19) Bayang-Bayang! (Dyah Zakiati)
20) If God Was One Of Us (Retnadi Nur'aini)
21) Penyair Padi (Epri Tsaqib)
22) Menuju Tak Terkenang (Arrizki Abidin)
23) Seratus Purnama (Lilyani Taurisia)
24) Jejak Luka 2 (Azwar Nazir)
25) Tebas Saja Leherku (Siu Elha)
26) Kisah Angin (Sunu Hadi)
27) Permainan Hidup (St Fatimah)
28) Panggung Senayan (Yoyong)
29) Kabar Dari Tuhan (Nera Andiyanti)
30) 20 Mei, Seratus Tahun Kemudian (Hasan Bisri BFC)
31) Tahukah Kau Saudaraku? (Inna Putri)
09 Juni 2008
Sumpah Mati Namaku Genta
Warna jingga merah mengerjap memesonakanku senja ini.Tak dinyana, hatiku pun sejingga suasana yang kurasakan. Detik ini aku sangat puas.
Mungkin bagi orang lain, kejadian yang kurasakan ini biasa-biasa saja. Tapi, bagiku ”sesuatu” ini sangat berharga.AKU BARU SAJA MEMPUNYAI KTP BARU. Hmmmm, KTP baru, apa pula ini. Punya KTP baru saja sudah seperti kejatuhan bintang,mungkin begitu kata orang kalau melihat wajahku saat itu, sangat berseri-seri sambil mengantongi KTP baru yang begitu indah.
Bukan bentukan KTP yang membuatku sangat antusias menyambutnya, tapi identitas yang tertera di dalamnya. Di situ jelas-jelas tertera namaku GENTA HARTAWAN. Nama itulah yang membuatku bersemangat. Nama itulah yang membuatku berseri-seri bagai langit jingga di senja ini.Bukan seperti namaku yang kupakai sebelumnya, yang kupakai selama berpuluh- puluh tahun: Gandung,ah… tak berprestise sama sekali.
Maka itu, nasibku juga statis saja saat kupakai nama itu.Setelah berpikir sangat lama dan sendirian, aku mencoba mengubah namaku,bukannya aku tak menghormati orang tuaku yang memberi nama itu, tapi mereka toh tak akan marah kalau saat ini aku mengganti namaku karena mereka sudah meninggal sehingga aku bebas memilih. Dan,setelah lama berpikir,muncullah nama itu, supaya nasib baikku bergenta- genta di seluruh jagat.
Pada saat belum mempunyai KTP dengan nama resmi tersebut,sejak kutemukan nama itu, aku mulai menyosialisasikannya. Orang-orang yang baru kukenal di kota ini kelihatan begitu takjub saat aku memperkenalkan namaku pada mereka. ”Genta Hartawan,” kataku menyambut tangan tetangga baruku saat aku mulai memperkenalkan diri di lingkungan baru tersebut.
Orang itu takjub dan dengan muka kagum langsung berkata, ”Wah, nama Anda hebat, pantas nasib Anda juga hebat,Pak Genta.”Aku terkekeh sambil sok rendah hati,”Ah,biasa saja”.Ya,memang nama itu bukan sekedar nama tapi harapan kita, kan.”Tetangga baruku semakin kagum atas penjelasanku. Begitulah sejak saat itu semua orang memanggilku,Pak Genta.
Di rumah,di kantor, bersama rekan bisnis di lapangan golf atau saat sesekali ke kafe, semua orang memanggilku Pak Genta Hartawan.Tak ada lagi nama Gandung Haryadi seperti dulu. Nama itu hanya mengingatkanku atas semua penderitaanku. Saat kecil,aku harus melewati jalan berbatu untuk sampai di sekolahku saja. Dan, sampai di sana aku harus menjual gorengan buatan ibu di sela-sela istirahat.
Tak jarang temantemanku ada yang iseng, mengambil gorengan,tapi tak bayar. ”Ndung,bayarnya besok ya,berapa satu?”kata temanku saat itu. ”Dua ratus lima puluh,”jawabku. ”Ah,murah saja.Aku ambil lima ya, besok langsung kubayar,”katanya sok. Dan besoknya ia tak juga membayar malah mengambil lagi. Aku, Gandung, tak bisa berbuat apa-apa, aku takut, anak itu punya banyak teman yang sama-sama sok,pasti mereka akan mengeroyokku kalau aku macammacam.
Ah, pengalaman yang menyebalkan. Tapi begitulah,saat aku harus membuang KTP ku dengan nama Gandung, aku pun teringat lagi atas semua perkataan majikanku saat bekerja paruh waktu sebagai buruh di sebuah proyek pembangunan rumah elite untuk menyambung hidup dan sekolahku. ”Kamu orang tak bisa bekerja ya Ndung, ini apa?” mandor itu mencabuti patok-patok yang begitu mudah dicabutnya.
Seharusnya patok itu kuat. Maklum, saat itu aku belum terbiasa menjadi buruh. ”Kalau tidak bisa kerja di sini, keluar saja kau,”katanya sombong.Aku masih ingat,dia berkata sambil menatapku dengan sangat sinis. ”Saya akan kerja lebih baik, Pak, saya janji,”kataku meyakinkannya. ”Nah,begitu,bagus.Aku suka anak muda yang bersemangat,” katanya lagi sambil segera berlalu dengan nada kemenangan karena berhasil menekanku.
Ya, tak ada pilihan lain waktu itu,aku butuh uang,hanya itu yang kubutuhkan saat itu, lain tidak. Saat itu aku hanya menyimpan dendam untuk suatu saat tak mau diperlakukan seperti ini.Belum lagi,sampai di rumah, pemilik rumah kontrakan terus-menerus menagih uang kontrakan tanpa berperikemanusiaan. ”Ndung, kapan kamu lunasi kontrakan ini, sudah dua bulan, keluar saja kalau tak bisa bayar.Banyak yang antre mau kontrak rumah ini selain kamu.
Jangan bikin susah orang, Ndung,” katanya lagi.Aku tertunduk, lalu kuserahkan semua hasil jerih payahku beberapa hari, tak bersisa, tanpa berkata apa-apa padanya.Tibatiba muka orang itu seketika menjadi berseri-seri, mirip anak kecil yang menemukan mainannya. ”Nah, begini kan enak Ndung. Besok-besok jangan nunggaklagi,ya,” ia pun segera berlalu sambil menggenggam uangku.
Begitulah, semua kepahitanku setelah kupikir-pikir karena namaku, aku mencoba mencari alternatif nama. Dan,ternyata nama Genta Hartawan sangat cocok buatku. Berawal dari nama itu, aku diterima sebagai salesman pada sebuah perusahaan yang menghasilkan barang-barang luks,tak berapa lama karena prestasiku memuaskan aku diangkat menjadi supervisor para sales, dan tak sampai dalam hitungan lima tahun, aku menjadi marketing manager leader dalam sebuah perusahaan kelas atas itu, dengan fasilitas mobil dan rumah di perumahan elite dari perusahaan.
Dan itu semua adalah… karena namaku.Aku terkekeh mengenang perjalanan hidupku. Ambisiku adalah menjadi orang kedua setelah direktur utama. ”Pak Genta, rapat dengan para manager marketing akan segera dimulai,” kata sekretarisku. ”Oh, ya, jam berapa ini?” aku sok berlagak lupa, suatu hal yang layak bagi orang sibuk macam aku.
”Ya, bolehlah dimulai sekarang,” sahutku. Maka berkumpullah semua manajer di perusahaanku.Mereka melaporkan keadaan hasil penjualan dan prospek ke depan di wilayah masingmasing. Lalu,tibalah seorang manajer muda melaporkan keadaan hasil penjualan di daerahnya. ”Meski lumayan hasil penjualan di wilayah saya, kompetitor sangat banyak dan saya kira mereka juga patut kita perhitungkan,” kata manajer muda itu.
Kuambil catatan atas hasil penjualan di daerahnya lalu, ”Lumayan menurut Anda belum tentu lumayan bagi perusahaan ini, Saudara Handi. Prospek di daerah Anda cukup besar. Kompetitor sangat banyak, tapi seberapa besar perusahaan mereka,mereka hanya perusahaan-perusahaan kecil, seharusnya Anda tahu cara mengatasi supaya mereka tak bertingkah,” sahutku sangat realistis.
”Maksud Pak Genta,saya harus ”bekerja sama” dengan mereka supaya mereka tak usah bersaing dengan kita dalam proyek-proyek besar yang ada?” jawabannya membuatku tersenyum. ”Ternyata Anda cukup pintar. Ya, bagian mereka adalah proyek-proyek kecil sesuai dengan kapasitas mereka. Yang besar-besar adalah bagian kita. Anda harus bisa memberi pengertian pada mereka. Dengan sedikit ”pengganti” jerih payah mereka bolehlah,” kataku sambil menjentikkan jari memaknai kata ”pengganti”itu. Tiba-tiba manajer muda itu berdiri.
”Maaf Pak Genta, bukan berarti saya akan melaksanakan perintah Pak Genta meski saya tahu cara itu paling praktis dalam dunia perbisnisan.Tapi produk mereka sangat bagus, Pak. Tidak kalah dengan produk kita.Saya kira kita harus bersaing secara sehat,” katanya lagi. Mendengar perkataannya, tibatiba tensi darahku mendadak tinggi.
Selama bertahun-tahun, setelah memakai nama Genta Hartawan, belum pernah seseorang membantah sebegitu dahsyatnya perkataanku, tapi manajer muda itu…….. ”Saudara Handi, Anda bekerja untuk perusahaan ini bukan? Jadi apa pun harus Anda lakukan supaya kita punya untung besar.Anda sendiri juga nanti yang akan menikmati hasilnya,” kataku berapi-api.
”Tapi tidak dengan cara-cara yang tidak sehat seperti itu, Pak Genta,” katanya lagi. ”Tapi itu lazim dalam dunia bisnis, Saudara Handi!” jawabku tak kalah sengit. ”Lazim tapi tidak sehat, Pak,” ia masih saja bisa menjawab. ”Berarti Anda sudah tidak sejalan dengan saya,…….berarti…..” ”Berarti perusahaan ini juga sudah tak sejalan dengan saya, berarti saya harus keluar dari sini kan,Pak.Semoga perusahaan ini menjadi lebih sehat, Pak Genta.
Selamat siang,…….” ia berkata dengan entengnya memotong perkataanku. Kurang ajar!!! Aku sebenarnya memang mau memecatnya, tapi ternyata ia mendahului perkataanku…..Benarbenar manajer muda yang tak tahu diri.Semua manajer kaget ternganga melihat perdebatan sengitku berakhir seperti ini. ”Silakan Anda keluar.Banyak yang akan menggantikan posisi Anda!!” teriakku dengan emosi.Para manajer lain hanya geleng-geleng kepala.
”Tenang,Pak Genta, tenang,” kata mereka saat melihatku emosional. ????? Beberapa hari setelah kejadian itu, direktur memanggilku.Ternyata aku ditegur akibat keemosionalanku,bahkan aku telah memecat tanpa persetujuan dia. ”Handi itu manajer yang paling prospektif,Pak Genta.Anda ceroboh telah memecatnya. Ia benar,kita harus menjadi perusahaan yang sehat,”kata direkturku.
Aku ternganga, seingatku Genta Hartawan belum pernah dipersalahkan seperti ini. Biasanya direkturku menerima segala usulku, tapi sekarang… Aku tertunduk… ”Saudara masih ingin menjadi marketing manager leader di sini kan?” tanyanya lagi.Aku hanya mengangguk. ”Panggil lagi Saudara Handi. Saya yakin dia orang yang sangat profesional,” perintahnya membuatku kaget.
Memanggil orang yang baru saja kita pecat? Ah, …. dan aku harus minta maaf padanya karena telah memecatnya? Pandanganku parau. Betapa susah melaksanakan perintah ini.Aku tak bisa. Aku, Genta Hartawan, tak bisa diperlakukan begini, apalagi harus minta maaf pada manajer muda itu.Bagaimana pun aku adalah atasannya, mana ada atasan yang minta maaf pada bawahannya. Ada juga sebaliknya.
Aku sudah membayangkan pasti muka manajer muda itu akan berseri penuh kemenangan saat aku memanggilnya kembali untuk bergabung di perusahaan ini. Dan, aku, Genta Hartawan, tak sanggup!!!! Untuk menenangkan diri, aku segera beranjak pulang.Ketika turun dari mobil,seorang tetangga memanggilku, ”Pak Gandung, lama tak bertemu, ke mana saja?” Dari arah lain, seorang tetangga lain mendekatiku, ”Iya, Pak Gandung, ke mana saja?” Aku ternganga, mengapa mereka memanggilku Gandung lagi? Dan dari mana mereka tahu dahulunya aku bernama Gandung? Bukankah yang mereka tahu aku bernama Genta Hartawan? Tiba-tiba dari arah lain lagi berombongan orang memanggilmanggil aku, ”Pak Gandung, sekalikali gabung kita main tenis dong!”Aku pusing mendengar nama Gandung terus-terusan disebut.
Kucari KTP baru di dompetku. Aku ingin mengingatkan mereka dengan memperlihatkan KTP ku bahwa namaku Genta Hartawan bukan Gandung. Tapi,astaga!!!.… aku mengeja nama yang ada di KTP baruku,di situ tertera GANDUNG!!! Dan ….tak berapa lama badanku terasa lemas, mataku dipenuhi kegelapan.... Kudengar s”Pak Gandung pingsan, cepat bawa masuk ke dalam rumah!!!”Rasanya… aku tak ingin berdiri lagi.(*)
Cerpenis bekerja di Kantor Bahasa Kaltim dan sekarang sedang melanjutkan studi di Universitas Indonesia, Depok.
(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 7 JUNI 2008)
Pascastruktur Kebudayaan
Persoalan struktur kebudayaan kini mengemuka lagi,terkhusus terkait dengan hadirnya pascastrukturalisme. Di sini struktur tidak lagi dimaknai sebagai kesatuan unsur integratif yang membentuk dan menggeret kebudayaan pada satu tuju nan determinis.
Struktur kini dimaknai sebagai kuasa bahasa, yakni makna lebih merupa reproduksi kekuasaan, bukan produk internal sistem tanda. Dari sini terlihat kebudayaan bahkan menjadi rahim kekuasaan dengan bentuk struktur tidak tunggal, tetapi tergerus dalam kontestasi makna. Struktur kebudayaan pertama kali digagas filsafat kebudayaan.
Di sini struktur diposisikan sebagai bangunan budaya yang merangkum segenap unsur kebudayaan, yakni sains, agama, seni, ekonomi, dan politik, membentuk konfigurasi integratif yang mengikat ketunggalan makna. Kebudayaan menjelma das Umgrifende— meminjam Karl Jaspers— yakni nilai yang didukung organ sosial, di atas landasan material yang sesuai nilai tersebut sehingga membentuk kerangka besar,tempat sektor mikro mendapat arah.
Kebudayaan berdiri sebagai supersektor, yang terbentuk dan melingkupi segenap sektor kehidupan.Sektor ini mengacu pada struktur sosial (keluarga, pendidikan, lembaga agama) yang berbasis pada infrastruktur ekonomi sehingga menopang suprastruktur politik. Kebudayaan menjelma pijak nilai dan kognisi yang memberikan arah, sekaligus pengikat segenap struktur ke dalam satuan integratif nan teratur. Dari sini l a h i r l a h strukturalfungsional itu.
Kebudayaan tidak lagi menjadi landas nilai,tetapi hanya subsistem dari struktur sosial. Pada aras psikobiologis, ia menjelma conditioning, tempat manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.Pada aras struktural, ia menjelma legitimasi dan ”pengondisian kultural” bagi suksesnya agenda politik. Dua rezim terlama kita melakukan hal ini; Soekarno dengan ”kepribadian nasional”, Soeharto dengan ”jati diri bangsa”.
Dengan klaim identitas ini, negara telah terekspresi sebagai kebudayaan, nilai lokal didaulat menjadi sistem nasional.Yang kultural tertahbis menjadi yang politik.Risiko nyatanya ialah negara otoriter karena ia berdiri di atas legitimasi budaya. Pada level internal,struktur ini terbentuk dalam bahasa. Ia mendedahkan determinisme kebudayaan,yakni perilaku budaya selalu terbentuk oleh struktur pemikiran.
Hal ini terjadi karena bahasa memiliki otonomi begitu kuat. Eksistensinya tidak berada dalam parole,yakni ungkapan bahasa dalam konteks sosial, tetapi dalam langue,yakni struktur internal sistem tanda.Di sini kebudayaan bisa dilihat melalui simbol linguistik karena di balik simbol tersebut, terdapat struktur makna yang merepresentasikan hakikat kebudayaan.
Ini yang membuat kebudayaan tereduksi dalam human mind sehingga hanya dengan membaca konsep jagad gedejagad cilikmisalnya,kita bisa menangkap universalitas makrokosmos manusia Jawa.Tentu yang bermasalah di sini adalah stabilitas makna dalam internal bahasa, yang kemudian memosisikan subjek manusia sebagai ”boneka”dari struktur terberi.
Kuasa Simbolik
P e r - k e m - bangan p a s c a - strukturalisme telah merombak segenap konsepsi di atas.Kesalahan utama adalah stabilitas makna tunggal dalam bahasa yang membentuk fungsionalitas budaya dalam stabilitas sosial. Kedua stabilitas ini terkritik karena logosentrisme (klaim universalitas kebenaran) telah mengarahkan kebudayaan pada homeostationer (gerak dinamis menuju keadaan statis).
Pemelesetan makna menjadi pembebas sehingga pemahaman akan bahasa kini dibarengi kritisisme atas peran reproduktif kekuasaan atas kebudayaan. Ini terjadi misalnya dengan developmentalisme. Oleh strukturalfungsional, kebudayaan dalam hal ini berarti rasionalisme dan sekularisasi. Yang pertama merujuk pada usaha pembebasan dari mitos sehingga manusia mampu menempatkan unsur alam secara relasional, bukan memujanya sebagai ”kepungan gaib”.
Dengan akal,manusia mampu mengarahkan pemikiran, tidak demi kausalitas akhir (final causes) selayak kerja falsafi, tetapi technical know how, yakni persoalan utama terletak pada bagaimana mengatur segala sesuatu demi kemudahan hidup. Hal sama terjadi pada sekularisasi. Demi lancarnya pembangunan, nilai harus dipisahkan dari otoritas primordial karena ruang publik tidak memperkenankan terjadinya konflik sektarian.
Pemisahan kultural ini kemudian dibarengi diferensiasi struktural, yakni nilai terlembaga dalam birokratisasi sehingga bisa diatur dan dimanfaatkan secara politik. Di sinilah demokrasi menjadi alat terbaik, sebab ia memberikan mekanisme dan ruang yang menjamin segenap nilai tidak bertubrukan, tetapi teralokasi baik dalam parlemen, struktur negara, hingga kebijakan umumrasional.
Hanya saja, bentuk struktur ini dikritik karena meniscayakan kekuasaan pada level negara. Melampaui itu, pascastrukturalisme telah menemukan kekuasaan justru pada bahasa.Hal ini melahirkan dua risiko. Satu sisi, kebudayaan tidak an sich milik ”yang kultural”, tetapi terlebih mesin reproduktif bagi kekuasaan. Sisi lain,kekuasaan tidak lagi merupa represivitas dominatif, tetapi sebuah diskursus, yakni pengetahuan menjelma kekuasaan.
Diskursus mengacu pada penggerakan bahasa oleh pranata sosial sehingga mencipta regulasi nilai; sebuah biopolitik yang hendak mendisiplinkan tubuh (disciplinary). Di sini kekuatan bahasa tidak lagi terdapat dalam struktur internal sistem tanda, tetapi dalam materialitas pranata sosial yang mendistribusikan makna demi pendisiplinan masyarakat. Dari pergeseran ini nyata bahwa strukturalisme yang mengikat kebudayaan dalam ketunggalan makna dan struktural-fungsional yang mengorbankan kebudayaan demi kemanfaatan politik harus direvisi.
Kenapa? Karena ia telah mencipta kesadaran palsu dengan mendaulat negara sebagai pengembang dan penjamin kebudayaan. UUD 45 mengamanatkannya dan ini salah kaprah.Kesalahan terletak pada sifat autosentris dari kebudayaan, yang berbeda dengan negara. Kebudayaan merupa kehidupan sosial manusiawi.Karena itu,menjadi arah serta ”rem moral” atas gerak negara yang lebih merupa alat bagi tujuan tersebut. (*)
Peneliti Kebudayaan Ciganjur Centre, Jakarta
(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 7 JUNI 2008)
Sajak-sajak Agus Budi Wahyudi
Bila suap tak beraksi
Laku Jaksa Hakim suci
Bukti terangi bumi
Indonesia suci
Kepala menolak suap
Anak mencegat gerak setan
Seksi menampik korup
Undang-undang berjalan
Saksi dan pembela lega
Bila suap tak beraksi
Ekonomi negeri
Sehat
Anak bangsa kuat
Republik ini suci abadi!
Kepala
Di pintu surga
Tubuhmu kaku biru
Tak boleh masuk
Di pintu surga
Kepalamu hitam legam
Di pintu surga
Kepalamu celaga
Di pintu surga
Kepalamu aura kelam
Di pintu surga
Kepalamu bekas jeruji penjara
Di pintu surga
Kepalamu bekas pembantai
Di pintu surga
Kepalamu bekas koruptor
Di pintu surga
Kepala tak boleh masuk
(TERBIT DI SOLOPOS 8 JUNI 2008)
Tikus
Hari itu merupakan rapat warga dusun yang diikuti oleh semua warga tanpa terkecuali. Bahkan semua RT yang ada di dusun itu yang terdiri dari empat RT telah sepakat untuk menggiring warganya dalam rapat insiden yang harus dipecahkan yaitu tentang tikus.
Semula masalah itu hanya sebuah isu, yaitu tentang tikus-tikus yang mulai merajalela. Semula RT mendapat laporan kurang begitu serius untuk menanggapi, namun setelah beberapa warga terus mendesak, akhirnya para RT mengadakan kesepakatan diadakan pemberantasan tikus-tikus.
”Maaf saudara-saudaraku dikumpulkan pada siang hari Minggu ini, karena dalam kondisi terpaksa. Ada masalah penting sekali. Semua warga yang diundang tidak boleh izin.”
”Apa sanksinya kalau hari ini tidak datang?” tandas Kang Jadul.
”Sanksinya berat. Dan pada hari ini pula sanksi kita putuskan dengan tegas, dalam kondisi apapun.”
Suasana tiba-tiba menjadi riuh. Antara pro dan kontra dari mereka telah menjadi perbincangan yang layak, biarpun sanksi itu telah dijadikan suatu keputusan. Dan ujung pembicaraan itu telah dilontarkan pada RT mereka masing-masing sebagai ujung tombak keputusan sanksi warga dusun itu.
”Betul saudara-saudara, itu sudah menjadi keputusan yang harus kita sepakati bersama. Tetapi hari ini kami akan berembuk dulu untuk sanksi kepada mereka yang tidak datang hari ini, dan tanpa punya alasan apapun,” sela salah seorang RT sebagai bentuk langkah bijaksana untuk mengayomi warganya. Dan pendapat itu tampaknya telah disambut oleh RT-RT yang lain.
”Hal semacam itu tak perlu dirembuk, kalau sudah menjadi keputusan tak perlu ada langkah bijaksana lagi untuk mereka,” tukas Pak Braja lantang.
”Sabar Pak Braja, kami telah sepakat untuk berembuk dulu. Apa alasan warga tidak datang dalam pertemuan penting ini,” jawab salah seorang RT.
Pak Kadus menyuruh Hansip memanggil warga yang tidak datang hari ini. Namun belum saja Hansip itu berangkat dua orang yang telah menjadi pembicara datang dengan terbata-bata. Mereka itu adalah Kutut dan Langkir.
”Benarkah kami akan didenda empat sak semen kalau tidak datang pada acara ini?” tanya Kutut.
”Ya, itu sudah keputusan,” jawab Pak Kadus.
”Boleh kami bertanya?” sela Langkir.
”Silakan!” jawab Pak Kadus menunjukkan sikap keangkuhannya.
”Saudara-saudara yang baik hati, benarkah keputusan itu sudah mutlak?”
”Betul!” jawab mereka serempak.
”Saudara-saudara tahu bagaimana kehidupan ekonomi kami, bagaimana keadaan kami, bagaimana rumah kami. Dan siapa yang memberikan makan kami setiap hari? Hanya bicara masalah binatang tikus kami didenda empat sak semen. Adilkah itu?”
Semua diam, tak ada yang berani menjawab.
”Kami tidak protes, kami tidak menentang. Tetapi kami hanya ingin kebijakan Pak Kadus, semua Pak RT, dan semua sesepuh dusun. Cukup efisienkah warga empat RT dengan beramai-ramai memburu seekor tikus? Kurasa tikus-tikus itu datang karena dusun ini kumuh, kurang menjaga kebersihan. Bapak-bapak ini mayoritas orang pendidikan, sedangkan kami hanya orang-orang tak berarti, tetapi kami selalu menjaga kebersihan lingkungan,” tandas Kutut.
Wajah Pak Braja dan Bajul tampak merah padam. Memang dialah orang yang dianggap paling kaya di dusun ini. Banyak tanah-tanah pekarangan yang telah menjadi miliknya namun tak pernah perhatikan kebersihan lingkungan.
Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan tempat itu. Tak ada yang berani mencegahnya, termasuk para RT dan Pak Kadus sekalipun, sehingga tempat itu semakin sedikit orangnya.
Kutut dan Langkir pun segera meninggalkan tempat itu setelah minta maaf dan pamit para RT dan Pak Kadus. Pemberantasan tentang tikus ditunda.
Satu pekan berikutnya warga dusun itu dikumpulkan lagi. Tak lagi membahas tentang tikus-tikus, melainkan tentang perkembangan dan pembangunan dusun secara terbuka dan harmonis. Tentang jadwal santapan rohani pun mulai dipikirkan guna membangun mental para generasi muda yang telah mulai tersentuh oleh imbas kebebasan dalam bergaul dalam era globalisasi.
06 Juni 2008
03 Juni 2008
Lelampuan Jalan dan Bisik Lesik Kota yang Mengaji
lelampuan, kuning kelabu
di tengah jalan
melintang-lintang
menyambut, sumringah, walau disuguhi asap atau gas pembuangan udara
anjing kencing di trotoar
juga di bawah lampu itu
sebagai pengganti pohon-pohon yang telah ranggas
dan tumbang
beberapa hari lalu,karena sinso dan guyuran minyak tanah di akarnya
"ini wilayahku" sorak anjing jantan
disaksikan si betina yang grasa-grusu karena kutu yang melompat-lompat di balik bulu-bulunya
musim kawin, si anjing senggama di bawah lampu jalan
II
kota-kota besar mengaji
kota-kota kecil berdoa, kapan keramaian membahana
dalam pengajian, sang lampu jalan berkeluh kesah dengan trotoar
dan aspal menimpali dengan ketus
"kita itu benda mati. buatan manusia. jangan ada berkeluh kesah. benda tak berdaya, dilarang berkeluh kesah"
klakson mikrolet berjoget-joget dangdut
menimpali klakson sedan merah metalik yang berdisco ria
pengajian dalam diskotik tak kalah pamor
desah penari bugil, dan germo yang saling tawar dengan penjelajah gua garba yang eksotis
III
lelampuan padam
siang berlalu dengan teriknya
anak sekolah dipalak di pinggir jalan
preman minta setoran jalan
"ini wilayah gue..."
Dalam Genggaman Kabut
dan wajah perempuan yang jatuh di tempayan
lenyap dalam genggaman kabut
meruapkan aroma tanah basah
yang diembuni hawa gunung
seketika aku berjalan menelusuri lereng-lereng gunung
mencari wajah perempuan yang jatuh di tempayan
mungkinkah kekasih waktu
yang bergelantungan pada sesisian kawah
"ah..."
belerang mengelabui pandang
jarak yang menggenggam kabut itu sendiri
menelikung jalan hingga bertemu taman bunga-bunga abadi
oh, wajah perempuan dalam tempayan
mungkinkah kau menceburkan diri ke Telaga Dewi
tempat bersemayam bunian-bunian
peri penjaga gunung dan hutan
bulan purnama sekepal tangan muncul
"telah semusim aku mencari bayang"
wahai wajah perempuan dalam tempayan
"aku telah meneguk air gunung,
mungkin lain kali, aku akan kembali merindukanmu."
Murka Murda
Murda tetap diam.Tatap matanya menerawang.Ia tampak tak terusik kata-kata Salim yang menggelegar. Sesekali ia isap rokoknya. Jemari yang menjepit batang rokoknya tampak bergetar.Tiba-tiba bola matanya bergerak liar.Air mukanya mengeras.Giginya diadu gemerutuk.
Kini pandangnya menyiratkan murka. Lalu, tangannya bergerak cepat mematikan rokok di asbak.Kepalanya menegak.Urat leher menegang. ”Ya.Tampaknya kita harus ambil jalan itu.”Pandang matanya bergerak mengitari semua.Sekitar dua puluh lima orang duduk bersila,melingkar di sebuah ruang yang sempit tanpa jendela. Semuanya bersila.Wajah mereka mengelam.
Tak ada senyuman, yang ada hanya gemuruh. Suasana yang tadinya riuh berangsur hening.Semua menatap Murda, sang pemimpin. Semua menunggu putusannya. ”Kita terpaksa ambil jalan kekerasan. Mereka harus kita beri pelajaran!” lanjut Murda. Salim menyeringai puas.Tangannya mengepal,tatap matanya semakin nyalang.
Lalu ia tegak berdiri dan teriak lantang,”Rusuh.Ayo kita bikin rusuh!” ”Benar!” ”Rusuh!” ”Rusak!” ”Hancurkan!” teriak semua.Asap rokok memenuhi ruang.Wajah-wajah yang semakin legam tersapu kabut asap.Udara panas memanggang, terbakar amarah yang menggelegak. ”Benar! Tapi bagaimana caranya?” teriak Murda memenggal riuh, ”kita tak terbiasa melakukan kerusuhan. Kita tak suka kekerasan. Kita tak pernah diajari menghancurkan.”
”Tapi mereka telah merusak dan menghancurkan kita lebih dulu!” tukas Salim tanpa menurunkan volume. Tak pernah ia turunkan suara, seperti muncratan ludahnya yang tak pernah kering.Suasana semakin panas.Udara menegang,asap rokok mengental. ”Benar kata Salim.Kita tak pernah berniat merusak. Kalau mereka terus dibiarkan, kita pasti binasa.
Tak perlu menunggu lama, anak cucu kita pasti binasa. Kini waktunya memilih, kita atau mereka yang binasa,”ujar seorang tua bersuara serak. Ia paksakan berteriak menyaingi gelegar suara Salim. Debu amarah menyebar menyarati ruang.Semua mata memandang Murda. Semua menunggu putusan.
”Baiklah,”ujar Murda lirih. ”Semuanya diam!” teriak Salim sambil menggebrak meja,”Ketua hendak bicara!” ”Jangan sebut aku ketua. Kita bukan mereka,” pandangan Murda menumbuk Salim. Sunyi sesaat menghampiri.Asap rokok mengabut. Debu amarah membiakkan diri.
”Bertahun-tahun kita hidup di sini, di desa ini. Sejak Mbah Buyut Arya Kamuning, kita selalu hidup damai, tenteram,dan tenang.” Suara Murda berderap mengawali pidato. Semua diam. Tangan mereka menyibakkan kabut asap.Debu amarah mulai mengeras.
”Sejak zaman kakek, buyut, cicit, bao,janggawareng,dan lama sebelumnya, kita rasakan hidup yang tenteram. Tak pernah kita pelihara amarah. Meski tak kaya,kita bangga dengan hidup kita.Tak ada anak kita yang mati akibat busung lapar.Tak ada rumah kita yang digenangi air di musim hujan atau yang terpanggang di musim matahari. Tak ada maling.Tak ada pencoleng, apalagi perampok.Kita pun tak kenal lintah darat.”Asap rokok menipis.
Debu amarah berhimpun satu sama lain membentuk butir-butir sebesar kelereng. ”Kita bisa sekolahkan anak kita,kita ajari mereka mengaji. Kita didik mereka agar tak jadi maling, perampok, atau koruptor.Kita bisa sembah Tuhan kita dengan tenang,” suara Murda meluncur semakin mantap. ”Tetapi selama lima tahun terakhir, ketenangan kita diusik. Tak khusyuk lagi kita ibadah.Tak pulas lagi kita tidur.Anak-anak kita biarkan berkeliaran di jalanan.
Kita tak berwaktu mengurusi mereka.Semua itu bermula se-jak mereka curi air kita.Ketika mereka rampas sumber hidup kita. Mereka penggal aliran sungai kita, tepat di batang lehernya. Mereka alirkan air kita ke kota-kota, ke rumah-rumah orang kaya.Memenuhi tabung mandi mereka, mengaliri pancuran mereka, lalu melimpah membasahi jalanan mereka dan mengering terbawa udara. Akibatnya, sawah kita kekeringan.
Sumur kita menjadi lubang hampa. Untuk minum pun kita harus antre membeli. Kemarin si Carman membakar batang padinya yang belum berisi karena tak pernah bisa diairi.Kita tengkari saudara demi mendapatkan air. Kita asah kita punya pa-rang, bukan untuk menebas batang pisang, melainkan untuk menakuti tetangga. Kini,kita tak lagi punya waktu istirah, apalagi untuk ibadah.
Hampir se-luruh waktu kita gunakan untuk mencari air, mendapatkan sumber hidup. Kini saatnya untuk memaksa mereka mendengar. Sudah waktunya bikin perhitungan. Kita harus tempuh jalan rusuh!” ”Ya,betul.Rusuh!”teriak Salim. ”Rusuh!”sambut Semua. ”Asah parang kalian. Runcingkan arit kalian.Lancipkan linggis kalian!” muncratan ludah Salim menipiskan asap rokok.
”Tunggu dulu!” teriak Murda menebas gaduh. ”Kita harus bicarakan caranya. Amarah tak boleh bikin kita gegabah.” ”Kita racuni saja pangkal aliran pipa mereka.Biar mampus semua orang kota itu,” seorang anak muda berkata ragu sambil menoleh kiri kanan. ”Bodoh. Kita bukan pembunuh. Dan kau, anak ingusan, kau takkan pernah tahu rasanya jadi pembunuh,” ujar si tua bersuara serak. Semua diam.Bola mata mereka liar saling pandang.Akhirnya semua mata menumbuk mata Murda.
”Saudara-Saudara, apa yang hendak kita lakukan bukan untuk menghancurkan? Kita mau mereka mendengar suara kita.Esok kita alirkan derita dan kesulitan seperti yang kita rasakan. Cukuplah itu sebagai peringatan untuk mereka.”Murda berujar bijak. ”Jadi tepatnya, apa yang akan kita lakukan?”tanya si tua. ”Siapkan parang, linggis, cangkul, martil, dan kampak yang kita punya. Esok,seusai Subuh,kita hancurkan pipa mereka.
Setebal apa pun, pasti ada celah untuk dirusak.Kita rampas kembali sumber hidup kita. Sekarang, pulanglah dan bersiaplah.” ”Ayo kita pulang.Asah parang kalian!” bak wakil komandan, Salim membubarkan lingkaran. Udara masih panas memanggang. Butir amarah menyelinap melalui lubang telinga dan bersarang di setiap kepala.Mereka pulang. Butir amarah melayang ke rumah.
Esok harinya, saat subuh belum lagi usai, semua telah berhimpun di sawah. Semua membawa beragam senjata. Kini, butir amarah telah sekepalan tangan. Menggelayut di pundak setiap orang.Tanpa dikomando satu per satu mereka berjalan menyusuri setapak menuju pangkal sungai. Begitulah titah Murda.
”Aku segera menyusul,”katanya. Matahari mulai berbentuk ketika semua tiba di pangkal sungai.Lalu semua mengerumuni pipa sepelukan orang dewasa.Tak ada yang diam.Tak ada yang tertawa.Semua bicara.Bicara satu sama lain hingga hutan menjadi pasar pagi. Matahari telah hilang rupa. Yang tinggal hanya panas dan cahaya.Tapi Murda belum juga tiba.
Suara-suara semakinriuh.Hawa amarahmenyeruak membelah angkasa.Tanpa kobaran api, gunung kehilangan dingin. Matahari semakin tinggi. Orangorang resah. Gelisah. Murka. Me-nunggu Murda. ”Ayo kita rusak saja sekarang.Kita robohkan tanggul penahan.Atau kita hancurkan pipa sialan ini,” teriak seorang pemuda melempar amarah. ”Jangan.Kita tunggu Murda sekejapan lagi.Mungkin dia segera tiba,” ujar si tua. Butir amarah terus berbiak. Matahari naik sedepa.Murda tak juga tiba.
”Bangsat si Murda itu! Ayo kita hancurkan. Jangan lagi tunggu pemimpin sialan itu!” pekik Salim seraya mengayunkan kampak dan mulai menggedor pipa.Bak minyak tersentuh api, Semua mulai merusak.Apa saja mereka rusak.Tak peduli akibat, yang penting rusak, rusuh, dan runtuh.Wajah mereka tak lagi bisa dikenali. Butir amarah telah membesar sebesar kepala.
”Tunggu dulu. Hentikan!” sesuara keras menyapu rusuh. Orangorang tanpa wajah menghentikan gerak. Bergegas kerumuni Suara. Murda telah tiba. ”Ayo Murda. Kita hancurkan semua. Kita rusak segala,” pekik satu suara. Dari muncratan ludahnya, mungkin suara Salim. Pandang Murda berkeliling menatap semua.Wajahnya tampak berkerut. Butir kantuk menggelayut di kelopak matanya. Mungkin ia tak tidur semalam suntuk.
”Semalaman saya berpikir. Semalaman saya merenung. Usai subuh baru saya dapat putusan.Kita tak mungkin merusak. Kita tak terbiasa menghancurkan. Rusuh bukan adat kita. Apa yang hendak kita lakukan setelah merusak? Apa yang akan kita katakan setelah menghancurkan? Tak ada yang berguna.Memang ada ribuan jawaban bagi satu masalah,tetapi merusak sama sekali bukan jawaban.
Setelah merusak,kita akan kehilangan dada, kepala, dan tanda-tanda. Setelah rusuh, kita akan kehilangan kita.Kita tak lagi menjadi kita.” Suara Murda berapi-api dan bergunung-gunung. Semua diam.Pepohonan diam. ”Jangan dengarkan dia kawankawan! Bangsat Kau,Murda! Pengecut Kau,jahanam! Selama ini kami percaya. Selama ini kami setia.Kami tak lagi mau mendengarmu.Bangsat kau! Jahanam! Mampuslah!” suara berludah menggelegar.
Sebongkah amarah dilempar.Murda terkapar.Kepalanya berdarah. ”Dasar pengecut!” pekik semua. Lalu bongkahan-bongkahan amarah terlempar.Murda tak bergerak. Seluruh tubuhnya berubah darah.Matahari memerah. Semua bergerak.Semua menyalak. Semua melempar.Liar.
Tanpa komando,ramai-ramai mereka gotong tubuh berwarna merah itu. Mereka jejalkan ke dalam pipa. Setelah merusak segala, wajahwajah tanpa kepala, tanpa dada, dan tanpa tanda itu bergegas pulang. Esok harinya,warga kota gempar. Air minum mereka licin dan bau amis darah. Kuningan,November 2006
DEDI SLAMET RIYADI,
Kuningan, Jawa Barat.
(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 31 MEI 2008)
Chairil; Kata,Kredo,dan Sajak
Pada saat itu penyair memerlukan bahasa.Persoalan penyair dengan bahasa adalah persoalan bagaimana penyair memilih corak bahasa,memilih materi bahasa berupa kata,dan menata kata untuk mewadahi imajinasi serta perenungannya berkait dengan konteks sosial budaya serta motifnya dalam berkarya.
Kata dalam puisi bagaimanapun selalu dibebani dan dikungkung untuk menyampaikan pengertian atau makna. Namun, di sisi lain, dalam puisi bisa jadi kata menjungkirbalikkan pengertian yang ”umum”yang disandang oleh kata itu sendiri. Pada posisi ini,penyair memperhitungkan, menggempur,bahkan mengingkari semantik yang sudah lazim diemban oleh kata tersebut.
Bagi penyair, mengolah kata adalah pengembaraan tanpa akhir.Suatu saat ia sampai dan berdiam pada sebuah titik. Pada kesempatan lain,ia memorakporandakan titik itu untuk mencari titiktitik yang lain.Karena pengembaraan inilah kata menjadi biang keladi dari sejarah puisi yang tidak pernah tamat dari hiruk-pikuk pencarian dan pencapaian estetis.
Nasib penyair dipertaruhkan saat ia mencari-cari, memilih, dan memakai kata.Kata menjadi urat nadi puisi itu sendiri.Tak mengherankan jika Chairil Anwar pernah berujar,”Puisiku, dalamnya tiap kata akan kugalikorek sedalam-dalamnya hingga ke kernwoord ke kernbeeld!”.
Lalu, Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru, mengingatkan penyair-penyair muda di zamannya, ”Jangan terlalu lekas melompat-lompat dari sebuah tempat ke tempat lain, jangan memakai kata yang belum resap—sampai arti, intinya—ke dalam tulang sumsum.”
Yang membuat Chairil mencapai pencapaian estetis bahasa yang luar biasa adalah keyakinannya terhadap vitalitas. Baginya, vitalitas adalah rumah dan dapur yang tepat untuk membongkar-pasang, m e n j u n g k i r - b a l i k , melempartenggalamkan kata.
Vitalitas adalah kredonya untuk pencarian estetika yang tidak bisa ditawar-tawar, seperti pernah diucapkan dalam sebuah pidatonya: ”…..Vitalitas adalah sesuatu yang tak bisa dielakkan dalam mencapai suatu keindahan.Dalam seni, vitalitas itu chaotischcoorstadium, keindahan kosmich eindstadium. Tiap seniman harus seorang perintis jalan. Penuh keberanian, tenaga hidup.Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi,seniman adalah dari hidup yang melepas bebas. Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, bersendiri.” (Pidato Chairil Anwar,7 Juli 1943).
Boleh jadi dalam hal ini Chairil terlalu bombastis, tetapi yang jelas kredo ini mampu menghasilkan sajak-sajak yang menggetarkan dan mengantarkan bahasa Indonesia menjadi bahasa ucap yang terbuka dengan berbagai kemungkinan yang paling liar sekalipun.
Lewat Chairil pula mulai dicoba berbagai kemungkinan dan pergulatan membangun bahasa personal sebagai kerja kepenyairan dengan keniscayaan untuk berkomunikasi. Penyair mau tidak mau juga harus menanggung beban untuk menghadirkan misi dalam sajaknya.Penyair tanpa misi adalah pendusta.Tetapi,ia juga bukan seorang ”pegawai pos” yang cuma menyampaikan pesan, juga bukan orator yang meneriakkan pidato di alun-alun.Penyair tetap dibebani pula dengan tanggung jawab pengucapan dalam wilayah estetika yang amat menyeriusi harmonisasi antara kepentingan misi dan pesan dengan tuntutan estetika lainnya.
Keharmonisan ini juga mendapat perhatian dari Chairil.Ia berkeyakinan bahwa penyair memang harus asyik dengan dirinya sendiri, tetapi bukan berarti ia harus ”menceraikan diri dari kehidupan”. Setiap penyair harus concern (aktif dan bersimpati) pada perjuangan bangsa dan kemanusiaan, tetapi harus pula tetap menjaga puisi-puisinya untuk tidak jatuh pada slogan yang vulgar dan bombastis.
Puisi yang sloganis,vulgar,dan verbalistik memang akan segera dapat memancing reaksi dan tanggapan spontan,tetapi reaksi atau tanggapan yang muncul cenderung bersifat lahiriah. Karena itu, kelemahan puisi slogan dan verbal adalah tidak mampu bertahanlama dalam ujian zaman. Ia akan cepat ditinggalkan waktu karena ia hanya bergantung pada satu hal yakni peristiwa atau momentum sosial tanpa diiringi pengendapan dan imajinasi yang tuntas serta pengolahan kata yang cermat.
Keunggulan Chairil terletak pada bagaimana ia dalam mencapai dan menemukan materi bahasa berupa kata yang ekspresif,liar tak beraturan, serta sugestif, tetapi tetap terjaga untuk tidak terjatuh pada verbalistik. Imajinasinya terolah dengan kata-kata yang mampu menghadirkan puisi sebagai dunia yang penuh gairah, pengembaraan vitalitas, pikiran, dan perasaan yang membangun sebuah totalitas kejiwaan yang paradoksal berikut dialog psikologis.
Sajaksajaknya selalu berada pada perspektif humanistik jauh dari kesan menggurui atau membodohi pembacanya. Sajaknya cenderung hadir sebagai komunikator dari jiwa terbelah yang jujur apa adanya ibarat cermin yang memantulkan raut manusia bernama Chairil Anwar .
Chairil telah mewariskan dan mengajarkan pada penerus-penerusnya bagaimana sebuah sajak tidak hanya memiliki fungsi seremonial belaka, tetapi sebaliknya, juga bukan berati sebuah sajak harus tersaji secara vulgar dan verbal.Sajak tetaplah sebuah dialog estetis yang sublim karena sajak bukanlah semboyan atau slogan,baik itu slogan politik,slogan kemanusiaan, ataupun slogan pembangunan.(*)
Tjahjono Widijanto
Penyair, tinggal di Ngawi, Jawa Timur.
Tata Permainan Bahasa (Tanggapan Terhadap Yunit Permadi dan Arswendo Atmowiloto)
Analogi dan metafora yang akrab pada puisi hanya mampu berbicara pada ranahnya sendiri (language games). Sementara kehidupan ini sesungguhnya memiliki ranah yang bermacam-macam dan beraneka ragam.
Memberikan perintah dan menaatinya, membuat laporan, menyelidiki suatu kejadian, dan memberitakannya adalah bentuk-bentuk tata permainan bahasa yang memiliki nilai-nilai kehidupannya sendiri yang terlepas dan bahkan sangat berbeda dengan tata permainan bahasa puisi.
Dalam kondisi seperti inilah,Wittgenstein menyerukan untuk mengadakan penyelidikan gramatikal demi mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kompleksitas kehidupan manusia yang sebelumnya tidak mendapatkan perhatian.
Sebuah soal yang perlu dicatat kaum intelektual adalah Wittgenstein tidak pernah menyarankan ketunggalan dalam penggunaan bahasa. Artinya, jika Yunit, yang beranjak dari pemikiran Wittgenstein, berambisi untuk menyeragamkan sebuah ragam tertentu (puisi) untuk semua ragam bahasa, berarti pemahamannya atas pemikiran Wittgenstein tersebut telah mengalami kekeliruan epistemologis.
Dasar ontologis yang ditawarkan Wittgenstein adalah makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam bahasa dan makna bahasa adalah penggunaannya di dalam hidup. Dasar ontologis ini beranjak dari pengamatan Wittgenstein atas majemuknya tata permainan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan dasar pijak ontologis seperti ini,Wittgenstein tidak berambisi untuk membangun bahasa dalam kerangka epistemologis yang cenderung positivistis seperti layaknya kaum linguistik struktural. Oleh karena itu,aspek epistemologis bahasa Wittgenstein tidak akan mengulang kekeliruan epistemologis seperti yang telah diterapkan kaum linguistik struktural sejak dulu hingga hari ini dengan mencangkokkan tugas ilmu pengetahuan versi Reichenbach dan Toulmin.
Dalam soal ini pula,Yunit keliru dalam memahami aspek ontologis bahasa menurut Wittgenstein. Bahasa sehari-hari, dengan demikian, bukan alat untuk menampilkan realitas,melainkan menampilkan kehidupan itu sendiri. Malah, penggunaan bahasa secara berbeda oleh komunitas masyarakat tertentu menunjukkan kepada kita bahwa sebuah makna kata merujuk pada nilai-nilai dalam kehidupan. Nilai-nilai itu tentu saja dapat berbentuk budaya,kebiasaan,moral, agama.
Nilai-nilai itulah yang disebut esensi bahasa seperti yang diungkapkan Wittgenstein. Bahasa tidak bisa diotonomkan begitu saja atau lepas dari nilai-nilai, karena justru pola asumsi seperti itulah berpotensi mengerdilkan bahasa.Dalam soal ini, kaum linguistik struktural mengalami kejenuhan epistemologis sehingga akhirnya mengembangkan linguistik pragmatik.
Dalam language gamesini pula kita disadarkan akan penghargaan atas nilai-nilai kehidupan manusia yang beraneka ragam.Menurut paham ini, tugas ilmu pengetahuan dilakukan dengan tujuan menghasilkan suatu jenis pemahaman yang ada dalam melihat suatu pola atau bentuk tertentu dalam kehidupan manusia melalui suatu ungkapan bahasa.
Namun,pola kehidupan ini tentunya tidak bermaksud untuk dibakukan karena kehidupan manusia tidak seperti gejalagejala alam yang dapat diverifikasi dengan teknik-teknik yang bersifat ajek selayaknya ilmu pengetahuan alam. Sifat positivistis dalam memperlakukan bahasa seperti inilah yang pada akhirnya menumbuhkan aspek normatif bahasa yang berwujud slogan bahasa (Indonesia) yang baik dan benar.
Hasil temuan gejala bahasa dari suatu daerah antah berantah dijadikan patokan formal atas penertiban bahasa di Indonesia.Pasti saja pola verifikasi positivistis dalam ilmu pengetahuan alam seperti ini akan cenderung memerkosa ilmu pengetahuan khususnya bidang sosial humaniora. Bahasa yang menampilkan aspek makna tidak mungkin dapat diverifikasi secara positivistis mengingat nilai-nilai kehidupan di suatu tempat akan sangat berbeda dengan tempat lain.
Kasus ”Dick”
Lembar yang sama pada 11 Mei 2008 di koran Seputar Indonesia mengenai komentar penggunaan judul film ”Namaku Dick”juga mengindikasikan kekeliruan epistemologis yang hampirhampir mirip. Namun, jika Yunit mengalami kekeliruan pada aspek epistemologis tata permainan bahasa Wittgenstein, Arswendo Atmowiloto mengalami kekeliruan dalam aspek ontologis dan epistemologis bahasa.
Penggunaan kata ”Dick”pada judul film tersebut bukan karena pertimbangan aspek moral seperti yang dikutipnya dari pernyataan spontan Tommy F Awuy,melainkan penggunaannya dalam kehidupan yang kompleks, yaitu film ini memang mengungkapkan realitas kehidupan manusia yang menggunakan kata ”Dick”tersebut.
Bila film itu dicermati lebih dalam, film itu sudah tepat dalam menggunakan kata ”Dick”, sebab sasarannya memang kelompok yang akrab menggunakan kata itu, yaitu eksekutif muda yang cenderung akrab dengan penggunaan kata asing. Dalam kehidupan sehari-hari, rasanya kecil sekali kemungkinan kelompok preman pasar menggunakan kata ”Dick”,mereka akan cenderung menggunakan kata Kon***.
Sebab, dunia yang dihidupi kelompok preman sangat kecil bersentuhan dengan kata-kata dari bahasa asing. Berbeda dengan kelompok eksekutif muda yang akrab dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris.
Aspek ontologis bahasa yang diidamkan Arswendo yang berbunyi situasi kebiasaan hidup dalam kebiasaan masih akan berlangsung tanpa ukuran yang pasti dan bisa diterima banyak pihak sesungguhnya telah membuatnya kembali terpeleset dalam pola pikir positivistis yang sayangnya juga menimpa Yunit.Kebiasaan tidak akan pernah dapat dipastikan melainkan akan selalu bergerak spontan,beraneka ragam,dan tidak terbatas.
Tumpang tindihnya aspek ontologis dan epistemologis bahasa dari kedua penulis ini memang dapat dimaklumi. Sebab,pola pikir strukturalisme yang menghunjam pada ilmu linguistik modern dan kehidupan manusia terlanjur kuat mengakar, termasuk dalam alam pikiran kaum intelektual di Indonesia. (*)
Rikobidik
Freelance Copywriter dan sedang menyelesaikan gelar kesarjanaan di Universitas Nasional, Jakarta.
(TERBIT DI SEPUTAR INDONESIA, 31 MEI 2008)
LIU SIE
BUKAN bulan ketujuh, tapi Lak Gwee, bulan keenam. Ahli sejarah muda dari Rotterdam itu salah menghitung penanggalan karena tak tahu kalau di tahun tikus tersebut, bulan lima Go Gwee berlangsung dua kali dalam setahun sebagaimana yang kerap terjadi dalam kalender Imlek. Tapi sudahlah, ia memang telah telanjur keliru mencatat bulan Mei yang penuh sengkala itu sebagai Cit Gwee yang berlumuran darah. Ah, lantaran dengan sembrononya berpatokan pada hari Peh Cun1 yang jatuh di bulan Maret, di mana ia telah berkenalan dengan seorang perempuan Tionghoa yang begitu rupawan di pantai Pasir Padi.
***
SIANG yang mendung di pengujung bulan enam itu memang tak mudah dilupakan oleh orang-orang Tionghoa di pulau penghasil timah ini, Liu Sie. Terutama para pendatang dari Kwan Tung dan singkek-singkek2 pekerja Parit Pikul3. Mereka begitu ketakutan dan tak mampu menahan kesedihan tatkala dirimu dan A Wei dinaikkan ke tiang gantung yang berdiri angkuh di halaman karesidenan itu. Langit yang tampak mendung sejak pagi seolah-olah ikut berduka. Hm, betapa pertanda buruk yang hadir kelewat nyata.
Kalau saja matamu tidak tertutup oleh kain hitam yang menyelubungi kepalamu, tentunya dapat kau lihat bagaimana wajah-wajah pucat pasi yang menatapmu dengan mata berlinang, sebagian di antara mereka yang berdesakan di luar pagar halaman gedung bercat putih itu bahkan tak sanggup lagi menahan isak tangisnya. Sedangkan sebagian yang lain hanya bisa membuang muka ketika algojo mulai mengalungkan tali gantungan ke leher kalian. Udara terasa begitu gerah, angin seperti membeku. Kau menggigit bibir lalu mengatupkan gerahammu rapat-rapat. Terbayang olehmu kampung halaman di seberang lautan, juga wajah orang-orang yang kau cintai. Senyum Siu Lian, istrimu yang cantik seperti bergelayut di pelupuk matamu.
***
AI, jika saja waktu yang terkutuk dapat ditarik-ulur seperti tali busur dan kau bisa memilih, tentu tak ingin kau bertandang ke pulau celaka ini, Liu Sie. Takkan kau terbujuk rayuan para calo kuli dari Tumasik yang mampir ke Kwan Tung itu. Mungkin saja kau bakal bersikukuh menggarap sawah upahan atau memutuskan menjadi seorang penarik ricksaw4 daripada tergiur mencari pengharapan hidup yang lebih baik, jauh meninggalkan daratan Thong San5 ke Nan Yang6.
Tentu saja tak mudah bagimu melupakan, bagaimana kalian dijejerkan bak ikan asing di dek-dek kapal yang pengap-busuk itu selama pelayaran berbilang minggu dari pelabuhan Amoy. Oh, demikianlah, berbondong-bondong dari Sin Neng, San Wui, Hoi P'eng, Shun Tak, Tung Kwun, Heung Shan, dan kampung halaman lainnya, kalian nekat mengadu nasib ke seberang lautan. Ke negeri asing yang konon dipenuhi keajaiban.
Hidup enak, cepat kaya! Demikian para calo sesumbar meniupkan kabar burung tentang Nan Yang yang terdengar mirip iming-iming surga para misionaris yang singgah ke Kwan Tung. Sekiranya saja dapat kau jumpai lagi lelaki bermata picak yang menyebarkan selebaran di pasar itu, barangkali akan kau cincang lumat tubuh tambunnya lalu membagi-bagikannya seperti bakpao.
Tapi begitulah. Mulut-mulut manis para calo itu telah mengantarmu hingga menginjakkan kaki di pulau celaka ini bersama ribuan kuli lainnya. Masih mujur mereka yang memiliki sedikit simpanan untuk membayar para calo dan kapal, sementara dirimu dan sebagian besar dari rombongan terpaksa harus menjual ternak babi --ah, harta satu-satunya yang dimiliki-- untuk mengganti sebagian biaya pelayaran. Bahkan di antara kalian ada yang terpaksa menggadaikan diri dengan perjanjian takkan mendapat upah kerja hingga utang terlunasi, lantaran sama sekali tak mampu membayar ongkos perjalanan. Karena itulah, kalian pun dikenal sebagai Cu Cai Kiok alias para singkek yang datang ke Nan Yang dengan menjual anak babi.
Tapi, adakah Nan Yang memang negeri penuh harapan, negeri yang bertabur impian seperti iming-iming para calo, Liu Sie? Adakah tambang timah seperti guci harta karun yang berserakan untuk digali? Atau setiap hari kalian dapat menyantap ayam panggang dengan arak sulingan terbaik?
Ah, kalau saja semua itu bukan sekadar celoteh busuk para calo celaka, tentunya tak pernah ada kisah sedih ini. Takkan namamu tercatat begitu gamang dalam sejarah pulau terkutuk ini.
Belanda terlalu picik, Liu Sie. Karena orang-orang Melayu tak sudi bekerja sama, mereka pun menipu orang-orang Tionghoa datang ke pulau kecil ini untuk bekerja di parit-parit timah lewat para kaki tangannya. Jelas sudah semua janji dan iming-iming hanyalah omong kosong belaka. Oho, seperti bunyi Thai Pao ta Luntun!7 Jangankan menyantap ayam panggang dengan arak harum, bisa makan bubur encer dua kali sehari pun barangkali semata-mata kemurahan Thian8 yang pengasih...
***
SUNGGUH, tak pernah terlintas di benakmu menjadi seorang pahlawan konyol di negeri asing ini, Liu Sie. Apalagi membayangkan namamu tercatat dengan gamang dalam sejarah penambangan timah. Tapi kelicikan Belanda dan Sultan Palembang yang bersekongkol dengan mereka memang mesti dibalas. Atau nasib orang-orang Tionghoa akan kian naas.
Tak banyak di antara kalian yang datang menjadi kuli penambangan sanggup melunasi utang. Bila tidak terjerat utang baru dari para mandor keparat, sebagian upah kecil itu dipastikan bakal ludes di arena-arena judi atau terisap madat! Ya, judi dan madat, sempurna sudah penderitaan di Nan Yang yang celaka. Orang-orang Tionghoa memang terlalu bodoh untuk dimakan tipu muslihat. Atau Belanda yang terlampau licik memasang jerat? Pikirmu. Ya, mereka tahu orang Tionghoa suka bertaruh peruntungan di atas meja judi, bermimpi bisa memperbaiki nasib yang sial dengan dadu dan kartu. Atau sebagian yang lain, yang kurang nyali, bisa meneruskan mimpi yang kandas bersama wangi asap ganja.
Kau memandang keluar jendela pondok. Hujan awal bulan tiga yang tercurah dari langit terdengar seperti sebuah lagu sedih. Sudah tiga minggu kau bersembunyi di pondok kebun milik keluarga sahabatmu Hamid. Ai, orang Melayu yang baik. Kalau bukan lantaran pertolongannya mungkin betis kirimu sudah membusuk ketika tertembak bedil serdadu Belanda kurang lebih dua tahun silam. Hamid menemukanmu terkapar pingsan di kebun ini. Lubang di betismu sudah bernanah ketika ia mengeluarkan sisa pelor dengan pisaunya. Entahlah, dengan obat apa ia membalut lukamu. Sejenis tumbuh-tumbuhan yang menyengat tapi mujarab.
A Wei masih berjalan mondar-mandir di belakangmu. Ingin sebenarnya kau menegurnya agar duduk diam karena membuatmu tak bisa berpikir dengan tenang. Tapi walau kesal, hal itu tidak kau lakukan.
''Bagaimana kalau Belanda mencium keberadaan tempat ini, Ko9?'' Dapat kau rasakan kecemasan A Wei dari nada suaranya yang bergetar. Untuk beberapa saat kau hanya membisu, angin ladang yang masuk dari jendela terasa sejuk membawakan harumnya aroma dedaunan lada. Ratusan batang tanaman menjalar itu tegak hijau rimbun pada tiang-tiang rambatannya, sementara di kejauhan tampak pepohonan karet menjulang tinggi. Ah, sesungguhnya Nan Yang memang tanah yang penuh berkah dibandingkan Thong San yang gersang, kau menggeleng-geleng.
''Kau takut, Wei?'' Pelahan kau menoleh pada A Wei yang kini berdiri merangkapkan dua tangan di dada. Kedua matanya yang sipit tampak demikian gelisah, tapi wajahnya segera saja memerah.
''Takut?'' kau merasa ia agak tersinggung, suaranya meninggi, ''Chin Wei Kwet tak pernah mengenal takut dalam hidupnya, Ko! Selama aku masih menyandang marga Chin, sebagai keturunan Chin Nyuk Sak si toya hantu, takkan aku gentar pada setan sekalipun! Aku cuma mengkhawatirkan sahabat kita Hamid dan orang-orang Melayu di kampung ini...''
''Tak usah risau, Wei. Aku rasa Belanda tidak mudah menemukan tempat ini,'' kau mengulum senyum melihat wajah saudara angkatmu itu semerah udang rebus. Ia menghela napas, ''Tapi Belanda itu licik, aku takut mereka sudah menyebarkan mata-mata. Kita tak mungkin menang kalau mereka mengerahkan pasukan ke kampung ini.''
''Berdoa saja, Wei. Thian dan para dewa akan menolong kita. Lagi pula kau tahu, Hamid bukan pendekar sembarang... Banyak jawara Melayu bersamanya,'' entahlah, kau berucap setengah tak yakin. Ah, tentunya kau masih ingat sepak terjang Hamid dan kawan-kawannya yang beberapa kali membantu kalian memporakporandakan gudang penyimpanan timah Belanda atau menjarah sakan-sakan10 di Jebus.
Ingatanmu pelahan membumbung seperti seekor burung srintit yang terbang dari sarangnya di pucuk rumpun lada di kejauhan. Hmm, semuanya memang bermula dari insiden kecil di lokasi penambangan yang terik di tepian hutan Bulin itu.
Seperti kuli-kuli tambang lainnya, barangkali kau memang telah lama menyimpan kebencian dan dendam pada Mandor Bong, kepala parit penambangan yang suka menjilat pada Belanda itu. Manusia picik-munafik yang tak segan memperdaya dan mengisap darah sesama orang Tionghoa. Mungkin kejadian sore itu memang hanya pemicu saja, tapi kau benar-benar tak bisa lagi menahan kemarahanmu ketika menyaksikan sendiri lelaki Hokkian itu menampar wajah seorang kuli yang memprotes bayaran upahnya yang terpotong sampai setengah hanya karena kesiangan masuk kerja.
Ah, mulanya kau cuma ingin sekadar memberi pelajaran pada mandor brengsek itu agar tidak semena-mena. Tapi setelah tiga-empat jurus perkelahian, dalam keadaan terdesak lelaki tinggi gempal itu tahu-tahu mencabut golok besarnya. Ai, pukulan keluarga Liu memang tak bermata: mandor bengis itu mati di tempat dengan tulang iga kiri remuk saat itu juga!
Lalu entahlah, bagai spontan, tiba-tiba saja semua kuli tambang seperti memperoleh keberanian untuk melawan kesewenang-wenangan dan menuntut keadilan. Berita tewasnya Mandor Bong segera menebar dengan cepat bagaikan bibit malaria tropika. Di mana-mana mulai terjadi pembangkangan, hampir di setiap penambangan orang-orang Tionghoa melakukan aksi mogok kerja. Sejumlah parit tambang dan gudang penyimpan biji timah terbakar. Ya, tiba-tiba saja telah meletus pemberontakan. Serdadu Belanda menyerbu kamp-kamp penampungan kuli dan perkampungan Tionghoa. Puluhan orang mati mengenaskan. Puluhan orang ditangkap. Mereka bisa menembaki siapa saja yang dianggap membangkang, dan tentu saja memburu satu nama yang seketika jadi kesohor sebagai otak pemberontakan: Liu Sie dari Kwan Tung!
***
YA, sejak itu kau resmi menjadi buronan. Ah, parit-parit tambang memang bisa ditertibkan dengan bedil, tapi perlawanan tak juga surut. Dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lain, kau diam-diam terus menghimpun orang-orang Tionghoa yang bernyali. Kalian menyerbu gudang-gudang dan mengosongkan isinya. Menyatroni tempat-tempat perjudian dan penyimpanan madat yang membuat sengsara orang Tionghoa dan membakar semuanya.
Barangkali ilmu kanuragan keluarga Liu memang piawai atau lantaran kau yang teramat licin seperti belut untuk ditangkap, Liu Sie. Empat tahun malang-melintang mengobarkan perlawanan, kau benar-benar menjelma jadi sesosok momok bagi Belanda di pulau celaka ini. Karena itulah, tak heran jika kepalamu kemudian dihargai 100 gulden. Harga yang mungkin terlalu tinggi untuk seorang bandit kecil. Tapi demikianlah, serdadu-serdadu Belanda itu benar-benar sudah hampir kehilangan akal menghadapi kawananmu. Pernah misalnya kau terjebak di sebuah warung bakmie tak jauh dari jembatan Sungai Merawang. Namun masih saja kau berhasil meloloskan diri laksana seekor tupai, dengan gesit melompat dari atap rumah ke atap rumah setelah menghajar para serdadu dan dua orang opsir habis-habisan. Maka Liu Sie, orang-orang pun menjulukimu sebagai Bandit Terbang... Lantaran ilmu peringan tubuh terhebat yang pernah mereka saksikan.
Dari darat, aksi kalian kemudian berlanjut ke laut. Bersama A Wei dan dibantu orang-orang Melayu, kalian menghadang dan membajak kapal-kapal pengangkut timah dan menyelundupkannya ke pasar gelap Penang melalui jalur Selat Berhala yang seram.
Keangkeran Selat Berhala dan sekitar perairan kepulauan Natuna yang dipenuhi lanun dan menciutkan nyali para admiral Belanda memang tak pernah membuat kalian gentar, Liu Sie. Meski tak jarang kalian harus berhadapan dengan perompak-perompak ganas dari Buton atau Mindanao.
''Kau tidak akan mati di laut,'' kata Cong Fu Cai, sinsang11 tua penjaga kelenteng itu sambil menatapmu lekat-lekat setelah beberapa saat memeriksa garis telapak tanganmu. Ah, di ujung maut pada siang mendung di pengujung bulan enam itu, akhirnya kau harus mengakui kalau semua ucapannya memang benar terbukti. Kau salah, Liu Sie. Kecemasan A Wei memang beralasan. Belanda berhasil melacak persembunyian kalian dan menyerbu perkebunan lada. Hari naas itu akhirnya tiba juga, takdir Thian telah beralih. Kau dan A Wei berhasil dilumpuhkan dengan pelor setelah dikepung rapat sehari-semalam. Ratusan orang Tionghoa dan Melayu dibantai bagai hewan di rumah pejagalan. Beruntung, Hamid bisa melarikan diri.
***
YA, bukan bulan ketujuh, tapi Lak Gwee, bulan keenam. Ahli sejarah muda dari Rotterdam itu memang salah menghitung penanggalan karena tak tahu di tahun tikus tersebut, bulan lima Go Gwee berlangsung dua kali dalam setahun sebagaimana yang kerap terjadi dalam kalender Imlek, Liu Sie. Tapi sudahlah, ia telah telanjur keliru mencatat bulan Mei yang penuh sengkala itu sebagai Cit Gwee yang berlumuran darah. Lantaran dengan sembrononya berpatokan pada hari Peh Cun1 yang jatuh di bulan Maret, di mana ia telah berkenalan dengan seorang perempuan Tionghoa yang begitu rupawan di pantai Pasir Padi.
Ah, demikianlah senja yang mendung itu menjadi hari yang tak terlupakan. Dikenang turun-temurun oleh orang-orang Tionghoa di pulau celaka ini, sebagaimana mereka akan terus mengingat riwayat leluhur yang pahit: datang dari Cina daratan cuma berbekal sebuntal pakaian kumal, hidup seperti ternak babi di kamp-kamp penampungan yang lebih mirip kandang, bekerja hampir 24 jam sehari dengan upah mengiriskan dan diperlakukan secara kasar.
Ya, di siang mendung itu, orang-orang Tionghoa hanya bisa menangis dan memanjatkan doa pilu ke hadirat Thian dan para dewa yang welas asih di altar-altar keluarga dan kelenteng, di pojok-pojok rumah dan halaman, kamp-kamp dan parit tambang, juga tempat-tempat persembunyian. Memohon perlindungan dari bala, berdoa untuk ketenangan arwahmu dan A Wei.
Tapi di ujung maut yang getir, di ujung tali gantungan itu, Liu Sie, betapa kau hanya terkenang pada kampung halaman di seberang lautan, pada orang-orang yang kau cintai. Wajah bujur telur istrimu yang cantik menawan dengan tali lalat di dahi hadir begitu nyata di kedua matamu yang tertutup kain hitam yang menyelubungi kepalamu. Sungguh, tak tega kau harus membayangkan wajah Siu Lian, perempuan lugu yang sesungguhnya baru setahun lebih kau nikahi sebelum menjadi buronan itu basah oleh air mata yang berlelehan dari sepasang mata beningnya.
Ah, mungkin seharusnya dulu kau tidak jatuh hati dan menikahi anak gadis tukang kaleng itu. Tapi kau nekat juga melamar Siu Lian meskipun tahu kalau sebetulnya kedua orang tuanya tak begitu ikhlas menerima seorang kuli tambang kere jadi menantu. Hati mereka baru luruh ketika mengetahui kau sempat berguru pada Lim Cung Min, ahli kuntaow yang sangat dihormati di daerah asal mereka, Shang Xi. Oh, betapa kerapkali kau sesalkan penderitaan yang harus ditanggung oleh Siu Lian menjadi istri seorang pemberontak. Juga karena Fung Sau Kian, mertuamu mesti ikut ketimpa sial dan ruwetnya persoalan. Betapa takutnya tukang kaleng malang itu tatkala diinterogasi dan setiapkali harus bolak-balik ke tangsi Belanda untuk melapor. Kau merasa begitu sedih mengingat dirimu bukan saja tak mampu membahagiakan seorang istri, tapi juga telah mendatangkan masalah besar dan bala bagi keluarga si tukang kaleng.
Dalam persembunyian, batinmu tersiksa siang-malam memikirkan semuanya. Belum lagi di saat-saat rasa rindu datang mendera. Sehingga kadangkala kau tak mampu bertahan dan diam-diam menyelinap ke dalam kota untuk menemui perempuan itu lewat jendela.
Hmm, seandainya saja kau tahu, kalau beberapa menit menjelang dirimu dan A Wei digantung di halaman karesidenan, Siu Lian tiba-tiba menyadari dirinya telah mengandung. Seandainya kau tahu, Martin Van Dongen ahli sejarah muda dari Rotterdam itu sering mengunjungi rumah Fung Sau Kian untuk menyambangi istrimu... Oh benar, Siu Lian memang perempuan rupawan yang dia jumpai di pantai Pasir Padi pada perayaan Peh Cun itu dan membuatnya mabuk kepayang.
Ah, seandainya saja....***
Gaten, Jogjakarta, April 2008
CATATAN:
*) Cerpen ini terilhami kisah Liu Ngie, seorang pendatang dari Kwan Tung yang memimpin pemberontakan kuli-kuli penambangan timah Tionghoa di Pulau Bangka sekitar akhir abad ke-19.
---
1. Perayaan pesta laut, berlangsung pada setiap tanggal 15 bulan lima Imlek.
2. Pendatang totok dari daratan China.
3. Sistem penambangan timah zaman dulu.
4. Becak yang ditarik tenaga manusia.
5. Daratan Thong (atau Tang --berasal dari Dinasti Tang). Masyarakat Tionghoa-Hakka (mayoritas orang Tionghoa di Pulau Bangka adalah keturunan para kuli tambang suku Hakka) sering menyebut diri mereka sebagai Thong Ngin atau orang Tang, sehingga daratan China disebut sebagai Thong San.
6. Negeri Selatan sebutan untuk wilayah Nusantara.
7. Terjemahan harafiahnya: ''Meriam besar menembak London", ujar-ujar untuk omong kosong/bualan.
8. Langit, salah satu kata pengganti Tuhan.
9. Kakak
10. Pedulangan (juga berasal dari bahasa Hakka --Sa artinya timah, Kan berarti talang).
11. Sinsang (bahasa Hakka) atau sinse (Mandarin) berarti dukun, tabib, atau bisa juga guru.
(TERBIT DI JAWA POS, 1 JUNI 2008)
Sajak-sajak Lasinta Ari Nendra Wibawa
Ibu, tak perlu kau mendongeng seperti dulu
atau kau nyanyikan sebuah lagu
sebab kutahu bola matamu sayu
terlalu lelah menatap tungku
perlahan-lahan mulai berdebu
Ibu, kemarin ayah pulang
kulihat beliau meradang
menggenggam amplop berisi uang
bukankah kita harusnya senang
mengapa pintu keras ditendang
Ibu, malam ini aku tak tidur
tak akan kau dengar lagi aku mendengkur
entah karena nasib tak lagi mujur
sebait mimpi pun enggan datang menghibur
ataukah lapar telah membunuhnya
Surakarta, 5 Mei 2008
Bisakah kita ganti arti demokrasi
Seperti inikah nuansa demokrasi
saat partai politik giat memonopoli
calon-calon pemimpin yang hendak naik kursi
dan kita hanya bisa menerima
dengan agak bersabar juga harus memilihnya
Mengapa kami tak mengerti juga
saat mereka mengatasnamakan rakyat jelata
sedang mereka berupaya untuk berdiri di atas roda
lewat kampanye-kampanye megahnya:
di sudut sana anak kecil mati tertikam nyeri
belum tersentuh aroma nasi sedari pagi!
Kami lihat berita-berita suram di televisi
lagi-lagi oknum peradilan terjerat korupsi
bukannya ditinjau moralitasnya yang kian menepi
malah dinaikkan tunjangan gaji:
tanpa melihat ke arah bawah
betapa untuk bernapas kami semakin payah
Penuh kesal kami cari arti demokrasi
menurut etimologi di kamus besar KBBI:
”Kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat,
dan untuk rakyat”
di sini kami mulai sedikit mengerti
para pejabat-pejabat tinggi
ternyata juga seorang rakyat!
Dengan ini, bisakah kita ganti arti demokrasi
yang lebih spesial lagi?
Surakarta, 16 April 2008
(TERBIT DI SOLO POS, 1 JUNI 2008)
Bendera Merah
Hampir tak ada yang tersisa. Satu demi satu, barang-barang milik Pak Wiryo terjual.
Kesulitan ekonomi yang dialami Pak Wiryo, membuatnya harus menjual harta benda yang dimilikinya demi menyambung hidup. Siapa yang peduli? Hampir tak ada seorang pun yang mau mengerti kesulitannya. Lagi pula, Pak Wiryo tak pernah meminta belas kasihan dari orang lain. Sebisa mungkin ia harus mendapatkan uang untuk makan isteri dan dirinya dengan peluhnya sendiri. Apapun pernah ia lakukan. Menjadi kuli panggul pasar, tukang batu, dan kerja serabutan yang lain. Kerasnya hidup telah menempa jiwa lelaki berumur 56 tahun itu, untuk tidak mudah menyerah pada nasib. Tangannya yang kasar, kulitnya yang hitam, mengisyaratkan bahwa dia adalah seorang pekerja kasar, yang mencoba mengais sisa-sisa rezeki di antara terik matahari yang membakar. Mengayuh hari-hari dengan peluh melawan bengisnya waktu yang terus berlari menggilas kehidupan.
Hari tampak begitu cerah. Langit bersih, tanpa awan menggelayut. Mentari bersinar dengan ramah. Di sebuah rumah kecil sederhana, dengan tembok yang catnya hampir mengelupas, keluar seorang lelaki berperawakan sedang. Dialah Pak Wiryo. Seorang tukang becak yang setiap hari menyusuri hiruk-pikuk kota. Mencoba bertahan hidup dengan melawan matahari yang membakar. Ia menuju ke samping rumah. Di sana becak yang setiap hari diharapkan dapat menopang hidupnya, telah menunggu. Dengan selembar kain kumal, ia mengelap becak itu. Tak lama kemudian, isterinya keluar dengan membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.
”Tehnya Pak, diminum dulu,” katanya.
”Iya Bu, sebentar lagi,” jawab Pak Wiryo sambil masih mengelap becaknya.
Setelah selesai mengelap becak, Pak Wiryo mengambil minuman yang diberikan isterinya tadi. Ia duduk di samping becaknya sambil memandang lepas ke atas. Tampaknya sesuatu sedang dipikirkannya.
”Duh Gusti, aku ndak tahu apakah hari ini Engkau akan memberikanku rezeki atau tidak. Aku ndak tahu, apakah hari ini ada makan siang untukku atau tidak. Tapi aku akan tetap mengayuh becak itu. Kalau saja Engkau mau berbaik hati, tolong Gusti, berikanlah aku rezeki hari ini meski hanya sekadar untuk makan siang bersama isteriku,” katanya pelan.
Sesekali Pak Wiryo menghirup napas panjang. Entah apa lagi yang masih mengganjal di hatinya. Ia masih saja menerawang dengan tatapan kosong. Iringan awan putih tampak berjajar di hamparan biru itu. Tampak juga burung-burung kecil beterbangan sambil bercanda riang. Mereka juga akan mencari makan hari ini, seperti halnya Pak Wiryo.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Saatnya bagi Pak Wiryo untuk mengayuh becaknya. Menyusuri jalanan hitam yang memanas demi segelintir nasi yang bisa mengganjal perutnya, juga isterinya. Detik demi detik terus berganti. Pak Wiryo melewatinya dengan tidur di dalam becaknya yang mangkal di depan sebuah pasar. Ia tertidur dengan pulasnya. Hiruk-pikuk pasar dan lalu lalang orang-orang sudah membuatnya suntuk dan terasa lelah. Apalagi ditambah dengan sengatan matahari yang tak kenal ampun. Tiba-tiba saja sebuah tepukan tangan membangunkannya.
”Pak, tolong antarkan saya ke Joyosuran,” kata wanita setengah baya itu.
”Nggih, Bu,” jawab Pak Wiryo sambil menaikkan barang-barang penumpang itu.
Kemudian, tibalah saatnya ia mengayuh becak penopang hidupnya. Menyusuri setiap lorong jalan kota yang kejam itu. Setelah hampir setengah jam mengayuh beban berat, sampailah ia ke tempat yang dituju.
”Kiri, Pak. Berapa?” tanya wanita itu setelah turun dari becak.
”Lima ribu saja, Bu,” jawab Pak Wiryo.
Kemudian, bergegaslah Pak Wiryo meluncur kembali ke pangkalannya. Menanti rezeki yang siapa tahu akan datang lagi padanya.
Matahari semakin meredup. Pendaran sinar panasnya perlahan tak lagi terasa. Tampak awan yang beriring mulai kemerah-merahan. Senja mulai tiba. Menjemput malam yang sebentar lagi keluar. Menutup sesaat lembar-lembar cerita kehidupan hari ini, sebelum pagi kembali datang memulainya. Kemudian, beranjaklah Pak Wiryo untuk pulang. Setelah seharian bertaruh peluh demi beberapa lembar uang seribuan. Kini, tibalah saatnya untuk melepas penat. Sejenak meluruskan kembali otot-otot punggung karena masih ada hari esok yang menanti untuk dikayuh.
****
Hari masih begitu dingin. Sedingin embun yang masih memeluk erat dedaunan. Masih enggan lalu, karena mentari belum mengusik. Burung-burung baru saja terbangun dari lelapnya. Kicauan mereka tampak seperti irama sendu. Berbeda dari hari-hari yang lalu. Ini kali, tak ada celoteh riang menyambut sinar hangat yang akan memulainya kembali lembar-lembar cerita kehidupan hari ini. Di ujung gang menuju rumah Pak Wiryo, tampak terpasang selembar bendera kecil berwarna merah. Sedikit banyak orang-orang berkumpul di rumah Pak Wiryo, para tetangga, dan segerombolan tukang becak macam Pak Wiryo. Hanya saja, isteri Pak Wiryo tak tampak di antaranya. Tak banyak suara berarti di antara kerumunan orang itu. Mereka terlihat sibuk menyiapkan perabotan untuk suatu ritual. Terlihat ada lembaran kain putih, bermacam bunga, seperti halnya ritual orang meninggal. Tapi siapa?
****
Malam hampir lalu. Namun derik suara jangkrik yang masih nyaring terdengar. Kerlip kecil bintang yang bertebar di atap hitam nan luas itu masih juga terjaga. Detak jam terdengar seirama dengan detak jantung dalam jiwa-jiwa yang masih terlelap. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat lebih sedikit. Di sebuah tempat tidur sederhana, tampak Pak Wiryo terjaga di samping isterinya. Ia tak juga bisa kembali memejamkan mata. Perasaannya begitu gundah. Tiba-tiba...
”Tok..tok..tok...,” terdengar pintu diketuk.
”Siapa yang ketuk pintu malam-malam gini?” kata Pak Wiryo sambil beranjak dari tempat tidurnya. Ia penasaran ingin membuka pintu.
”Maaf, Pak... saya mau minta tolong. Bapak bisa nganter barang-barang dagangan saya ke pasar?” kata Bu Jinah, tetangganya.
”Iya, Bu. Tapi apa ndak kepagian?”
”Ndak, Pak. Ini kan hari pasaran.”
Pak Wiryo pun segera pamit pada isterinya. Ia merasa senang, karena rezeki sudah datang sepagi ini. Segera saja ia mengayuh becaknya ke tempat Bu Jinah untuk mengangkut barang-barangnya.
Dalam perjalanan, Pak Wiryo tak henti-hentinya mengucap syukur. Ia berterima kasih sekali pada Tuhan karena mendapat pembagian rezeki lebih awal. Tapi tiba-tiba.... duarrrrrrr! becak Pak Wiryo terpental keras. Begitu juga dengan Pak Wiryo. Ia terpelanting dan tak sadarkan diri. Sebuah bus malam menyambar Pak Wiryo dan becaknya. Pak Wiryo tergeletak di jalan raya tak berdaya. Darah mengucur deras dari kepalanya. Tampak juga becaknya yang ringsek dan tak berbentuk lagi. Orang-orang pun berdatangan ingin tahu yang terjadi. Kemudian, mereka segera menolong Pak Wiryo. Tapi sayang, Pak Wiryo sudah tak bisa diselamatkan. Ia sudah meninggal. Meninggalkan semua. Tetes keringatnya sudah berakhir. Selembar bendera merah mengisyaratkan berakhirnya semua tentang Pak Wiryo. Tinggal semangat dan harapan yang kini masih tersisa. Terpatri pada sudut-sudut kota, pada aspal jalanan yang menghitam, pada debu-debu trotoar, Pak Wiryo akan dikenangnya.
(TERBIT DI SOLO POS, 1 JUNI 2008)
Apa jenis kelamin komunitas sastra kota?
Solo The Spirit of Java. Jargon yang kini diusung oleh Kota Budaya Solo ini menggaung santer ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia. Terbukti penyelenggaraan World Congress of the Organization of Heritages Cities di bulan Oktober mendatang diselenggarakan di Kota Solo. Tak hanya itu, Solo ditetapkan sebagai World Heritage Cities. Nah, melihat jargon dan historis Solo yang semakin diakui dan dikukuhkan sebagai kota warisan budaya ini.
Ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh komunitas sastra kota. Apa peran dan jenis kelamin komunitas sastra kota saat ini dan mendatang? Beberapa tahun ini marak dan tercatat beberapa komunitas sastra kota yang sempat hidup dan meramaikan khasanah sastra Kota Solo. Sebut saja, Meja Bolong, FLP, Sketsa Kata, Pawon, HPK dan komunitas-komunitas lainnya.
Komunitas sastra kota ini tak jelas dengan peran yang akan diambilnya bagi Kota Solo. Ada beberapa pertanyaan besar untuk dijawab oleh komunitas sastra Kota Solo. Pertama, komunitas sastra kota akan dibawa ke arah pembentukan sastrawan atau penulis-penulis muda yang membawa kearifan lokal, sastra hijau dan sesuai dengan jenis kelamin komunitas mereka dalam kegiatan dan berkarya, atau diberi ruang untuk berekspresi sesuai dengan stereotyp yang selama ini ada. Sastra bebas berekspresi secara individual tanpa ada kekang atau mengikuti jenis kelamin dari sebuah komunitasnya. Atau keduanya disinergikan. Yaitu membawa identitas jenis kelaminnya atau genre komunitasnya sekaligus memberi ruang kepada individu untuk bereksperimen.
Kedua, perlukah sebuah jenis kelamin yang jelas bagi sebuah komunitas sastra? Atau justru sudah saatnya tidak tabu untuk saling memperlihatkan jenis kelamin masing-masing komunitasnya? Selama ini komunitas sastra terkesan saling bersyakwasangka antara satu dengan yang lain terkait dengan jenis kelamin. Bahkan, mereka kadang saling mengintip di balik celana komunitas lainnya hanya untuk mengetahui kelamin komunitas sastra lainnya. Walaupun mereka sering meneriakkan bahwa sastra adalah otoritas yang bebas dari nilai, kepentingan, tak berpihak, dan tak berjenis kelamin. Tetapi sesungguhnya semua komunitas sastra, disangkal atau tidak disangkal mereka mengusung ideologi atau berjenis kelamin tertentu. Namun, itu semua hanyalah pada tataran teori belaka. Tetapi, sesungguhnya di ranah kenyataan mereka masih menjaga jarak secara ideologis atau jenis kelamin, seolah bahwa komunitas mereka adalah bukan muhrimnya untuk komunitas tertentu. Akan tetapi, secara zahir mereka saling bersentuhan untuk mengadakan kegiatan yang menyemarakan jagad sastra di Kota Solo. Semoga pertanyaan kedua ini akan memantik komunitas-komunitas sastra Kota Solo untuk saling terbuka memperlihatkan jenis kelamin mereka untuk bisa menunjukkan kepada khalayak umum bahwa sastra adalah wilayah yang toleran, egaliter dan demokratis. Semua ideologi dan kepentingan dapat duduk bersama dan berdialog, bukannya untuk saling mencurigai, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling menikam, saling-saling yang lainnya, yaitu membuat pihak lain tersudut atau tiarap untuk sementara waktu, atau bahkan tiarap untuk selamanya. Atau justru pertanyaan kedua ini akan membuat satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menutup rapat-rapat celana mereka agar jenis kelamin mereka tidak ketahuan dan diintip komunitas lainnya? Ah...terserah mereka John Koplo!
Pertanyaan ketiga adalah apakah komunitas sastra kota dan para pegiat sastra akan bersinergi dengan tagline Kota Solo, yaitu Solo The Spirit of Java? Nah, ketika tagline ini ditarik ke arah karya sastra, akankah tagline ini dikunyah dengan mentah, ataukah tagline tersebut diejawantahkan dalam bentuk tagline yang lain sehingga bermetamorfosa menjadi tagline baru bagi pegiat sastra dan komunitas sastra kota, misalnya Solo The Spirit of Writing. Ya, Solo adalah sumber inspirasi untuk menulis. Solo gudang peristiwa sosial, budaya, sejarah dan politik. Mulai dari peristiwa geger Kerajaan Surakarta, perjuangan empat lima, kerusuhan Mei, para priyayi kampung batik, pergeseran trend belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern dan berbagai peristiwa lain. Jika semua itu menjadi sumber inspirasi para pegiat komunitas sastra kota dan penulis Solo. Maka, peristiwa tersebut akan tercatat dalam sejarah jagad karya sastra, karena sastra adalah cermin masyarakat tersebut. Peristiwa atau sejarah yang dibungkus karya sastra bisa jadi akan banyak digemari, disenangi bahkan dibaca banyak kalangan, sebut saja karya sastra yang berlatar belakang sejarah, misalnya Para Priyayi tulisan Umar Kayam yang memotret masyarakat Jawa tempo dulu atau yang sekarang sedang meledak di pasaran yaitu karya sastra Gajah Mada tulisannya Langit Kresna Hadi. Juga ada karya sastra lainnya yang memotret Solo lebih jelas dari masa pergerakan hingga mencari bentuk nilai kebangsaan dari kacamata masyarakat Solo, yaitu De Winst tulisan Afifah Afra.
Jika Solo adalah sumber inspirasi bagi karya sastra dan karya sastra tersebut digemari, disenangi dan dibaca banyak kalangan. Maka, tulisan tersebut akan menjadi magnet untuk masyarakat domestik untuk meneliti bahkan berkunjung ke Solo. Dan jika karya sastra tersebut diterjemahkan ke bahasa asing kemudian menjadi konsumsi masyarakat asing, maka tulisan tersebut akan menjadi media promosi yang efektif bagi Kota Solo. Meskipun tujuan dari karya sastra sesungguhnya bukanlah media promosi, tetapi salah satu tugas karya sastra adalah memotret peristiwa yang terjadi dalam masyarakat tersebut yang akan berdampak bagi khalayak umum menjadi tertarik dengan peristiwa yang melingkupi dan tempat terjadinya peristiwa dari karya tersebut. Semoga!
Pertanyaan terakhir sekaligus pembuka wacana. Kini posisi komunitas sastra Kota Solo dipertaruhkan dengan keberadaan DKS (Dewan Kesenian Surakarta) apakah dengan keberadaan DKS akan menjadi tempat peraduan mereka untuk saling bersinergis dan lebih giat lagi untuk menyemarakkan jagad sastra di Solo? Ataukah DKS yang akan mengambil alih peran komunitas sastra Kota Solo? Atau akankah mereka saling baku hantam hanya sekadar untuk mendapatkan kucuran dana dari DKS yang notabene uang tersebut dari rakyat?!
Di atas sudah ada empat pertanyaan pemantik untuk dijawab komunitas sastra Kota Solo. Sekarang yang kita tunggu adalah sikap dari para pegiat sastra kota untuk menyikapinya. Apakah empat pemantik pertanyaan di atas ditanggapi dingin-dingin saja, ditanggapi dengan telinga merah atau akan ditanggapi dengan tangan terbuka yang kemudian akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merumuskan peran masalah jenis kelamin di antara komunitas sastra Kota Solo. Kini, masalah kelamin bukanlah otoritas dokter saja, tetapi juga masalah bagi pegiat dan komunitas sastra kota untuk diselesaikan. Ah...lagi-lagi masalah jenis kelamin!
(TERBIT DI SOLO POS, 1 JUNI 2008)
02 Juni 2008
FPI dan Ketololannya
Apa-apaan ini?
Saya terperangah. Saya gak percaya, FPI berbuat "kejam" seperti itu, persis tentara Israel yang mematahkan tangan dan kaki pemuda Palestina menggunakan batu dalam sebuah video dokumenter. Saya gak percaya akan hal ini, FPI berani hanya gara-gara terbakar isu--Ahmadiyah sehingga tak tahu lagi apa yang dipukul, apa yang ditendang...
MEREKA GELAP MATA!!!!
Ketika masih SMA, sebenarnya saya simpati terhadap perjuangan FPI. Paramiliter yang menunjukkan ideologi Islam yang kental. Bahkan saya berharap, suatu saat ada dalam barisan pasukan Muslimin, yang bergerak maju menjadi martir demi sebuah kehidupan yang adil tanpa Kapitalisme.
Kenapa FPI bisa setolol itu sekarang...
Dalam berbagai kesempatan, saya sering mendengar bahwa pembela Islam tidak akan menyakiti yang lemah, meskipun yang lemah itu adalah musuh. Kisah Shalahudin ketika perang salib. Shalahudin malah memberikan waktu kepada jenderal musuh untuk pulih dari sakitnya. "Saya tidak akan berperang dengan orang yang lemah (sakit)". Atau bisa juga dilihat peristiwa "Kembali ke Makkah" tak satu tetes pun darah tertumpah.
Namun, kejadian di Monas kemarin sungguh di luar dugaan. Saya tidak melihat sesuatu yang bercahaya dari wajah Lasykar FPI. Saya tidak melihat keteduhan, seperti yang saya lihat pada barisan pejuang Chechnya yang giat berperang dengan tentara Rusia (dalam video Neraka Rusia 4).
Mengapa...MEngapa...
Kenapa Wala' wal Barra' begitu disalahartikan penafsirannya? Atau jangan-jangan, kaderisasi di FPI tidak menetapkan Wala' wal Barra' sebagai sebuah keniscayaan untuk mencapai kader militan yang teguh pada pendirian Islam tetapi tidak meninggalkan nurani dalam WC...
Saya tidak melihat FPI yang dulu, yang berwajah teduh. Saya masih ingat sekitar tahun 2004 ketika itu, massa FPI yang jadi korban dipentungi polisi. Begitu bercahaya wajah-wajah anggota FPI yang dulu itu... Ketimbang yang membuat keributan di MONAS kemarin...
Wajah mereka kucel. Seperti preman pasar...
1. Pembela Islam takkan memukuli orang cacat, meskipun ia musuh.
2. Pembela Islam takkan memukuli orang yang sudah minta ampun, meskipun kesalahannya sangat besar.
3. Pembela Islam takkan menampar orang-orang yang telah lanjut usia, meskipun ia adalah ahli strategi musuh.




